Aku Milikmu

Aku Milikmu
Mantan Calon Mertua


__ADS_3

Hari ini Akira sudah diperbolehkan pulang setelah 2 hari di rawat di rumah sakit. Dan Selama dua hari itu juga Dean tidak pernah kembali datang menemui Akira. Akira mengira Dean akan datang kembali menemui dirinya tapi ternyata pria itu tidak muncul sampai Akira akan pulang. Akira merasa cukup lega Dean tidak kembali menemui dirinya, itu berarti hubungan antara dirinya dan Dean sudah benar-benar berakhir dan tidak ada yang perlu dibicarakan kembali.


Tapi anehnya selama dua hari Akira dirawat, selalu ada bingkisan yang datang untuk Akira. Bingkisannya bisa berupa buah-buahan, makanan ringan, makanan berat dan pernah satu kali isi bingkisannya adalah pakaian dalam serta perlengkapan pembersih tubuh.


Akira tidak tahu siapa pengirim bingkisan tersebut, karena setiap ia bertanya pada suster yang mengantarkan bingkisan itu ke kamarnya pasti jawabannya dikirimkan oleh seorang kurir, dan kurir itu pun tidak menyebutkan nama si pengirim.


Akira pernah berpikiran bahwa bingkisan itu dikirimkan oleh Dean, karena hanya Dean yang tahu jika ia masuk rumah sakit, tetapi Akira langsung membuang pikiran itu jauh-jauh. Tidak mungkin orang seperti Dean begitu perhatian mengirimkan keperluan Akira selama di rumah sakit. Walaupun selama mereka bersama Dean selalu perhatian, tapi perhatian itu hanya karena Akira sedang mengandung anaknya Dean, tidak lebih. Jadi tidak mungkin bingkisan itu dikirimkan oleh Dean. pikir Akira.


Ketika Akira masih mengemasi barang-barangnya, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. Akira mempersilahkan orang diluar untuk masuk dan saat melihat siapa orang yang datang, sontak Akira menghentikan kegiatannya, terpaku pada pria yang beberapa minggu lalu ia temui bersama Dean.


“Pak Zeno,” ucap Akira, tidak menyangka Zeno ayahnya Dean yang masuk kedalam kamarnya.


_______________________________


“Terimakasih sudah mengantarkan saya pulang,” ucap Akira pada Zeno sebelum keluar dari mobil.


Zeno menganggukan kepala sambil tersenyum ramah, “sangat disayangkan sekali kamu tidak menjadi menantu saya, Akira.” ucap Zeno lalu menghela nafas pelan. “Tapi saya juga merasa lega kamu tidak menikah dengan putra saya. Dean tidak pantas untuk mendapatkan wanita sehebat kamu.” Lanjut Zeno.


“Bapak udah tiga kali berkata seperti itu,” ucap Akira sambil tersenyum kecil. Akira sungguh tidak menyangka sikap Zeno sangat berbeda jauh dari pada beberapa minggu yang lalu. Zeno tak seseram yang Akira pikirkan dan yang lebih mengejutkannya lagi pria itu merestui pernikahannya dengan Dean, bahkan Zeno merasa sedih dengan batalnya pernikahan Akira dan Dean.

__ADS_1


Zeno terkekeh pelan, “Semua mertua yang ada di dunia ini pasti ingin punya menantu sehebat kamu, Akira. Kalau saja saya punya satu putra lagi yang lebih hebat dari Dean pasti saya akan menikahinya dengan kamu.”


Akira menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum kecil. “Bapak terlalu berlebihan, yang ada para mertua di dunia ini tidak ingin punya menantu yang asal usulnya tidak jelas.”


“Berarti mereka adalah mertua yang bodoh, yang hanya menilai seseorang hanya dari latar belakangnya,” balas Zeno.


Akira hanya tersenyum membalas ucapan Zeno, “kalau begitu saya permisi, pak, sekali lagi terima kasih atas tumpangannya.”


Zeno menganggukan kepala sambil tersenyum dan Akira pun keluar dari dalam mobil Zeno.


Akira masuk kedalam rumah setelah mobil Zeno meninggalkan halaman rumahnya. Dan pertama kali yang Akira lihat setelah membuka pintu yaitu tumpukan surat undangan pernikahan yang masih tersusun rapi diatas meja ruang tamu. Akira menghela napas berat, melangkah mendekat meraih salah satu surat undangan tersebut.


Setelah beberapa saat menatap surat undangan Akira kembali menaruhnya di atas meja dengan asal sambil mendaratkan pantatnya di atas sofa lalu bersandar dengan nyaman.


Kenapa sekarang aku masih merasa sedih? Ini rasa sedih karena aku kehilangan bayiku atau karena batalnya pernikahanku dengan Dean, atau jangan-jangan karena keduanya? Tapi sepertinya aku sedih karena belum menerima sepenuhnya jika aku keguguran, tidak mungkin aku sedih karena batal menikah dengan Dean! Saat ini pasti Dean sedang bersenang-senang dengan wanita panggilan. Ya, pria itu tidak perlu lagi bersusah payah menahan hasratnya.


Tapi setelah mendengar yang diceritakan pak Zeno soal kejadian tiga tahun lalu, aku jadi merasa kasihan pada Dean. Pria yang dulunya penuh kecerian kini menjadi amat menakutkan. Hari-hari yang dia lewatkan pun ternyata tidak mudah, apalagi sekarang dengan penyakit kecanduannya pada sek*. Membuat dia susah untuk berhenti dengan hal itu.


Pantas saja awal pertama aku menolak untuk melakukan hubungan intim dia sangat marah sekali, pasti rasanya sangat tidak enak karena sudah menahan satu bulan lebih. Dan setelah kejadian di puncak dia menjadi lebih agresif karena kemungkinan dia memang sudah tidak tahan lagi. Apakah aku salah karena selalu menolak saat dia ingin berhubungan badan hingga dia mencari kepuasan dengan wanita panggilan? Aku tidak menuruti kemauan dia karena aku punya prinsip ku sendiri, dan seharusnya dia bisa menahannya yang tinggal beberapa hari lagi.

__ADS_1


Padahal setelah menikah pun aku tidak akan melarang dia jika ingin melakukan hubungan intim, aku akan mempersilahkannya dengan suka rela walaupun kami melakukannya tanpa cinta!


Akira menegakkan posisi duduknya dengan muka kaku, “untuk apa aku memikirkan hal itu,?” monolog Akira sambil ngetok-ngetok kepalanya agar apa yang baru saja ia pikirkan bisa hilang di dalam pikirannya.


“Ini gara-gara pak Zeno menceritakan yang terjadi pada Dean tiga tahun yang lalu, membuat aku jadi terus kepikiran tentang pria itu. Apapun yang sekarang terjadi pada Dean dan bagaimanapun kondisinya, itu sama sekali bukan urusanku! Terserah dia mau kecanduan sek*, kecanduan alkohol, bersikap angkuh, kejam, galak, itu semua terserah dia! Aku tidak punya hubungan apapun lagi dengan pria itu!” Akira berdiri dari duduknya lalu meraup semua surat undangan yang ada diatas meja. Ia berniat akan membakar semua hal yang mengingatkan pada pernikahannya dengan Dean.


Akira tidak ingin mengingat apapun lagi tentang Dean, ia harus menghilangkan sosok Dean yang sudah dua bulan lebih dekat dengannya. Entah kenapa, kedekatan ia dan Dean terasa sangat melekat di hati, padahal ia dan Dean hanya bersama-sama selama dua bulan lebih.


Setelah membereskan seluruh ruangan dari segala macam debu dan menyingkirkan surat undangan pernikahan, kini tubuh Akira kembali segar setelah membersihkan tubuh.


Akira membuka lemari pakaian untuk mengambil baju, tapi ketika membuka pintu lemari ia berdiri mematung melihat pakaian Dean yang masih ada di dalam lemarinya.


Akira menjalurkan tangan menyentuh satu persatu pakaian milik Dean tapi tak lama dari itu ia segera menggelengkan kepala menyadarkan dirinya yang bertindak tidak wajar.


Akira menarik kembali tangannya dari baju Dean lalu duduk di pinggir kasur sambil memandang lurus pada isi lemari. Kini Akira kembali teringat dengan kejadian tiga tahun lalu yang terjadi pada Dean, yang membuat hatinya tersentuh dengan masalah yang dialami Dean.


Akira dapat merasakan kesedihan yang dialami Dean, karena ia juga mengalami hal yang sama seperti Dean. Apakah Dean sekarang baik-baik saja? tanya Akira dalam hati.


Dean punya masa kecil yang amat membahagiakan tapi itu tidak lama. Setelah kepergian sang ibu kehidupan Dean berubah menjadi sangat menyedihkan. Sendirian, kesepian, tidak diperhatikan, tidak dipedulikan, tidak ada tempat untuk bercerita dan yang lebih parahnya lagi ia juga kehilangan sosok ayah, padahal ayahnya masih ada di dunia. Ya, secara tidak langsung Dean kehilangan kedua orang tuanya di umurnya yang masih 8 tahun.

__ADS_1


______-


yey author up lagi. Maaf ya udah buat kalian nunggu, soalnya akhir-akhir ini author lagi sibuk banget huhuhu... Kalian jangan lupa jaga kesehatan ya :)


__ADS_2