Aku Milikmu

Aku Milikmu
Cerita pas SMA


__ADS_3

“Apa kamu tahu apa yang membuat dia berubah, Akira.?” Lanjut tanya Ranti.


Akira tersenyum canggung lalu menggelengkan kepalanya, “Aku gak tahu apapun tentang Tuan Dean, aku hanya tahu dia sekedar boss dikantor tempatku bekerja.” Jawab Akira jujur.


“Aku bisa menebak dari awal kalau kamu bukan kekasih Dean, terlihat sekali saat kalian berjalan beiringan memasuki lobby,”


Akira hanya mengulum senyum sambil mengangguk-ngangguk kecil.


“Aku gak akan tanya kenapa kamu bisa hamil anak Dean, tapi mau tidak mau kalian pasti harus menikah, kan? Atau udah menikah diam-diam?”


Akira menggeleng, “Kami belum menikah, aku saja baru tahu diriku hamil seminggu yang lalu.”


Ranti mengangguk mengerti, “Dulu sikap Dean nggak sedingin sekarang, dia berubah 180 derajat.! Dari pria pecicilan, humoris, humble menjadi pria dingin yang mengasingkan diri,”


“Tuan Dean pecicilan,? Kayanya nggak banget deh,” ujar Akira tidak percaya.


Ranti tertawa pelan, mungkin sekarang gak akan ada yang percaya jika Dean pria angkuh itu dulunya ada pria pecicilan di jaman SMA. Tapi jika mereka yang pernah mengenal Dean ataupun pernah satu sekolah dengan tahun yang sama akan sepakat mengatakan Dean pria pecicilan, humoris, humble dan bisa berteman dengan siapa saja.


“Kalau orang-orang melihat sikapnya Dean yang sekarang pasti nggak akan percaya sama ucapan aku barusan, seperti kamu, Akira.”


Akira mengangguk-ngangguk kecil, “Dokter Ranti tahu kalau Tuan Dean phobia darah?” tanya Akira, mungkin saja itu salah satu petunjuk sikap Dean berubah.

__ADS_1


Ranti mengerutkan keningnya, mengingat-ngingat kembali. “Mana ada Dean takut darah, apa lagi sampai phobia gitu!”


Sekarang giliran Akira yang mengerutkan kening, sepertinya Ranti juga tidak tahu kejadian tiga tahun lalu yang hampir pernah diceritakan Bi Santi.


“Aku masih inget banget, Akira. Waktu pertemuan pertama kami. Kami ketemu di Club Before Going Home, semacam kelas tambahan setelah pulang sekolah. Kelas itu isinya murid-murid yang dapet nilai jelek, jadi harus diberi kelas tambahan biar nilainya kembali bagus.” Tanpa ditanya Ranti menceritakan pertemuan pertamanya dengan Dean, menurutnya itu adalah moment paling indah saat disekolah.


“Aku termasuk yang harus ikut club Before Going Home tersebut, sebelum kedatangan Dean kami malas-malasan mengikuti kelas itu, kami juga sering di ledeki anak-anak bodoh oleh murid yang lain. Bagi mereka yang masuk Club tersebut adalah sebuah aib yang sangat memalukan. Aku dan murid yang lain, yang masuk kelas tersebut jadi rendah diri, gak percaya diri dan merasa malu mau berbuat apapun juga, walaupun hanya sekedar beli makanan di kantin, tetapi setelah Dean gabung di kelas tersebut mendadak semuanya berubah,” Ranti tersenyum manis mengingat kembali kejadian bertahun-tahun lalu. Matanya berbinar seakan ia merasakan kembali euforia di kelas tambahan itu.


“Dia sengaja menjelekan nilainya agar bisa gabung Club Before Going Home. Saat pertama dia masuk, kita semua kaget apalagi semua murid sekolah tahu kalau dia anak konglemerat. Dean seperti membawa harapan baru buat kami, menyadarkan kami bahwa murid yang masuk Club tersebut tidak seburuk yang dipikirkan, bukan berarti manusia yang gak berguna ataupun perkataan hina dari mulut orang lain. Lambat laun rasa percaya diri kami tumbuh kembali bahkan kami tidak lagi malu-malu menunjukan diri dihadapan orang banyak.”


Akira mendengarkan cerita Ranti dengan serius, di dalam hatinya ia merasa bangga dengan apa yang Dean lakukan. Ya, selama ini pikiran Akira terlalu sempit hanya menyimpulkan Dean sebagai pria arogan dan tak belah kasih tetapi ternyata ayah calon bayinya itu manusia yang sangat peduli terhadap sesama.


“Sampai sekarang aku yang wanita saja tidak bisa meniru goyangannya, Akira. Ah, iya. Dean juga paling gak suka jika ada wanita yang menyukainya, dia memang mudah akrab dengan banyak orang tetapi sulit sekali jatuh cinta sama wanita,!” Ranti menyeka air mata diujung pelupuk matanya akibat tertawa tadi.


“Setiap ada cewe yang nembak, pasti Dean selalu membuat cewek itu ilfil sama dia. Salah satunya dengan goyang dangdut. Waktu itu ada yang nembak Dean dibelakang sekolah, kami teman-temannya ngintip dari jauh. Aku masih inget banget pas ceweknya bilang kalau dia suka dan cinta sama Dean, terus Dean jawab kaya gini ‘Memangnya kamu mau punya pacar kaya gini?’ dia nunggingin bokongnya, ngangkat tangan satu keatas terus goyang dengan lincahnya—“ Ranti tertawa lepas mengingat hal tersebut dan Akira tertawa pelan, ikut merasa susana kala itu.


Indah sekali masa SMA mereka. Gumam Akira dalam hati.


“Kami dari jauh sekuat tenaga menahan tawa, Akira. Apalagi pas lihat muka ceweknya yang syok parah.” Ranti kembali tertawa dengan keras seakan-akan ia melihat kembali kejadian tersebut “Perut kami sampai sakit nahan tawa, Akira.” Tambahnya.


“Kalian lagi ngetawain apa,? tawanya sampai terdengar keluar.” Ucap Dean baru saja masuk kembali kedalam ruangan Ranti.

__ADS_1


Ranti mencoba meredakan tawanya, berdehem-dehem dan monormalkan kembali raut wajahnya. “Kita ngetawain Cicak jatuh dari dinding,” jawab Akira, menahan senyum melihat Dean duduk di sampingnya.


Dean mengerutkan dahinya menatap Akira “Apanya yang lucu?” tanya Dean, lalu dijawab Akira dengan mengedikkan bahu.


Tak selang berapa lama Akira dan Dean pun pamit untuk pulang, apalagi Dean sudah ditunggu untuk menghadiri meeting.


“Sayang sekali kita harus segera berpisah, Akira. Padahal masih banyak cerita yang mau aku ceritakan. Aku yakin kamu pasti tidak akan mendapatkan cerita seperti tadi dari pria yang sikapnya sudah berubah 180 derajat itu,” ucap Ranti ketika ia dan Akira bersalaman pamit.


Akira tersenyum lembut, “Kalau nanti aku periksa kandungan lagi, kita bisa melanjutkan ceritanya, Dokter Ranti. Aku juga masih sangat penasaran segila apa Tuan Dean saat zaman SMA.” Balas Riana.


“Aku bentar lagi ada meeting, Akira. Jadi kamu ikut aku kantor dulu, setelah meeting selesai aku akan anterin kamu pulang,” ucap Dean setelah mereka berada di depan mobil.


“Kalau begitu aku pulang naik kendaraan umum aja, Tuan Dean bisa langsung ke kantor tanpa harus nganterin aku,”


“Gak gak. Kamu gak boleh naik kendaraan umum. Kamu ikut aku ke kantor dulu, meetingnya gak lama kok! Kamu bisa tunggu aku di ruang kerja aku,”


Akira menggeleng dengan tegas, “Aku gak mau orang-orang kantor tahu tentang kita sebelum kita punya hubungan yang jelas,”


Dean menghembuskan napas, “Kamu ikut aku ke kantor nanti disana aku minta orang suruhan aku anterin kamu pulang jadi gak perlu masuk ke gedung kantor,” Dean mencari jalan tengah.


Akira pun mengangguk setuju.

__ADS_1


__ADS_2