
Prinsip yang Akira pegang teguh-teguh selama ini hancur seketika oleh sebuah kata yang hanya terdiri dari empat kata, ‘aku cinta kamu, Akira’ sesimpel itu tapi sukses membuat Akira lupa bahwa dirinya sudah berjanji tidak akan melakukansek* sebelum menikah. Kata-kata itu seperti mantra sihir yang membuat Akira lupa daratan, terlalu indah di pendengaran Akira, walaupun itu bukan pertama kalinya Akira mendapatkan kata-kata itu dari mulut lelaki, tapi entah kenapa saat kata-kata keluar dari mulut Dean terasa sangat berbeda, seperti alunan musik piano pengantar tidur yang membuat orang tak sadarkan diri, jatuh tertidur.
Kita melewatkan malam yang begitu panas, mencurahkan segala perasaan lewat bahasa tubuh. Mulut kita tidak bicara tapi tubuh kita saling berbicara satu sama lain, bahwa kita tahu kita saling membutuhkan.
Jangan tanya bagaimana bahagianya aku mendengar ungkapan perasaanmu, Dean. aku rasa tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan rasa bahagia yang kurasakan, namun dalam rasa bahagia itu banyak sekali keraguan yang tersimpan, dan otak ini seakan ada segudang ribuan kata untuk membantah perasaanmu itu.
Aku ragu dengan cintamu, Dean. apakah cinta yang kamu miliki seputih cinta yang ada di dalam hatiku untukmu? Aku rasa cinta yang kamu miliki masih tercampur Formalin, dia mengawetkan tapi sangat membahayakan, sedangkan aku butuh cinta seperti Asam Benzoat, dia mengawetkan sekaligus memberikan rasa aman.
Izinkan aku membuktikan cintamu itu, Dean. agar aku yakin memberikan sisa hidupku bersama kamu...
“Dan sekarang giliran kamu, Akira. Kamu belum menjawab pertanyaan aku kemarin sore. Apa jawaban kamu atas ungkapan perasaanku? Kamu belum menjawabnya sama sekali!” tanya Dean dengan serius, menatap lurus pada Akira.
“Aku tidak tahu Dean.”
Dean terkekeh pelan yang terdengar seperti kekehan sinis di telinga Akira. “Akira aku tahu kamu juga mencintai aku, tapi aku ingin mendengar kata-kata itu dari mulut kamu langsung!”
“Jika kamu sudah tahu perasaanku kenapa masih saja bertanya, bukankah para lelaki tidak terlalu memperdulikan ungkapan cinta dari perempuan,?” balas Akira, “kecuali jika kamu masih ragu dengan cinta itu.”
Dean menghela napas, meluruskan tubuhnya ke arah depan lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, “Dan bukankah para wanita lebih menunjukkan rasa cintanya lewat perkataan? Mereka akan lebih sering mengatakan cinta dari pada pria!” sahut Dean dengan suara rendah.
Akira menghela napas pelan, masih terdiam sambil menundukkan kepala.
“Apakah begitu sulit mengatakan, ‘aku juga cinta kamu, Dean.’ Cukup satu kali kamu mengatakan itu, Akira, agar hatiku ini merasa aman.”
“Aku harus siap-siap, pagi nanti aku akan melanjutkan perjalananku,” ucap Akira santai sambil berdiri meninggalkan Dean.
Dean terperangah, Ia duduk tegak sambil mencerna baik-baik perkataan Akira yang baru saja keluar itu. Apa maksud melanjutkan perjalananku?
Dean beranjak dari sofa dan menyusul Akira setelah beberapa saat terdiam dan melihat Akira sedang memunguti baju-baju mereka bekas tadi malam.
Dean berdiri di hadapan Akira, “Apa maksud dari perkataanmu tadi, Akira?”
Akira melirik sekilas sambil memisahkan baju Dean dan baju miliknya. Baju Dean ia masukan ke dalam tas pakaian kotor, sedangkan pakaian miliknya ia lipat kecil-kecil lalu dimasukkan ke dalam plastik bening yang biasa Akira gunakan untuk menyimpan pakaian kotor saat di perjalanan.
“Akira,” panggil Dean lagi yang sudah mulai tidak sabar menunggu wanita itu mengeluarkan suaranya, dan melihat Akira yang sedang melipat-lipat pakaian kotornya membuat hati Dean takut seketika apalagi saat Akira memasukkan plastik yang berisi baju kotor itu ke dalam kopernya.
__ADS_1
Dean menahan tangan Akira membuat Akira berhenti melakukan aktivitasnya lalu membalikkan tubuh Akira menghadap pada Dean.
Dean menatap lurus pada bola mata Akira seraya berkata, “Apa maksud omongan kamu tadi, Akira? kamu tidak akan pulang ke Indonesia bersamaku, hem?”
“Seperti yang tadi aku bilang, aku akan melanjutkan perjalananku dan itu artinya aku tidak akan ikut pulang bersama kamu.” Ucap Akira santai tanpa ekspresi apapun.
Rahang Dean menegang, urat-uratnya menonjol menandakan ia sedang menahan diri. “Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, Akira. kamu tahu aku cinta kamu, dan aku juga yakin kamu juga mencintaiku, lalu kenapa kamu masih tidak mau pulang bersamaku?”
Akira menghela napas sambil melepaskan cengkraman tangan Dean. “Maaf Dean aku benar-benar tidak bisa pulang ke Indonesia bersama kamu,” Akira membalikan badan dan mencoba kembali melanjutkan aktivitasnya namun langsung ditahan oleh Dean.
“Kalau kamu masih ingin jalan-jalan ke beberapa tempat lagi. Oke, silahkan, dan aku akan menemani kamu, baru setelah itu kita pulang.” Dean mencoba mengerti, mengira Akira masih ingin jalan-jalan di luar negeri.
Akira menggeleng pelan seraya berkata, “Ini bukan jalan-jalan biasa, Dean, tidak tahu berapa lama waktu yang akan aku habiskan dan kamu tidak bisa menemaniku.”
Dean mengerutkan alisnya hingga hampir menyatu. Ia tambah tidak mengerti maksud wanita itu. “Lalu bagaimana dengan hubungan kita?”
“Jujur saja, Dean. aku masih ragu dengan cinta yang kamu miliki. Entah itu benar-benar cinta atau hanya sekedar rasa penasaran kamu pada tubuhku yang kamu artikan sama dengan cinta.”
Dean terkekeh sinis, ia mengusap wajahnya lalu menarik napas dalam-dalam. “Sehina itukah diriku di matamu, Akira? ucap Dean lalu memalingkan wajahnya.
“Apa karena aku punya masa lalu yang buruk,hem? Aku akui, aku memang sudah tidur dengan banyak wanita tapi bukan berarti aku tidak punya cinta yang tulus, bukan berarti aku hanya mencintai tubuh kamu saja, Akira.!!” ucap Dean penuh penekanan.
“Kamu tidak tahu bagaimana takutnya aku ketika kamu keluar dari apartemen ini, Akira, betapa menyesalnya aku yang tidak berani berterus terang tentang perasaan ini lebih awal, dan kamu tidak tahu bagaimana hidup ini terasa tidak berarti ketika aku tidak menemukan kamu diluar sana kemarin sore! Kamu benar-benar egois, Akira, hanya karena aku punya masa lalu yang buruk, kamu menganggap cintaku hanya sebatas sek*.”
Akira masih menundukan kepalanya, ia tidak berani menatap wajah Dean, dari nada suaranya saja sudah bisa ketebak bahwa Dean sedang menahan emosinya.
“Kalau kamu tidak mencintaiku, seharusnya tadi malam kamu tidak membiarkan aku menyentuhmu, Akira. Itu hanya membuatku terlalu banyak berharap!!” lanjut Dean dengan kecewa.
Tubuh Akira merosot ke atas lantai, kakinya sudah tidak kuat menopang tubuhnya yang begitu tak berdaya. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menyembunyikan wajahnya yang sudah basah oleh genangan air mata.
Dean yang melihat hal itu hanya menarik napas dalam-dalam dan mengusap wajahnya. Ia berdecak pinggang membelakangi Akira, tadinya ia tidak ingin memperdulikan Akira yang menangis tapi setelah mendengar suara tangis Akira yang begitu sedih membuat Dean menurunkan egonya.
Ia berbalik badan lalu menumpukkan kedua lututnya di lantai di hadapan Akira. “Jika kamu ingin pergi, pergilah, Akira, tapi jangan menangis seperti ini... Aku tidak akan memaksamu untuk tetap bersamaku.” Ucap Dean sambil menarik tubuh Akira kedalam pelukannya lalu mencium puncak kepala Akira beberapa kali dengan penuh kasih sayang. dan hal itu membuat tangis Akira semakin pecah.
Akira mengeratkan lingkaran tangannya di tubuh Dean, membasahi dada Dean yang tanpa penghalang dengan air matanya. “Aku takut, Dean. Aku takut ditinggalkan.” Ucap Akira sambil tersedu-sedu.
__ADS_1
“Siapa yang akan meninggalkan mu, Akira? Aku akan tetap ada untukmu sampai kapan pun!” ucap Dean lembut sambil mengelus kepala Akira.
Akira tidak mengucapkan apapun lagi, ia hanya terus menangis menumpahkan ketakutan yang tertanam di lubuk hatinya. Tidak mudah bagi Akira mempercayai cinta seorang pria, apalagi kisah masa kecilnya meninggalkan trauma yang begitu dalam di dalam diri Akira.
Akira ingin mempercayai cinta Dean yang tulus untuknya, tapi hati dan pikirannya selalu kompak membantah ketulusan itu dan Akira tidak tahu bagaimana cara menghilang trauma dalam dirinya agar ia bisa menerima cinta Dean dengan rasa aman tanpa ada rasa takut atau khawatir di masa depan nanti.
Setelah pundak Akira tidak berguncang lagi dan tangisnya sudah sedikit reda, Dean memundurkan sedikit tubuhnya agar bisa menatap wajah Akira, lalu di tataplah mata Akira yang sembab dan hidungnya yang memerah.
Dean dengan pelan mengusap pipi Akira lalu mengecup kedua mata Akira silih berganti dan diakhiri dengan mencium kening. “Maafkan aku, jika aku yang membuat kamu menangis seperti ini. Kamu tenang saja, aku tidak akan memaksa kamu menerima cinta ini, Akira. Sudah cukup aku membuat hidupmu dalam kesulitan. Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan... dan jangan merasa terbebani dengan cintaku ini.” Dean menatap lurus pada mata Akira sambil menyingkirkan rambut yang menempel di wajah wanita itu, sedangkan Akira setelah mendengar ucapan Dean air matanya langsung kembali meluncur deras membasahi pipi.
Akira memeluk tubuh Dean, melingkarkan tangannya di leher Dean dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu. “Jangan tinggalkan aku, Dean.” ucap Akira lirih sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Dean mengusap-ngusap punggung Akira sambil menghela napas. Ia tidak mengerti apa yang diucapkan Akira, bukankah wanita itu yang ingin pergi meninggalkannya lalu kenapa wanita itu pula yang takut ditinggalkan.
Dean mengangkat tubuh Akira, memangkunya lalu mendudukkan Akira di atas kasur. “Kamu pagi ini akan pergi, kan, lebih baik sebelum pergi kamu istirahat terlebih dahulu. Sekarang baru jam setengah lima masih ada waktu buat kamu istirahat.” Dean menghela napas, ketika ingin berbalik badan meninggalkan Akira tangannya ditahan oleh wanita itu. Dean tidak langsung berbalik menghadap Akira, ia hanya berdiri mematung tanpa mengatakan apapun.
“Kamu sudah tahu bagaimana kehidupan masa kecil yang aku jalani, Dean. Tidak ada seorangpun yang tahu apa saja yang pernah aku alami kecuali kamu, bahkan ibu angkatku sama sekali tidak tahu, karena aku tidak pernah menceritakan masa kecilku pada siapapun. Aku menyembunyikan masa laluku dengan sangat rapat” Ucap Akira sambil air matanya terus mengalir.
“Rasa takut, menyesal, hidup yang seperti tidak berarti dan rasa kecewa yang luar biasa, pernah aku alami di masa yang seharusnya belum pantas aku rasakan! Jadi, aku sangat tahu apa yang sedang kamu rasakan, dan aku yang ingin kembali melanjutkan perjalananku bukan karena aku tidak mencintai kamu, bukan karena masa lalu kamu yang buruk!” Akira menghela napasnya sebentar sambil mengusap air matanya.
“Walaupun aku sangat membenci masa lalumu yang tidur dengan banyak wanita, tapi aku sama sekali tidak memandang diri kamu rendah atau menjijikan—“
“Lalu kenapa kamu menganggap cintaku hanya sebatas sek*? Kenapa kamu menganggap jika aku hanya menginginkan tubuhmu, Akira?” potong Dean sambil menghadap pada Akira.
Akira menggeleng-geleng kecil seraya berkata, “Aku hanya takut ditinggalkan, Dean, seperti ibuku yang meninggalkan aku, seperti ayahku yang menelantarkan aku, mereka semua meninggalkan aku sendirian, Dean, dan aku takut kamu juga seperti itu.” tangis Akira kembali pecah. Suara tangisnya begitu memilukan hati membuat Dean langsung memeluk wanita itu.
“Aku benci ditinggalkan... mereka tidak tahu bagaimana beratnya hidupku ditinggalkan sendirian. Ibuku yang aku kira sangat menyayangiku justru lebih memilih bunuh diri dan pria brengsek itu, dia malah hidup senang dengan wanita selingkuhannya.” Akira meluapkan emosinya sambil memukul-mukul punggung Dean. Ia dengan keras mengeluarkan suara tangisnya bersama dengan segala kesakitan yang bertumpuk di dalam hatinya. Dan pria brengsek yang dimaksud Akira adalah ayah kandung Akira yang sangat Akira benci.
“Mereka bilang, mereka tidak akan meninggalkanku tapi ternyata mereka tetap meninggalkan aku sendirian... dan aku takut kamu seperti itu, Dean... Aku lebih baik tidak pernah bersamamu daripada harus ditinggalkan.”
Dean mengeratkan pelukannya. Ia lupa bahwa masa kecil Akira begitu berat dan mungkin itulah penyebab Akira tidak kunjung mengucapkan kata cinta pada dirinya. Tidak mudah bagi seseorang yang mempunyai trauma yang luar biasa seperti Akira menerima kehadiran seorang pria dalam hidupnya, apalagi yang membuat trauma itu adalah cinta pertamanya, yaitu sang ayah.
Dean tidak mengatakan apapun lagi, ia hanya terus memeluk Akira, mencoba memberi ketenangan di tengah kepahitan hidup yang Akira jalani.
Aku akan membuatmu percaya padaku, Akira, bahwa aku tidak akan seperti mereka yang meninggalkanmu.
__ADS_1