Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
13


__ADS_3

Azimah masuk keruangannya dengan perasaan yang bercampur aduk.


"Ayah melihatnya tadi, apa yang akan Ayah pikirkan nanti?" gerutu Azimah pada dirinya sendiri.


Azimah mencoba membuang semua yang ada dipikirannya saat ini dan fokus pada pekerjaannya.


Saat Azimah sedang berkutat pada berkasnya, seseorang mengetuk pintu ruangannya. Azimah menoleh.


'"Ya masuk!" perintah Azimah yang langsung di turuti oleh orang di balik pintu tersebut.


"Anda sudah di tunggu untuk rapat, Nona." Ujar sekertaris Andreas


"Ah, aku melupakan hal itu." Keluh Azimah.


"Baiklah saya akan segera datang!" lanjut Azimah.


Azimah pun menyiapkan segala keperluan untuk rapatnya hari ini. Membayangkan akan berhadapan lagi dengan Andra membuat Azimah berat melangkahkan kakinya. Namun dengan tanggung jawab yang ia pegang saat ini, mau tak mau Azimah harus bisa melewatinya.


"Memendam perasaan ini bertahun-tahun sudah sangat menyesakkan, dan untuk melupakan semuanya seperti tak ada apa-apa dihatiku ternyata lebih menyesakkan. Aku harap kau tak kan membuatku luluh lagi. Tetaplah seperti ini, Andra. Setidaknya ini memudahkan aku untuk melupakanmu!" lirih Azimah dalam hatinya.


Azimah masuk ke dalam ruangan rapat. Beruntung ia tak terlambat meski sudah ada Andra dan Andreas di sana. Azimah duduk besebrangan dengan Andra, Andra tak melepaskan tatapannya dari pertama Azimah masuk hingga Azimah duduk. Melihat tatapan Andra yang tak ia lepaskan dari Azimah, Andreas sengaja menggodanya.


"Azimah, siapa pria yang mengantarmu tadi ke kantor?" tanya Andreas setengah berbisik namun itu tetap berhasil di dengar Andra.


"Dia Ronald, Ayah. Temanku saat di Universitas." Jawab Azimah seadanya.


"Teman atau teman?" goda Andreas yang berhasil membuat Azimah menatapnya tajam namun mengetahui Andra sedang menyimak percakapan mereka Azimah pun tersenyum kecil.


"Teman dekat." Singkat, namun berhasil membuat Andra mau pun Andreas terkejut.


Percakapn mereka terhenti saat semua orang mulai berdatangan. Azimah kembali fokus begitu juga Andra dan Andreas.


Rapat berjalan lancar dan sempurna. Azimah berhasil membuat semua orang terkagum dengan hasil persentasenya. Rapat yang cukup lama hingga menyita makan siangnya membuat perut Azimah berirama. Azimah hendak ke kantin namun saat melirik pergelangan tangannya, jam sudah hampir pukul lima sore. Waktunya pulang kantor.


Azimah berjalan menuju ruangannya namun terhenti saat merasakan pergetaran dari sakunya. Azimah mengambil isi sakunya dan sedikit mengerenyitkan dahi saat nomor tak di kenal tertera di layar telepon pintarnya itu. Tak ingin penasaran, Azimah pun menerima panggilan tersebut.


"Azimah, kau sudah pulang? aku ada di depan kantor ayahmu!" ujar seorang yang tak asing lagi suaranya.


"Sebentar Ronald, aku bersiap dulu." jawab Azimah cepat.

__ADS_1


"Baiklah santai saja. Aku akan menunggumu." Jawab Ronald dari seberang telepon.


Azimah segera mematikan sambungan telepon itu dan bergegas keruangannya. Belum sempat melangkahkan kakinya, Azimah sudah di tahan oleh suara Andreas.


"Azimah ...," panggil Andreas. Dengan cepat Azimah menoleh dan berbalik.


"Kau masih di sini? kenapa belum bersiap pulang?" tanya Andreas dengan Andra yang berdiri di sampingnya.


"Baru saja aku akan bersiap. Em, aku akan pulang dengan teman hari ini, Ayah" ujar Azimah ragu-ragu.


"Siapa? Ronald atau Mei?" tanya Andreas memastikan.


"Ronald" jawab Azimah pelan.


"Ah baiklah, jika ada waktu ajak Ronald ke rumah agar ibumu bisa mengenalnya." Pinta Andreas.


"Ayah, Ayah terlalu jauh memikirkan hal itu. Kami baru saling mengenal. Jangan mengatakan hal yang aneh pada Ibu nanti. Jika tidak aku akan di sidang malam ini" gurau Azimah yang membuat Andreas tersenyum mimikirkannya.


"Sepertinya itu ide bagus." Balas Andreas dengan guraunya yang membuat Azimah memanyunkan bibirnya.


"Sudah, 'Yah, jangan menggodaku terus. Ronald sudah menungguku!" Jelas Azimah yang kembali berbalik untuk menuju ruangannya.


Azimah sudah membereskan mejanya meski tidak serapi biasanya. Ia merasa tidak enak membiarkan Ronald menunggunya terlalu lama. Dengan langkah lebar ia melangkah ke arah lift. Tak di sangka Azimah kembali bertemu dengan Andra.


Ketika lift terbuka Azimah sengaja tak masuk dan membiarkan Andra lebih dulu menggunakannya, namun Andra tak membiarkan hal itu terjadi. Ia menarik Azimah untuk masuk bersamanya.


"Kekasihmu tak akan salah paham hanya karena kau satu lift dengan pria" ujar Andra sarkas.


"Tentu Paman, terlebih kau adalah pamanku sendiri" jawab Azimah tak kalah sarkasnya.


Andra menyadai maksud dari ucapan Azimah padanya. Azimah sedang menyadarkan posisi mereka berdua. Antara suka tidak suka Andra mendengarnya.


"Lalu kenapa kau tak ingin satu lift denganku jika sudah mengetahui hubungan antara kita" sahut Andra dengan nada datarnya.


"Aku hanya tak ingin membuat Paman tak nyaman." jawab Azimah yang membuat Andra menatapnya tajam. Azimah mengabaikan tatapan Andra yang seperti menuntut penjelasan darinya. Namun ketika Andra hendak mendekat lift pun terbuka. Dengan cepat Azimah melangkah keluar meninggalkan Andra yang masih terpaku mantapnya .


Di depan lobi, Ronald sudah menunggunya dan tersenyum saat melihat kedatangan Azimah. Azimah pun berlaku sama, ia membalas senyuman Ronald.


"Maaf membuatmu menunggu lama" sesal Azimah.

__ADS_1


"Tidak masalah, jika wanitanya secantik dirimu, aku bahkan sanggup menunggumu lebih lama lagi" ujar Ronald dengan senyuman khasnya.


"Sudahlah, aku semakin lapar mendengar rayuanmu itu. Kau akan terus membiarkan aku berdiri di sini atau membawaku masuk dan sebagai balasan karena keterlambatanku ini, aku akan mentraktirmu makan malam" kata Azimah sambil tersenyum ramah.


"Wah, tawaranmu sangat menarik. Makan malam dengan wanita cantik itu sepertinya menyenangkan!" goda Ronald lagi yang di tanggapi Azimah dengan senyuman lebarnya.


Ronald membukakan pintu untuk Azimah, baru saja Azimah hendak masuk ia kembali di tahan oleh ayahnya yang berteriak memanggil namanya. Azimah pun menghentikan langkahnya. Ia berbalik menunggu ayahnya mendekat.


"Ada apa, Ayah?" tanya Azimah saat Andreas mendekat di ikuti Andra dari belakang.


"Kau tak berniat mengenalkan kami" kata Andreas sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Ayah ...," jawab Aziamh sambil memutar matanya dengan malas namun berbalik menatap Ronald yang juga tersenyum menunggu jawaban Azimah.


"Kalian berdua sama saja" gerutu Azimah pada Andreas dan Ronald.


Keduanya hanya tertawa sambil menunggu sikap Azimah selanjutnya.


"Ayah... Kenalkan ini Ronald, temanku di Universitas. Ronald, kenalkan ini ayahku dan itu, Pamanku" ujar Azimah mengenalkan Andra dan Andreas pada Ronald.


"Siapa yang tidak kenal pada keduanya, mereka pengusaha sukses dan ternama di kota kita. Senang berkenalan dengan kalian, Tuan Lee dan Tuan Lu." Ucap Ronald sopan.


"Jika kau sudah tahu kenapa harus diam saja tadi?" omel Azimah pada Ronald.


"Tentu beda artinya, saat kau memperkenalkan aku secara resmi pada Ayah dan juga pamanmu, itu artinya kau mengakui aku di hadapan keluargamu. Itu semakin memudahkan aku untuk melangkah lebih jauh lagi denganmu." goda Ronald yang membuat Azimah salah tingkah sambil melirik sekilas pada Andra.


Andreas tersenyum mendengarnya. Entah mengapa, baru saja mengenal Ronald Andreas merasakan kehangatan darinya. Ia pun membalas keramahan Ronald


"Panggil aku Paman saja, Jangan terlalu formal. Katakan padaku setelah ini kalian akan kemana? Maaf bukan bermaksud menginterogasi kalian, ini harus kuketahui jika tidak ibunya Azimah akan membiarkan aku tidur di sofa. Kalian mengerti maksudku, bukan?" ujar Andreas bersikap seramah mungkin.


Ucapan Andreas mengundang tawa dari Ronald dan Azimah.


"Azimah membuatku menunggu lama, Paman. Jadi sebagai hukumannya dia harus mentraktirku makan malam bersama. Setelah itu aku akan membawanya pulang kerumah tanpa kurang suatu apa pun. " gurau Ronald yang membuat Andreas kian nyaman dengan keramahan Ronald.


"Baiklah kalau begitu, kalian bisa pergi sekarang. Dan Azimah, jangan lupa memberitahu ibumu" pinta Andreas pada Azimah.


"Baik, Ayah!" jawab Azimah.


Ronald kembali membukakan pintu untuk Azimah. Pamit pada Andreas dan Andra dengan senyuman ramahnya yang di balas Andreas dengan senyuman pula. Hanya Andra yang nampak kaku didepannya tanpa senyuman sedikit pun pada Ronald atau pun Azimah.

__ADS_1


Saat melihat Azimah pergi dngan pria lain membuat Andra sedikit tak terima, namun ia cukup sadar siapa dirinya saat Andreas bisa menerima kehadiran Ronald dengan terbuka.


Bersambung...


__ADS_2