Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
53


__ADS_3

Pagi yang indah menyambut Azimah yang masih malas beranjak dari tempat tidurnya. Selma sudah beberapa kali memanggil dirinya namun Azimah tak kunjung meninggalkan kamarnya. Hingga akhirnya suara ketukan pintu dari seorang anak kecil berhasil membuat Azimah membuka pintu kamarnya.


"Ada apa, Anas?" tanya Azimah dengan muka kusutnya.


"Ayah menyuruh Anas mengirimkan ini pada 'Kak Azimah" kata Anas sembari menyodorkan secarik kertas pada Azimah.


Azimah mengernyitkan keningnya melihat lipatan kertas yang diberikan Anas. Alih-alih membukanya Azimah malam membawa Anastasia masuk ke dalam kamarnya.


"Apa lagi yang Ayah katakan pada Anas?" tanya Azimah kemudian.


"Tidak ada. Ayah hanya meminta Anas mengantarkan kertas ini saja" jawab Anas polos.


Azimah pun segera membuka kertas tersebut.


"Mandi dan makanlah, Sayang. Aku baik-baik saja. Semuanya akan segera selesai dan kita akan bersama lagi. Aku mencintaimu." Tulis Andra di kertas tersebut dengan bubuhan bentuk hati di akhir kalimat.


Azimah tersenyum melihatnya. Siapa sangka tulisan tangan Andra itu berhasil membuat hati Azimah bersemangat. Azimah menurunkan Anastasia dan membalas surat yang Andra berikan padanya. Lalu memberikannya lagi pada Anas dan memintanya menyampaikan surat itu pada Andra.


Anastasia yang tidak tahu apa-apa itu hanya menuruti perintah dari dua orang dewasa yang sedang di mabuk cinta. Ia pun keluar untuk memberikan balasan surat Azimah pada ayahnya.


Dengan langkah riang Anastasia menuruni anak tangga. Tapi ketika ia sampai di dasar anak tangga Selma menghentikannya.


"Anas ...," panggil Selma dengan suara lembut.


Anastasia menoleh, "Ada apa, Ibu Selma?" tanya Azimah polos.


"Apa yang Anas pegang itu?" tanya Selma penasaran karena Anastasia baru saja keluar dari kamar Azimah.


"Aku di suruh 'Kak Azimah memberikan ini pada Ayah" jawab Anas dengan muka polosnya.


Selma membungkuk dan tersenyum pada Anastasia dan berkata, "Boleh Ibu Selma lihat?" tanya Selma.


Anastasia mengangguk dan memberikan surat itu pada Selma. Selma pun membuka surat tersebut dan membacanya.


"Aku juga mencintaimu!" Singkat padat dan jelas. Tiga kata itu berhasil membuat Selma menarik nafasnya dalam-dalam. Ia kembali melipat kertas itu dan memberikannya pada Anas kembali.


"Sana, berikan pada Ayah" ujar Selma pada Anas. Anas pun menurutinya. Ia kembali berjalan sembari membawa sepucuk surat ditangannya.


Selma mengamati kamar Azimah. Keluhan nafas kasar pun menggema ditelinga Selma. Dengan malas ia kembali melanjutkan aktivitasnya.

__ADS_1


Sementara kini, Anas telah sampai pada Andra dan memberikan balasan surat dari Azimah.


Andra tersenyum melihat tiga kata yang Azimah tuliskan untuknya. Begitu terasa hingga ke relung hatinya. Andra pun melipat kembali surat tersebut, menyimpannya di dalam dompet sebagai kenang-kenangan jika kelak Azimah dan dirinya bersatu.


Azimah turun ke lantai bawah setelah matahari mulai meninggi. Suasana rumah sangat sepi di mana Ayah dan adiknya yang sudah meninggalkan rumah.


Azimah menuju dapur untuk mencari sesuatu yang bisa ia makan. Bukan karena apa, suasana hatinya membuat ia melewatkan sarapan yang seharusnya sudah usai.


Di sana ada Selma yang sedang sibuk membuat sesuatu. Azimah mendekat dan menyapanya.


"Apa yang Ibu buat?" tanya Azimah.


Selma menoleh, "Ibu sedang membuat kue kesukaan kau dan Axel" jawab Selma sedikit canggung.


"Ada apa dengan, 'Bu? Ibu sakit?" tanya Azimah seraya menempelkan punggung tangannya pada dahi Selma.


Selma mengelak karena memang sebenarnya dia baik-baik saja. Namun ia sedikit terkejut dengan kedatangan Azimah yang langsung menyapanya. Ia pikir setelah kejadian tadi malam Azimah akan mendiamkannya, layaknya anak remaja pada umumnya yang marah karena di tegur Sang Ibu. Tapi ternyata Azimah tidak melakukan itu. Lalu kenapa tadi pagi Azimah tak mau keluar kamar? pikir Selma.


"Aku lapar, 'Bu. Apa ada makanan yang bisa aku makan?" tanya Azimah sambil mengitari ruang dapur untuk mencari sesuatu.


"Sebentar, Ibu panaskan dulu." Selma pun bergerak menuju kulkas. Mengambil sebuah cawan yang berisikan sup kemudian memanaskannya di atas kompor.


Azimah menunggu sambil duduk bersenandung ringan. Selma sesekali memperhatikannya. Hingga akhirnya sikap Selma tersebut diketahui Azimah.


"I-i-iya, ada apa?" tanya Selma gagap.


"Ibu kenapa?" tanya Azimah bingung. "Dari tadi Ibu memperhatikan aku, mencuri pandang padaku? Ada apa sebenarnya?" cecar Azimah.


"Ti-tidak. Itu perasaan kau saja, Azimah." Selma kembali pada masakannya kemudian menyajikannya pada Azimah.


Azimah masih menatap Selma dengan mata menyelidik. Azimah heran sekaligus bingung dengan sikap ibunya pagi ini.


"Ibu aneh pagi ini" celetuk Azimah.


Azimah menikmati sup yang ibunya sajikan untuknya. Sementara Selma kembali sibuk dengan adonan kuenya. Hingga akhirnya tanpa sengaja Andra datang untuk mengembalikan piring kotor bekas sarapan.


"Ehm ..." Andra berdehem mengagetkan Azimah sekaligus Selma yang fokus dengan aktivitas mereka masing-masing.


Azimah melirik sekilas, begitupun Selma. Sementara Andra sibuk meletakkan piring kotor ke dalam pencucian piring.

__ADS_1


"Biarkan saja, And. Aku akan membersihkannya nanti" kata Selma pada Andra.


Andra mengangguk mengerti. Azimah masih berusaha melihat Andra secara diam-diam. Berharap jika Andra akan menyadarinya.


Andra pun berbalik. Namun saat ia melewati Azimah, Ia mengedipkan sebelah matanya pada Azimah. Azimah yang melihat itu membulatkan mata dengan sikap Andra yang tiba-tiba. Tanpa mereka sadar Selma memperhatikannya. Ia hendak menegur namun kembali teringat akan kata-kata Andreas yang menginginkan dirinya hanya menyimak saja. Selma pun membiarkan perilaku Azimah dan Andra itu.


Setelah Andra kembali, dengan sedikit ragu Selma mendekati Azimah. Azimah yang memang menyadari perubahan sang Ibu menanyakan sikap sang Ibu.


"Ada apa, 'Bu? Katakan!" pinta Azimah lembut.


Selma nampak menimbang. Kemudian ia memberanikan diri untuk bicara dengan putri sulungnya itu.


"Masalah tadi malam," Selma bicara dengan nada pelan. Azimah hanya mendengarkan. "Apa kau marah karena kejadian tadi malam?" tanya Selma kemudian.


Azimah mengerutkan dahi. Selma pun melanjutkan.


"Apa kau marah pada Ibu karena Ibu melarangmu bertemu Andra, Azimah?" lanjut Selma.


Azimah melepaskan sendoknya. Ia tersenyum karena mengetahui apa yang mengganggu pikiran ibunya pagi ini. Dengan pasti Azimah menggelengkan kepala sembari meraih tangan ibunya.


"Kau tidak marah dengan hal itu? Bukankah kau mengatakan bahwa kau mencintai Andra? Lalu kenapa kau tidak marah saat Ibu melarangmu bertemu dengannya?" Selma bertanya dengan kecepatan tinggi, matanya membulat seraya tangannya mempraktekkan setiap kata yang ia ucapkan.


Tanpa di duga Azimah tertawa mendengar cara bicara ibunya yang panjang lebar itu.


"Kenapa kau tertawa, Azimah? Ibu sedang bertanya padamu!" gerutu Selma kesal.


Azimah kembali tersenyum dibuatnya. Dibandingkan Selma, umur Azimah lebih jauh terpaut dengan Andra. Itulah mengapa ia menyadari kekhawatiran ibunya yang semula seolah mengizinkan dirinya untuk bersama dengan Andra.


"Untuk apa aku marah, 'Bu?" ujar Azimah. "Ibu hanya melakukan tugasnya sebagai orang tua. Dan aku tahu itu demi kebaikanku" sambung Azimah.


Selma terharu dengan sikap anaknya itu. Selma tidak pernah menyadari jika Azimah bisa sebijak ini menanggapi kemarahannya.


"Aku percaya meski tidak bertemu dengan Andra, kami akan tetap bersama. Ini hanya masalah waktu. Ibu hanya mengkhawatirkan aku. Itu karena Ibu menyayangi aku. Lalu kenapa aku harus marah?" jelas Azimah.


Selma menunduk, ia malu pada anaknya itu karena selalu bertindak menuruti kemauannya tanpa memikirkan perasaan anaknya itu.


"Lalu kenapa kau tidak mau keluar kamar tadi pagi?" tanya Selma.


Azimah tersenyum kaku menanggapinya.

__ADS_1


* * *


Bersambung ...


__ADS_2