
Tak lama Azimah dan Andra tiba di butik. Mereka langsung di sambut hangat oleh pemilik butik yang memang sudah mengenal mereka. Setelah berbincang sedikit dan melihat-lihat koleksi baju di butik tersebut, Azimah dan Andra mulai mencobanya.
Azimah memilih long dress lengan panjang dengan renda di bagian dadanya. Bagian belakangnya terbuka yang berbentuk huruf V menampakkan pinggang ramping Azimah. Dengan bahan dasar satin kombinasi brukat membuat aura kecantikan Azimah kian terpancar dari dirinya.
Sementara Andra, ia hanya mengenakan tuxedo rompi berwarna hitam. Dan ketampanan Andra tidak perlu diragukan lagi meski ia sendiri sudah mencapai usia kepala empat. Dengan setelan tuxedo lengkap, Andra bahkan sangat serasi dengan Azimah. Bahkan usia tua tidak terlihat dari wajahnya. Tubuhnya yang atletis si tambah rahang tegas dengan bulu tipisnya menambah sempurna ketampanan Andra.
"Wow ..., kalian memang pasangan serasi. Aku tidak pernah melihat pasangan seserasi kalian!" ujar desainer memuji keduanya.
"Tentu saja, pilihanku tidak pernah salah. Selain pintar, wanita di sampingku harus cantik agar aku bisa membuat semua pria iri padaku!" jawab Andra bangga karena berhasil menjadikan Azimah sebagai miliknya.
"Kau benar. Tapi di sini aku bingung siapa yang akan membanggakan siapa. Dengan tampilan luar kalian yang seperti ini menjadikan kalian pasangan tanpa cela. Semoga Tuhan memberkati kebahagian kalian" kata Desainer kepercayaan keluarga Lu itu berdoa.
Andra dan Azimah tersenyum. Mereka kembali ke bilik ganti. Mengganti pakaian mereka dengan pakaian semula lalu kembali keluar menemui sang desainer.
"Oh iya. Apa kalian memiliki koleksi cincin pertunangan terbaik?" tanya Andra sambil membenarkan kancing jasnya.
"Kalian belum memiliki cincin pertunangan?" tanya Desainer itu.
"Aku sudah melamarnya, tapi hanya dia yang memiliki cincin sementara aku tidak. Tidak mungkin aku bertunangan hanya dengan satu cincin" tukas Andra.
"Oh, baiklah kalau begitu. Apakah kalian ingin mencari cincin pertunangan yang baru atau hanya ingin mencari yang cocok dengan cincin yang sudah ada?" tanyanya lagi.
Andra dan Azimah saling memandang. Andra membiarkan Azimah memutuskan karena memang pertunangan ini di buat atas keinginan Azimah.
"Bisa kau tunjukkan koleksi cincin prianya?" tanya Azimah.
"Sebentar!" Desainer itu masuk dan mengambil beberapa box yang berada tak jauh dari mereka lalu memberikannya pada Azimah. Azimah melihat secara seksama sambil mencocokannya dengan cincin yang ia pakai.
"Bagaimana dengan yang ini?" tanya Desainer itu menyarankan.
Azimah mengambil cincin yang diberikan desainer itu padanya dan melihatnya secara seksama.
"Modelnya simple, cocok dengan karakter Andra yang sedikit cool. Ukurannya juga sangat pas dengan cincin yang kau kenakan" jelasnya.
Azimah menarik tangan Andra dan memakaikannya. Ia tersenyum karena apa yang dikatakan sang desainer itu memang benar adanya.
__ADS_1
"Kami ambil yang ini. Dan juga minta kotak untuk cincin kami berdua" pinta Azimah.
"Akan aku urus!" jawab Desainer itu sambil mengayunkan tangan memanggil salah satu pegawainya.
Azimah masih mengamati cincin yang ada didepannya, sementara Andra sudah berdiri ke arah etalase yang terdapat banyak kalung.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya seorang pelayan pada Andra.
"Aku ingin melihat kalung itu!" jawab Andra sambil menunjuk kalung yang ada di leher manekin.
"Sebentar, Tuan!" Pelayan itu bergegas mengambilkan apa yang Andra minta. Sedari pagi Bosnya sudah memberitahukan bahwa mereka akan kedatangan pelanggan VVIP. Dan Bosnya sendiri yang akan turun tangan mengurus semuanya, namun saat melihat Andra tengah memandangi salah satu kalung, pelayan itu berinisiatif untuk melayaninya.
"Apa untuk calon istri anda itu, Tuan?" tanya pelayan itu.
Andra mengangguk pelan.
"Kalau saya boleh menyarankan, mungkin lebih baik yang ini. Kalung ini di buat dengan permata yang sangat langkah, meski berliannya kecil namun ini adalah berlian utuh. Proses pengerjaannya memakan waktu enam bulan dan kami hanya membuatnya satu buah musim ini" jelasnya.
Andra mengambil kalung yang disarankan pelayan itu. Ia mengamatinya dan mencocokkannya dengan leher Azimah dari kejauhan.
Pelayan itu dengan cepat dan berhati-hati mengerjakan apa yang Andra minta. Tak lama setelah menerima kalung yang ia pilih, Azimah mendekat padanya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Azimah.
"Tidak, hanya melihat-melihat saja. Apa sudah selesai?" tanya Andra mengalihkan pembicaraan.
"Ya, sudah. Ayo pulang!" ajak Azimah.
Andra pun mengangguk setuju. Ia menggenggam tangan Azimah dan mengambil alih paper bag yang Azimah pegang lalu meninggalkan butik itu dan kembali ke mobilnya.
"Oh, kunci mobilku tertinggal. Aku akan mengambilnya sebentar. Tunggulah!" kata Andra sambil meletakkan sebuah paper bag ke bangku belakang.
Azimah mengangguk pelan, namun sesuatu mencuri perhatiannya, yaitu paper bag yang baru saja Andra letakkan di bangku belakang. Azimah meraih paper bag tersebut dan membukanya.
Semua kotak beludru berwarna hitam terdapat di sana. Dengan ragu Azimah membuka kotak tersebut.
__ADS_1
"Kalung?" tanya Azimah pelan.
"Andra membeli kalung. Tapi untuk siapa? Kalau di lihat dari bentuknya ini tidak mungkin untuk pertunanganku. Bentuknya sangat biasa. Apa mungkin untuk ...," belum sempat Azimah meneruskan kalimatnya, Andra sudah datang dan bersiap masuk ke mobil. Dengan cepat Azimah menutup kembali kotak tersebut dan menempatkannya lagi ke kursi belakang.
"Kita pulang atau makan siang terlebih dahulu?" tanya Andra.
"Terserah kau saja, And. Lagipula setelah ini kita tidak akan kemana-mana lagi. Atau kau ingin ke kantor?" tanya Azimah dengan tatapan menyelidik.
"Aku ada pekerjaan sedikit di kantor, namun sudah aku katakan pada sekretarisku untuk membawanya ke rumahku nanti malam. Aku bisa mengerjakannya nanti di rumah. Jadi hari ini aku hanya akan menemanimu!" jelas Andra.
"Sekretarismu seorang wanita, bukan?" tanya Azimah memastikan.
"Iya, tentu saja. Dia cantik tapi tidak lebih cantik darimu" ujar Andra sambil melabuhkan kecupan singkat di pelipis Azimah.
Azimah hanya tersenyum kecil. Ia tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Kotak hitam berisi kalung itu sangat mengganggu pikirannya saat ini.
Andra kembali melajukan mobilnya. Ia bersenandung kecil, kadang ia bersiul-siul. Sementara Azimah, ia tengah mengalihkan pandangannya keluar jendela. Pikirannya saat ini sedang berkecamuk mengingat kembali kotak hitam berisi kalung yang ia temukan tadi.
"Apakah Andra memiliki wanita lain selain aku?" batin Azimah bertanya-tanya.
"Sayang ...," panggil Andra.
Azimah menoleh dan tersenyum kecil.
"Ada apa? Kenapa kau melamun?" tanya Andra heran melihat wajah calon tunangannya itu murung.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya tidak menyangka kalau kita akan segera bertunangan dan menikah. Ini seperti mimpi bagiku. Kau mencintaiku dan memilihku. Aku tidak pernah membayangkannya bahwa Cinta pertamaku akan menjadi suamiku" jawab Azimah beralasan.
"Ini tidak mimpi, Sayang!" kata Andra sambil meraih tangan Azimah dan menggenggamnya erat.
"Kau memang sudah di takdirkan untukku. Ya, aku akui kalau semuanya terjadi dengan sangat cepat dan aku sempat menolak perasaanku sendiri. Tapi inilah kenyataannya, kita akan menikah dan hidup bahagia nantinya!" jawab Andra bersemangat tanpa mengerti apa yang Azimah maksudkan.
"Benarkah?" tanya Azimah ragu. "Apakah menurutmu aku pantas menjadi istrimu?" tanya Azimah lagi.
"Hei, ada denganmu? Kau menanyakan pertanyaan penuh keraguan itu disaat kita selangkah lagi menuju jenjang pernikahan! Jangan berpikir yang macam-macam, Sayang. Nikmati saja, inilah proses dari semua perasaan yang kita rasakan selama ini. Dan kau tahu, aku sangat bahagia!" kata Andra sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
Azimah kembali tersenyum kecil dan segera mengalihkan pandangannya keluar jendela lagi. Perasaannya saat ini tidak bisa ia pahami, ia tidak ingin terlalu mengikuti perasaannya hingga akhirnya membuat mereka dalam pertengkaran besar. Azimah sudah jengah bertengkar dengan Andra.