Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
43


__ADS_3

"Paman..." Azimah kaget dengan kedatangan Andra yang tiba-tiba. Di tambah keadaan Andra yang berlumuran darah dengan beberapa lebam pada wajahnya..


Andra tak menanggapi keterkejutan Azimah. Ia masuk dan langsung mengunci pintu. Andra berjalan dengan tergesa-gesa menuju balkon. Memastikan semua jendela yang tertutup rapat. Azimah yang bingung sekaligus panik menarik Andra duduk di sofa single. Ia memandangi keadaan Andra yang sangat berantakkan kemudian berlari mencari kotak obat..


"Apa yang terjadi?" tanya Azimah gemetar..


"Kau harus pulang ke rumah. Jangan tinggal sendirian untuk sementara waktu." Azimah semakin bingung dengan pernyataan Andra namun ia tetap mengobati Andra dan membersihkan darah yang masih mengalir..


"Buka bajumu.." pinta Azimah yang langsung membuka satu persatu kancing kemeja Andra..


"Astaga..." Azimah kembali terkejut mendapati punggung Andra yang tertembak...


"Paman, pu-punggungmu!" ujar Azimah gagap..


Andra tak menjawab, ia berdiri kemudian masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamar Azimah. Azimah mengiringinya dari belakang sambil menenteng kotak obat dengan wajah yang sudah memucat dan tubuh yang gemetar..


"Bantu aku mengeluarkan amunisinya!" pinta Andra menahan rasa sakit..


"A-aku tak bisa, a-aku takut!" jawab Azimah yang kini sudah menangis...


"Hei, jangan menangis.. Aku tak apa. Kita hanya perlu mengeluarkan amunisi itu.." Andra mencoba menenangkan Azimah...


"Aku tak bisa. Aku akan menelpon ayah!" tegas Azimah yang hendak mengambil ponselnya namun segera di tahan Andra..


"Aku akan mati jika harus menunggu Iyas kemari."


"Tapi aku tak bisa melakukan itu. Aku bukan dokter dan juga kita tak memiliki peralatan bedah dan semacamnya!" jelas Azimah...


"Gunakan apa pun yang bisa mengeluarkannya. Bantu aku Azimah!" pinta Andra..


Azimah tak bisa memikirkan hal yang lainnya. Ia menuruti semua keinginan Andra dengan intruksi dari Andra...


Ting...


Amunisi tersebut berhasil dikeluarkan Azimah dengan susah payah. Azimah menangis setelah melihat darah yang mengalir di punggung Andra. Dan tangannya yang tak terlapisi apa pun terkena noda darah saat berusaha mengeluarkan peluru tersebut..


"Kau belum selesai, Azimah. Kau masih perlu menjahitnya!"


Azimah tersentak tak bertenaga. Ia pun menggeleng lemah..

__ADS_1


"Tak ada yang bisa kulakukan. Untuk sementara agar menghentikan aliran darahnya aku hanya bisa membalutnya. Aku tak mempunyai peralatan yang memadai.."


"Gunakan apa saja!"


"Kau akan terinfeksi, Andra." teriak Azimah frustasi..


Azimah mengeluarkan semua perlengkapan obatnya. Membalut satu persatu luka Andra dengan tangan gemetar. Andra merasakan itu namun ia tak bisa membawa dirinya ke rumah sakit karena bisa saja orang-orang bertubuh kekar itu menyusulnya dan mungkin akan membunuhnya di sana. Ia tak ingin melibatkan Azimah terlalu jauh...


Azimah telah selesai membalut luka Andra. Ia membawa Andra untuk beristirahat dikamarnya. Andra hanya mengikuti semua perintah Azimah karena memang saat ini ia sudah tak bertenaga. Tubuhnya sangat lemas dan matanya mulai berat..


"Aku akan keluar membeli obat lainnya. Paman tunggu di sini.." Andra menggeleng cepat. Ia menahan tangan Azimah agar tetap berada didekatnya...


"Jangan kemana-kemana! Tetap disini dan jangan buka pintu untuk siapa saja!"


"Tapi..."


"Bisakah kau tak membantahku sekali saja?!" kesal Andra..


"Beristirahatlah." Azimah menurut. Ia menyelimuti Andra dan membiarkan Andra terbaring sementara ia kembali membereskan semua barang bekas Andra.


Setelah selesai, Azimah kembali melihat keadaan Andra. Merasakan sesuatu yang basah dari bagian bawah tubuh Andra, Azimah segera membuka selimut untuk memastikannya..


"Darah?" gumam Azimah..


"Huh... Tenyata hanya aliran darah saja." ujar Azimah lega..


Azimah menutupi tubuh Andra dengan selimut lagi. Dan ikut berbaring di sisi Andra..


"Aku akan tidur sebentar. Besok pagi aku akan keluar untuk membeli obat.." batin Azimah. Ia pun memejamkan mata hingga keesokan paginya..


Azimah terlambat bangun karena waktu tidurnya yang terlambat. Azimah terbangun ketika mendengar bel yang berbunyi. Dengan malas Azimah membuka pintunya...


"Ibu.., Anas..." kata Azimah yang mendapati Selma dan Anastasia di depan pintu apartemennya..


"Ayahmu bilang jika kau tak ke kantor hari ini. Jadi ibu ingin memastikan apakah kau baik-baik saja!" jelas Selma sambil menuntun Anastasia duduk di sofa..


"Aku akan ke kantor, bu. Sebentar lagi.."


"Ini sudah jam berapa, huh? kenapa kau bangun sangat terlambat. Semalam Andra sekarang kau yang bersikap aneh seperti orang yang lupa ingatan..." keluh Selma..

__ADS_1


"Paman.. Oh Tuhan aku lupa..." teriak Azimah gelagapan dan langsung berlari kekamarnya. Hal ini membuat Selma mengikuti Azimah ke kamarnya..


"Kalian!" teriak Selma kaget setengah mati...


"Ibu aku bisa jelaskan. Ini tak seperti yang ibu kira.."


"Ayah..." Anastasia yang baru saja masuk segera berlari ke arah Andra dan memeluknya dengan erat. Andra terbangun karena kaget. Namun saat ia melihat Anastasia ia tersenyum meski matanya masih berat...


"Andra, inikah alasanmu menitipkan Anas padaku. Kau tak ingin di ganggu? kau keterlaluan menjadikan Anas...,"


"Aku terluka, Selma." potong Andra dengan cepat sambil mengangkatkan tangannya ke atas..


"Oh Tuhan apa yang terjadi denganmu? Bagaimana kau bisa mendapatkan luka ini?" tanya Selma kaget..


"Jangan banyak bicara. Panggil Iyas kemari ada yang ingin kubicarakan dengannya!" tegas Andra masih dengan mata tertutup...


Selma segera menuruti keinginan Andra. Ia menelpon Andreas seperti yang diminta Andra. Sementara Azimah mendekat untuk memeriksa keadaan Andra..


"Bagaimana keadaanmu? Apa yang kau rasakan saat ini?" Tanya Azimah sambil menempelkan punggung tangannya ke dahi Andra. Andra meraih punggung tangan tersebut dan menciumnya singkat...


"Aku merindukanmu..."


"Hentikan..., aku bertanya tentang keadaanmu!" kesal Azimah..


"Kepalaku pusing dan mataku berat. Sepertinya aku kekurangan darah.."


"Lebih baik kita ke rumah sakit. Aku tak ingin sesuatu yang lebih buruk lagi terjadi jika kau tetap di sini." jelas Azimah


"Tunggu Iyas. Saat ini aku tak ingin di rumah sakit. Aku hanya ingin berada didekatmu" Andra bicara dengan suara yang serak kemudian menggenggam tangan Azimah dengan erat. Azimah tak bisa berbuat banyak. Ia tak tahu apa yang terjadi sebenarnya pada Andra. Yang harus ia lakukan saat ini adalah mengikuti keinginan Andra sebelum ayahnya tiba...


****


NB:


Ingin tahu cerita sebelumnya dari Azimah. Baca karya novelku "Pernikahan kontrak".


Baca juga, ceritaku yang lainnya...


"Haruskah aku mengalah pada takdir?"

__ADS_1


Jangan lupa Like, Coment dan tambahkan ke favorit ya..


Makasih ...


__ADS_2