Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
35


__ADS_3

Andra sedang duduk di tepi danau tempatnya dipukuli Andreas. Hari ini ia sudah berjanji akan bertemu dengan Andra, membicarakan masalahnya dan Azimah. Ia tak meminta pengampunan atau pun izin Andreas, ia hanya ingin memberitahu Andreas bahwa ia akan memperjuangkan Azimah lagi dengan atau pun tanpa persetujuan Andreas.


Mengingat hubungan mereka selama ini, Andra ingin menghargai posisi Andreas sebagai Ayah Azimah. Itulah mengapa ia perlu bicara pada Andreas. Ia tak ingin memperkeruh hubungannya dan Andreas dengan melangkah sendiri tanpa sepengetahuan Andreas.


Sebuah mobil mewah berwarna hitam menepi di dekat mobilnya. Andra berdiri menunggu Andreas mendekat padanya. Wajah Andreas masih menampakkan kemarahan namun tidak semarah minggu lalu.


Andreas melangkah mendekat pada Andra yang sedang menunggunya. Ia tak tahu mengapa Andra tiba-tiba menghubunginya dan meminta bertemu. Awalnya Andreas enggan menanggapi permintaan Andra, namun karena Andra adalah sahabatnya yang paling dekat, Andreas pun menyingkirkan egonya demi persahabatan mereka.


"Ada apa kau memintaku untuk bertemu?" Wajah Andreas masih datar menatap Andra.


"Aku ingin membicarakan hubunganku dan Azimah" kata Andra tenang.


"Hubungan? Hubungan yang seperti apa? Apakah selama ini kalian mempunyai hubungan?" ujar Andreas sarkas


Pertanyaan Andreas cukup menciutkan nyali Andra yang merasa kini jalannya untuk menggapai Azimah sudah tidak mudah lagi..


"Iyas ..., aku dan Azimah saling mencintai. Aku tahu, jika aku keterlaluan kemarin, itu aku lakukan karena aku takut kehilangannya. Aku membicarakan ini karena menghargai hubungan lama kita. Aku tak akan meminta pengampunanmu atau jawaban atas maafku karena aku cukup sadar jika aku tak pantas untuk mendapatkan itu."


Pandangan Andra lepas kehamparan danau yang hijau. Dengan nada lirih yang sama ia melanjutkan kembali kata-katanya..


"Aku akan memperjuangkan Azimah lagi!" Andra menjeda sejenak kalimatnya karena melihat pergerakan Andreas yang beralih menatapnya.


"Aku tak mengizinkanmu untuk menyakiti Azimah lebih jauh lagi. Kau sudah terlalu banyak menyakitinya. Aku mohon sebagai sahabat dan juga ayahnya. Tolong biarkan Azimah bahagia tanpa kau lagi" pinta Andreas.


Andra berbalik menatap Andreas. Ia tahu kekhawatiran Andreas padanya. Ia pun tahu jika Andreas sangat menyayangi ketiga anak Selma, namun untuk mengikuti keinginan Andreas itu sama saja menyerah pada kebahagiaannya.


"Maaf, Iyas. Aku tak bisa. Sekarang aku begitu menginginkan Azimah selalu berada disampingku. Aku memang egois karena tak bisa melepaskan Azimah dengan kebahagiaannya yang baru. Tapi percayalah, aku tak akan melakukan hal yang memalukan lagi padanya" jawab Andra mantap.


Andreas ingin kembali memukul Andra namun segera Andra tahan. Tatapan mereka bertemu dengan sama tajamnya. Namun secepat mungkin Andra menguasai dirinya.


"Sebagai sahabat dan juga Ayah Azimah aku mengatakan semua keinginanku padamu. Aku akan tetap mengikuti keinginanku dengan atau tanpa persetujuanmu. Tapi aku berjanji satu hal, jika Azimah memang tak menginginkan aku lagi, aku akan menyerah saat itu juga!" kata Andra mencoba meyakinkan Andreas.


Andreas pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun. Ia tak tahu mengapa sekarang Andra berbalik pada pendiriannya. Ia yang salah menilai ataukah memang Andra yang terlambat menyadari.


Andra hanya memandangi punggung Andreas yang kian menjauh. Ia menarik nafas panjang dengan hasil yang sudah ia ketahui lebih dulu. Namun Andra cukup lega karena ia sudah mengutarakan semuanya, selebihnya biarkan Andreas sendiri yang menilainya. Sekarang tugasnya adalah bagaimana cara mendekati Azimah kembali.


Sore tiba, Azimah pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya. Hanya beberapa saja yang ia bawa karena ia perlu mengecek ulang kembali pekerjaannya.


Azimah mengendarai mobilnya menembus jalanan yang padat karena jam kantor telah usai. Azimah menarik nafas sesekali karena mobilnya yang tak bergerak ditempatnya. Tiba-tiba ponsel Azimah berdering, Azimah melirik sekilas ke layar ponsel yang ia letakkan di kursi penumpang. Azimah mengerutkan dahinya setelah melihat nama orang yang memanggilnya.


"Andra Home" batin Azimah.


Azimah meraih ponsel tersebut, dengan ragu menggeser panel hijau di layar ponsel pintarnya itu.

__ADS_1


"Hallo"


"Kakak ..., ini Anas" Terdengar suara anak kecil yang menggemaskan dari seberang ponselnya.


Azimah melipat dahinya mendengar Anastasia yang menghubunginya.


"Ada apa, Anas?" tanya Azimah


"Tidak apa-apa, Anas hanya di suruh ayah menelpon" jawab Anastasia polos


Senyap seketika.


Azimah sempat mendengar kalimat terakhir Anastasia.


"Andra ingin menghubungiku?" gumam Azimah. "Apakah ini terkait pekerjaan?" pikir Azimah.


Azimah menelpon Andra namun langsung pada nomor ponselnya. Ia ingin memastikan ada apa Andra menghubunginya melalui Anastasia.


"Hallo, ada apa Paman?" tanya Azimah langsung.


"Itu, maaf karena aku melibatkan Anas. Aku takut kau tidak mau mengangkat panggilanku" jelas Andra gugup.


"Katakan saja, ada apa?" ujar Azimah


Azimah diam sejenak, Andra pun melanjutkan kata-katanya.


"Aku tak bisa menemuimu di kantor karena Iyas masih marah padaku. Jika kau tak bisa maka tak masalah. Aku akan mengirimkan emailnya saja padamu" tambah Andra.


"Baiklah, kirimkan saja emailnya padaku. Aku akan melihat apa yang salah."


Azimah langsung memutuskan sambungan teleponnya sebelum Andra sempat menjawab. Dengan deru nafas cepat ia menatap lurus ke depan.


"Ternyata aku belum siap bertemu denganmu!" lirih Azimah.


Di tempat lain, Andra sedang mengamati ponselnya. Haruskah ia menelpon Azimah lagi? Ia ragu, takut jika sikapnya kembali membuat Azimah terluka. Ia pun mengurungkan niatnya untuk menghubungi Azimah kembali.


Azimah masuk ke apartemennya. Merebahkan sejenak tubuhnya di kasur. Mengecek ponselnya untuk mengetahui apakah Andra sudah mengirimkan emailnya. Namun ternyata tak ada pesan masuk di emailnya. Ia pun mengirim pesan pada Andra perihal masalah yang ingin Andra bahas dengannya.


Lama untuk di balas walau pemberitahuan sudah mengatakan pesannya terkirim. Azimah pun meninggalkan ponselnya dan beranjak untuk membersihkan diri.


30 menit sudah Azimah menyegarkan dirinya di kamar mandi, Azimah kembali mengecek ponselnya untuk melihat balasan yang Andra kirim. Dan hasilnya tetap sama. Tak ada jawaban apa pun dari Andra. Azimah kembali berpikir namun sebelum ia memikirkan sikap Andra lebih jauh, bel berbunyi. Azimah berlari keluar kamar dan membukanya.


"Mei ...,"

__ADS_1


Azimah tersenyum senang karena sahabatnya itu mengunjunginya. Mereka pun masuk lalu kemudian berbincang tentang kesibukan mereka.


"Hei ..., kenapa kau selalu melihat pada ponselmu?" tanya Mei penasaran karena Azimah tak pernah fokus saat mereka berbincang.


"Andra malam ini sangat aneh." kata Azimah pelan.


"Aneh bagaimana?" tanya Mei bingung.


"Dia menghubungiku melalui Anas. Saat kutanya, Anas mengatakan jika Andra yang memintanya, lalu panggilan terputus." Mei nampak menyimak dengan seksama.


"Aku menelponnya langsung dan dia mengatakan jika dia ingin bertemu denganku perihal pekerjaan kami" lanjut Azimah.


"Lalu kau mau menemuinya?" potong Mei penasaran.


Azimah menggeleng pelan.


"Aku belum siap bertemu dengannya" lirih Azimah.


Mei pun mengusap punggung Azimah pelan.


"Lalu apa kata Andra karena kau yang tak ingin bertemu dengannya?"


"Dia mengatakan akan mengirimkan email untuk permasalahannya. Namun sampai saat ini tak ada yang ia kirimkan" keluh Azimah.


"Ya sudahlah mungkin dia lupa karena mengurusi Anas. Atau mungkin dia ...," Mei sengaja menggantung kalimatnya takut ia salah bicara dengan perasaan Azimah saat ini.


"Atau apa?" Azimah penasaran dengan kalimat Mei selanjutnya.


"Tidak tahu," elak Mei.


"Ayolah, Mei. Katakan padaku. Atau apa? jangan membuatku penasaran begini" desak Azimah tak sabar.


"Atau mungkin itu hanya alasan Andra saja agar bisa bertemu denganmu. Ini hanya dugaanku saja" jawab Mei ragu.


"Entahlah ..., aku bingung. Aku takut permasalahan kami mempengaruhi kerjasama kami" ujar Airani.


"Ya sudah biar semuanya pasti, kau temui saja Andra besok dikantornya. Mungkin saja ini memang terkait masalah pekerjaan. Atau mungkin ia bingung bagaimana cara menghubungimu setelah apa yang terjadi pada kalian. Berpikir positif saja" ujar Mei menenangkan Azimah.


"Iya, aku akan menemuinya besok." Yakin Azimah.


"Ya sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Sekarang lebih baik kita makan malam. Aku masak sesuatu yang enak. Ayo ketempatku!" ajak Mei yang langsung menarik tangan Azimah. Azimah pun mengikuti langkah Mei.


* * *

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2