
Andra membanting semua barang yang berada didekatnya. Ia benar-benar marah dengan sikap Azimah yang menuduhnya tanpa bukti.
"Arrghhh ..., kenapa sulit sekali untuk bersatu dengannya?" teriak Andra geram.
"Dan bagaimana bisa Azimah menuduhku berselingkuh darinya?!" kembali Andra dibuat geram sendiri oleh Azimah.
Andra mengacak rambutnya kasar. Tanpa sengaja ia melihat jam di dinding kamarnya.
"Ah sial!" umpat Andra yang kemudian berlari mengambil kunci mobilnya dan menyusul Azimah.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, dan kawasan rumah Andra termasuk kawasan yang jarang dilalui taksi kecuali memesannya melalui online. Dan Azimah tidak membawa mobil, ia pun belum makan apapun, membuat Andra sedikit khawatir.
Andra mengamati di sekeliling jalan, berharap bahwa ia bisa menemukan Azimah dan mengantarnya pulang. Keadaan belum sepenuhnya kondusif, bisa saja Azimah kembali di culik dan dijadikan sandera untuk mereka yang memang memiliki dendam pada Andra ataupun Andreas.
Di penghujung jalan, Andra melihat seorang wanita yang tengah berjalan dengan langkah gontai. Andra yakin itu adalah Azimah. Dengan cepat Andra memacu mobilnya agar mendekat pada Azimah. Baru saja Andra mendekat, sebuah mobil berwarna hitam mendekati Azimah lebih dulu. Para penumpang di dalamnya bergegas turun dan menyeret Azimah untuk masuk ke dalam mobil tersebut.
Azimah berontak dan berusaha berteriak, namun mulutnya di bekap dan tangan serta kakinya di pegang erat untuk dibawa paksa masuk ke dalam mobil. Sebelum itu semua terjadi, Andra dengan cepat menerjang semuanya hingga tersungkur dan Azimah terjatuh.
Andra mendekati Azimah dan membantunya bangun. Saat semua itu berjalan, tiba-tiba Azimah berteriak.
"ANDRA ..., AWAS ...." teriak Azimah.
Andra tidak sempat mengelak dan merasakan sakit di bagian belakang tubuhnya setelah berhasil diterjang oleh orang yang mengintai Azimah.
Andra bangkit dan bersiap untuk melawan semua orang yang memakai pakaian gelap serta topi itu. Ia menangkis dan membalas semua pukulan. Hingga semuanya jatuh tak berdaya.
Andra mendekat pada salah seorang yang masih merintih kesakitan.
"Apa Walikota yang mengirim kalian?" tanya Andra langsung.
__ADS_1
Orang itu tidak menjawab. Ia hanya menahan rasa sakit di dada dan perutnya. Dan melihat hal itu Andra kembali melampiaskan rasa kesalnya.
Andra menekan perut orang suruhan musuhnya dengan menggunakan lututnya, membuat si empunya perut berteriak tertahan menahan rasa sakitnya.
"Jawab aku dengan jujur maka itu akan memudahkan kalian untuk bebas!" ujar Andra penuh penekanan.
"Aku tanya sekali lagi, apa Walikota yang menyuruh kalian, heh?" kata Andra mengulangi pertanyaannya namun kali ini ia menekankan semua kata-katanya dengan dorongan lututnya yang kian menekan perut orang tersebut.
"Y-ya ..., W-walikota yang mengirim kami" jawabnya terbata-bata.
Andra menarik lututnya. Ia berdiri dan mengambil tali di dalam mobilnya. Sementara Azimah ia berdiri ketakutan melihat apa yang baru saja ia alami.
"Masuk mobil, Azimah!" kata Andra pada Azimah.
"T-tapi, a-aku ...,"
"Kataku masuk, ya masuk!" ujar Andra yang langsung menarik Azimah untuk memasuki mobilnya.
"Iyas, datang sekarang dan bawa orang-orang kita ke jalan masuk rumahku. Sekarang!" Andra menelpon Andreas untuk menyelesaikan semuanya.
Andra berdiri di antara mobil suruhan dan mobilnya. Ia sedang menunggu kedatangan Andreas sambil sesekali melihat pada Azimah yang menatapnya khawatir.
Tak lama, Andreas datang dengan mobil yang jarang ia gunakan. Azimah keluar dan berlari memeluknya.
"Ada apa, Sayang. Apa yang terjadi?" tanya Andreas yang cemas melihat wajah Azimah yang penuh air mata.
Azimah hanya diam dan terus memeluk Andreas lebih kuat lagi.
"Walikota mengirim orang untuk mencelakai Azimah. Beruntung aku datang lebih awal, jika tidak dia sudah dibawa pergi dan dijadikan sandera oleh Walikota" kata Andra menjelaskan.
__ADS_1
"Kau tidak terluka, bukan?" tanya Andreas. Azimah menggeleng pelan.
"Di mana mereka melakukannya? Bukankah seharian ini Azimah bersama denganmu, And?" tanya Andreas bingung.
"Ya, tiga puluh menit yang lalu dia bersama denganku, namun karena cemburu buta dia pergi dan meninggalkan rumah setelah melemparkan cincin pertunangan yang ia kenakan!" jawab Andra meluapkan kekesalannya.
"Kalian bertengkar lagi?" tanya Andreas bingung.
Keduanya diam. Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Andreas.
"Kapan kalian bisa tenang? Kemarin kalian begitu yakin untuk bertunangan dan menikah, namun sekarang kalian bertengkar lagi? Apa kalian tidak bisa menjalani hari kalian dengan bahagia layaknya pasangan yang hendak menikah?" ujar Andreas.
"Tanyakan pada putrimu, Iyas. Dia menuduhku berselingkuh dan memutuskan pertunangan secara sepihak. Apa yang aku lakukan tidak pernah bisa menumbuhkan rasa percaya dalam hatinya. Sebentar dia datang dengan rasa penuh cinta, kemudian dia pergi dengan mengatasnamakan cinta. Aku tidak tahu apakah dia memang benar-benar mencintaiku ataukah hanya pernah mencintaiku" kata Andra lirih.
"Azimah ...," panggil Andreas yang melihat Azimah tertunduk lemah.
"Sudahlah, aku tidak bisa terlalu ikut campur dalam permasalahan kalian karena aku memang tidak tahu permasalahannya" ujar Andreas.
"And, kau bawa Azimah pulang dan selesaikan masalah kalian. Aku akan mengurus orang-orang itu dan setelah aku pulang nanti aku ingin kalian sudah baik-baik saja. Ingat, kalian ingin menikah! Ini keinginan kalian berdua tanpa paksaan dari siapapun. Jadi, pikirkan lagi apakah langkah kalian sudah tepat ataukah kalian masih perlu waktu untuk saling memahami. Pikirkan semuanya matang-matang sebelum undangannya di sebar besok" kata Andreas menambahkan.
Andra masih berdiri menahan kesal dan amarahnya. Sementara Andreas sudah membawa masuk Azimah ke dalam mobil Andra.
"Sayang ..., ini pasti salahmu. Ayah yakin itu. Andra tidak mungkin berselingkuh. Kata-kata itu adalah kata-kata laknat yang tidak pernah Andra sukai. Jadi selesaikan semuanya dan minta maaflah padanya" ujar Andreas menasihati Azimah.
Andreas menutup pintu mobil dan mendekat pada Andra.
"Bawa dia pulang atau ke tempat di mana kalian bisa menyelesaikan masalah kalian dengan tenang. Dan jangan lupa, coba berpikir melalui sudut pandang Azimah. Azimah tidak mungkin menuduhmu begitu saja tanpa ada suatu hal yang terjadi. Ingat, cara berpikir kita para lelaki berbeda dengan para wanita terlebih Azimah dan kau memiliki perbedaan usia yang cukup. Jadi, tolong pahami dia dari cara berpikirnya" kata Andreas.
"Apa menuduh orang begitu saja bisa termasuk masalah umur pula? Dia menuduhku sementara kau tahu sendiri bahwa aku tidak mungkin melakukan apa yang dia tuduhkan itu!" kesal Andra.
__ADS_1
"Iya ..., iya. Aku tahu. Tapi dia belum tentu tahu. Kalian memang sudah lama saling mengenal tapi kalian belum saling memahami. Ini memang bukan masalah umur tapi kebanyakan orang di usia Azimah, saat ia hendak menikah maka suasana hatinya Up and Down. Banyak hal yang dia pikirkan yang mungkin itu berlawanan dengan apa yang hatinya inginkan dan pada akhirnya cara pengungkapannya pun salah. Aku tidak bisa menjelaskannya secara rinci karena aku tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita yang beda usia cukup jauh dariku. Tapi, itulah faktanya. Dan kau harus tahu cara penyelesaiannya. Pilihannya ada dua, bertahan atau lepaskan! Jika kau ingin bertahan, pilih cara penyelesaian yang benar dan jika tidak maka tanpa dipilih, opsi kedua pun akan terjadi" jelas Andreas.
"Terserah kau saja!" jawab Andra sekenanya yang kemudian berbalik dan masuk ke dalam mobilnya.