Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
28


__ADS_3

Azimah sudah berkali-kali di panggil Selma untuk makan malam bersama namun Azimah menolak dengan alasan sudah kenyang. Tapi hal yang sebenarnya terjadi adalah, Azimah tak berselera makan. Ia masih terpikir tentang pendapat Andra padanya. Walau sahabatnya Mei sudah mengatakan untuk jangan memikirkannya, tetap saja pikirannya hanya tertuju pada Andra.


"Huft ...."


Azimah menghembuskan nafas panjang. Ia terlalu lelah untuk mencerna semuanya. Di satu sisi ia merasa bersalah karena tak bisa mengontrol emosinya hingga membuat Andra tersinggung dengan ucapannya, di sisi lain ia merasa tak salah karena memang ia mengatakan itu bukan untuk Andra, Azimah hanya ingin Maria menyadari tugasnya sebagai pengasuh. Tapi semuanya telah terjadi, tak ada yang bisa di rubah. Ia pun siap jika memang Andra akan membencinya.


"Siapa yang tahu jika jatuh cinta itu akan serumit ini. Apa mungkin ini hanya terjadi padaku? Ah, entahlah ..., aku benar-benar bisa gila jika terus memikirkan ini" geram Azimah.


Azimah menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya dari atas hingga bawah. Ia memaksakan matanya untuk terpejam agar pikiran tentang Andra tak terus menghantuinya.


Di kamar mereka, Selma dan Andreas berbincang setelah makan malam. Mereka beranjak untuk tidur namun sesuatu hal mengganggu Selma


"Iyas," panggil Selma. "Apa sesuatu sudah terjadi lagi pada Andra dan Azimah?" tanya Selma pada Andreas.


Andreas menatap istrinya yang sedang berada di depan cermin hiasnya. Selma pun menoleh pada Andreas yang sudah terbaring di ranjang menunggu Selma untuk tidur di sampingnya.


"Kenapa kau berpikir demikian?" tanya Andreas heran.


"Kau mengatakan Azimah izin untuk menjemput Anas, lalu setelah itu dia tak kembali lagi ke kantor. Dan saat pulang dia tak keluar kamar, dia juga menolak untuk makan malam. Pasti sesuatu telah terjadi di sana." yakin Selma.


Andreas pun merasakan hal yang sama, namun ia tak mau ambil pusing karena ia tahu jika Andra dan Azimah membutuhkan waktu untuk benar-benar saling memahami.

__ADS_1


Terpaut usia yang sangat jauh sudah membuat berbagai macam perbedaan di antara mereka di tambah status Andra seorang duda dengan seorang anak, tentu saja tak akan berjalan dengan mulus-mulus saja. Karena itu Andreas membiarkan semuanya, meski ia tahu yang akan terluka di sini adalah Azimah namun ia tak ingin ikut campur jika semuanya masih dalam keadaan baik-baik saja dalam artian pertengkaran mereka tak mengganggu kekerabatan di keluarga mereka..


"Iyas, kau dengar aku?" teriak Selma yang melihat Andreas berbaring dengan memejamkan mata. Andreas membuka matanya namun ia hanya tersenyum menanggapi teriakan istrinya itu.


"Ah ..., kalian sama saja. Aku akan bertanya pada Azimah besok. Aku tak bisa diam begini saja." oceh Selma sambil menyisir rambut panjangnya.


Mendengar itu, Andreas beranjak dari tempat tidurnya. Duduk di tepi ranjang sambil meraih tangan Selma dan di genggamnya dengan lembut.


"Sayang ..., kau menjadi Ibu yang sangat cerewet sekarang" ujar Andreas sambil mencuil ujung hidung Selma.


"Kenapa kau mengatakan ini?" tanya Selma heran. Tak biasanya Andreas mengkritik dirinya.


"Jangan tanyakan apa pun pada Azimah besok atau pun jika kau melihat ada perubahan di antara mereka. Kau hanya perlu mengamatinya saja. Biarkan saja mereka menjalani hubungan mereka seperti yang mereka mau. Lagi pula tak ada pasangan yang tak bertengkar, kita pun sama dulu. Andra dan Azimah perlu waktu yang lebih banyak untuk saling memahami. Jika kita terus ikut campur dan bertanya-tanya tentang perkembangan hubungan mereka, mungkin mereka akan merasa terganggu. Dan akhirnya sikap yang kita anggap benar ini ternyata menambah beban atau masalah bagi mereka" jelas Andras dengan penuh kelembutan.


"Ada apa lagi dengan wajahmu itu?" tanya Andreas penasaran.


"Bagaimana jika nanti Azimah merasa kita tak perhatian lagi?" ujar Selma khawatir.


Andreas menarik nafas panjang mendengarnya. Kadang istrinya itu bisa berpikir dengan cepat namun kadang juga ia berpikir terlalu lambat hingga membuat Andreas mendesah pelan.


"Azimah akan menginjak usia 23 tahun. Sampai kapan kau akan memperlakukannya sebagai anak kecil. Biarkan saja, anak seusianya sudah bisa memilih sendiri jalannya, kau tak perlu terlalu memperhatikannya. Saat ini, ada orang yang sangat ingin di perhatikan olehmu. Dia rindu belaian-belaian hangatmu dan juga desahan lembut dan erangan kenikmatanmu juga---" secepat mungkin Selma menutup mulut Andreas yang bicara panjang lebar dengan bahasa frontalnya. Ia takut ada yang mendengar cara bicara Andreas yang mesum itu.

__ADS_1


Andreas tersenyum senang melihat kekesalan Selma. Ia pun mendekat pada Selma dan berdiri di belakang Selma, memegang kedua pundaknya sambil mencium lembut puncak kepalanya.


"Kau itu jika bicara jangan terlalu keras. Jika anak-anak dengar akan mereka anggap apa ayahnya ini" gerutu Selma dalam belaian Andreas.


Andreas tak menjawab, ia terus membelai setiap inchi dari tubuh Selma. Ia selalu bergairah hanya dengan mencium aroma tubuh Selma saja.


"Iyas, hentikan! Aku sedang tak bersemang...at" suara Selma tercekat saat merasakan tubuhnya seperti melayang di udara kemudian di turunkan dengan begitu cepat. Belum sempat Selma menyadari wajah Andreas sudah berada di depan wajahnya.


Deru nafas Andreas yang memburu terdengar di telinga Selma. Andreas tersenyum lebar sambil membelai wajah Selma. Bagaimana Selma tak terbuai, Andreas selalu bisa membuatnya terlena dalam waktu singkat.


Selma membalas senyuman suaminya itu, mengalungkan tangannya di leher Andreas, menuntut Andreas dengan gerakan liarnya terhadap tubuhnya saat ini. Andreas pun mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka menyatu sempurna.


Bergulat dengan saliva yang saling mereka sukai, memanggut dalam waktu yang begitu lama hingga akhirnya Andreas melepaskan tautan mereka. Tak memberi Selma waktu untuk bernafas, Andreas turun ke leher Selma, menciumi lekuk leher Selma yang sangat ia sukai. Selma tak mampu berbuat apa-apa lagi saat ini. Ia hanya memejamkan mata sambil menikmati setiap pergerakkan yang di lakukan Andreas pada tubuhnya. Sesekali mendesah pelan saat Andreas menggigit leher Selma.


9 tahun mereka menikah, tak pernah sedikit pun terlintas rada bosan untuk melakukan hubungan ini. Saat ia mendengar teman-temannya mengeluh dengan hubungan ranjang mereka, Selma malah merasa selalu bergairah dengan Andreas meski selalu di awalnya ia akan mengeluh lelah atau alasan lainnya, namun saat Andreas mulai mencumbunya, Selma tak bisa menutupi gelora gairah dalam tubuhnya. Seperti saat ini, ia mendominasi Andreas dengan duduk di atasnya. Bergerak liar dengan irama yang tak karuan, sementara Andreas tengah sibuk dengan dua gunung kembarnya. Membenamkan wajahnya hingga guncangan gairah dalam dirinya itu semakin mendesak. dan pada akhirnya Selma mengerang keras.


"Arrrgggghhhh" erang Selma lalu terkulai di atas tubuh Andreas.


Andreas mengelus punggung Selma, memberikan jeda atas kenikmatan yang baru saja Selma rasakan, setelah itu ia pun memacu dirinya untuk mencapai puncak kenikmatan yang sama


* * *

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2