
Andra mengikuti Azimah menuju paviliun. Sementara Azimah sudah siap dengan segudang kemarahannya yang terpendam pada Andra sedari tadi.
"Bagaimana bisa kau berdebat dengan ibuku tanpa rasa canggung, And? Apa kau lupa bahwa dia ibuku?" teriak Azimah sesaat setelah memasuki paviliun.
Andra bingung harus menjawab apa. Selama ini tidak ada yang berani membentaknya seperti yang sedang Azimah lakukan saat ini.
"Memangnya kenapa jika dia ibumu? Selma selalu saja menginginkan menantu yang seusia denganmu, memangnya aku kurang apa sebagai seorang pria. Aku mapan, aku lelaki bertanggung jawab, aku juga tidak suka bermain perempuan di luar sana" jawab Andra dengan bangga.
"Kau terlalu percaya diri, Tuan!" sergah Azimah kesal. "Jika kau cukup sempurna lalu mengapa memilihku menjadi kekasihmu yang bisa saja menurunkan kadar kesempurnaanmu itu" tambah Azimah masih dengan suara yang meninggi.
"Lalu kenapa kau memilihku, sementara diluar sana masih banyak pria dengan kepercayaan diri rendah yang bisa menyenangkan hatimu di hadapan orang tuamu? Bukankah kau bisa bersenang-senang dengan teman priamu dan dengan bangga memamerkannya di depan kedua orang tuamu. Bukankah kau tidak akan malu mengenalkan kekasihmu di hadapan banyak orang" kata Andra tajam.
"Karena aku tidak tahu diri!" ujar Azimah, kemudian ia berlalu meninggalkan paviliun dengan kebungkaman Andra.
Andra berbalik, segera menyusul Azimah saat ia rasa bahwa kata-katanya memang cukup berlebihan.
Andra menarik Azimah yang hampir saja memasuki rumah utama. Wajah Azimah memerah, matanya sudah berair. Dengan cepat Andra membawanya dalam pelukan dan berkali-kali mengucapakan kata maaf pada Azimah. Namun Azimah tidak merespon permintaan maaf Andra.
"Maaf, aku salah. Maafkan aku" ujar Andra seraya membubuhi Azimah dengan kecupan di seluruh wajahnya. Tapi Azimah masih tetap diam mematung tak memberikan jawaban.
"Ah, sial. Aku benci jika sudah dalam masalah seperti ini!" ungkap Andra.
Tanpa Azimah dan Andra sadari, Selma yang baru saja hendak masuk setelah mengantar Andreas di muka pintu melihat semua itu. Ia melihat bahwa Azimah menangis dan Andra berusaha menenangkannya.
__ADS_1
"Apakah mereka bertengkar karena aku?* batin Selma menerka.
Selma hendak melangkah maju, namun kemudian niat itu ia urungkan saat mengingat peringatan Andreas padanya. Dengan rasa penasarannya ia hanya mengamati keduanya dari kejauhan.
"Sayang ..., maaf" lirih Andra.
"Aku ingin beristirahat, And. Aku lelah" uhar Azimah berdusta. Padahal apa hal yang bisa membuatnya lelah. Seharian ia hanya di rumah saja tanpa melakukan aktivitas yang berat.
"Jangan seperti ini, kau tahu aku tidak suka mode diam yang seperti ini. Marah saja jika kau memang ingin marah, aku terima. Tapi tolong jangan diamkan aku seperti ini" mohon Andra.
Namun sepertinya Azimah belum mau bicara pada Andra. Entah mengapa, mendengar kata-kata Andra tadi membuat hatinya sesak padahal itu tidak terlalu kasar.
Andra menarik Azimah masuk kembali ke paviliun. Ia mendudukkan Azimah di sofa ruang tamu dan mengusap wajahnya pelan. Memisahkan air mata yang sempat menetes di atas kulit wajah Azimah.
"Aku berjanji akan menjadi kekasih yang kamu inginkan" ucap Andra yang sudah kehilangan akal untuk membujuk Azimah.
Andra bukanlah tipe pria yang akan sanggup bertengkar dengan kekasihnya dalam waktu yang lama. Ia tidak suka berada dalam kondisi yang canggung dalam hubungannya. Itulah sebisa mungkin Andra membujuk Azimah agar memaafkannya. Karena ia tahu, pertengkaran adalah ambang kandasnya sebuah hubungan. Andra tidak ingin itu terjadi lagi. Bagaimanapun, ia baru memulai hubungan bersama Azimah. Membuka hati setelah kepergian Adelina adalah sesuatu yang mustahil baginya dulu, namun Azimah berhasil merobohkan kokohnya benteng pertahanan itu.
"Azimah, Sayang. Kau dengar aku?" ujar Andra kembali menarik perhatian Azimah.
Azimah memandangnya sekilas lalu kembali membuang muka.
"Sekarang, bagaimana pun caramu memperlakukan orang tuaku, aku tidak akan peduli lagi. Kau ingin marah, berdebat atau hal semacamnya itu terserah padamu. Mungkin aku yang terlalu memaksakan diri padamu, And" ujar Azimah lirih. Dua bulir bening lolos begitu saja berselancar dengan bebas di kulit wajah mulus Azimah. Dengan cepat Andra menghapusnya dan menyatukan keningnya pada kening Azimah.
__ADS_1
"Kau sudah melamarku, walau mungkin itu bukan lamaran yang resmi. Bayangan bahwa kau akan menjadi suamiku sudah berada di pelupuk mataku. Aku hanya ingin memberikan kehormatan bagi kedua orang tuaku atas kekasih pilihanku, namun ternyata itu tidak mungkin" lanjut Azimah.
"Kalian yang dulu tidak pernah berdebat kini beradu argumen saling mencari kebenaran atas kata-kata kalian. Aku merasa menjadi perusak bagi persahabatan kalian!" tangis Azimah pecah, ia menunduk sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Andra terus menggelengkan kepalanya melihat Azimah kembali terisak di balik telapak tangannya.
"Aku tidak ingin menjadikanmu kekasih seperti yang aku inginkan. Aku hanya ingin kau mengerti bahwa ada garis besar tentang hubungan persahabatan dan menantu. Salahkah aku meminta itu darimu?" kata Azimah frustasi. Ia menatap lekat ke manik mata Andra. Andra hanya bisa menggeleng sambil terus berusaha menghapus air mata azimah yang mengalir.
"Maaf, aku melupakan itu" lirih Andra.
Azimah berusaha mengusap air matanya yang terus mengalir, bagaimana pun ia tidak ingin terlihat lemah meskipun itu di depan orang yang ia cintai.
"Kedepannya aku akan memperhatikan sikap kepada Selma juga Iyas. Maafkan aku. Tolong berhenti menangis, ini menyakitiku" kata Andra yang sudah tidak sanggup melihat Azimah terus menerus menangis karenanya.
"Pikirkan lagi jika kau benar-benar sudah siap memiliki calon mertua yang seusia denganmu. Jika kau memang sanggup maka perhatikan sikapmu. Bagaimana pun aku hanya seorang wanita. Aku hanya bisa menunggu karena untuk berlari darimu pun, aku rasa itu tidak akan bisa lagi sekeras apapun aku mencobanya" kata Azimah sambil mengusap air matanya.
"Aku sudah memilihmu, Azimah. Dan aku tidak akan berpaling hanya karena ini. Aku akan terus melangkah hingga benar-benar menjadikanmu sebagai milikku" tegas Andra.
Azimah tidak menanggapinya. Ia hanya diam sambil sesekali terisak dalam diamnya.
Sementara Selma sedari tadi sudah menguping semua pembicaraan Andra dan Azimah. Ia mendengar topik apa yang mereka bahas hingga memicu pertengkaran keduanya. Sejenak ada rasa bersalah karena sikapnya yang akhir-akhir ini tidak baik pada Andra. Walau Selma hanya ingin bersikap layaknya orang tua yang ingin melindungi putrinya, namun Selma melupakan satu hal, yaitu kenyataan bahwa Andra adalah pria yang telah di pilih oleh putrinya saat ini.
Penolakan Selma bukan karena status Andra sebagai sahabat yang kini beralih menjadi kekasih Azimah, melainkan karena Azimah tidak siap membiarkan putrinya terlibat dalam masalah yang tidak ia ketahui. Ancaman bahaya serta bayangan kejadian di waktu silam membuat Selma mencemaskan keadaan Azimah secara berlebihan, terlebih Azimah masih trauma dengan keadaan tersebut.
Setelah merasa kedua orang yang tengah ia amati itu diam, Selma berbalik menuju rumah utama untuk mengatur perasaannya.
__ADS_1
"Mungkin inilah mengapa Andra melarangku terlalu ikut campur pada hubungan Azimah dan Andra. Aku secara tidak langsung menyulitkan Azimah dengan posisiku dan juga Andra" gumam Selma sesaat setelah ia berhasil masuk ke dalam kamarnya.