Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
77


__ADS_3

Azimah langsung keluar kamar dan segera Andra tahan dengan memeluknya dari belakang.


"Azimah, jangan seperti ini. Aku benar-benar tidak tahan tidak bicara denganmu" kata Andra lirih sambil mengusap-usapkan wajahnya di leher belakang Azimah.


"Hentikan, Andra!" kata Airani.


"Tidak! Sebelum kau memaafkan aku" kata Andra. Ia semakin gencar menggoda Azimah hingga Azimah harus menjadikan tangannya sebagai penyangga tubuhnya yang hampir saja oleng akibat ulah Andra.


"Andra, nanti Ibu lihat!" kata Azimah memperingati.


Andra pun menghentikan kegiatannya. Ia membalik Airani yang masih enggan menatapnya.


"Buatkan aku kopi, aku akan mandi sebentar!" kata Andra yang langsung keluar dan memasuki kamarnya kembali untuk mandi.


Azimah hanya bisa menarik nafas panjang melihat tingkah Andra itu. Ia pun menuju rumah utama untuk membuatkan Andra kopi.


Ketika sampai di dapur, Azimah melihat Selma yang tengah menginstruksi beberapa pelayan keluarga mereka.


"Ibu ...," panggil Azimah.


Selma menoleh, "Ada apa, Azimah?" tanya Selma.


"Tidak ada apa-apa" jawab Azimah yang hanya ingin menyapa Selma. Selma terlihat bingung namun ia tidak menggubrisnya. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya dengan para pelayan. Sementara Azimah ia memasak air dan meracik kopi untuk Andra.


Selma yang melihat itu merasa bingung karena yang ia tahu Azimah bukanlah pecinta kopi.


"Untuk siapa kopi itu, Azimah?" tanya Selma.


"Andra" jawab Azimah singkat.


"Dia sudah pulang? Kapan?" tanya Selma lagi.


"Baru saja" kembali Azimah jawab singkat dan fokus pada kopi yang sedang ia buat.


"Lalu apa Iyas juga di sana?" tanya Selma.


"Tidak, Andra pulang sendirian" jawab Azimah lagi.

__ADS_1


Selma sejenak berpikir sementara itu Azimah sudah hendak beranjak dengan kopi yang ada di tangannya.


"Kau sudah pantas menjadi seorang istri" kata Selma menggoda anaknya itu.


Pipi Azimah bersemu karena Selma menggodanya. Tak ingin mendapat godaan yang lebih besar ia segera meninggalkan Selma dan membawa serta kopi ia buat.


Azimah meletakkan kopi di ruang tamu. Ia bingung apakah harus tinggal atau kembali ke kamarnya. Jujur saja, kemarahannya pada Gazza sudah mereda. Ia tidak benar-benar marah pada Andra. Hanya saja, ia masih terlalu gengsi untuk mengakui bahwa ia memang tidak bisa lepas dari Andra.


Dan tadi, apa? Andra melepaskan bajunya. Matanya sendu seperti menahan sesuatu. Dan lagi, cumbuan Andra tadi benar-benar membuatnya terbuai. Jika saja ia tidak membawa Selma dalam alasannya, mungkin saja Andra akan terus menggempurnya hingga benar-benar terjadi lagi.


Membayangkan itu Azimah merasakan tubuhnya panas seketika. Apa yang dilakukan Andra terhadap dirinya tidak bisa ia abaikan begitu saja. Andra terlalu mendominasi pikirannya hingga hanya dengan sentuhannya saja tubuhnya bereaksi meski bibirnya mengatakan tidak. Sungguh Azimah tidak bisa lepas dari sosok Andra.


"Ehm ...." Suara deheman Andra membuyarkan semua lamunan Azimah. Ia menatap Andra yang sudah segera dengan pakaian yang telah berganti juga rambutnya yang basah. Azimah menelan kembali salivanya. Semua yang berkaitan dengan Andra membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih.


"Kopinya sudah kubuatkan" kata Azimah mencairkan suasana hatinya yang sedang panas. Bukan karena cemburu, melainkan karena godaan Andra terlalu besar baginya.


"Terimakasih" jawab Andra yang langsung duduk dan meraih kopinya.


Andra menyesap kopi itu begitu lama, ia bahkan sengaja memainkan bibirnya di tepi cangkir seolah mengetahui kemana arah tatapan mata Azimah padanya. Dan sekali lagi ia sengaja menggoda Azimah dengan membasahi lagi bibirnya dengan ujung lidahnya sesaat setelah memisahkan tepi gelas tersebut dari bibirnya.


"Kenapa kau memandangiku seperti itu, Sayang?" tanya Andra yang sudah mengulurkan tangannya menuju pipi Azimah. Sedikit ia sapukan tangannya pada pipi kekasihnya itu hingga berakhir di bibir Azimah.


"Hei, kenapa dia?" tanya Andra sambil menahan senyumnya.


"Ti-tidak" jawab Azimah cepat dan terbata-bata. "A-aku hanya berpikir, bagaimana rasa kopi buatanku? Karena ini kali pertamanya aku membuatkan seseorang kopi" ujar Azimah beralasan dengan senyuman canggung yang mengakhiri kalimatnya.


"Manis. Semanis orang yang membuatnya" jawab Andra kembali menggoda Azimah.


"Memangnya aku gula hingga kau bisa tahu aku manis?" celetuk Azimah yang sudah jengah dengan godaan Andra.


'Berhentilah, Andra. Pertahananku mulai goyah' batin Azimah menggerutu sementara kedua tangannya terkepal dengan erat.


"Kau tidak percaya? Biar aku buktikan!" kata Andra yang meraih kembali cangkir kopinya, menyesapnya sedikit lalu beranjak mendekat pada Azimah dan langsung menyerbu bibir Azimah.


Azimah yang merasa tidak siap hanya bisa terdiam saat Andra mengalihkan kopi yang berada dalam mulutnya ke dalam mulut Azimah.


Azimah mendorong Andra karena merasa kehabisan nafas.

__ADS_1


"Kau mau membunuhku?" teriak Azimah sambil memukul keras dada Andra.


Andra hanya tersenyum melihat wajah Azimah yang memerah karenanya. Entah karena tergoda atau malah karena menahan amarahnya.


"Aku hanya membuktikannya, Sayang!" ujar Andra yang mengelap bibir bawah Azimah dengan gerakan sensual.


Tidak bisa Azimah bohongi jika ia memang merindukan Andra. Beberapa hari tidak bicara dan bermanjaan dengannya membuat Azimah merindukan sentuhan Andra walau itu hanya sekedar belaian di pipinya.


"Aku benar-benar merindukanmu, Azimah. Sangat" ucap Andra sembari menarik tangan Azimah lalu mengecup punggung tangannya.


Azimah hanya diam, ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Andra terlalu bisa membuatnya terbuai bahkan hanya melalui kata-katanya saja. Entah Azimah yang terlalu mudah atau memang karena perasaan cintanya pada Andra yang terlalu besar.


"Kenapa diam saja? Kau masih marah?" tanya Andra pelan. Tangannya tidak henti-hentinya membelai wajah dan rambut Azimah.


"Bagaimana dengan lukamu?" tanya Azimah mengalihkan pembicaraan.


"Baik-baik saja. Itu hanya goresan kecil, Sayang" jawab Andra.


"Lalu bagaimana masalahnya? Apakah sudah selesai?" tanya Azimah lagi.


Andra menarik Azimah dan membiarkan kekasihnya itu menyadarkan diri ke dada bidangnya sambil menjawab pertanyaannya.


"Sembilan puluh persen hampir selesai" jawab Andra singkat.


"Benarkah?" tanya Azimah senang.


"Iya. Iyas bekerja lebih cepat dari yang aku bayangkan" jawab Andra seadanya.


Kali ini, Andra melingkarkan tangannya di pinggang Azimah. Ia menempatkan dagunya di pundak Azimah. Azimah hanya diam dan membiarkan semua yang ingin Andra lakukan padanya karena memang sebenarnya ia juga menginginkan hal tersebut.


"Aku bersyukur karena mereka tidak memiliki senjata" kata Azimah sambil membelai luka di lengan Andra.


"Mereka punya itu. Hanya saja keberuntungan sedang berada pada kami tadi malam. Kami bisa selamat dari timah panas mereka walau tidak bisa selamat dari belati yang mereka gunakan" jelas Andra.


"Apa keadaannya sama seperti dulu. Waktu aku di culik?" tanya Azimah memastikan sambil mengingat kembali kenangan mengerikan ang tidak dapat ia lupakan seumur hidupnya, di mana ia melihat semua orang saling baku hantam. darah sudah berada di mana-mana. Tidak hanya itu, suara ledakan senjata api menggelegar menguasai malam yang gelap dengan dirinya terkurung di dalam ruangan gelap dengan kaki dan tangan yang terikat.


"Jangan ingat lagi kenangan buruk itu. Aku berjanji akan menggantikan kenangan itu dengan kenangan yang indah nan manis kedepannya" kata Andra.

__ADS_1


Azimah tersenyum, ia menoleh singkat pada Andra yang masih tenang berada di atas pundaknya. Entah siapa yang memulai, keduanya mulai saling memanggut dan mencecap. Bertukar saliva dengan liarnya hingga akhirnya mereka melepasnya dengan benang saliva yang menjadi jarak ukur di anata mereka.


__ADS_2