Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
67


__ADS_3

Azimah mencari Selma untuk menanyakan kepergian Andra. Karena yang ia tahu mereka berdua termasuk Anastasia belum bisa meninggalkan rumah sampai di rasa keadaan sudah aman bagi mereka untuk keluar.


Selma yang tengah bermain bersama Anas tidak menyadari kedatangan Azimah hingga Anas memanggilnya barulah Selma menoleh.


"Kakak ...," panggil Azimah yang segera berlari memeluk dirinya.


Azimah membalas pelukan Anas, tidak hanya itu ia membawa Anas dalam gendongannya kemudian mendekat pada Selma.


"Kau baru bangun, Sayang?" ujar Selma bertanya pada putri sulungnya.


"Iya, Bu. Semalam mengobrol dengan beberapa teman hingga lupa waktu" jawab Azimah berbohong.


"Iya, tidak apa-apa. Lagi pula sekarang kau tidak mempunyai kegiatan lain. Sibukkan saja dirimu bersama teman-temanmu" kata Selma sambil menurunkan Anas dari pangkuan Azimah.


"Andra kemana, Bu?" tanya Selma langsung.


"Kenapa? Kau sudah merindukan dia?" ujar Selma menggoda anaknya itu.


"Ibu ...," keluh Azimah.


"Dia sudah pergi ke kantor hari ini. Ada hal yang harus ia kerjakan dengan ayahmu" jawab Selma.


Azimah nampak manggut-manggut paham. Lalu keduanya beralih fokus pada Anastasia yang sedang menggambar sesuatu di atas selembar kertas.


Selma menoleh pada Azimah dan pandangan mereka bertemu. Azimah hanya tersenyum namun Selma menangkap sisi lain dari wajah anaknya itu.


"Kau baik-baik saja, Azimah?" tanya Selma memastikan.


"Tentu saja, Bu. Memangnya kenapa?" tanya Azimah heran.


"Tidak, wajahmu sendu hari ini" ujar Selma seadanya.

__ADS_1


"Mungkin karena kurang tidur" dusta Azimah lagi. Selma pun mengerti.


"Jaga Anas, Ibu ingin melihat tanaman di halaman belakang" kata Selma pada Azimah.


"Baik, Bu." Selma pun berlalu meninggalkan Azimah dan Anastasia saja. Sementara Anastasia masih asyik dengan kegiatan menggambarnya.


*


Di lain tempat, Andreas dan Andra tengah berdiri mengamati beberapa penyidik yang tengah menginterogasi seseorang di sebuah ruangan.


"Dia masih belum mengaku hingga hari ini. Padahal sudah tiga hari dia berada di sana dengan semua pertanyaan-pertanyaan yang sama berulang kali" ujar ketua penyidik.


"Biarkan saja. Sampai kapan ia akan bertahan dengan kebungkamannya itu. Mungkin dia mendapat bayaran yang sangat besar sehingga bersikap keras kepala seperti ini" jawab Andreas.


Setelah melihat secara langsung pelaku pengkhianat dari perusahaannya, Andra dan Andreas keluar ruangan. Berniat untuk melakukan hal selanjutnya.


Saat berjalan menyusuri ruang kejaksaan, Andra membuka suaranya.


"Sepertinya tidak sesederhana itu, Iyas" ujarnya yang seketika menghentikan langkah kaki Andreas.


"Iya, jika hanya karena uang aku rasa dia sudah mengatakan kebenarannya dari hari pertama ia ditangkap. Mungkin ada hal lain yang membuat dia bungkam" jelas Andra.


Andreas kembali melanjutkan perjalanannya menuju mobil yang terparkir di halaman kantor kejaksaan tersebut. Ia memikirkan apa yang baru saja Andra katakan padanya.


Saat masuk mobil, Andreas pun memikirkan sesuatu.


"Chris termasuk salah satu pegawai yang bekerja denganku cukup lama. Selama ia bekerja aku tidak pernah melihat hal yang salah dari mana. Kalaupun untuk uang, aku rasa Chrisls tidak akan kesulitan karena dia berasal dari keluarga yang cukup berada. Aku rasa apa yang kau katakan itu ada benarnya. Mungkin kita harus menambah pekerjaan kita, And" kata Andreas tersenyum miring.


Dengan malas Andra mengacungkan jempol pada Andreas. Mereka pun meninggalkan halaman parkir kejaksaan menuju kantor masing-masing.


Sesampainya di kantor, Andreas memeriksa profil Chris. Ia melihat data kapan awal mula Chris bekerja dengannya. Tidak hanya itu, Andreas juga memeriksa aliran dana yang masuk ke rekening Chris. Hanya satu yang menyita perhatian Andreas, yaitu Chris yang hanya memiliki orang tua tunggal dan seorang anak kecil berusia lima tahun yang tinggal bersama ibunya. Andreas mengernyitkan dahi karena setahunya Chris tidak memiliki adik dan pula belum menikah. Lalu siapa anak kecil itu?

__ADS_1


Dengan cepat Andreas meraih ponselnya dan menghubungi seseorang dari dalam kontaknya. Setelah panggilan itu tersambung Andreas segera bicara dengan nada tegasnya.


"Aku mengirimkan profil seseorang padamu, aku ingin kamu memeriksa dan melaporkan semuanya padaku apapun yang kau dapat dari profil tersebut" kata Andreas.


".."


"Aku ingin secepatnya!" tegas Andreas lagi.


".."


Panggilan terputus begitu saja, menyisakan Andreas yang berdiri penuh tanya akan kehidupan pribadi Chris.


*


Di lain tempat, Andra tengah berdiri di depan sebuah makam. Di nisan makam tersebut tertulis nama Adelina Wang. Di atas makam itu sudah terdapat bunga tulip yang masih segar berwarna putih. Andra berdiri hanya menatap makam itu dengan matanya yang nanar. Bayangan akan mimpi buruknya tadi malam membuat Andra berdiri di depan makam tersebut.


"Apa maksud dari mimpi yang kau sampaikan itu, Adel? Apakah kau ingin aku melupakanmu?" kata Andra bermonolog.


Andra menarik sedikit celananya ke atas, duduk berjongkok sambil memegang batu nisan yang bertuliskan nama dari orang yang paling ia cintai. Dada Andra kembali merasakan nyeri saat membayangkan dua kali ia melihat orang yang dia cintai meregang nyawa di depan matanya. Walau itu berbeda dunia.


"Aku memang yang mencintai Azimah, namun kau tetap memiliki tempat di hatiku yang paling dalam. Namamu dan semua kenangan manis yang pernah kita lewati tidak akan pernah aku lupakan karena itu adalah satu-satunya kenangan yang bisa aku ingat selain Anas" lanjut Andra.


Andra menundukkan kepalanya, ia tahu bahwa Adelina sudah tidak ada lagi disisinya, namun Andra merasa itu ia ucapkan. Ia tahu bahwa Adelina akan mendengarnya atau mungkin sudah mengetahui isi hatinya.


"Aku sebelumnya mengira bahwa kau tidak akan pernah tergantikan namun ternyata Tuhan mengirimkan seseorang untuk menjaga aku dan juga Anas. Jika kau masih disini, mungkin ini akan terdengar egois namun aku yakin kau pasti mengerti atas jalan yang telah aku pilih" tambah Andra.


"Bahagialah di sana, Adel. Doaku dan Anastasia tidak akan berhenti mengiringi kepergianmu. Aku harap kau bisa merestui aku dan Azimah." Andra berlalu dari makam Adelina. Ia melupakan sesuatu yang seharusnya sudah ia jelaskan dari tadi malam, namun karena merasa syok, ia memilih mengabaikannya.


Tadi lagi Andra berniat untuk bicara pada Azimah namun saat sarapan ia tidak menemukan Azimah. Andra semakin bersalah padanya. Karena hal mendesak yang harus saya urus tadi pagi bersama Andreas membuatnya menyingkirkan sejenak masalah yang tengah terjadi antara dirinya dan Azimah.


Tapi kini, Andra akan menjelaskan semuanya dan akan meminta pengertian dari Azimah tentang hatinya yang masih berisi Adelina walau Andra sangat meyakini bahwa ia benar-benar mencintai Azimah.

__ADS_1


Dengan langkah pasti Andra menuju mobilnya meninggalkan lokasi pemakaman tersebut.


"Azimah, entah kau percaya atau tidak tapi aku akan mengatakan bahwa aku benar-benar mencintaimu. Sangat!" ujar Andra sambil memegang erat kemudi setir.


__ADS_2