
Andra dan Azimah saling memandang, mereka bingung untuk memulai dari mana. Tapi karena sebelumnya Andra sudah bicara lebih dulu pada Andreas, Andreas mengerti dan dia hanya tersenyum kecil. Tidak percaya bahwa anak tirinya itu akan menikah dengan sahabatnya sendiri.
"Tunggu Selma sebentar, ya" ujar Andreas.
Andra dan Azimah sama-sama menganggukkan kepala. Azimah terus menunduk sambil meremas ujung bajunya, sementara Andra mengepalkan tangan kuat untuk mengurangi rasa gugupnya.
Untuk menghadapi Andreas adalah perkara mudah bagi Andra karena mereka bersahabat dan lebih tahu satu sama lain meski tanpa bicara sekalipun. Tapi untuk Selma, Andra bingung harus mengatakan setelah terakhir penolak Selma padanya. Itulah mengapa ia lebih gugup saat ini.
"Itu Selma" kata Andreas menunjuk ke arah Selma.
"Sini, Sayang!" ujar Andreas pada Selma memintanya untuk duduk.
Selma duduk, sekilas melirik pada Andra dan Azimah yang duduk di seberangnya dengan kepala tertunduk.
"Ada apa dengan leher kalian?" tanya Selma.
Andra dan Azimah mengangkat kepala dan menggeleng cepat mengundang gelak tawa dari Andreas dan juga Selma. Andra dan Azimah pun semakin salah tingkah dibuatnya.
"Katakan, maksud tujuan kalian!" kata Andreas yang mulai menampakkan raut wajah serius.
Hening sejenak, namun pada akhirnya Andra memberanikan diri. Andra menggenggam tangan Azimah dan memandangnya singkat. Selma dan Andreas yang melihat itu hanya bisa menahan senyum melihat ekspresi sahabat mereka yang begitu kentara gugup.
"Aku kemari untuk melamar Azimah sebagai istriku!" kata Andra lugas.
"Apa yang kau bawa sebagai maharnya?" tanya Andreas tajam.
"Ayah ...," ujar Azimah yang tidak menyangka bahwa ayahnya akan mengatakan hal yang tidak pernah ia bayangkan selama ini.
Andra pun demikian, ia bingung dan mengerutkan dahi dengan pertanyaan sahabat sekaligus calon ayah mertuanya itu.
__ADS_1
"Katakan, And. Aku akan memberikan restuku kalau mahar yang kau katakan sesuai dengan apa yang aku harapkan!" jelas Andreas.
"Ibu ...," Azimah kembali bersuara memanggil Selma, meminta ibunya itu untuk menolong kekasihnya.
"Diam, Azimah! Ini bukan waktunya kau bicara! Biarkan ayahmu bicara dengan kekasihmu!" tegas Selma.
Azimah tak berani membantah, ia kembali menundukkan kepala namun kali ini ia menggenggam erat tangan Andra. Seakan ingin memberitahu pada kedua orangtuanya bahwa ia sangat mencintai lelaki yang kini tengah mereka tanyai.
Andra mengatur nafas, sejenak ia memikirkan tentang pertanyaan Andreas padanya. Andreas mengetahui dirinya lebih baik dari siapapun, mustahil jika Andreas bertanya tanpa maksud apapun dibaliknya.
"Kau tahu pekerjaanku, kesibukanku, perusahaanku, bisnisku, kehidupanku dahulu maupun sekarang. Kau bisa menebak sendiri berapa nominalnya karena perusahaanku kini sudah berada di atas perusahaanmu. Tapi, aku tahu kau tidak mungkin meminta semua yang aku katakan tadi. Jadi katakan dengan jelas apa yang kau inginkan sebagai mahar?" tanya Andra balik.
Andreas menarik sudut bibirnya. Ternyata calon menantunya itu masih bisa berpikir dengan benar sekalipun dalam keadaan di desak seperti ini.
"Mahar diberikan, bukan di minta, And. Jadi tawarkan apa yang bisa kamu tawarkan. Dan seperti yang kau katakan tadi, aku tidak menginginkan hartamu karena meskipun perusahaanku di bawah perusahaanmu aku kasih cukup mampu memberikan kemewahan pada anak-anakku. Jadi, tawarkanlah apa yang bisa kau tawarkan lebih dari harta dan nyawamu!" jelas Andreas.
"Azimah ...," sela Selma karena melihat Andra hanya diam tanpa memberikan jawaban apapun pada Andreas.
"Iya, Bu!" jawab Azimah pelan.
"Apa yang kau minta sebagai mahar? Mahar yang ayahmu maksud bukanlah mahar tertulis. Apa kau mengerti apa yang ayahmu maksudkan?" tanya Selma.
Azimah menarik nafasnya. Sedari tadi ia pun memikirkan apa yang harus Andra berikan sebagai maharnya. Tapi sekeras apapun ia memikirkannya, tidak ada satu hal pun yang terlintas dalam pikirannya. Ia pun semakin menggenggam erat tangan Andra.
"Aku tidak tahu apa yang kau mau, Iyas. Tapi aku tidak bisa memberikan hal lain selain semua perasaanku pada Azimah. Mungkin ini klasik, tapi aku yakin dengan semua itu kami bisa bertahan!" ujar Andra akhirnya membuka suara.
"Kau tau bahwa perasaan bisa saja berubah? Mungkin ini pula bisa terjadi pada kalian berdua!" jawab Andreas.
Andra kembali bungkam. Betapa sulitnya ia untuk mendapatkan restu dari Andreas dan Selma. Namun ia tidak bisa mundur karena keinginannya untuk menikahi Azimah saat ini lebih besar dari pada semua tekanan Andreas dan Andra.
__ADS_1
Andreas bergerak, ia beranjak dari kursinya dan berdiri tegak menghadap keluar jendela kaca yang mendominasi dinding rumahnya. Tangannya ia selipkan di kedua saku celananya. Dengan tarikan nafas panjang ia mulai bicara.
"Kau tahu, And. Sulit bagi aku dan Selma melepaskan Azimah karena dia putri yang paling kami sayangi. Dia lebih banyak menderita daripada adik-adiknya. Ia banyak mendapatkan hal sulit sedari ia kecil, itulah mengapa aku meminta mahar lain padamu!" ujar Andreas lirih.
"Dan kau pun tahu bahwa kami, aku dan Selma juga mengenal baik dirimu. Kami tahu apa yang bisa kau lakukan dan tidak kau lakukan. Tapi tetap saja, sebagai orang tua kami mengkhawatirkan Azimah. Perasaan sebagai sahabat dan pasangan itu berbeda. Mungkin dalam bersahabat kita bisa memaklumi kesalahan satu dan yang lain tapi tidak dengan berumah tangga. Satu kesalahan kecil saja bisa menjadi api yang bisa membakar keduanya. Maka dari itu, aku meminta kau menjanjikan sesuatu padaku sebagai sahabatmu dan ayah dari kekasihmu!" jelas Andreas.
"Aku tidak bisa menjanjikan akan selalu membuat Azimah bahagia dan tertawa tanpa airmata. Tapi aku bisa menjanjikan padamu, sekalipun aku menyakiti Azimah itu tidak akan sampai ke titik terendahnya!" jawab Andra cepat.
"Aku juga pernah menikah, Iyas. Aku dan Adelina sering bertengkar hanya karena hal sepele dan kami menangis tapi kemudian kami berbaikan lagi. Itu hal lumrah dan tidak bisa dihindari. Tapi sekalipun begitu sedikitpun tidak terlintas bahwa aku akan meninggalkannya" lanjut Andra.
Andreas, Selma dan Azimah hanya diam menyimak semua kata-kata Andra.
"Dan sekarang aku menikah dengan Azimah. Kami memiliki perbedaan perspektif dalam hal apapun, kami memiliki jarak usia yang sangat jauh. Itu jauh lebih tidak mudah untuk di lalui. Dan menikah menurutku adalah, sebesar apapun masalah, selama apapun kita bertengkar, tidak peduli apa yang kita perdebatkan keduanya tidak boleh mengucapkan selamat tinggal. Mereka harus saling menguatkan dan saling bertahan dalam badai yang tengah menerjang biduk mereka. Dan aku bisa menjanjikan semua itu bahwa aku tidak akan pernah meninggalkan Azimah dalam luka!" kata Andra yakin.
Andreas berbalik, ia mendekat pada Andra dan menepuk bahunya.
"Ingat janjimu, And. Dan aku akan pegang janjimu. Jika sampai itu terjadi dan kesalahan itu ada padamu maka aku tidak akan pernah memaafkanmu sampai kehidupan ke tujuhku" ujar Andreas lirih. Nada suaranya bergetar berat. Mata Selma pun sudah memerah menahan tangisnya.
"Aku sangat menyayangi Azimah meski dia bukan anak kandungku sendiri. Setelah Gio pergi, aku berjanji pada diriku sendiri untuk menjaganya. Dan sekarang, aku serahkan tanggung jawab itu padamu, aku harap kau mampu membahagiakan dia lebih dari pada apa yang telah aku berikan padanya selama ini" kata Andreas.
"Ayah ...," Azimah berlari kepelukkan Andreas dan memeluknya erat. Ia menangis sejadi-jadinya dalam pelukan ayah tirinya itu. Azimah tidak pernah tahu sedalam itu perasaan sayang Andreas padanya.
"Selamat, Nak ..." ujar Andreas yang juga meneteskan airmata namun dengan cepat ia seka karena tidak ingin Azimah melihatnya.
"Kami memberikan kalian restu" ujar Selma yang juga ikut berdiri dan meraih Azimah dalam pelukan Andreas. Memeluknya dengan erat seakan Azimah akan pergi hari ini.
"Selamat, Sayang. Sebentar lagi kau akan menjadi istri. Bersikaplah lebih dewasa lagi, turuti apa yang suamimu katakan dan jangan membantahnya. Sayangi Anas sebagaimana kamu menyayangi ketiga adikmu. Doa ibu dan ayah selalu menyertaimu, semoga rumah tangga kalian sejahtera" ujar Selma.
Hari itu semua orang penuh haru. Andreas dan Andra saling berpelukan sementara Azimah dan Selma masih terisak dalam pelukan masing-masing.
__ADS_1