
Azimah masuk kamar dengan perasaan yang lebih lega. Bukan karena apa, kini ia sudah berbaikan dengan Andra. Awalnya ia memang ingin pergi dari Andra karena ia merasa tak bisa jika Andra terus mengingat-ingat Adelina saat mereka sudah berada pada titik hubungan yang serius. Namun setelah ia melihat Gazza terluka, Azimah memang tidak pernah bisa membohongi kalau dirinya tidak bisa lepas dari Andra. Ia terlalu mencintai Andra.
Hari sudah mulai sore, makan siang sudah ia lalui bersama ibunya, Andra dan juga Anastasia. Andra kembali pergi karena suatu urusan, dan di sinilah Azimah. Bermain bersama dengan Anastasia, sekaligus menjaga Anas selama Andra tidak bersama dengannya.
Jujur, Azimah bukanlah seorang yang benar-benar menyukai anak-anak. Tapi ia tahu kalau ia harus menyayangi orang yang lebih muda darinya. Itulah yang selalu Selma ajarkan padanya selama ini.
Mempunyai tiga orang adik bahkan mengurusnya, tidak membuat Azimah bisa dengan mudah menerima kehadiran anak-anak lain di sisinya. Begitu pula dengan Anastasia.
Azimah menyadari benar bahwa jika ia terus ingin menjadi bagian dari hidup Andra maka ia harus bisa menerima Anastasia sebagai anaknya. Memberikan kasih sayang layaknya seorang ibu, mengurus semua keperluannya dan menjaga serta merawat Anastasia dengan penuh kasih sayang.
Beruntung Anastasia bukanlah anak yang rewel yang selalu mengamuk atau menangis apabila keinginannya tidak terpenuhi. Azimah bersyukur sekali dengan hal tersebut. Anastasia juga anak yang mandiri dan tidak suka merepotkan orang didekatnya sehingga Azimah tidak merasa kesusahan ketika menjaga Anastasia, bagaimana pun mengasuh seorang adik dan seorang yang nantinya akan menjadi anaknya itu kedua hal yang berbeda meski mereka sama tergolong anak-anak.
Karakter Azimah yang acuh dan selalu bersikap masa bodoh dengan lingkungannya, membuat Azimah merasa ragu apakah ia bisa menjadi ibu yang baik bagi Anastasia kelak. Terlebih ia malas bersikap manis dan membujuk anak-anak. Azimah selalu menampakkan apa yang ada pada dirinya.
Azimah ingin kedekatannya dengan Anastasia benar-benar terjalin karena keikhlasan tanpa adanya paksaan dan tuntutan. Ia sendiri selama ini bersikap biasa saja dan apa adanya pada Anastasia walau sebenarnya Azimah sendiri sudah menyayangi Anastasia seperti ia menyayangi Alex. Akankah Andra bisa menerima sikap Azimah yang satu ini? Entahlah, Azimah sendiri ragu akan hal itu karena sebelumnya mereka pernah bertengkar dikarenakan Andra yang sensitif pada Anastasia.
* * *
Pagi menjelang, Andra tidak ikut sarapan bersama karena dia memang tidak kembali pada malam harinya. Azimah sedikit bingung karena tidak biasanya Andra pergi begitu lama meninggalkan Anastasia. Dan Andra juga tidak mengabarinya.
Selama sarapan Azimah ingin menanyakan keberadaan Andra pada Andreas, namun ia ragu untuk melakukannya hingga sarapan selesai Azimah tidak menanyakan Andra pada Ayah tirinya itu.
Setelah selesai sarapan, Azimah kembali kekamarnya untuk menghubungi Andra. Panggilan pertama, kedua dan ketiga tidak mendapatkan jawaban, Azimah kian cemas. Azimah kembali mencoba dan hasilnya sama.Karena sudah tidak tahan lagi dengan perasaan khawatirnya, Azimah berlari keluar kamar dan menemui ibunya.
Selma yang tengah berada di halaman depan sambil mengawasi para pekerja yang sedang membersihkan halaman tersebut. Azimah segera mendekat dan menarik Selma menjauh dari para pekerja.
Selma terkejut melihat tingkah Azimah yang tiba-tiba padanya.
__ADS_1
"Ada apa, Azimah? Kau membuat Ibu kaget!" kata Selma dengan tatapan bingung.
"Ibu, Andra kemana? Aku sudah menelponnya tapi tidak mendapat jawaban. Apa sudah terjadi sesuatu padanya?" tanya Azimah cepat.
"Kau ini, Ibu kira masalah apa? Hanya Andra ternyata?" jawab Selma enteng.
"Ibu ..., aku serius! Andra kemana?" tanya Azimah dengan suara yang cukup meninggi.
"Dia dirumahnya. Tadi malam dia menelpon ayahmu karena saat menelponmu ponselmu tidak aktif" jelas Selma.
"Tapi kenapa tidak kembali? Ini hampir satu hari dia menghilang" tanya Azimah yang masih panik.
"Mana ibu tahu. Dia hanya mengatakan ada yang harus ia kerjakan di rumahnya. Sudahlah, jangan cemas begitu. Nanti juga dia akan kemari dan menjemput Anas" ujar Selma.
Azimah diam dan menundukkan kepalanya, berusaha menenangkan hatinya sendiri namun ia kembali mendongak ketika menyadari kalimat yang baru saja Selma katakan padanya.
"Menjemput? Apa maksudnya menjemput Anas, Bu?" tanya Azimah bingung.
"Tapi Andra tidak mengatakan apa-apa padaku, Bu? Apa ibu yakin?" tanya Azimah lagi.
"Kau ini, kenapa tidak percaya dengan apa yang ibu katakan. Ibu mengatakan ini setelah ayahmu yang menyampaikan pada Ibu tentang keinginan Andra. Lagi pula sekarang keadaan sudah mulai membaik. Tidak baik jika Andra terlalu lama tinggal bersama kita sementara dia adalah kekasihmu sekarang" jelas Selma.
"Tapi, Bu ...," belum selesai Azimah bicara Selma sudah menempelkan jari telunjuknya ke bibir pertanda meminta Azimah diam.
"Jika ada yang masih ingin kau tanyakan perihal kenapa Andra tidak bicara padamu tentang kepindahannya, kau tanyakan saja pada Andra ketika ia kembali nanti" kata Selma. Kemudian ia berlalu dan kembali mengawasi semua pekerja yang sedang membersihkan halaman rumah mereka.
Azimah menghela nafas kasar. "Ibu tadi mengatakan kalau keadaan sudah mulai kondusif. Berarti aku juga bisa keluar" gumam Azimah.
__ADS_1
Azimah sudah tidak sabar lagi. Dengan cepat Azimah kembali ke kamarnya dan mengambil kunci mobilnya lalu kembali turun dan berlari menuju mobilnya.
Baru saja Azimah hendak membuka pintu mobil, Selma sudah memanggilnya.
"Azimah, mau kemana kau?" teriak Selma dari kejauhan.
"Menyusul Andra!" jawab Azimah singkat dan segera masuk ke dalam mobilnya mengabaikan Selma yang masih berdiri hendak mencegahnya. Ia memacu mobilnya meninggalkan halaman Keluarga Lu.
"Dasar anak muda! Tidak bisa menahan diri lagi ketika sudah jatuh cinta. Bahkan ibu sendiri diabaikan" gerutu Selma.
Azimah menuju tempat istirahat pengawal. Ia meminta beberapa orang mengikuti Azimah agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan cepat, para pengawal itu bergerak dan menyusul Azimah.
Azimah mengendarai mobilnya dengan sangat cepat hingga para pengawal yang sedang mengikutinya hampir saja kehilangan jejak. Beruntung mereka membagi dua tim. Tim satu mengikuti Azimah dari belakang, sementara tim lainnya mengikuti Azimah dari jalan pintas lainnya.
Di dalam mobil Azimah menggerutu kesal karena tahu bahwa ia sedang di diikuti oleh pengawal keluarganya. Azimah mengambil ponselnya dan menghubungi Selma.
"Halo" kata Selma dari ujung telepon.
"Kenapa ibu menyuruh pengawal mengikutiku?" tanya Azimah.
"Ibu hanya tidak ingin terjadi sesuatu padamu. Tenang saja, mereka hanya mengikuti perjalananmu dan memastikan keamananmu. Mereka tidak akan mengganggu kencanmu" sindir Azimah.
"Tapi, Bu ...,"
"Tidak ada tapi-tapian, Azimah! Ini demi keselamatanmu. Ibu tidak ingin mendapat masalah lagi yang akhirnya membahayakan anak-anak ibu" tegas Selma.
Azimah tidak berani menjawab karena memang sebenarnya yang paling terbeban dari masalah Andreas dan Andra selama ini adalah Selma.
__ADS_1
"Tolong kerjasama kau, Azimah. Jika kau berani pergi tanpa sepengetahuan pengawal, ibu tidak akan mengizinkan kau bertemu Andra lagi!" ancam Selma.
"Baiklah, Bu. Oke, Azimah turuti" jawab Azimah yang langsung memutuskan panggilan teleponnya secara sepihak.