Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
52


__ADS_3

Semua anggota keluarga Lu sedang menikmati makan malam mereka, namun hawa dingin mewarnai sesi makan malam itu hingga tidak ada seorang pun yang bercengkrama seperti biasanya.


Andreas merasakan ada yang lain dengan makan keluarganya, mengamati satu persatu anggota keluarganya termasuk Andra. Ia tidak mengerti mengapa tiba-tiba keluarganya yang biasanya hangat menjadi dingin seperti layaknya orang asing.


"Aku selesai" kata Azimah tiba-tiba. Meninggalkan meja makan tanpa pamit dengan siapapun.


Tak lama berselang, Axel pun menyusul Azimah. Sementara Anastasia kasih sibuk dengan menu makanannya sendiri.


Andreas bergerak, ia sudah merasa akan beku melihat kedinginan yang diciptakan keluarganya itu.


"Apa ada yang terjadi?" tanya Andreas.


Andra dan Selma diam. Hal ini kian membuat Andreas penasaran.


"Katakan! Aku sedang bertanya pada kalian" kata Andreas sedikit meninggikan nada bicaranya.


"Aku akan membawa Anas tidur dulu, Iyas. Setelah itu kita bicara" jawab Andra.


Andra berlalu menggendong Anas meninggalkan ruang makan. Kini tinggallah Selma dan Andreas yang berada di ruang makan itu. Andreas mengamati istrinya itu namun Selma bersikap acuh pada Andreas.


Hingga makan malam usai, Selma tidak mengatakan apa yang telah menganggu suaminya itu. Hingga akhirnya Andreas mengajak Selma bicara berdua di dalam kamar mereka.


"Selma, sebenarnya apa yang sudah terjadi? Mengapa semuanya mendadak menjadi diam" cecar Andreas dengan pertanyaannya.


Selma diam, ia pun bingung harus memulai dari mana.


"Apa Azimah dan Andra bertengkar lagi?" tanya Andreas menebak.


"Tidak," akhirnya Selma membuka suara. "Aku memergoki mereka berdua" lanjut Selma.


Andreas menatap Selma bingung.


"Aku tak sengaja memergoki mereka sedang berciuman" kata Selma menjelaskan.


Andreas menghembuskan nafas panjang. Sudah tak perlu ditanyakan lagi perihal selanjutnya karena Andreas bisa menebaknya sendiri dengan sikap overprotektif istrinya itu terhadap anak-anak mereka.


"Kau memarahi Azimah atau lebih dari itu?" tanya Andreas tajam.

__ADS_1


"Aku melarang Azimah menemui Andra kedepannya" jawab Selma pelan. Selma tahu ini keterlaluan namun ia tak bisa memikirkan cara lain saat ini.


Mendengar hal itu Andreas kembali menarik nafas panjang.


"Kau sudah berlebihan, Selma," ujar Andreas."Bagaimana kau menghadapi anak lelakimu yang akan tumbuh dewasa jika kau selalu ikut campur urusan mereka." Andreas mendesah lemah tentang sikap Selma kali ini.


"Jangan katakan itu, Iyas. Apa menurutmu ini waktu yang tepat untuk membiarkan Azimah dan Andra dekat. Kau tahu bahaya sedang mengancam Azimah" kata Selma lantang.


"Ya, aku tahu. Tapi setidaknya kau bisa membiarkannya dan berpura-pura tidak tahu. Pikirkan perasaan mereka juga. Apa kau pikir Andra tidak akan bertanggung jawab pada Azimah? Apa kau lupa bahwa Andra juga sudah mengorbankan dirinya untuk Azimah?" teriak Andreas.


Selma diam. Sebagai ibu dia memang tidak bisa memikirkan hal lain selain keamanan anak-anaknya. Membayangkan Azimah dalam bahaya membuatnya khawatir akan kejadian masa silam yang terus menghantui putri sulungnya itu.


"Setelah ini jangan pernah ikut campur masalah mereka lagi. Biarkan mereka menjalani apa yang terbaik untuk mereka berdua" kata Andreas serius.


Selma hanya diam sambil memandang datar keluar jendela kamarnya.


"Masalah Azimah, kau tidak perlu khawatir. Semuanya akan selesai dalam waktu dekat. Aku harap kau bisa bersabar dan menyerahkan semuanya pada kami" lanjut Andreas. Selma masih tetap bungkam.


Andreas mendekat pada Selma. Ia tahu sikapnya kali ini cukup keras dalam menegur Selma. Namun hal ini harus ia lakukan agar Selma mengerti apa yang seharusnya dilakukan saat ia melihat anaknya dalam kondisi tadi siang.


Bukankah lebih baik menasihati dengan kasih sayang ketimbang harus mempermasalahkan hingga berdebat bahkan sampai mengancam.


Melihat tak ada tanggapan dari Selma, Andreas pun berlalu.


//


Andra baru saja selesai menidurkan Anastasia. Ia keluar kamar guna memenangkan pikirannya sambil menikmati batang nikotin siap saja yang kini sudah berada di tangannya.


Tak lama Andreas pun datang dan bergabung bersama Andra.


"Apa senang bagimu membuat anak dan istriku bertengkar, And?" tanya Andreas sarkas.


Andra diam. Entah mengapa saat ini kedua sahabatnya itu malah berbalik menjadi rivalnya sementara dulu mereka sama-sama mendukung untuk mendapatkan Azimah.


"Terserah apa katamu, Iyas. Namun aku beritahukan satu hal. Aku tidak pernah berniat mengacaukan keluargamu seperti yang kau tuduhkan itu" jawab Andra tenang.


Keduanya nampak bungkam. Hingga akhirnya Andra kembali melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


"Aku akan menikahi Azimah jika kalian khawatir kalau aku hanya akan mempermainkan Azimah" ujar Andra serius.


Andreas menatap lekat pada sahabatnya itu.


"Ini bukan solusinya, And. Kau dan Azimah akan tetap menikah cepat atau lambat. Tapi saat ini bukan waktunya kau memadu kasih" sergah Andreas.


Andra nampak mengerutkan dahi mendengar penuturan Andreas.


"Ada apa dengan kau, Iyas? Tadi kau seperti ingin membunuhku namun tak lama kemudian kau ingin memberiku nyawa" ucap Andra bingung.


"Kau tahu betul saat ini apa yang sedang kita hadapi" jawab Andreas. "Dan perlu kau tahu, aku tak pernah melarangmu untuk berkencan dengan Azimah karena aku tahu bahwa Azimah menginginkan hal ini. Namun ini tidak berlaku pada Selma" ungkap Andreas.


"Selma mengkhawatirkan keselamatan Azimah dan itu wajar. Itulah mengapa dia bersikap lain pada kau saat ini" sambung Andreas lagi.


Andra masih nampak diam menyimak.


"Untuk sementara aku harap kau bisa bersabar, And. Setelah masalah kita selesai, kau dan Azimah bisa bersama seutuhnya. Untuk saat ini, tolong kau jaga sikap saat bersama Azimah selama di rumah ini" kata Andreas.


Kedua tangan Andra masih setia di dalam sakunya. Meski begitu ia tetap mengikuti apa yang Andreas katakan. Andra pun mengangguk pelan.


Hening sejenak. Andra dan Andreas hanya menikmati rokok mereka masing-masing. Tidak ada alkohol yang menemani karena setelah Selma menjadi Nyonya Besar, tidak ada yang boleh membawa minuman keras dalam bentuk apapun ke rumah. Itu untuk Andreas yang kadang selalu mengalihkan rasa penatnya dengan minuman keras.


Awalnya sulit bagi Andreas karena sudah terbiasa, namun hingga beberapa perlahan Andreas bisa melaluinya. Dan kini walau sepenuhnya ia belum bisa lepas dari alkohol tapi setidaknya kecanduan akan alkohol sudah hilang sepenuhnya. Andreas hanya menikmati alkohol ketika acara-acara besar untuk menghormati kolega-koleganya saja.


* * *


Andra menyalakan rokok keduanya. Andreas pun membenarkan posisi duduknya. Ia memangku tangannya sambil mematikan sisa rokok yang ia miliki.


"Mengenai masalah kita. Jaksa Chen bisa kita andalkan. Aku sudah menyelidiki semuanya dan dia memang jaksa yang selalu menghukum para korupsi dengan seadil-adilnya. Aku kira ini awal keberuntungan kita" kata Andreas.


Andra nampak manggut-manggut mengerti.


"Kapan semua bukti diserahkan?" tanya Andra memastikan.


"Mungkin besok atau lusa. Aku masih perlu membicarakan detailnya pada pengacara perusahaan" jelas Andreas.


"Baguslah, semakin cepat semakin baik. Aku sudah mulai jengah berada di rumah seperti tahanan saja" keluh Andra.

__ADS_1


"Sabarlah, semua akan selesai dan kita akan kembali seperti dulu" kata Andreas meyakinkan.


Andra pun mengangguk menyetujui.


__ADS_2