Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
51


__ADS_3

Selma duduk termenung di teras samping. Secangkir kopi dan cake menemaninya bersantai di sana. Di sekitarnya, Anas sedang bermain dengan gembiranya. Selma bergeming saat tangannya di tarik oleh Anas.


"Ada apa, Anas?" ujar Selma menatap dalam pada Anastasia.


"Anas bosan, 'Bu!" jawab Anas polos.


Selma membawa Anastasia ke dalam pangkuannya. Ia merapikan rambut Anastasia yang berantakan akibat tertiup angin.


"Kenapa Anas bosan? Apa karena Anas tak mempunyai teman bermain di sini?" tanya Selma penuh kelembutan.


"Tidak, Anas punya Kakak Axel. Tapi Anas ingin pergi keluar. Ajak Anas keluar, 'Bu" rengek Anas.


Selma tersenyum dan mengusap puncak kepala Anas. Baru saja ia ingin mengabulkan permintaan Anas, tiba-tiba ia teringat mengapa Anas dan Andra bisa berada di rumahnya.


"Sayang, untuk saat ini kita belum bisa keluar. Katakan saja apa yang ingin Anas lakukan. Nanti Ibu Selma akan coba mencari cara untuk mengabulkannya" jelas Selma.


Anas nampak berpikir keras. Kemudian wajahnya tersenyum cerah. Selma pun ikut tersenyum ketika melihat wajah Anas yang sumringah lagi.


"Anas mau berkemah. Bolehkan, 'Bu?" tanya Anas memastikan.


Selma berpikir sejenak. Namun tak lama kemudian ia pun mengangguk pasti.


"Kapan kita pergi?" tanya Anas bersemangat.


"Bukankah Ibu Selma tadi mengatakan kalau kita tak bisa pergi keluar saat ini. Begini saja, Ibu ada ide" kata Selma. Anas menunggu penyelesaian kalimat Selma selanjutnya.


"Kita akan berkemah, Di halaman belakang. Besok Ibu akan membuatkan makanan kesukaan Anas. Kita akan berkemah dan bermain di sana. Bagaimana?" tawar Selma.


"Tapi rasanya pasti berbeda, 'Bu. Anas maunya di luar" rengek Anas lagi.


"Sama saja, Sayang. Di halaman belakang terdapat kolam ikan dan taman bunga. Anas pasti menyukainya" ujar meyakinkan Anas.


"Anas mau lihat taman bunganya" kata Anas yang kembali bersemangat.


Selma memerintahkan pelayan untuk membersihkan halaman belakang karena akan ia pakai besok untuk berkemah dengan Anastasia. Setelah semuanya selesai, Selma pun menidurkan Anas di kamarnya.


Sementara itu, di paviliun, Andra dan Azimah masih terus berbincang sesekali bercumbu mesra. Dua orang yang sedang jatuh cinta itu melupakan jika kini mereka sedang di rumah.


"Kalau semuanya sudah selesai, ayo kita menikah!" ujar Andra tiba-tiba.

__ADS_1


Azimah yang tengah berbaring di pangkuan Andra itu menatap Andra dengan tatapan menyelidik.


"Kenapa tiba-tiba kau membicarakan ini, And?" tanya Azimah heran.


"Aku sudah tua. Jarak usia kita pun sangat jauh. Aku tidak ingin terus-terusan menahan semuanya. Aku takut kehilangan kendali" jelas Andra.


"Jadi kau menikahiku karena hasratmu saja?" tanya Azimah memastikan.


"Terserah bagaimana caramu menangkapnya. Yang pasti aku tidak ingin berlama-lama berkencan. Kenapa? Kau tidak mau menikah denganku?" tanya Andra tajam.


Azimah hanya diam. Ia terkejut sekaligus senang. Tapi membahas pernikahan di hari pertama mereka berkencan bukankah terlalu cepat? Azimah ingin menikmati masa-masa indah ini lebih lama.


"Jawab!" desak Andra.


"Kita bicarakan itu nanti. Pertama urus semua masalah kau. Kedua, dapatkan restu Ayah dan Ibu. Ketiga, aku masih ingin menikmati statusku sebagai kekasihmu. Tolong jangan ambil status ini lebih cepat!"rengek Azimah manja.


"Cih ..., dasar bocah!" gerutu Andra dengan kekehan kecilnya.


Azimah hanya tersenyum kecil menanggapinya. Ia kembali menarik tengkuk Andra mendekat padanya. Menuntunnya pada bibir yang sudah merekah menunggu kehangatan bibir Andra.


Keduanya bertaut, beradu Saliva dengan sangat liar hingga sebuah suara mengagetkan mereka berdua.


"ANDRAAA!!!" Teriak seorang wanita yang tak lain adalah Selma. Andra dan Azimah membenarkan posisi mereka masing-masing. Wajah Azimah memerah karena tingkah nakalnya tertangkap oleh Selma. Dengan malu ia menyembunyikan wajahnya di balik punggung Andra.


"Diam!" jawab Selma horor.


"Azimah kemari kau!" titah Selma pada Azimah.


Azimah mendekat dengan ragu.


"Sejak kapan tingkahmu menjadi liar begini?" teriak Selma pada Azimah.


Andra menghalangi Selma yang ingin menarik Azimah keluar dari paviliun.


"Selma, jangan seperti ini. Kau seperti tidak pernah muda saja" kata Andra pada Selma.


Mata Selma membulat, entah sejak kapan Andra yang ia kenal begitu memperhatikan etika kini seperti orang yang tak beretika sama sekali.


"And, apa kau sadar apa yang baru saja kau lakukan? Dia anakku, Andra!" teriak Selma.

__ADS_1


"Bagaimana bisa kau melakukan ini pada anak yang dulu begitu kau jaga?!" lanjut Selma.


"Selma, aku sudah katakan pada kau maupun Iyas. Aku dan Azimah sedang menjalani hubungan. Dan aku serius. Apa kau kira aku bermain-main dengannya?" balas Andra tak kalah sengitnya.


Azimah yang melihat dan mendengar itu hanya bisa diam tak tahu harus berbuat apa.


Selma menatap Andra tajam, ia pun menyembunyikan Azimah dari balik tubuhnya.


"Tidak bisakah kau sabar sedikit saja? Kau ..., kau benar-benar, And!" ujar Selma yang sudah kehabisan kata-kata.


Selma berbalik dan dengan kasar menarik Azimah ikut bersamanya. Andra yang berusaha menolong pun seketika diperingati Selma dengan ancamannya.


"And, perhatikan sikapmu! kalau kau masih berniat menghalangiku membawa Azimah, maka aku tidak akan mempertimbangkan persahabatan kita" ancam Selma serius.


Mendengar hal itu, Azimah pun segera mengkodekan dengan matanya untuk menghentikan Andra. Andra pun tertunduk lemah membiarkan Azimah di tarik kasar oleh Selma.


Selma menarik Azimah hingga ke kamarnya. Sesampainya di kamar, Selma menghempaskan Azimah dengan kasar.


Selma berjalan kesana-kemari sambil memegangi dahinya. Nafasnya memburu menandakan amarah yang memuncak yang telah siap untuk meledak dan menghantam Azimah.


"Bu ...," panggil Azimah berusaha menenangkan dan menjelaskan semuanya pada Azimah. Namun Selma tidak menerima hal itu. Ia menunjuk Azimah dengan tatapan tajamnya.


"Diam, Azimah. Kau benar-benar membuat Ibu kecewa kali ini!" kata Selma lantang.


Azimah pun kembali diam dan menunduk, menunggu Selma dengan kemarahannya.


"Bagaimana bisa kau lakukan ini di rumah, Azimah? Bagaimana jika ayahmu yang melihatnya? atau jika Axel dan Anas yang melihatnya, apa yang akan kalian katakan?" teriak Selma. Azimah hanya diam mendengarkan.


Selma kembali mondar-mandir tak karuan dengan gemuruh amarahnya. Azimah tidak tahan lagi karena Azimah terus saja mengumpati Andra dengan kata-kata kasar.


"Ibu, Andra teman Ibu dan Ayah. Apakah pantas Ibu mengatakan semua ini pada sahabat yang sudah lama Ibu kenal?" ujar Azimah.


"Andra pantas mendapatkannya. Masalah satu belum selesai dia sudah membuat masalah baru" sangkal Selma membela diri walau ia sendiri menyadari jika kata-katanya cukup kasar pada Andra.


"Aku bukan anak kecil lagi, 'Bu. Aku sudah dua puluh tiga tahun. Aku sudah dewasa, aku tahu mana yang baik dan buruk" jawab Azimah pelan.


Selma tak terima itu, ia mendekat dan mengancam Azimah.


"Kau, kau Ibu larang bertemu dengan Andra. Jika sampai kau lakukan itu, maka Ibu akan mengirim kau ke Amerika. Tinggal di sana bersama nenek dan kedua adikmu!" tukas Selma.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Selma meninggalkan kamar Azimah. Dan tinggallah Azimah yang duduk termenung setelah pertengkarannya dengan Selma.


......Bersambung .........


__ADS_2