
Pagi ini yang cerah membawa semangat baru bagi Azimah. Ia bersenandung kecil sambil mempersiapkan keperluan kerjanya. Lalu keluar kamar dengan tampilan yang sudah segar dan rapi. Azimah menghampiri anggota keluarganya yang kini tengah sarapan bersama di ruang makan. Seperti biasa, dengan ceria ia menyapa seluruh anggota keluarganya. Memeluk atau hanya sekedar membubuhkan sebuah kecupan kecil pada ibu dan juga adiknya, lalu duduk di kursinya dengan tenang menyantap sarapannya. Azimah selalu bisa membawa keceriaan di balik sikapnya yang sedikit tertutup pada orang luar.
Di tengah kegiatannya, sang ayah, Andreas Lu membuka suara.
"Sepertinya tadi malam ada yang makan malam dengan keluarga barunya" Selma mengerenyitkan dahi sambil memandang ke arah suaminya itu. Andreas hanya mengkodekan dengan matanya menunjuk ke arah Azimah, namun yang di tunjuk tak sadar dengan tingkah kedua orangtuanya itu.
Selma memandang ke arah Azimah dan sedikit memajukan tubuhnya agar Azimah mengerti. Azimah pun melirik pada ibunya itu dengan tatapan penuh tanda tanya..
"Ada apa, 'Bu?" tatap Azimah heran.
"Kau makan malam dengan Andra tadi malam?" tanya Selma langsung. Azimah mengangguk pelan.
"Bersama Anas?" tanya Selma lagi. Azimah diam sejenak mengartikan sang ibu yang juga menatapnya dengan tatapan menyelidik..
"Iya!" jawab Azimah singkat lalu mengabaikan sang ibu.
"Di mana?" tanya Selma yang kian penasaran..
Azimah menatap tajam sang ibu. Lalu bergantian dengan ayah tirinya yang seperti acuh pada percakapan mereka.
"Ada apa, 'Bu? Bukankah kita memang sering makan malam bersama dengan Paman Andra dan Anas?" ujar Azimah yang tak ingin mengundang kecurigaan Selma dan juga Andreas.
"Ya, kau benar. Tapi kau tak pernah makan malam tanpa kami. Apa kau sedang mendekatkan diri pada Anas?" pertanyaan Selma hampir membuat Andreas tersedak. Ia sedikit terkejut dengan pertanyaan Selma. Memang benar kalau ia mengetahui Andra dan Azimah makan malam, itu pun karena Andra yang memberitahunya. Namun jika makan malam itu adalah rencana Azimah untuk mendekatkan diri dengan Anastasia itu ia tak mengetahuinya.
"Kau tahu? Andra mengatakan pada Azimah kalau dia akan mengejar Azimah!" ungkap Selma yang kian membuat Andreas membelalakkan matanya.
__ADS_1
"Secepat ini?" Tanya Andreas dengan raut wajah tak percaya..
Selma mengangguk pelan lalu kembali menatap Azimah yang masih fokus dengan sarapannya.
"Benar begitu, Azimah?" tanya Andreas memastikan..
Azimah pun mengangguk acuh. Andreas hampir tak percaya meski awalnya ia sudah menduga jika Andra memiliki perasaan pada Azimah. Rasanya terlalu cepat bagi keduanya untuk bersama setelah apa yang terjadi akhir-akhir ini.
Andreas menghembuskan nafas pelan.
"Lalu bagaimana dengan Ronald? Bukankah kau mengatakan jika ingin memulainya dengan Ronald?" Seketika Azimah menghentikan kegiatannya, Ia memandang Selma dan Andreas bergantian. Tatapan orang tuanya penuh tanda tanya yang menuntutnya untuk segera menjawab. Dengan nada lemah Azimah pun menjawab..
"Aku dan Ronald belum memiliki hubungan apa pun. Ya benar dia sudah mengutarakan perasaannya padaku, namun aku sudah mengatakan apa yang sebenarnya aku rasakan. Lagi pula aku dan Paman Andra belum resmi berkencan. Paman Andra baru mengatakan itu, belum mengungkapkan perasaan yang sebenarnya padaku. Bahkan Paman masih ragu dengan perasaannya sendiri" jelas Azimah.
Selma dan Andreas diam, bingung untuk bicara apa. Azimah kembali menatap kedua orang tuanya.
Selma dan Andreas tersenyum meski mereka juga tak heran dengan pertanyaannya. Jika di pikirkan apa yang di katakan Azimah sepenuhnya benar. Azimah dan Andra terpaut usia hampir 20 tahunan. Sementara selama ini kedekatan keluarga Lu dan Keluarga Lee sudah berlangsung lama bahkan sudah seperti bersaudara. Apa yang akan dikatakan orang jika Azimah menikah dengan kerabat mereka sendiri. Namun Andreas dan Selma tak mempermasalahkan itu. Lebih baik bagi mereka Azimah bersama dengan Andra, setidaknya mereka sudah mengenal Andra dan juga keluarganya.
"Ayah dan Ibu tak pernah melarang kau atau pun adikmu kelak untuk berhubungan dengan siapa saja. Bagi kami, apa yang membuat kalian bahagia itu sudah lebih dari cukup. Selebihnya kalian sendiri yang tentukan" ujar Andreas penuh kelembutan.
Azimah menatap ayah dan ibunya tajam. Mereka sudah kembali dengan sendok serta garpunya untuk melanjutkan sarapan.
Memang Azimah akui jika ayah atau pun ibunya tak pernah membatasi pergaulan mereka meski Azimah pun tahu jika Ayah dan ibunya tetap mengawasi cara bergaulnya. Mereka sangat menghargai pendapat Azimah dan adik-adiknya. Tapi Azimah juga tahu jika kelak ia dan Andra bersama maka akan banyak orang membicarakan keluarga mereka masing-masing. Azimah pun harus memastikan hal ini sekali lagi.
Azimah meletakkan sarapannya, memandang ragu ayah dan ibunya yang masih fokus dengan piring mereka masing-masing. Namun Azimah memberanikan diri untuk mengetahuinya..
__ADS_1
"Apa Ayah tak masalah jika Paman Andra memanggil Ayah nanti dengan sebutan Ayah?"
Andreas dan Selma tersedak bersamaan. Azimah pun menyesal melontarkan pertanyaan itu namun rasa penasarannya terlalu tinggi hingga ia sendiri tak bisa menahannya lagi.
Susah payah Andreas dan Selma mengatur nafas mendengar pertanyaan dari Azimah, namun pertanyaan Azimah pun ada benarnya. Jika mereka sudah memulai sebuah hubungan tujuan pun hanya satu, yaitu membentuk hubungan yang serius hingga sampai ke altar pernikahan. Karena tak mungkin bagi Azimah terlebih Andra akan bermain-main dengan hubungan di usianya yang sudah matang. Memikirkan hal itu pun Andreas dan Selma menjadi bingung juga geli..
"Ah ..., aku bisa gila membayangkan Andra memanggilku Ibu!" keluh Selma sambil meneguk air putihnya hingga tandas. Andreas tertawa mendengarnya namun Azimah merasa wajahnya merah karena pertanyannya sendiri.
"Apa pertanyaanku terlalu jauh. Memulai hubungan resmi saja belum bagaimana aku bisa memikirkan kami sudah menikah" batin Azimah.
"Makanya jangan terlalu open dengan orang yang akan mendekati anak Ayah. Jika sudah begini, bagaimana Ayah akan menjawabnya?" teriak Azimah kemudian beranjak dari kursi dan meninggalkan ruang makan.
"Aku melupakan hal itu. Sangat tidak lucu jika kelak Andra memanggilku Ibu dan kau Ayah, Iyas!" ujar Selma yang menampilkan wajah frustasinya. Andreas mengelus punggung istrinya itu dengan pelan sambil terus tersenyum yang membuat Selma menjadi heran dengan sikap biasa dari suaminya itu.
"Kau tak masalah jika Andra memanggilmu Ayah?" tanya Selma dengan tangan yang bertolak di pinggang. Andreas menggeleng pelan membuat Selma kian heran dengan cara pikir Andreas.
"Sayang ..., itu hanya sebuah panggilan. Aku tak masalah jika Andra mau melakukan itu, namun jika Andra pun enggan melakukannya kita bisa tetap seperti ini. Memanggil nama masing-masing" jelas Andreas.
"Bagaimana mungkin seorang menantu memanggil Ayah mertuanya dengan nama aslinya. Itu tidak sopan! Aduhh ... jika begini lebih baik Azimah bersama dengan Ronald, setidaknya itu lebih pantas. Bahkan usia Andra lebih tua darimu dan dariku!" keluh Selma emosi sendiri.
"Ayah dan Ibu bicara apa? Jangan memikirkan hal yang terlalu jauh. 'Kak Azimah dan Paman Andra belum resmi berkencan!" sela Axel di tengah-tengah makannya.
Selma dan Andreas menatap lekat pada anak bungsunya itu. Selma kian frustasi mendengar cara bicara Axel yang telah mengenal kata berkencan. Selma pun menepuk dahinya dengan keras dan berlalu dari ruang makan itu.
* * *
__ADS_1
...Bersambung ......