
Pagi ini semua sedang sarapan. Azimah datang terlambat karena bangun kesiangan. Ia melihat semua orang sudah menyantap sarapan mereka masing-masing. Termasuk Anastasia dan Andra. Azimah menyapa mereka dengan ceria..
"Pagi semuanya.." sapa Azimah dengan senyuman khasnya..
"Pagi, Sayang. Kau bangun terlambat hari ini? Apa ada yang mengganggu tidurmu?" tanya Selma.
Azimah tersenyum canggung sambil menatap pada Andra yang masih fokus dengan sarapannya..
"Azimah, apa yang terjadi saat ini jangan terlalu kau pikirkan. Ayah akan menyelesaikan semuanya dengan cepat. Bersabarlah sedikit lagi." kata Andra yang khawatir dengan keadaan Azimah. Ia takut karena masalah yang sedang ia hadapi menjadikan Azimah kesulitan tidur atau melakukan aktivitas lainnya..
"Yang harus kau khawatirkan itu aku, Iyas. Anakmu sudah membuatku tak bisa tidur semalaman!" batin Andra. Andra memandang pada Azimah namun Azimah tak menyadarinya. Ia pun semakin kesal karena Azimah bisa makan tanpa perasaan bersalah padanya...
"Kak Azimah, terimakasih karena sudah mengantarkan Anas ke kamar Ayah. Jadi Anas bisa tidur bersama ayah tadi malam?" Andreas dan Selma tersedak bersamaan. Mereka memandang Andra dan Azimah bergantian..
"Kalian tidur bersama?" tanya Andreas dan Selma bersamaan.
"Ibu, ayah, jaga kata-kata ayah dan ibu saat di depan anak-anak!" sergah Azimah...
"Maaf, bukan begitu maksud ibu. Apa maksud dari kalimat Anas tadi?" tanya Selma penasaran..
"Iya, tadi malam aku mengantar Anas ke kamar Andra." jawab Azimah seadanya..
"Hanya itu saja?" tanya Andreas menyelidik..
"Kami hanya mengobrol sebentar, bukan begitu And?" Selma dan Andreas saling memandang karena cara panggil Azimah yang berbeda pada Andra.
"Iya, mengobrol dan membuatku tegang tanpa pelampiasan" geram Andra dalam hati..
"Andra." Sentak Azimah. Andra pun mengangguk sambil memandang malas pada Andreas dan Selma.
"Tunggu, Azimah. Kau tadi memanggil Andra apa?" tanya Selma memastikan.
Dengan ragu Azimah menjawab. "An .. dra."
Selma tak bisa berkata- kata hanya bisa mengedipkan matanya berkali-kali.
"Kau memanggil Andra sekarang dengan namanya?" teriak Selma frustasi.
__ADS_1
"Selma, Iyas. Aku yang meminta Azimah memanggilku begitu karena sekarang kami sudah berkencan!"
"Uhukk" kali ini Azimah yang tersedak mendengar Andra menjelaskan hubungan mereka dengan santai di depan kedua orang tuanya.
Andreas dan Selma pun tak kalah terkejutnya. Mereka bahkan membuka mulut dengan lebar..
"Jangan menatapku seperti itu. Apa kalian juga ingin kuubah cara panggilnya? Ayah mertua dan ibu mertua misalnya?" gurau Andra...
"Hentikan omong kosongmu, And!" teriak Andreas..
"Anas, ayo bermain. Ini pembicaraan orang dewasa. Kita tak akan mengerti!" ujar Axel sambil menarik tangan Anastasia.
Selma memegang dadanya yang terasa sesak...
"Oh Tuhan, bisakah kau memberiku menantu seusia dengan anakku?" pinta Selma memelas. Andra memandang kesal pada Selma..
"Memangnya mengapa jika umurku dan Azimah tak sama. Kalian juga berbeda umurnya tapi tetap bisa menikah dan hidup bahagia. Lalu mengapa aku tak bisa?" teriak Andra dengan mulut penuh..
"Hei, kau jangan berteriak pada istriku. Dia calon ibu mertuamu! Bersikap baiklah padanya kalau kau ingin mendapatkan restu!" tegas Andreas membuat Andra diam seketika..
Sepeninggal Selma, Andreas memandang Azimah dan Andra bergantian. Mereka masih santai dengan sarapan mereka setelah kabar mengejutkan yang sudah membuat Selma kehilangan selera makannya..
"Kalian sudah berkencan lalu bagaimana selanjutnya?" tanya Andreas tiba-tiba..
"Ayah, kami bahkan baru satu hari berkencan. Kenapa harus menanyakannya secepat ini?" gerutu Azimah..
"Karena ayah tak tenang membiarkan kau bersama dia!" ketus Andreas sambil menunjuk pada Andra..
"Ayah berlebihan, Andra tak seperti itu. Dia pria yang baik" tegas Azimah membela Andra..
"Apa kau mulai memilih kekasihmu sekarang?"
"Bukan, maksudku, itu, anu. Ah aku tak tahu!" kesal Azimah kemudian meninggalkan meja makan..
"Iyas, kau membuat kekasihku marah!" ucap Andra santai
"Dan kau membuat istriku kehilangan nafsu makannya!" balas Andreas kemudian mereka terkekeh bersama...
__ADS_1
"Dengarkan aku, Selma masih belum bisa menerima kebersamaan kalian karena ia merasa penyebab kepergian Azimah adalah kau. Jadi aku harap kau mengerti keadaannya saat ini. Dia benar-benar mengkhawatirkan Azimah. Dan untuk kedepannya jangan melakukan hal yang terlalu intim saat kalian bersama Selma." jelas Andreas..
"Katakan saja jika kau melarangku dan Azimah bermesraan. Tak usah mengatasnamakan Selma, Iyas!" sahut Andra.
"Terserah kau saja. Yang pasti satu hal yang harus kau jaga. Jangan sentuh Azimah sebelum kau menikahinya!" tegas Andreas..
"Hei, permintaan macam apa itu? kami adalah pasangan dewasa, Iyas. Wajar jika kami melakukannya!" Andra mencari pembenaran..
"Tidak ada kata wajar! kau harus mengikuti apa kataku jika kau menginginkan restu dariku!" ancam Andreas. Andra memicingkan mata menatap Andra..
"Kau memberikan ancaman yang tepat. Kau bukan hanya sahabat yang kejam namun juga seorang ayah yang kejam." gurau Andra..
"Terserah!" sahut Andreas santai..
"Baiklah jika kau memang menginginkannya. Tapi berbeda cerita jika ini adalah kemauan Azimah." jelas Andra santai..
"Oh Tuhan, untuk pertama kalinya aku menyesal mempunyai sahabat seperti dia. Selma benar, lebih baik Azimah mempunyai kekasih seusianya. Setidaknya aku tak perlu membahas hal seperti ini dengan kekasihnya." kesal Andreas namun Andra hanya terkekeh mendengarnya...
"Kau beruntung memiliki menantu sepertiku, aku mapan dan siap menikahi Azimah kapan pun. Dan yang terpenting kau sudah mengetahuiku lebih banyak dari siapa pun. Seharusnya kau tak khawatir meninggalkan Azimah denganku." bangga Andra..
"Terserah kau saja. Kau benar-benar membuatku pusing, And. Lebih baik aku ke kantor dari pada di sini akan membuatku lebih pusing lagi!" kesal Andreas..
Andreas berdiri dan berjalan ke ruang tengah menemui Selma. Sejujurnya ia khawatir dengan hubungan Andra dan Azimah namun melihat kesungguhan keduanya membuat Andra tak bisa berbuat banyak terlebih Azimah yang memang sudah lebih lama mencintai Andra. Ia tak ingin melarang sesuatu yang bisa membuat Azimah bahagia. Maka dari itu ia pun berusaha bersikap seramah mungkin pada hubungan baru sahabat dan anak tirinya itu. Sementara Andra, kini ia merasa lebih menikmati hidupnya. Ia memiliki warna baru yang sebelumnya belum pernah ia rasakan. Azimah membuatnya bahagia walau hanya dengan melihatnya saja. Andra bahkan lebih sering tertawa dan bercanda. Berbeda dengan dulu, yang lebih terkesan dingin dan sombong. Entah mengapa jika saat ini Andra lebih senang mengungkapkan isi hatinya. Ia ingin mengekpresikan segala rasa yang ada dalam dirinya. Tanpa ia sadari Azimah sudah berhasil mengubah hidupnya yang dingin menjadi hangat...
***
NB:
Ingin tahu cerita sebelumnya dari Azimah. Baca karya novelku "Pernikahan kontrak".
Baca juga, ceritaku yang lainnya...
"Haruskah aku mengalah pada takdir?
Jangan lupa Like, Coment dan tambahkan ke favorit ya..
Makasih ...
__ADS_1