Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
83


__ADS_3

Andra masih sibuk melihat-lihat isi dapurnya. Ya, dia hanya melihat-melihat tanpa melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Di depannya sudah siap bahan-bahan makanan yang telah ia ambil dari kulkas tapi ia sendiri bingung bagaimana cara memaksanya.


"Lebih baik kau suruh aku menyiapkan persentase daripada memasak, Azimah!" keluh Andra.


Andra mengembalikan lagi bahan-bahan makanan kembali ke kulkas. Ia mengurungkan niatnya untuk memaksa meski nanti ia akan menerima kemarahan Azimah. Itu lebih baik daripada ia harus merusak dapurnya atau meracuni Azimah dengan makanan yang ia buat nanti.


Satu persatu bahan makanan itu ia masukkan, namun ketika ia hendak menutup pintu kulkas. Andra melihat bungkus mie instan di rak kulkas bagian bawah. Andra tersenyum singkat kemudian tangannya menjangkau mie instan tersebut.


"Aku pernah memasak ini. Kenapa tidak dengan mie ini?!" ujar Andra tersenyum senang.


Andra mengambil panci kecil dan mengisinya dengan sedikit air. Memasukkan telur yang tanpa sengaja kulit telurnya ikut masuk karena Andra yang tidak bisa memecahkan telur. (Ya elah, Bang. Barang telur aja ga bisa pecahin. Hihi). Andra mengambil kulit telur yang bisa ia ambil dan meneruskan membuat mie instan untuk Azimah.


Tak menunggu waktu lama, Andra berhasil menyiapkan mie instan yang dengan susah payah ia buat bersamaan dengan Azimah yang baru saja turun dari kamarnya. Ia nampak segar dengan dress yang Andra belikan untuknya. Jangan lupakan rambutnya yang tergerai basah, menambah kecantikan alami Azimah kian terpancar. Dengan langkah pelan ia mendekati Andra yang tersenyum dengan mangkuk berisi makanan di depannya.


"Silahkan, My Empress" ujar Andra bangga sambil menunjukkan mie instan buatannya itu.


Azimah melihat mangkuk berisi mie instan di depannya lalu menatap Andra sambil mengerenyitkan dahi.


"Mie? Kau hanya membuat mie instan?" tanya Azimah tidak percaya.


"Kenapa? Salah?" tanya Andra.


"Aku memintamu membuatkan aku makanan, And?" jawab Azimah.


"Mie juga makanan, Sayang. Dia bukan batu. Ini bisa di makan! Lagipula kau tidak mengatakan spesifik makanan apa yang harus aku buat" tegas Andra.


"Iya, memang makanan. Tapi apa tidak ada makanan lain?" gerutu Azimah.


"Jangan banyak bicara, lebih baik kau makan saja!" ujar Andra sambil menarik Azimah untuk duduk di kursi.


Azimah tidak membantah, bagaimana pun Andra sudah bersusah payah membuatkan ia makanan. Azimah pun mencoba mengambil satu suapan mie yang di gulung dengan garpu. Dan tentu saja rasanya tidak ada yang spesial selain orang yang membuatnya saja.


"Bagaimana? Enak?" tanya Andra penuh percaya diri.


"Ya, enak. Rasa mie" jawab Azimah ketus.


"Aku memasak mie. Jelas rasanya akan seperti mie. Tidak mungkin daging!" sinis Andra yang berharap mendapatkan pujian dari Azimah namun kenyataan yang ia terima sebaliknya.

__ADS_1


Azimah kembali mengambil suapan kedua pada mienya. Namun kali ini ada benda asing di dalam mulutnya, tidak seperti mie atau pun telur karena benda tersebut cukup keras. Azimah segera mengambil tissue dan memuntahkan makanannya ke dalam tissue tersebut. Betapa terkejutnya ia ketika mendapatkan ada kulit telur di dalam yang sudah ia makan.


"Ada kulit telurnya, Andra! Kau tidak memeriksanya terlebih dahulu?" tanya Azimah.


"Hanya kulit telur saja. Kau tidak akan mati hanya dengan memakan kulit telur" jawab Andra santai.


"Tapi kulit telur itu kotor. Kulit telur itu terletak di mana saja dan bisa dipegang oleh siapa saja. Dan sekarang itu ada di dalam makananku, bagaimana kalau aku terinfeksi hanya karena kulit telur itu?" jelas Azimah.


"Kau berlebihan, Azimah" kata Andra jengah. "Lagipula kau tahu bahwa aku tidak bisa memasak dan kau memaksaku untuk memasak makanan untukmu. Setelah aku masaknya untukmu kau terlalu banyak komentar. Apa tidak bisa menerima dan memakannya saja. Jangankan untuk memujiku, mengucapkan terima kasih saja tidak" kesal Andra.


Azimah merasa bersalah karena hal tersebut. Apa yang Andra katakan padanya memang benar. Seharusnya ia tidak terlalu banyak berkomentar pada makanan yang telah Andra buat dengan susah payah.


"Bukan begitu maksudku. Terimakasih dan maaf" ujar Azimah pelan.


Andra pura-pura tidak mendengarnya. Sesekali ia pun ingin membuat Azimah kesal. Bukan hanya dirinya saja. Ia memalingkan muka dengan raut wajah yang masam.


"Kau tidak ingin memaafkan aku?" tanya Azimah.


"Sudahlah. Kalau kau mau makan, kau bisa memakannya. Dan kalau tidak, kau pun tidak harus memakannya. Aku bersiap-siap dulu Untuk mengantarmu pulang" kata Andra mengabaikan Azimah.


Andra tak menghiraukan panggilan Azimah, ia terus melangkahkan kaki menuju kamarnya sambil tersenyum melihat wajah Azimah yang bersalah padanya.


Azimah bingung harus bagaimana, apakah ia harus menghabiskan mi yang telah dibuatkan Andra untuknya ataukah mengejar Andra yang sudah meninggalkannya sendirian di dapur.


"Aku urus kau nanti" ujar Azimah pada mangkuk mie di hadapannya. Ia bergegas mengejar Andra ke kamarnya.


Sesampainya Azimah di kamar Andra. Andra tengah mengganti pakaian. Ia mendekat namun Andra masih mengabaikannya.


Andra yang mengetahui kedatangan Azimah sengaja mengabaikannya, ia ingin melihat bagaimana cara Azimah membujuknya.


"And ...," kata Azimah menarik tangan Andra untuk mendekat padanya namun Andra menolaknya.


"Andra!" teriak Azimah karena Andra terus menolaknya.


"Aku harus mengganti pakaianku" jawab Andra santai.


Azimah membiarkan Andra melakukan semua kegiatannya di depan lemari. Dan Andra terus mengabaikan Azimah. Melihat hal itu Azimah segera berdiri di depan Andra.

__ADS_1


"Apa lagi?" tanya Andra ketus.


Azimah berdiri dengan puppy eyes yang ia kedipkan berkali-kali. Namun Andra tetap tidak tertarik. Lebih tepatnya mencoba tidak tertarik dengan ekspresi wajah kekasihnya itu walau sebenarnya ia sudah ingin menariknya dan menerkamnya saat ini.


"Kau sungguh-sungguh marah denganku?" tanya Azimah manja sambil memainkan jarinya di dada bidang Andra.


"Kau merasa bersalah atau memang salah?" tanya Andra.


Azimah menundukkan wajahnya, melihat ke kakinya yang tengah bergerak tidak karuan arah.


"Hei, aku tanya?" tanya Andra sambil menarik dagu Azimah agar wajah mereka saling menghadap.


"Iya, aku salah!" jawab Azimah pelan. Sangat pelan bahkan hampir sama dengan angin yang lalu.


"Apa?" tanya Andra "Aku tidak dengar!" jelasnya.


"Iya. Aku salah!" jawabnya.


"Kalau salah harus apa?" tanya Andra terus menggoda Azimah.


"Maa ...," belum sempat Azimah menyelesaikan kata-katanya Andra sudah menyumpal mulutnya dengan bibirnya.


Azimah membalas ******* Andra dengan sangat mesra. Bahkan ia mengalungkan tangannya di leher Andra. Sementara Andra sudah meraih tengkuk Azimah untuk memperdalam ciumannya. Tangannya yang lain sudah berada di pinggang Azimah dan mengikis jarak di antara mereka.


Cukup lama mereka saling bertautan, mencecap rasa mie yang tersisa di bibir Azimah. Dan itu membuat Andra semakin bergairah. Tak lama ia melepaskan tautan benda kenyal itu secara perlahan.


Mata Azimah masih terpejam menikmati sisa-sisa saliva Andra yang tertinggal di dalam mulutnya. Dan itu membuatnya semakin cantik di mata Andra.


"Your so beautiful ...," puji Andra pada Azimah sambil melabuhkan kecupan ke kedua kelopak mata Azimah.


Azimah masih mengalungkan tangannya pada leher Andra seakan tidak ingin melepaskan diri dari Andra. Andra pun membalas memeluk Azimah dengan hangat. Mengecup lembut kening dan pundak Azimah dan semua itu berhasil membuat Azimah terbuai.


"Jangan bertengkar lagi, please!" ucap Andra lirih.


"Jangan pernah membela dan memuji wanita lain di depanku. Aku cemburu!" jawab Azimah.


Andra tersenyum mendengarnya. Kekasih kecilnya itu terlalu menggemaskan baginya dengan segala pemikirannya masih sedikit labil. Namun cinta membuatnya tidak ingin kehilangan wanita yang selalu mewarnai hari-harinya dengan semua kekurangannya.

__ADS_1


__ADS_2