
Makan siang pun tiba, Azimah turun ke lobi karena sudah mendapat telepon dari Ronald. Mereka sebelumnya memang berjanji untuk makan siang bersama Mei dan teman mereka yang lainnya.
Saat sampai di lobi, Azimah pun berlari kecil mendekati Ronald.
"Maaf, lagi-lagi aku terlambat" kata Azimah dengan senyuman manisnya.
"Tak masalah, lagi pula tempat makan kita tak jauh dari sini" jawab Ronald.
"Ya sudah, ayo berangkat!" kata Azimah mengajak.
Mereka pun meninggalkan halaman kantor Lu Company menuju tempat makan yang sudah di atur Ronald dan juga Mei. Azimah hanya mengikuti semua keinginan teman-temannya saja. Anggap saja ini reuni mereka setelah lama tak bertemu pasca lulus dari Universitas.
Dibelakang mobil Ronald, terdapat sebuah mobil yang mengikuti mereka sedari tadi. Ia mengamati semua yang Azimah dan Ronald lakukan tepat saat Azimah keluar dari kantornya.
Dialah Andra. Yang memang sejak awal berniat mengajak Azimah makan siang meski ia sudah mengetahui jika Azimah memiliki janji pada Ronald untuk makan siang bersama. Namun karena perasaannya gelisah, ia pun menghampiri Azimah. Sayangnya ia kalah cepat dengan Ronald yang sudah lebih dulu sampai ke kantor Azimah. Andra pun hanya mampu menarik nafas pelan menyaksikan kedekatan Azimah dan Ronald.
"Apakah benar kau mencintaiku? Jika memang benar, mengapa caramu memperlakukan aku sangat berbeda dengan caramu memperlakukan Ronald. Kau terlihat sangat bahagia saat bersama Ronald, apakah ini artinya aku harus mundur?!" ucap Andra frustasi.
Andra menghentikan mobilnya di sebuah restoran China setelah melihat mobil Ronald yang berhenti di sana. Andra kembali disuguhi dengan pemandangan Azimah dan Ronald yang begitu gembira. Beruntung restoran itu di desain dengan dinding kaca sehingga ia bisa menyaksikan semua gerak-gerik Azimah di dalam sana.
Terlihat bagaimana Azimah berbincang sambil sesekali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Kadang mereka bicara serius kadang pula mereka bercanda hingga tertawa bersama.
Andra melihat itu dari kejauhan. Hingga tiba-tiba Ronald mengelap sudut bibir Azimah menggunakan tissue membuat Andra mengeratkan tangannya kuat di kemudi stir. Tanpa pikir panjang ia pun masuk ke restoran tersebut dan memilih meja yang tak jauh jaraknya dari Azimah.
Awalnya Azimah tak mengetahui jika Andra berada di meja yang tak jauh darinya. Hingga akhirnya, saat matanya menyapu keseluruhan ruangan tersebut barulah ia menyadari jika mereka dalam restoran yang sama. Mata mereka bertemu hingga membuat Azimah sedikit mematung.
__ADS_1
Ting ...
"Apakah aku mengganggu makan siangmu?"
Azimah meraih ponsel yang ada dalam tasnya ketika melihat Andra mengetikkan sesuatu dan menyuruhnya membuka ponsel dengan isyarat bibir.
Azimah tertegun sejenak karena pesan yang dikirimkan Andra padanya. Namun secepatnya ia mengalihkan ponselnya kembali ke dalam tas. Mengabaikan pesan Andra dan kembali bergabung dengan bincang teman-temannya.
"Sudah lama kita tak bertemu, dan siapa sangka Ronald yang begitu jahil padamu kini bisa begitu dekat denganmu" ujar salah seorang teman pria Azimah.
Azimah hanya tersenyum singkat. Sejujurnya pikirannya sedang tak berada pada tempatnya. Ia mengembara jauh memikirkan bagaimana Andra bisa mengetahui jika ia sedang makan siang di restoran tersebut. Sangat tidak mungkin jika Andra tanpa sengaja masuk ke sana karena Azimah tahu jika Andra tidak terlalu menyukai masakan China.
"Sepertinya waktu makan siang sudah habis. Aku harus kembali ke kantor" kata Azimah pada teman-temannya.
"Kalian atur saja, aku pasti akan datang. Aku pun rindu masa-masa sekolah dulu. Ternyata menjadi dewasa sangatlah tidak menyenangkan" gurau Azimah.
Mereka pun tertawa serentak. Setelah selesai membayar, Ronald kembali mengantar Azimah kekantornya. Namun ia sedikit heran melihat keberadaan Andra di restoran tersebut. Awalnya ia ingin menyapa, namun karena Azimah seperti tak ingin bertemu dengan Andra ia pun mengurungkan niatnya dan seperti pura-pura tak melihat Andra.
Di dalam mobil saat perjalanan. Azimah nampak diam. Ia masih memikirkan Andra yang tiba-tiba ada di restoran. Seperti mengetahui apa yang sedang dipikirkan Azimah, Ronald pun membuka suara.
"Apa pamanmu sedang menjadi pengikutmu?" tanya Ronald asal tebak namun reaksi Azimah di luar dugaan.
"Si-siapa yang kau maksud?" Azimah pura-pura tak tahu namun nada bicaranya terdengar begitu gelagapan.
Ronald tertawa ringan. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia menatap pada Azimah yang tersenyum canggung padanya.
__ADS_1
"Azimah, kau tak bisa berbohong padaku. Kau tahu dan aku merasakan hal itu. Baiklah, anggap saja tidak jika memang kau tak ingin membahasnya" ujar Ronald membuat Azimah merasa bersalah.
"Bukan begitu, aku tidak bermaksud untuk membohongimu. Aku hanya tak enak jika membicarakan pria lain saat bersama denganmu." jawab Azimah seadanya.
"Kenapa kau harus merasa tak enak? Kita tak memiliki hubungan yang tetap saat ini. Meski aku akui aku memang menyukaimu namun itu bukan berarti aku tak bisa menerima semau ceritamu tentang pria yang selalu ada dihatimu itu. Anggap saja jika aku sedang belajar menjadi kekasih idamanmu." Ronald bicara dengan iringan tawanya yang samar.
Azimah tersenyum mendengarnya. Ronald sangat bersikap dewasa walau umurnya berbeda jauh dengan Andra. Mungkin benar kata orang jika dewasa bukan tentang usia melainkan karakternya. Azimah merasa jika Ronald kini lebih dekat dengannya dan Andra semakin jauh darinya. Andai saja yang ia cintai adalah Ronald mungkin semuanya tak akan serumit ini dan mungkin saja kini ia telah bahagia seperti dengan keinginannya selama ini. Namun apa daya, jika sudah berurusan dengan hati maka akal sehat pun terkalahkan. Perasaan tak pernah datang sesuai dengan keinginan kita. Semuanya tabu hingga menyebabkan luka yang kadang itu terjadi karena kita sendiri yang mengizinkannya untuk terluka...
Mereka pun tiba di kantor Azimah. Ronald kembali setelah menjanjikan akan menjemputnya setelah pulang sekolah. Awalnya Azimah menolak namun dengan paksaan Ronald, Azimah pun akhirnya mau.
Azimah mendaratkan pantatnya dikursinya. Ia memikirkan apa yang dikatakan Ronald padanya tadi.
"Apakah Andra benar-benar mengikutiku?" gumam Azimah.
Saat memikirkan hal tersebut tiba-tiba ponselnya berdering dan membuyarkan semua pikiran Azimah tentang Andra.
Dilihatnya layar ponselnya. Nama Andra tertera disana dengan tambahan Paman di depan namanya. Azimah menghembuskan nafas kasar melihat tingkah Andra yang sekali lagi membuatnya bingung. Azimah pun memilih mengabaikannya dan memilih kembali bekerja.
Dua kali, tiga kali panggilan yang sama selalu terjadi hingga akhirnya Azimah menonaktifkan ponselnya agar ia bisa bekerja dengan tenang.
Diseberang sana, di dalam mobilnya. Andra nampak gusar karena Azimah memilih mengabaikannya. Berkali-kali ia menghubungi Azimah namun Azimah tak menjawab panggilannya. Lalu ketika ia menghubungi untuk kesekian kalinya, ponsel Azimah ternyata sudah tidak aktiv. Kemarahan Andra sudah di puncak, ia pun langsung menemui Azimah tanpa memikirkan akibatnya.
* * *
...Bersambung ......
__ADS_1