
Andra mengemudikan mobilnya dengan perasaan kesal. Terlebih saat Azimah hanya diam saja dan mengalihkan pandangannya pada luar jendela. Andra yang kesal tidak membawa Azimah pulang. Ia membawanya ke penthouse-nya yang di mana semua orang tidak akan mengganggu mereka.
"Malam ini semuanya harus diputuskan! Apakah semuanya bisa berlanjut ataukah berakhir begitu saja!" batin Andra mengeram menahan kesal dan amarahnya.
"Kita kemana?" tanya Azimah saat mengetahui bahwa jalan yang di tuju Andra bukanlah jalan pulang.
"Jangan banyak tanya!" ketus Andra.
Azimah hanya diam mendapatkan Andra yang masih kesal padanya.
"Seharusnya yang marah adalah aku, aku yang dikhianati di sini. Lalu kenapa dia yang marah dan kesal seolah dia tidak melakukan apa-apa" gerutu Azimah.
Tak lama mereka tiba di penthouse-nya Andra. Awalnya Azimah enggan masuk namun Andra yang tidak bisa menahan lagi rasa kesalnya, langsung saja menarik dan menggendong Azimah agar mau turun dari mobilnya.
"Kau ...," geram Azimah.
"Jangan larikan diri sebelum semuanya selesai. Aku ingatkan sekali lagi, Azimah. Kalau kau masih ingin kedua keluarga ini terjalin baik, maka selesaikan semuanya secara baik-baik" tegas Andra.
Azimah menelan salivanya. Tatapan mata Andra benar-benar dipenuhi kemarahan, cengkraman tangan Andra pada tubuhnya pun berbeda, tidak lembut seperti biasanya. Itu membuat Azimah sedikit takut.
Tiba di depan penthouse-nya, Andra menurunkan Azimah dan membuka penthouse-nya dengan sidik jarinya. Dengan ayunan kepalanya, Andra mengkodekan agar Azimah masuk. Azimah yang tidak ingin memancing kemarahan Andra lagi hanya menuruti perintah Andra.
Perlahan Azimah melangkahkan kaki masuk ke dalam penthouse-nya Andra. Dan tiba di sebuah ruangan yang diyakini Azimah sebagai ruang tamu, Azimah duduk di sofa single yang terdapat di sana.
Andra datang dengan langkah lebar menuju mini bar yang tidak jauh dari ruang tamunya. Ia menuangkan Wine sambil menatap tajam pada Azimah. Sementara Azimah hanya bisa memalingkan wajah dengan tatapan tajam Andra itu.
Selesai menuangkan wine, Andra berjalan mendekat pada Azimah dan berdiri di depannya.
__ADS_1
"Kenapa kau menuduhku selingkuh?" tanya Andra tegas.
Azimah membulatkan mata, merasa bahwa ia tengah dihadapkan pada prasangkanya sendiri.
"Kau tidak sadar dengan apa yang kau lakukan? Atau kau masih ingin menyalahkan aku atas semua tindakanmu itu?" kata Azimah sarkasme.
"Berhenti bermain teka-teki, Azimah. Jawab saja apa yang aku tanyakan padamu!" tegas Andra.
"Oh iya, hanya kau yang boleh membela diri sementara yang lainnya tidak boleh. Kau benar-benar egois, And!" ketus Azimah.
Andra menarik nafas panjang, mengeluarkannya dengan kasar dan kembali menatap Azimah dengan tajam.
"Aku terima semua kata-kata kasarmu itu, tapi aku tidak terima dengan tuduhan itu karena aku memang tidak pernah berselingkuh darimu!" jelas Andra.
"Apa mungkin aku salah paham pada Andra?" tanya Azimah dalam hatinya ragu.
Azimah diam. Ia kembali ragu untuk membuka mulutnya. Setelah Azimah pikir-pikir, ia memang menuduh Andra tanpa menjelaskan semuanya, bukti yang ia lihat hanya ia yang tahu. Dan itu tidak bisa menguatkan alibinya.
"Katakan, Azimah!" ujar Andra yang mulai merendahkan nada suaranya.
Dengan ragu Azimah membuka suara.
"Itu, kau maksudku. Aku melihat sebuah kalung di mobilmu pada saat kita pulang dari butik. Kemudian, aku melihat kau bicara pada Laura dan saat itu Laura memainkan kalung itu. Lalu kalian tertawa dan ...."
"Dan kau menuduh kami berselingkuh?" tanya Andra menyela.
Dengan ragu Azimah menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Andra bingung apakah ia harus marah atau tertawa saat ini. Apa yang dikatakan Azimah hanyalah asumsinya secara sepihak dan memutuskan apa yang ia lihat itu adalah benar dengan apa yang ia pikirkan.
"Azimah ..., apa kau tidak bisa mencerna semuanya? Apa kau terbiasa mengasumsikan semuanya secara sepihak, begitu? Apa kau tidak memiliki pertahanan diri untuk melindungi dirimu dari hal-hal semacam ini, hah?" tanya Andra bertubi-tubi.
"Apa maksudmu, And?" tanya Azimah bingung.
"Maksudku? Apa kau tidak pernah menanyakan hal seperti ini pada Selma, ibumu?" ujar Andra dan Azimah menggelengkan kepala.
"Kau tahu mengapa Iyas dan Selma bisa bertahan dalam semua badai yang menerpa mereka? Itu karena mereka saling percaya! Mereka saling mengerti pasangan satu sama lain. Jika Selma ataupun Iyas tidak membentengi diri mereka, mungkin pernikahan itu tidak akan bertahan lama. Kau tahu berapa banyak wanita yang menginginkan Iyas diluaran sana? Dan kau tahu bagaimana orang-orang licik diluaran sana hendak menjatuhkan Iyas?" tanya Andra lagi dan Azimah kembali menggelengkan kepala.
"Banyak, Azimah. Sangat banyak!" tegas Andra. Azimah terdiam sejenak, rasa tidak percaya mendengar penjelasan Andra tentang pernikahan kedua orangtuanya.
"Untuk kami, pengusaha sukses dan ternama. Yang biasa hidup dengan gelimang harta dan kemewahan. Tanpa di minta wanita dengan sukarela datang menyerahkan hal berharga dalam hidupnya! Dan bisa saja mereka mengotori kami tanpa harus naik ke ranjang kami. Tapi, itu semua berhasil Iyas dan Selma lalui, begitu pula aku dan Adelina. Karena kami tahu, rasa cinta dan kasih sayang kami sudah tercurah pada orang yang tepat. Di luar sana, banyak sekali orang yang ingin melihat kehancuran kita, Azimah. Banyak sekali. Di jaman sekarang kebanyakkan orang membawa api ketimbang air, dan kita sebagai sasaran mereka harus pintar-pintar menempatkan diri dan emosi. Bagaimana caranya? Rasa percaya! Tebalkan rasa percaya dan luapkan semua yang menjadi keluh kesahmu, orang tidak akan mengerti jika tidak kita jelaskan karena hanya segelintir orang yang peka terhadap keadaan" jelas Andra panjang lebar.
"Jadi maksudmu, aku salah paham terhadapmu. Tapi aku melihat semuanya tanpa ada rekayasa yang orang lain buat!" sanggah Azimah.
"Iya, benar! Kau memang melihat semuanya tapi apakah kau pernah menanyakannya padaku, bahkan saat aku bertanya apakah kau menjawabku dengan benar?" tanya Andra.
Azimah kembali diam. Namun karena keegoisan yang masih bertahta, Azimah kembali bersuara.
"Aku melihat kalung itu. Dan kau juga Laura, kalian ...,"
"Kalung itu untukmu, Azimah. Untukmu! Aku sengaja belum memberikannya karena aku ingin menghadiahkannya untuk ulang tahunmu nanti! Dan aku meminta pendapat Laura mengenai kalung itu karena hanya dia teman wanita yang dekat denganku selain Selma dan Charlotte. Tadinya aku hendak menelpon Charlotte namun saat Laura datang aku mengurungkan niatku. Aku bisa saja bicara pada Selma, namun kau tahu sendiri mulut ibumu itu sekarang sedang tidak bisa dikontrol. Bisa saja rencana yang aku persiapkan ini gagal, dan ternyata memang benar-benar gagal!" kesal Andra.
Kini Azimah terdiam sepenuhnya. Ia menyesal sekaligus merasa bersalah karena sudah menuduh Andra yang bukan-bukan. Ia bahkan melepaskan cincin yang Andra sematkan padanya padahal ia sendiri sudah berjanji tidak akan mudah mengucapkan kata perpisahan.
Azimah pun serba salah harus memulai dan meminta maaf pada Andra.
__ADS_1