Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
98


__ADS_3

Pagi hari yang ditunggu akhirnya tiba, Andreas dan Emma sudah tidak sabar menunggu kedatangan Andra, sementara Azimah masih di dalam kamar tanpa tahu apa yang terjadi di ruang makan.


"Aku akan memanggil Kak Azimah," kata Azirah yang langsung bergerak namun segera dihentikan Selma.


"Biarkan saja, Azirah!" Cegat Selma. "Kakakmu akan turun sebentar lagi."


Azirah kembali duduk, menunggu dengan bingung tanpa tahu harus melakukan apa.


"Selamat pagi." Tiba-tiba terdengar suara pria yang datang dari arah depan. Semua orang menoleh, dan pria itu tidak lain adalah Andra.


"Pagi," balas Emma seadanya.


"Bi …, maksudku Nenek. Selamat pagi," sapa Andra canggung pada Emma.


"Kau bingung, bukan? Sama, aku juga!" Tukas Emma sarkas.


"Aku juga bingung, Nek." Timpal Alex.


"Bingung kenapa?" Tanya Nenek penasaran.


"Bingung, antara memanggilnya Paman atau Kakak Ipar."


Emma tertawa kecil mendengarnya, sementara Andra mendadak canggung ditengah keluarga yang ia rasakan hangat sebelumnya.


"Duduklah, And!" Kata Andreas pada Andra.


Andra menarik kursi yang ada di sisi Andreas, tak Azimah datang dan menyapa semua orang. Ia sedikit terkejut melihat Andra yang sudah berada di rumahnya sepagi ini.


"Kau datang? Sendiri? Anas dengan siapa di rumah?" Cecar Azimah pada Andra.


"Anas sudah dijemput oleh bus sekolahnya, aku kemari karena Iyas yang memintaku datang." Jelas Andra seadanya.


"Ayah?" Tanya Azimah bingung seraya menatap ke arah Andreas. Dan Andra hanya mengangguk sebagai tanggapannya.


"Duduklah dulu, Azimah." Pinta Andreas pada putri sulungnya itu.

__ADS_1


"Ada apa ini, Ayah? Ekspresi kalian membuatku takut," ujar Azimah kemudian.


Selma bergerak, mengisi setiap piring makan orang yang ada di sana. Wajahnya nampak masam, Azimah dan Andra semakin bingung dengan keadaan di depan mereka saat ini.


"Jadi begini," Andreas membuka suara, mengamati setiap wajah dengan hati-hati.


"Langsung ke inti saja, Iyas. Aku sudah muak dengan masalah ini!" Timpal Selma dengan cepat.


"Selma, bersabarlah!" Kata Emma mengingatkan. Selma pun tak membantah lagi. Ia duduk berdekatan dengan Alex, sementara Andreas mulai meneruskan kalimatnya.


"Aku memintamu datang terkait pernyataanmu tadi malam yang ingin melangsungkan pernikahan di hari pertunangan kalian. Banyak yang tak menerima ini, karena kalian memutuskan semuanya sepihak seperti ini. Jadi, kami ingin mendengar alasan dari kalian berdua mengapa tiba-tiba memutuskan untuk menikah di hari pertunangan kalian?" Jelas Andreas.


Andra dan Azimah saling memandang, Andra sudah menyangka jika hal ini akan terjadi. Namun ia sudah memutuskannya, dan kali ini ia tidak akan menyerah lagi.


"Sebenarnya dari awal aku memang ingin langsung menikah dengan Azimah, hanya saja karena memikirkan banyak perasaan, akhirnya aku setuju untuk bertunangan," jawab Andra dengan tenang.


"Jadi kau menyalahkan aku tentang keputusan bertunangan itu?!" Sergah Selma dengan cepat.


"Selma!!" Sentak Andreas dengan menekankan setiap kalimatnya.


Selma melipat tangannya di depan dada, membiarkan Andra meneruskan penjelasannya karena tak ingin disentak Andreas untuk kesekian kalinya.


"Kalian tahu bahwa kita diincar oleh walikota, terutama Azimah dan Anas. Oleh karena itu aku memutuskan ingin cepat menikah agar aku tenang. Aku tidak ingin terus merasa cemas ketika berjauhan dengan Azimah. Lagipula, akhir-akhir ini kami sering bertengkar, semakin lama kami bertengkar maka semakin besar jarak yang ada. Aku tidak ingin ini terus terjadi," tambah Andra menjelaskan.


Semua orang diam mendengarkan, namun tiba-tiba Alex menyela dan bertanya pada Azimah. "Kalian bertengkar karena apa? Ayah dan Ibu?" Tanyanya lugas.


Azimah diam, namun Andra segera menjawabnya. "Bukan, ini tidak ada hubungannya dengan orang tua kalian. Ini masalah pribadi kami."


"Kalau begitu, selesaikan!" Sergah Alex tanpa beban. Azimah dan Andra menatapnya lekat, begitupun dengan Selma dan Andreas.


"Jika kalian memiliki masalah, maka selesaikan! Bukan membuat keputusan yang tiba-tiba tanpa perhitungan. Menikah dan berkencan adalah dua hal yang berbeda. Bukan hanya tentang perasaan namun ketika kalian menikah, kalian sudah melibatkan Tuhan di dalamnya."


Semua orang nampak tercengang mendengar penuturan Alex. Bagaimana tidak? Usia Alex paling muda dibandingkan yang lainnya.


"Wah, Kakak keren!" Kata Axel tiba-tiba.

__ADS_1


"Yang dikatakan Alex ada benarnya. Keputusan menikah yang kalian lakukan ini sangat mendadak. Tapi aku tidak akan memaksa, ini semua keinginan kalian. Jika kalian berdua masih bersikeras untuk menikah, aku bisa apa?!" Tukas Andreas.


Andreas menatap Selma, ada ketidakrelaan di wajah istrinya itu, namun lagi-lagi ia tidak ingin membuat masalah baru lagi. Tentang pernikahan Azimah, semua sudah menguras tenaga dan pikirannya.


"Selma, ada yang ingin kau katakan?!" Tanya Andreas kemudian.


Selma menggeleng dengan lemah. Ia sudah tidak bersemangat lagi, keinginan dan harapannya sudah dihancurkan oleh keputusan Azimah dan Andra yang tiba-tiba.


"Jika ada yang ingin kau katakan maka katakan saja, Selma. Aku akan mendengarkan," tambah Andra.


Selma tetap setia menggelengkan kepalanya, namun di wajahnya terlihat jelas raut kekecewaan yang tidak bisa ia tutupi lagi.


"Aku akan menyiapkan tasmu, Iyas."


Selma berdiri, memilih pergi dan meninggalkan semua orang. Ia sudah tidak peduli lagi tentang apa yang akan terjadi pada pernikahan putrinya itu.


"Kakak lihat itu?!" Kata Azirah tiba-tiba. "Ibu murung karena keputusan tiba-tiba ini. Ibu sangat bersemangat mengatur semuanya, namun tiba-tiba kalian merubah semuanya seenak kalian saja. Kalian pikir Ibu egois? Kalianlah yang egois! Kalian sudah dewasa, namun tingkah kalian kalah dengan umur kalian!" Tegas Azirah, berdiri lalu meninggalkan ruang makan.


Keadaan semakin tidak kondusif, semua orang menjadi tegang, terlebih ketika Azirah yang jarang bicara mulai membuka suara dan menghenyakkan setiap orang yang ada di sana.


"Ini bukan keinginan Azimah, ini keinginanku," kata Andra sejujurnya.


"Sama saja, itu tidak ada bedanya. Dengan mengiyakan keinginanmu, maka Azimah juga terlibat di dalamnya," timpa Emma.


"Baiklah, jika memang sudah diputuskan maka minggu depan kalian akan menikah. Aku akan menyiapkan semuanya," tambah Emma kemudian. Setelah mengatakan itu, Emma pun beranjak.


Hanya tersisa Andreas, Azimah, Andra, Axel dan Alex di meja makan. Suasana hening, tidak ada yang bicara lagi.


"Aku akan mengantar Axel ke sekolah, aku permisi!" Kata Alex kemudian. Keduanya pergi, menyisakan tiga orang yang sama-sama bungkam.


"Jika memang tidak bisa, maka sebaiknya kami bertunangan saja, Ayah!" Kata Selma kemudian.


"Tidak," jawab Andreas dengan cepat. "Kalian sudah memutuskannya, maka lakukan saja. Menikah, ya menikah. Jangan mengubah-ubah sesuatu sesuka kalian. Ingat, kalian tidak hidup sendiri!"


"Iyas, bukan begitu maksud kami. Kami hanya ing …," belum selesai Andra bicara, Andreas sudah berdiri.

__ADS_1


"Aku harus pergi ke kantor, kalian akan menikah minggu depan dan jangan diubah lagi!" Tegas Andreas. Setelah mengatakan itu, Andreas melangkahkan kaki meninggalkan Azimah dan Andra di ruang makan. Keduanya nampak bingung, terlebih Azimah. Ia merasa bersalah dan menyesal karena sudah memutuskan semuanya secara sepihak.


__ADS_2