Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
84


__ADS_3

Andra dan Azimah masih saling memeluk satu sama lain seakan melepaskan rasa rindu yang sudah lama terpendam. Padahal setiap hari mereka bertemu dan bertegur sapa.


"Mau pulang atau tetap berpelukan?" tanya Andra pelan.


"Bisakah kita pulang sambil berpelukan?" tanya Azimah seakan menggoda Andra.


"Jangan menggodaku, Azimah. Kau tahu betul aku tidak tahan jika kau bersikap seperti ini" tukas Andra.


Azimah menarik nafas panjang dalam pelukan Andra. Tubuh Andra yang memang lebih tinggi darinya berhasil membuat Azimah tenggelam dalam pelukan Andra.


"Aku tidak menggodamu. Aku hanya merasa beberapa hari ini kita jarang seperti ini" jawab Azimah jujur.


"Kalau begitu tidak usah pulang. Aku akan mengabari Selma dan Iyas" kata Andra memberi saran.


Azimah nampak ragu menjawab. Ia memang menginginkan waktu yang panjang bersama Andra. Namun ia ragu apakah ibunya akan mengizinkannya.


"Aku takut jika Ibu tidak mengizinkan" jawab Azimah.


"Biar aku coba!" Andra melepaskan pelukannya dan berjalan meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Ia segera mendial nomor Andreas untuk meminta izin. Untuk Andra, Andreas lebih mudah di urus ketimbang Selma.


"Hal ...," belum sempat Andra bicara, sudah ada suara wanita yang menyapanya di seberang sana.


"Selma. Aku kira Iyas" ujar Andra yang kini nampak bingung untuk meminta izin.


"Kenapa Azimah belum pulang, And?" tanya Selma cepat.


'Dia selalu lebih cepat dari siapapun!' gerutu Andra.


"Aku menghubungi Iyas untuk itu. Azimah masih tertidur dan aku tidak tega membangunkannya!" ujar Andra berbohong.


"Azimah tertidur di jam seperti ini? Apa kau berbohong, And?" tanya Selma.


'Sial!' gerutu Andra lagi.


"Tidak, Selma. Dia kelelahan membantu aku merenovasi beberapa ruangan di rumahku. Apa boleh dia tidak pulang?" tanya Andra ragu-ragu.


Lama terdengar jawaban dari Selma hingga akhirnya Andra kembali membuka suara.


"Kalau tidak boleh, aku akan membangunkan dia sekarang" tambah Andra berusaha membuat nada suaranya setenang mungkin walau ia takut kebablasan bicara akibat interogasi Selma padanya.


"Siapa, Sayang?" Terdengar suara berat dari kejauhan yang diyakini Andra adalah Andreas.


"Andra!" jawab Selma terdengar cukup jelas dari ponsel Andra.


"Hallo, And. Ada apa?" tanya Andreas dari seberang sana.


"Aku ingin mengajak Azimah pulang, namun dia tertidur karena kelelahan membantuku seharian ini. Aku sudah mengatakan padamu bahwa aku merubah beberapa ruangan dirumahku. Apa dia boleh tidak pulang malam ini?" tanya Andra cepat.


"Ya sudah kalau begitu" jawab Andreas cepat.


"Kalau begitu aku titip Anas lagi pada kalian" ujar Andra senang.


"Ya, kau mengurus anakku dan aku mengurus anakmu. Impas, bukan?" sindir Andreas.


"Kau memang sahabatku, Iyas. Percayalah. Seperti kau menjaga anakku, begitu pula aku akan menjaga anakmu" jawab Andra seakan tidak termakan dengan sindiran Andreas padanya.


"Aku pegang kata-katamu, And. Dan apa yang kau katakan kemarin sore sebaiknya cepat kau laksanakan karena itu lebih baik untukku dan tentunya untukmu" ujar Andreas.


"Sabar sedikit, aku sedang membujuknya!" jawab Andra bersemangat.


"Ya sudah kalau begitu. Aku tutup!" kata Andreas yang langsung menutup panggilan telepon mereka.


Andra tersenyum memandang Azimah. Namun Azimah menatapnya sambil bersedekap dada.


"Kau boleh menginap di sini!" ujar Andra.

__ADS_1


"Ya, aku sudah dengar semuanya! Kau berhasil mendapatkan izin dengan kebohonganmu" jawab Azimah.


"Bukankah kau juga senang?" tanya Andra yang langsung membalikkan tubuh Azimah dan memeluknya dari belakang.


"Aku lapar, And" rengek Azimah.


"Kau ingin makan malam di rumah atau di luar?" tanya Andra sambil terus menciumi leher jenjang Azimah.


"Di rumah saja. Aku sedang tidak ingin kemana-mana" jawab Azimah.


"Ya sudah, Ayo!" ajak Andra yang langsung mendorong Azimah untuk meninggalkan kamarnya.


Andra dan Azimah kembali ke dapur, namun ketika tiba di dapur keduanya tertawa mendapati mie instan yang tadi di buat Andra masih berada di atas meja.


"Makan olehmu!" ujar Azimah memberikan mangkuk mie tersebut pada Andra.


"Sebaiknya kita makan yang lain saja!" ujar Andra beranjak dari tempatnya menuju lemari penyimpanan makanan. Azimah hanya tertawa mendengar penolakan Andra.


Andra menyiapkan makan malam mereka dan menyantapnya sambil berbincang dan kadang bercanda dengan Azimah. Setelah selesai makan, Azimah dan Andra menikmati kopi yang Azimah buat di ruang tamu sambil menonton televisi.


"Azimah ...," panggil Andra setelah menyesap kopi buatan Azimah.


"Em ...," sahut Azimah tanpa mengalihkan pandangannya ke layar televisi.


"Lihat aku, Sayang ...," ujar Andra sambil menarik Azimah mendekat padanya.


"Kau merokok, And" jawab Azimah beralasan.


Andra semakin menarik Azimah mendekat padanya. Ia menciumi leher belakang Azimah dan berhasil membuat Azimah menoleh padanya.


"Apa?" jawab Azimah manja.


"Ayo, menikah!" kata Andra penuh penekanan.


Azimah menatap Andra dalam dan begitu lekat. Ia ingin memastikan apakah ucapan kekasihnya itu sungguh-sungguh atau hanya sebuah godaan bagi dirinya yang memang begitu mengharapkan Andra menjadi miliknya seutuhnya. Tapi sedalam apapun Azimah menyelami bola mata Andra, ia tidak menemukan keganjilan di mata Andra. Mata itu penuh harap akan permintaan yang baru saja ia inginkan dari Azimah.


"Entahlah ..., aku tidak bisa mencari jawaban yang tepat karena aku sendiri tidak tahu mengapa aku begitu ingin menikahimu dalam waktu dekat. Mungkin karena aku terlalu mencintaimu dan takut jika kehilanganmu" jawab Andra.


"Apakah menikah bisa menjamin keduanya tidak merasa kehilangan?" tanya Azimah.


"Aku tahu. Tapi, aku ingin kita menikah dan menjalin hubungan yang pasti. Tidak ada gunanya menghabiskan waktu yang lama sementara kita bisa memastikan hubungan yang pasti. Atau kau masih meragukanku?" tanya Andra.


"Bukan itu. Hanya saja aku belum siap menikah" jawab Azimah jujur.


"Berapa lama lagi aku harus menunggumu? Aku bukan dirimu yang bisa sabar dan setia untuk menunggu seseorang" kata Andra.


"Beri aku waktu beberapa bulan lagi. Atau jika memungkinkan kita tunangan saja terlebih dahulu?!" ujar Azimah menyarankan.


"Kau yakin ingin bertunangan saja?" tanya Andra lemah.


Ada kekecewaan tersirat dari pertanyaan Andra. Namun Andra tidak bisa berbuat apa-apa, ia harus menghormati keputusan Azimah.


"Iya. Kita bertunangan dalam beberapa bulan sambil menyiapkan segala sesuatunya. Aku perlu menyiapkan diri sebagai seorang istri dan ibu. Apa kau tidak keberatan?" tanya Azimah.


"Jika itu memang keputusanmu aku harus menerima walau sebenarnya aku lebih ingin menikah saja" jawab Andra pasrah.


"And, jangan egois. Kau sudah menikah, aku belum. Aku ingin melalui proses tahap kita satu persatu. Aku ingin bertunangan, menyiapkan segala sesuatu untuk pernikahan kita. Menyusun tema pernikahan impianku. Aku ingin berjalan di altar dengan Ayah dengan perasaan puas untuk mengakhiri masa lajangku!" jelas Azimah dengan nada manja.


Andra menarik nafas pelan. Apa yang Azimah katakan memang benar. Azimah tentu memiliki impian tentang rencana pernikahannya.


"Baiklah, aku akan bicara pada Iyas dan Selma besok untuk menentukan hari pertunangan kita" jawab Andra menyetujui.


Azimah pun memeluk Andra karena Andra menyetujui permintaannya.


"Tenang saja, ini hanya beberapa bulan" ujar Azimah menenangkan Andra.

__ADS_1


"Ya aku tahu. Tapi aku harus menahan diri lebih lama lagi" keluh Andra.


Azimah terdiam. Ia sedikit mencerna kata-kata Andra dan setelah tahu artinya ia pun menatap Andra ragu.


"Kau bisa melakukannya kalau kau memang menginginkannya!" kata Azimah pelan.


"Azimah, aku terikat perjanjian dengan ayahmu kalau aku tidak boleh menghamilimu sebelum kita menikah!" teriak Andra frustasi.


"Kita bisa melakukannya tanpa hamil, bukan?" tanya Azimah seakan menantang sisi kelelakian Andra.


Andra menatap tajam pada Azimah.


"Siapa yang mengajarimu hal kotor seperti ini?" tanya Andra penasaran.


"Aku tidak di ajari siapapun. Aku tahu sendiri. Lagipula aku sudah sewajarnya mengetahui itu. Aku sudah dewasa, Andra Lee!" jawab Azimah menekankan kalimat terakhirnya.


"Kau ...,"


Andra langsung menarik Azimah dalam pangkuannya. Ia langsung ******* bibir Azimah dalam-dalam. Azimah pun membalas tak kalah liar. Ia bahkan membuka kedua kakinya dan mengapit tubuh Andra di antara kedua pahanya. Dan itu sangat sempurna untuk merasakan benjolan keras yang langsung menyentuh pangkal pahanya.


Setelah cukup lama, Andra membiarkan Azimah bernafas mencari oksigen sebanyak mungkin. Ia kini beralih pada leher Azimah. Tangannya sudah bergerak liar ke seluruh tubuh Azimah. Andra bahkan menarik dress yang dikenakan Azimah ke atas untuk memudahkan akses bagi tangannya.


"Em ...," gumam Azimah yang tertahan saat Andra menyentuh perut ratanya.


Mendengar sinyal penuh tanpa hambatan dari Azimah, Andra berdiri sambil menggendong Azimah. Ia berjalan naik ke lantai atas menuju kamarnya.


Selama berjalan mereka kembali bertautan kembali. Memadu saliva dan saling mencecap. Lidah keduanya saling membelit dan beradu di dalam sana.


Azimah meremas rambut Andra kuat saat gejolak hasrat dalam dirinya sudah mulai menguasai. Andra pun tidak tinggal diam. Ia melepaskan lumatannya dan kembali pada leher Azimah. Hingga akhirnya mereka tiba di kamar Andra.


Andra membiarkan Azimah turun dari gendongannya dan kembali menyerang Azimah yang masih berdiri. Ia mencium bibir Azimah singkat, beralih ke telinga Azimah dan leher Azimah. Kedua tangannya juga sudah bersiap menarik resleting dress yang terdapat di punggung Azimah.


Azimah pun demikian, ia menarik baju Andra hingga tertanggal dan membuangnya sembarang. Andra kembali menerkam bibir Azimah setelah berhasil melepaskan dress yang ia kenakan. Kini Azimah hanya menggunakan bra dan celana segitiga dengan warna senada sementara Andra sudah bertelanjang dada.


Andra membalikkan tubuh Azimah dan memeluknya dari belakang. Tangannya juga bergerak ke leher Azimah, turun ke gunung kembar Azimah dan meremasnya sedikit.


"aahh ..." desahan itu lolos dari bibir Azimah. Membuat Andra semakin bersemangat memulai aksinya.


Andra menciumi tengkuk Azimah. Meninggalkan tanda di sana.


"Aku menginginkanmu, Azimah" ujar Andra serak.


Azimah tidak menjawab. Ia terlalu menikmati permainan yang diberikan Andra padanya. Sedari tadi matanya tidak terbuka lagi karena menahan semua gejolak yang ia rasakan saat ini.


Azimah berinisiatif dengan mencari kancing celana Andra sebagai jawaban atas apa yang Andra minta darinya. Andra pun memberikan celah bagi Azimah agar mempermudah aksinya. Tidak lama, bagian bawah Andra hanya tersisa boxer yang sering ia lihat gambarnya di majalah-majalah ketika ia berdua dengan Mei saat mereka tidak ada kegiatan. Andra mendorong Azimah agar mendekat pada ranjangnya. Azimah pun terseret hingga jatuh ke atas ranjang Andra.


Tidak menyia-nyiakan waktu lagi, Andra segera memposisikan diri tepat di belakang Azimah. Ia menarik pengait bra yang Azimah kenakan. Azimah turut membantu Andra dengan melepaskan kedua tali tersebut dari pundaknya. Dan Andra kembali menciumi belakang Azimah hingga ke dasar pinggang.


Deru nafas memburu terdengar dari Azimah. Tangannya mengepal sprei dengan kuat seakan mencari pertolongan atas apa yang ia rasakan saat ini. Dan saat ciuman Andra tiba ke pinggang Azimah, ia menarik celana segitiga itu dan melepaskannya.


Andra membalikkan tubuh Azimah agar menghadap padanya. Azimah pun terlentang sempurna tanpa ada yang menutupi tubuhnya. Dan itu adalah pemandangan yang sangat indah bagi Andra.


Andra berdiri, memandangi Azimah dari atas hingga ke bawah. Ia meneguk salivanya saat melihat wujud ciptaan Tuhan yang paling indah itu. Bahkan Adelina pun tidak memiliki apa yang Azimah miliki saat ini.


Merasakan tidak adanya pergerakan dari Andra. Azimah pun memberanikan diri membuka matanya. Dan betapa terkejutnya ia mendapati Andra tengah berdiri menatapnya dengan tubuh yang hanya di balut kain di bagian intimnya. Yang lebih mengejutkan lagi adalah adalah, benjolan di dalam celana itu. Mata Azimah tertuju kesana dan tak beralih membuat Andra tersenyum puas.


"Kau ingin coba?" tanya Andra menantang.


"Aku tidak tahu caranya" jawab Azimah jujur.


"Kemari!" ujar Andra menarik tangan Azimah dan membawanya ke karet boxernya.


Mengerti maksud Andra, Azimah pun dengan ragu menurunkan boxer itu. Perlahan tapi pasti apa yang disembunyikan dari dalam boxer itu nampak dengan jelas hingga membuat Azimah menganga tidak percaya dengan ukurannya.


"Cobalah!" ujar Andra pada Azimah.

__ADS_1


* * *


Sisanya besok lagi, ya. Untuk sekarang lanjutkan teruskan dengan pasangan masing-masing dulu. HiHi..


__ADS_2