Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
60


__ADS_3

Selma masih memandang kesal pada Andreas namun yang dikesalkan hanya diam sambil menahan senyumnya.


Setelah selesai dengan pekerjaannya, Andreas mendekat pada Selma yang masih sibuk dengan ponselnya. Ia mendekap tubuh Selma namun segera Selma dorong.


"Kau masih marah padaku?" tanya Andreas di sisi telinga Selma.


"Menurutmu?" ujar Selma balik bertanya.


"Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi. Tapi setelah ini kau harus berjanji dengan sungguh-sungguh bahwa kau tidak akan menguntit Azimah dan Andra lagi" ujar Andreas dengan peringatannya.


"Kau benar-benar menghukumku karena masalah Azimah dan Andra?" ucap Selma tidak percaya. Andreas hanya mengangguk lemah.


"Kau benar-benar keterlaluan, Iyas!" teriak Selma. Ia pun segera membelakangi Andreas.


"Kau akan mengerti nantinya. Sekarang lebih baik kau tidur dan beristirahat. Selamat malam, Sayang" kata Andreas sambil mengecup puncak kepala Selma.


Selma masih menahan geram atas hukuman Andreas yang menurutnya tidak masuk akal. Bagaimana bisa Andreas menghukumnya hanya karena ia ingin menjaga putri sulungnya. Bukankah wajar seorang ibu memastikan anak perempuannya baik-baik saja hingga sampai waktu mereka menikah.


Mungkin pada zaman saat ini, dimana semua hal yang tabu menjadi suatu yang lumrah untuk dibicarakan termasuk juga tentang keintiman seorang pria dan wanita. Tapi bagi Salma, ia tetap ingin anak gadisnya memberikan mahkotanya pada suami mereka. Walau memang Selma akui bahwa Andra tidak akan lari dari tanggung jawabnya tetap saja kekhawatiran seorang Ibu membuat Selma ingin melakukan apapun untuk melindungi anak-anaknya.


Dan ternyata ini bertolak belakang dengan Andreas. Andreas merasa bahwa tindakan Selma tidak pantas untuk dilakukan. Selma pun kesal memikirkannya.


Sementara di lain tempat, Azimah sudah berhasil menidurkan Anas. Ia kini hendak beranjak kembali kekamarnya namun Andra menahannya.


"Ada apa lagi? Jangan macam-macam, And! Apa ini belum cukup buatmu" ujar Azimah seraya menunjukkan bekas kissmark Andra di lehernya.


"Aku hanya ingin mengucapkan selamat malam. Apa itu juga tidak boleh?" tanya Andra.

__ADS_1


"Iya, selamat malam" ujar Azimah seraya memeluk dan mengecup leher Andra.


"Selamat malam, Sayang. Mimpi yang indah. I love you" kata Andra yang kemudian memberikan kecupan ringan di dahi Azimah. Azimah tersenyum seraya berkata ...,


"I love you too" jawabnya dan kemudian melenggang keluar paviliun.


Azimah segera berlari menuju kamarnya, ia takut jika harus bertemu dengan ibunya. Bukan karena apa, ini karena tanda merah keunguan yang diberikan Andra tadi siang belum juga menghilang dan Azimah sendiri belum menyamarkannya. Jika Selma melihatnya, maka Azimah harus siap dengan semua kemarahannya.


Setelah memasuki kamar, Azimah segera mengunci pintu dan masuk ke dalam selimutnya. Berusaha untuk tidur namun terlintas kegiatan panas yang terjadi antara dirinya dan Andra tadi siang, membuat Azimah menggigit bibir bawahnya.


"Ternyata begitu sensasinya" ujar Azimah dengan suara rendah.


Sementara Andra, ia membayangkan wajah merah Azimah yang bergairah akibat ulahnya. Tak pernah Andra bayangkan bahwa ia akan melakukan hal itu pada seorang gadis yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.


Entah memang takdir Tuhan ataukah apa, Andra bisa sebahagia ini meski dirinya tidak menuntaskannya hingga ke inti.


Selma berbalik ke kiri dan ke kanan, berharap dengan posisi yang tepat bisa membawanya tidur terlelap. Namun sayang, bagaimanapun ia mencoba matanya tetap enggan terpejam


Hingga akhirnya pergerakan Selma mengganggu tidur Andreas.


Andreas membuka matanya dan melihat Selma masih belum memejamkan mata, ia pun menarik Selma dalam pelukannya. Memijat lembut bagian pinggang Selma sementara tangan yang lainnya mengelus punggung Selma.


Harus Andreas akui bawa permainannya tadi siang sudah menyiksa Selma, tidak hanya Selma melainkan dirinya juga. Ia merasakan ngilu di kakinya namun tidak ia tunjukkan dihadapan Selma. Sebenarnya, itu bukan hanya sekedar hukuman melainkan ia memang benar-benar menginginkannya.


Melihat Andra dan Azimah yang berada dalam satu kamar, Andreas bukan tidak tahu apa yang sudah terjadi. Tempat tidur yang berantakan hingga bau harum Andra yang baru selesai mandi sudah menjelaskan semuanya. Namun Andreas tidak ingin berpikir lebih jauh karena itu menyakiti dirinya sendiri. Ia hanya berharap bahwa Andra benar-benar menepati janjinya untuk mempersunting Azimah sebagai istrinya.


Awalnya Andreas hanya ingin menggoda Selma, namun ternyata ia sendiri yang terjebak dalam permainannya hingga membuatnya kehilangan akal sehat dan terus menggempur Selma dengan nafsunya.

__ADS_1


"Badanku terasa remuk, Iyas" ucap Selma lemah.


"Em, aku juga" jawab Andreas seadanya.


"Aku tidak akan memaafkan kau jika sampai ini terjadi lagi. Aku tidak akan memberikan hakmu sebagai suami lagi" rengek Selma.


"Maafkan aku. Apa yang harus aku lakukan agar kau tidak kesakitan lagi?" tanya Andreas pelan.


"Pijat semua badanku. Semuanya terasa sakit!" lagi-lagi Selma merengek dengan suara manjanya. Hal itu mengundang senyum dari Andreas. Andreas pun segera menuruti keinginan Selma dengan memijat semua bagian tubuhnya dari kaki hingga lengan Selma.


Namun tangannya berhenti saat di pangkal paha, membuat Selma menepuk keras lengannya dan menjauhkan tangan Andreas dari kakinya.


"Jangan macam-macam!" peringat Selma. Andreas hanya tertawa kecil menanggapinya.


Mungkin memang benar Selma mengeluh kesakitan di semua bagian tubuhnya. Namun bukan ia tidak tahu jika Selma juga menikmatinya. Terbukti dengan beberapa kali Selma berhasil mencapai pelepasannya.


Andreas pun menggoda Selma sekali lagi dengan mengecup pahanya dari balik lingerie yang Selma gunakan.


"Iyasss ...," ujar Selma yang langsung membubuhkan sebuah cubitan kecil dilengannya.


"I-iya, ampun. Tidak lagi!" ujar Andreas.


Setelah cukup lama memijat, tanpa Andreas ketahui jika Selma sudah terlelap dengan mimpi indahnya. Andreas pun menyusul Selma sambil memeluk tubuh istrinya itu dengan menjadikan lengannya sebagai alas kepala Selma.


Perasaan cinta itu masih sama, masih seperti sepuluh tahun yang lalu. Masih terus membara dan membakar jiwanya. Walau dengan semua kecerewetan Selma dan segala aturan Selma, Andreas tetap tidak bisa berpaling darinya. Membuatnya jatuh cinta berkali-kali hingga tidak bisa lari lagi.


Di saat semua teman-temannya mengeluhkan istrinya yang begini, yang begitu. Andreas tetap bisa menahan semua sikap Selma tanpa mengeluhkannya atau menjadikannya topik pembicaraan saat ia sedang berkumpul dengan semua teman-temannya.

__ADS_1


Karena Andreas tahu, bahwa dia tidak bisa mengubah karakter seseorang. Yang bisa ia lakukan adalah menerima semua kekurangan Selma sebagai bumbu-bumbu rumah tangannya walau sering kali ia kesal dengan semua sikap Selma, namun sekali lagi. Kesadaran yang penuh akan umat manusia yang tidak diciptakan sesempurna mungkin oleh Tuhan kembali menyadarkan Andreas bahwa ini dunia, bukan surga yang terdapat segala bentuk kesempurnaan yang ia inginkan.


__ADS_2