
Andra mengantar Azimah pulang, namun sepanjang perjalanan Azimah hanya menampakkan wajah kesal. Andra mengerti jika Azimah sedang kesal padanya, namun ia tak menyangka jika Azimah kesal kerena cemburu terhadap pengasuh anaknya itu.
"Sudah berapa lama pengasuh Anas bekerja? Saat kemarin aku kerumah Paman, aku belum melihatnya?" tanya Azimah yang akhirnya membuka suara.
"Belum lama ini, baru beberapa hari semenjak Anas demam tinggi. Kenapa?" tanya Andra sambil menahan senyum.
"Tidak, Paman pandai memilih pengasuh. Dia masih muda dan sepertinya masih lajang. Dia juga tak hanya memperhatikan Anas tapi Paman juga!" ujar Azimah panjang lebar..
Andra tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ia menarik tangan Azimah lalu menggenggamnya. Azimah menoleh pada Andra yang terlihat masih fokus mengemudi. Melihat Andra yang tak berniat menanggapinya, Azimah pun menarik tangannya dan genggaman Andra. Membuang muka dan menatap keluar jendela.
Andra hanya menghela nafas kasar melihat kecemburuan Azimah yang di rasa terlalu berlebihan.
Tak lama, mereka pun tiba di kediaman keluarga Lu. Azimah turun tanpa mengucapkan pamit pada Andra. Bergegas berlari masuk kedalam rumahnya. Selma yang memang menunggu Azimah pulang bingung karena anaknya itu masuk tanpa menyapanya. Hal yang membuatnya kembali mengerutkan dahi kehadiran Andra yang beriringan dengan Azimah.
"Kau apakan lagi anakku?" tanya Selma dengan mata menyelidik.
"Tak ada. Dia baru saja selesai makan asam cuka, makanya jadi seperti itu!" gurau Andra sambil tersenyum lebar.
Selma kian bingung dengan senyuman Andra. Tak biasanya Andra bersikap demikian.
"Ada apa dengan senyumanmu itu, And?" tanya Azimah penasaran.
Andra segera mengubah raut wajahnya kembali biasa. Ia memandang Selma sejenak lalu berbalik sambil melambaikan tangannya pada Selma. Selma menggelengkn kepalanya melihat keanehan yang terjadi di teras rumahnya ini. Setelah kepergian Andra, Selma bergegas menyusul Azimah di kamarnya.
Di kamar, Azimah menggerutu mengumpati Andra. Ia kesal mengapa Andra bisa dengan santai menerima perlakuan pengasuh Anastasia. Tiba-tiba pintu terbuka dengan berjalannya Selma kearahnya.
"Ada apa lagi dengan kalian?" tanya Azimah memastikan.
"Sahabat Ibu itu menyebalkan sekali, sangat tidak peka!" geram Azimah.
"Ada apa memangnya? Ceritakan semuanya pada Ibu, siapa tahu Ibu bisa membantumu!" kata Selma sambil menarik Azimah duduk di tepi ranjang.
Azimah menatap ibunya sekilas lalu menatap lurus ke depan, tepat pada cermin hiasnya. Menatap pantulan dirinya dalam cermin lalu menundukkan wajah.
__ADS_1
"Paman Andra mengatakan jika dia akan mengejarku, tapi saat ada wanita lain yang bersikap manis padanya dia menerimanya saja. Itu bahkan terjadi di depanku!" keluh Azimah..
Selma tersenyum dan merangkul kedua pundak anaknya itu, mengusap-usapnya pelan sambil berkata.
"Kau cemburu?" tanya Selma menggoda Azimah.
"Ibu, aku bisa mengekpresikan semuanya karena Paman Andra memberiku tempat. Jika tidak, mungkin aku akan memendamnya saja. Dia sangat tidak konsisten dengan kata-katanya. Ucapan dan perbuatannya sangat bertolak belakang!" oceh Azimah kesal.
"Tunggu ..., kalian berkencan?" tanya Selma memastikan.
Azimah mengangkat wajahnya, lalu kemudian menunduk lagi dan menggeleng pelan.
"Tadi kau mengatakan jika Andra sedang mengejarmu. Bukankah kau juga menginginkannya. Lalu kenapa kalian tidak berkencan?" tanya Selma heran.
Azimah menghela nafas panjang. Ia menatap sang ibu dengan tatapan sayu.
"Paman bilang akan, 'Bu. Entah kapan dia akan melakukannya!" lirih Azimah.
"Azimah. Dengarkan Ibu!" pinta Selma dengan raut wajah serius.
Azimah pun menatap ibunya.
"Azimah, Andra sedang melakukannya. Andra sedang mengejarmu!" ucap Selma penuh penekanan.
Azimah hanya mendengarnya dengan malas, ia ingin berbalik namun tak bisa karena Selma menahan pundaknya.
"Jika dia tak berniat melakukan itu, untuk apa dia mengantar jemputmu? Andra bukan seorang yang akan melakukan itu meski ia sedang tak ada pekerjaan! Coba kau ingat berapa kali dia mengantar jemputmu selama ini" lanjut Selma lagi.
Azimah nampak memikirkan kata-kata ibunya itu. Dulu ia hanya beberapa kali di jemput Andra saat masih di sekolah menengah, itu pun karena permintaan Andreas. Azimah pun tersenyum singkat mengingatnya. Selma yang menangkap senyuman Azimah kembali bicara.
"Lihat Ibu dan jawab pertanyaan ibu!" pinta Selma serius..
Azimah hanya menunggu sambil menyiapkan telinganya baik-baik.
__ADS_1
"Apa kau benar-benar ingin mempunyai hubungan dengan Andra?" tanya Selma pelan.
Raut sumringah Azimah mendadak berubah, ia melemah mendengar pertanyaan sang ibu..
"Apa Ibu percaya kami akan berhasil seandainya Paman Andra benar-benar mencintaiku?" tanya Azimah ragu.
Selma menatap Azimah penuh percaya diri. Ia menatap mata sayu sendu anaknya itu.
"Kalian akan berhasil jika memang kalian ingin bersama-sama. Tapi kau pun harus tahu, hubungan kalian ini tidak akan mudah. Apa kau siap?" tanya Selma lagi.
"Ibu, entahlah..., aku ragu. Paman Andra bahkan belum mengatakan jika dia menyukaiku. Aku tak mau memikirkan sesuatu yang belum terjadi, itu hanya akan membuatku takut memulainya. Aku tahu hubungan kami kelak tak akan mudah, aku sudah memikirkan ini jauh sebelum Paman Andra mengatakan ini semua. Itulah mengapa aku lebih memilih menyerah!" ungkap Azimah lirih.
Selma menggenggam tangan Azimah. Ia ingin memberikan kekuatan pada anaknya yang ingin memulai sebuah hubungan. Umur Azimah sudah menginjak angka 23, namun sekali pun ia belum pernah menjalin asmara. Di hatinya selama ini hanyalah Andra, wajar jika ia takut karena hubungan Andra dan dirinya selama ini cukup dekat meski sebagai kekerabatan.
"Kau jangan menyerah, Andra sudah menyayangimu sejak lama, walau rasa sayang itu hanya sebagai Paman dan keponakan saja. Namun kini dia sudah berani keluar dari jalurnya, maka kau hanya perlu menunggu sedikit lagi untuk dia membuktikan kesungguhannya. Sebesar apa pun halangan yang melintang jika kalian benar-benar ingin bersama maka itu tak akan ada artinya. Malah hal seperti itu akan menjadi bumbu-bumbunya" jelas Selma memberikan semangat..
Azimah masih dalam termenungnya. Bicara tanpa menatap wajah sang ibu.
"Apa kata orang jika aku dan Paman Andra bersama?" kata Azimah tiba-tiba..
"Jangan pikirkan apa yang akan di katakan orang-orang terhadap kalian. Jika mereka sedang melihat kalian berjalan berduaan, paling mereka akan berkata, 'wah sugar baby dan sugar daddy sedang berkencan!" tawa Selma meledak mengingat hal itu jika sampai terjadi. Namun Azimah menatapnya dengan tajam..
"Ibu! Jangan mengejekku. Aku sedang tak ingin bercanda!" ujar Azimah dengan suara melemah.
Selma pun mengkondisikan lagi dirinya.
"Tak usah pedulikan apa yang akan orang katakan tentang kalian. Yang harus kau ingat adalah, jika itu bisa membuatmu bahagia maka kau tak perlu memikirkan ocehan negatif orang padamu. Ingat, bahagia itu kau sendiri yang ciptakan bukan orang-orang di luar sana!" jelas Selma.. Azimah mengangguk pelan.
"Ya sudah, mandi sana, lalu istirahat. Esok akan menyambutmu dengan segudang pelajaran di dalamnya" ujar Selma yang telah berdiri dan mencium puncak kening Azimah lalu berbalik berjalan ke arah pintu.
* * *
...Bersambung ......
__ADS_1