Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
89


__ADS_3

Pagi ini Azimah dan Andra bersiap untuk memilih baju tunangan mereka. Sebenarnya ini tak perlu karena baik Andra ataupun Azimah memiliki baju terbaik dari koleksi mereka. Namun karena ini acara formal yang mengundang banyak orang serta kolega-kolega Andra dan Andreas, jadi mau tak mau mereka harus menyiapkan semuanya secara sempurna.


Andra yang memang sudah kembali ke rumahnya kini tengah menjemput Azimah untuk menemui desainer kepercayaan keluarga Lu. Ia sangat antusias meski ini bukanlah kali pertamanya ia bertunangan. Bahkan jika dibandingkan dengan Adelina, pertunangannya dengan Azimah lebih membuatnya bersemangat.


"Pagi, semuanya ...," sapa Andra pada semua anggota keluarga Lu yang tengah sarapan.


"Pagi, And. Kemari dan sarapan bersama kami!" ajak Andreas.


"Aku sudah sarapan, Iyas. Aku hanya menjemput Azimah untuk melihat baju kami" jawab Andra seadanya.


"Aku juga sudah selesai. Aku akan ambil tas dulu" ujar Azimah menyela.


Azimah naik ke kamarnya. Sementara Andra menunggu sambil berbincang dengan Selma dan Andreas. Tak lama Azimah pun turun dan telah siap untuk pergi bersama Andra.


"Ayah, Ibu ..., aku pergi!" kata Azimah pada Andreas dan Selma sambil memeluk dan mencium pipi Selma.


"Hati-hati kalian berdua" timpal Selma.


Azimah dan Andra hanya menganggukkan kepalanya. Baru saja mereka berdua melangkahkan kaki, Selma memanggil keduanya.


"Azimah, Andra ..." panggil Selma dengan suara yang cukup keras.


"Ada apa, Bu?" tanya Azimah bingung.


"Masalah cincin. Ibu hampir saja melupakan hal yang penting ini" keluh Selma.


"Kalian pilihlah cincin pertunangan kalian. Jangan sampai melupakannya lagi karena waktu kita tidak banyak. Oke!" kata Selma.


"Sudah ada, Bu!" jawab Azimah sambil memperlihatkan cincin dijari manisnya.


"Lalu punya Andra bagaimana?" tanya Selma memastikan.


Keduanya diam. Hanya Azimah yang memiliki cincin sementara Andra tidak memilikinya.

__ADS_1


"Kami akan bahas nanti. Kau tenang saja, cincinnya pasti ada di hari pertunangan kami nanti" sela Andra meyakinkan Selma.


"Baiklah kalau begitu. Kalian atur saja karena hari ini aku akan mencocokkan dekor dan gedungnya. Kartu undangan pun belum di sebar. Lalu apa lagi ya?" tanya Selma pada dirinya sendiri.


"Kau perlu bantuan?" Tiba-tiba sebuah suara wanita datang dari arah pintu masuk. Suara yang sudah mulai goyah namun masih terdengar manis dan hangat.


"Nenek ...," teriak Azimah yang langsung berlari ke arah wanita yang tak lain adalah neneknya, Ibu Andreas. Emma Lu. Dan memeluknya.


"Oh, Sayang ..., kau segera menikah. Cucu Nenek" ujarnya pada Azimah sambil membalas pelukan Azimah.


"Bibi ..., selamat datang. Apa kabar?" tanya Andra canggung.


"Apa yang kau katakan? Kau masih memanggilku Bibi saat sebentar lagi kau akan menjadi menantu pertamaku, heh?" teriaknya sambil memukul lengan Andra.


Andra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia sendiri masih canggung jika harus memanggil Emma Lu dengan panggilan Nenek.


"Cepat katakan bagaimana cara panggilmu padaku sekarang?!" pinta Emma Lu.


"Ne-nenek" ucap Andra kaku dan terbata.


"Ibu, selamat datang kembali. Aku merindukan Ibu" kata Selma yang mendekat dan memeluk Emma Lu.


"Aku juga merindukanmu, merindukan rumah ini, merindukan kalian semua. Katakan padaku, apa Iyas menyulitkanmu selama aku tinggalkan ke luar negeri?" tanya Emma Lu sambil melirik pada Andreas.


"Apa yang Ibu katakan? Bagaimana mungkin aku menyulitkan ratu di rumah ini. Malah sebaliknya, Bu. Dia masih sama seperti pertama masuk ke rumah ini. Keras kepala dan seenaknya!" kata Andreas mengadukan sikap Selma yang tentu saja itu hanya gurauan semata.


"Iyas ...," keluh Selma dengan memukul pundak suaminya itu.


"Oh, sepertinya tidak ada yang merindukan kita, Alex. Mungkin sebaiknya kita kembali ke Amerika saja" celetuk seorang wanita muda yang tengah berdiri sambil menentang dengan tangan di pinggangnya.


"Azirah ..., Alex!" teriak Selma dan Azimah bersamaan. Mereka berdua berlari dan memeluk kedua wanita dan pria muda yang tengah menatap mereka saat ini.


Keempatnya berpelukan hangat melepas rindu yang sudah sekian lama tidak mencair.

__ADS_1


"Selamat, Kak. Selamat, Pam ...," Azirah tidak melanjutkan kata-katanya. Ia bingung harus memanggil Andra dengan sebutan apa. Selama ini Andra sudah seperti ayahnya sendiri dan kini ia menikah dengan kakaknya sendiri. Entah bagaimana ia harus mengatasi perubahan tersebut.


"Lagi-lagi panggilan menjadi penyebab masalah diantara kita semua" keluh Emma.


"Kalian bisa memanggilku senyaman kalian saja. Jangankan kalian, aku sendiri bingung bagaimana harus memanggil kalian semua. Apa aku harus mengikuti tradisi yang menempatkan aku sebagai menantu di keluarga ini?" tanya Andra bingung.


"Kau tetap panggil aku dengan Nenek. Aku lebih suka itu. Setidaknya itu mengingatkan aku kalau aku ini sudah tua. Dan Alex, Azimah dan Axel. Kalian panggil Paman Andra sekarang dengan sebutan Kakak Ipar. Untuk Iyas dan Selma, itu terserah kalian saja. Kalau kalian tidak keberatan kalian bisa memanggil dengan panggilan biasanya. Tapi kalau kalian ingin merasa punya seorang menantu maka kalian harus bersedia dipanggil sebagai Ayah dan Ibu mertuanya Andra" kekeh Emma Lu.


"Itu hal mudah. Semua bisa dibicarakan. Tapi untuk sekarang, mungkin lebih baik kalian pergi untuk melihat baju pertunangan kalian karena waktu terus berjalan sehat dan waktu kita tidak banyak" timpal Andreas.


"Baiklah, Ayah ...," jawab Azimah.


"Nenek, Azirah dan Alex. Aku pergi dulu! Nanti malam kita akan bicara banyak" ujar Azimah pada ketiganya.


"Tenang saja, Kak. Aku tidak akan keluar dari kamarmu sampai besok pagi. Banyak yang harus kau ceritakan padaku tentang pertunangan kalian ini" goda Azirah.


"Dasar anak nakal!" celetuk Azimah.


Andra dan Azimah meninggalkan rumah dan bergegas ke butik yang telah dijanjikan Selma kemarin. Pertunangan mereka membuat kecanggungan diantara dua keluarga namun disini yang lebih canggih adalah Andra karena Azimah masih memiliki keluarga yang lengkap sementara Andra sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Ia hanya memiliki seorang ibunya namun sudah lama ia tidak mendengar kabar dari ibunya itu dan Andra pun tidak berniat mencarinya karena menurutnya itu tidak penting lagi.


"And ...," panggil Azimah.


"Iya, ada apa?" tanya Andra sambil fokus mengemudikan mobil.


"Bagaimana dengan Tuan dan Nyonya Wang? Apa kau sudah mengabari mereka?" tanya Azimah memastikan.


"Ah iya, aku melupakan hal itu. Untung saja kau mengingatkan aku, Azimah" ujar Andra yang hampir saja melupakan keberadaan Ayah dan Ibu Adelina.


"Aku akan menelpon mereka nanti, jika waktunya masih lama mungkin aku akan menemui mereka tapi kau tahu sendiri waktu kita tidak banyak. Mungkin ini terdengar tidak akan sopan lebih baik daripada aku tidak memberitahu mereka sama sekali" jelas Andra.


"Iya. Aku tahu. Tapi semakin cepat kita bertunangan maka semakin baik. Bukankah kau memang menginginkan agar cepat menikah denganku?" tanya Azimah dengan nada menggoda.


"Ya, tentu saja. Aku benar-benar tergila-gila padamu, Azimah. Maka dari itu aku ingin secepatnya menikah denganmu" jawab Andra seadanya.

__ADS_1


"Dasar ...," keluh Azimah sambil tersenyum lebar.


__ADS_2