Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
18


__ADS_3

Azimah turun dari mobil Ronald, pada saat bersamaan mobil Andra masuk ke halaman rumahnya. Azimah tak beranjak, ia menunggu Andra turun dari mobilnya. Namun hal tak di sangka terjadi, Anastasia turun dan berlari kearahnya sambil berteriak memanggil namanya.


Azimah kaget, menoleh sejenak pada Ronald lalu beralih pada Andra yang baru turun dari mobilnya. Ronald dan Andra mendekat padanya.


"Sepertinya gelar Ibu tiri tidak buruk bagimu!" bisik Ronald menggoda Azimah. Azimah tak menjawab. Hanya mendelik sebagai tanggapannya.


"Maaf, Azimah. Anas memaksaku kemari karena ingin bertemu denganmu. Aku mencoba menghubungimu tapi ponselmu tak aktif!" jelas Andra sambil mencoba tersenyum pada Ronald.


Azimah tak menanggapi Andra. Ia menunduk pada Anastasia yang sudah memeluk kedua kakinya dengan sangat erat..


"Baiklah kalau begitu aku pulang dulu!" kata Ronald sambil mengusap puncak kepala Anastasia lalu mendekat lagi pada Azimah dan.


Cup ...


Sebuah kecupan mendarat di kening Azimah. Azimah hendak menolak namun Ronald menahan kedua pundaknya dan berbisik.


"Kita akan lihat apa pamanmu itu menyukaimu atau tidak!" mata Azimah terbelalak mendengarnya namun sebisa mungkin ia sembunyikan semua itu dari Andra..


"Tuan Lee, saya pamit!" ujar Ronald sopan pada Andra dan berlalu meninggalkannya.


Andra tak menanggapinya. Rahangnya mengeras melihat Azimah di cium pria lain. Ingin rasanya ia menarik pria itu dan memberikannya tinju dengan keras, namun melihat Azimah menerimanya begitu saja, ia tak bisa berbuat apa-apa..


"Ayo masuk!" ajak Azimah pada Andra dan anaknya.


Azimah merasa canggung dengan keadaannya saat ini, begitu pun Andra. Anastasia yang kini sudah berada di gendongannya pun ia abaikan untuk menetralisir perasaanya saat ini.


"Azimah, Andra.. Anas! Kalian pulang bersama?" tanya Selma saat melihat kedatangan mereka.


"Tidak, Selma. Aku kemari dengan Anas saja. Azimah di antar kekasihnya!" jawab Andra canggung.


Deg ...


Jantung Azimah berdetak kencang saat Andra menekankan kalimat kekasih yang ia sematkan pada Ronald. Selma memandangnya bingung namun sedetik kemudian ia mengerti siapa yang Andra maksud.


"Ronald tidak mampir, Azimah?" tanya Selma


"Tidak, 'Bu!" jawab Azimah singkat sambil menurunkan Anas.


"Sayang sekali, harusnya kau mengajaknya mampir. Kita bisa makan malam bersama dengannya!" keluh Selma.

__ADS_1


"Kak, Anas lapar!" sela Anas tiba-tiba.


"Anas lapar? Sini, Sayang, makan bersama Bibi." Ajak Selma dan Anastasia pun menurut berlari kearah Selma.


"Bu, aku akan mandi" kata Azimah dan langsung pergi begitu saja.


Dikamarnya, Azimah menghembuskan nafas panjang. Merasa lelah dengan permainan tarik ulur ini. Ia benar-benar ingin terlepas dari Andra. Namun selalu saja ada hal yang mendekatkan mereka kembali. Ia mersa kesal pada keadaan yang tak pernah mendukung keinginannya.


Dengan langkah gontai, Azimah berjalan menuju kamar mandi. Membersihkan diri dengan cepat karena tak ingin membuat Anastasia menunggunya. Lebih cepat Anastasia terbujuk, lebih cepat bagi mereka untuk pulang.


Sejenak Azimah berpikir, bagaiaman jika Anastasia benar-benar menyukainya dan tak bisa lepas darinya. Pikiran ini tidak muncul tiba-tiba, mengingat Anastasia bukanlah orang yang mudah akrab dengan orang. Ini membuat Azimah khawatir.


Azimah kembali ke lantai bawah. Menuju ruang makan dan ternyata Ayah dan adiknya sudah bergabung di meja makan dengan Anastasia dan Andra serta ibunya.


Azimah menarik tempat duduknya yang terletak di dekat Andra. Anastasia kembali merengek pada Azimah..


"Kak, aku mau ayam goreng!" ujar Anas sambil menunjuk pada piring ayam goreng. Azimah pun mengambilnya untuk Anastasia. Sementara, Andreas dan Selma saling memandang namun kemudian mereka beralih lagi..


"Anas sudah sembuh?" tanya Azimah


Anastasia mengangguk sambil mengigit ayam gorengnya..


"Sejak kapan Anas dekat dengan kau, Azimah? Setahu Ibu kalian tak terlalu dekat?" tanya Selma yang tak bisa lagi menahan rasa penasarannya.


"Kak Azimah baik. Anas mau 'Kak Azimah jadi Ibu Anas" ucap Anas polos.


Azimah dan Andra tersedak bersamaan. Mereka saling memandang lalu beralih menatap Anastasia bersamaan. Anastasia dengan polosnya mengunyah ayam goreng dengan santai tanpa memerdulikan tatapan tajam dari Andra dan Azimah..


"Anas ..., apa yang sudah Anas katakan. Jangan ulangi lagi ya, Sayang!" tegur Andra.


"Tapi kemarin Ayah mengatakan 'Kak Azimah bisa menjadi Ibu Anas. Kenapa sekarang Anas tak boleh mengatakan itu? Pokoknya sekarang 'Kak Azimah adalah Ibu Anas!" rengek Anas.


Acara makan malam pun terhenti. Azimah bingung harus bicara apa. Begitu juga dengan Andra. Sementara Andreas dan Selma sedang menatap mereka secara bersamaan..


"Anas, dengarkan Kakak. Kakak tak bisa menjadi Ibu untuk Anas. Kenapa? Karena Kakak adalah keponakan Ayah Anas. Anas bisa meminta Ayah untuk mencarikan Anas Ibu yang lain. Tapi Anas jangan khawatir, 'Kak Azimah pasti akan menemani Anas jika Anas menginginkannya!" bujuk Azimah lembut.


"Tidak mau! Anas mau Ibu Anas adalah 'Kak Azimah Bukan yang lain. Ayah sendiri yang mengatakan pada Anas, 'Kak Azimah bisa menjadi Ibu Anas. Kenapa 'Kak Azimah menolak? Imah nakal ya? Anas janji tidak akan nakal lagi. Mau ya, 'Kak!" rengek Anas lagi.


Wajahnya memeles membuat Azimah tak tega. Namun mengiyakan semuanya pun lebih tidak mungkin. Azimah enggan memberikan harapan yang berlebihan pada Anastasia.

__ADS_1


"Baiklah, kita bujuk 'Kak Azimah nanti ya. Saat ini Anas habiskan dulu makannya. Anas harus menurut agar 'Kak Azimah mau menjadi Ibu Anas!" bujuk Selma yang langsung mendapat tatapan tajam dari Azimah.


"Kita bicara setelah makan nanti!" ujar Andreas pada Azimah dan Andra.


Azimah dan Andra menurut. Mereka meneruskan makan malam sambil terus berpikir apa yang akan di bicarakan Andreas nanti.


Makan malam pun usai. Selma meminta Axel mengajak Anastasia untuk bermain bersama di ruang main. Azimah dan Andra menyusul Andreas yang sudah lebih dulu ke ruangan tengah.


Perlahan Andra dan Azimah duduk, menunggu Selma datang untuk membicarakan semuanya. Meski gugup Azimah tetap berusaha untuk tenang..


Tak lama Selma datang dan duduk di seberang Azimah juga Andra.


Andreas memulai pembicaraannya..


"Aku ingin kalian bicara jujur padaku! Jangan buat dua keluarga hancur hanya karena ulah kalian yang kekanak-kanakan ini!" kata Andreas dengan wibawanya.


Azimah tak bergeming. Ini pertama kalinya bagi dia di hadapkan dengan situasi seperti ini. Sebelumnya, Andreas tak pernah menempatkan dia dalam posisi seperti ini.


"Bicaralah, Andra dan juga kau, Azimah!" pinta Andreas yang ikut duduk dengan mereka.


Azimah diam. Namun Andra mulai untuk bicara.


"Aku tak mengerti kemana arah pembicaraanmu, Iyas! Jika kau berpikir aku dan Azimah memiliki hubungan maka itu tidak seperti kau pikirkan. Kau tahu dengan sangat jelas, aku hanya mencintai Adelina!" jelas Andra..


Jantung Azimah serasa berhenti berdetak. Namun ia mencoba tenang mendengar pengakuan Andra.


"Adelina sudah meninggal, Andra!" sela Selma.


"Adelina tak pernah mati dalam hatiku!" sangkal Andra.


Andreas dan Selma menatap pada Azimah. Mereka mencoba mencari jawaban dari ekspresi Azimah saat ini. Namun Azimah tak memberikan ekspresi apa pun. Hanya mengepal ujung bajunya dengan erat.


"Lalu kenapa Anas bisa berpikir sejauh itu?!" tanya Selma dengan cepat.


"Jangan bawa ke hati kata-kata Anas. Dia hanya anak kecil yang belum mengerti dengan keinginannya" jawab Andra cepat.


"Baiklah jika memang begitu. Terakhir ..., Apakah kau tak pernah tertarik pada Azimah sebagai seorang wanita?" tanya Andreas tiba-tiba.


Semua bungkam, menunggu jawaban dari Andra.

__ADS_1


* * *


...Bersambung ......


__ADS_2