
Dan Andra semakin mendesak menuntut lebih. Melupakan keadaannya yang masih berada dalam pengawasan Selma.
Tangan Andra bergerak liar masuk ke dalam baju Azimah. Mencari gundukan kenyal yang bisa memuaskan tangan nakalnya saat ini.
Azimah masih terpejam, kali ini tubuhnya perlahan merosot berbaring di atas sofa. Seakan mengizinkan Andra untuk melakukan hal yang lebih padanya. Andra pun melepaskan tautannya, bergerak bebas di ceruk leher Azimah. Azimah sudah tidak bisa berpikir lagi. Dia hanya memejamkan mata dan meremas rambut Andra dengan kuat.
Kepalanya pening, suhu tubuhnya memanas seperti sedang terbakar di atas sesuatu yang panas. Hingga akhirnya tangan Andra berhasil meraih puncak gundukan yang ia cari.
Azimah mengeram, menggigit bibir bawahnya. Dadanya membusung naik menikmati sengatan yang Andra berikan.
Mata Andra membara mendapatkan reaksi Azimah akan perbuatannya. Tangan tangan yang tadinya diam kini mulai bergerak membuka kancing dress yang Azimah gunakan. Membuka penghalang terakhir yang menghalangi aksinya.
Sekali lagi, Azimah membiarkan semua itu walau ini kali pertamanya seorang pria melihat bagian tubuh dalamnya. Tapi karena hasrat yang sudah memuncak, Azimah tidak memikirkan apapun lagi. Ia malah mendesahkan nama Andra ketika merasakan sesuatu yang hangat menyentuh puncak dadanya.
"Ah ...," kembali desahan itu keluar dari bibir Azimah yang sensual. Andra semakin terpancing hingga semakin liar memilin benda kenyal berwarna coklat yang belum terbentuk sempurna puncaknya itu. Tangan Andra pun tidak berhenti bergerak. Menyasar bagian bawah Azimah dan menggosoknya pelan.
Saat tangan Andra hendak masuk ke dalam kain berbentuk segitiga itu, Andra mengangkat wajahnya. Menatap Azimah untuk meminta kepastiannya.
Azimah yang merasakan tidak adanya lagi pergerakan Andra ditubuhnya membuka mata. Ia menundukkan wajahnya dan matanya langsung bertemu dengan mata Andra yang membara menahan birahinya.
"Katakan jika kau ingin berhenti sekarang!" kata Andra pada Azimah.
Azimah bingung, ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya mampu menggigit bibir bawahnya.
Akalnya sudah bekerja seperti seharusnya. Memikirkan kembali kata-kata Selma, namun hatinya berkata lain. Hasrat yang tertahan memintanya untuk dituntaskan dengan segera. Hingga akhirnya tanpa sadar Azimah menganggukkan kepala dengan sorot mata bergairah pada Andra.
Andra tidak bertanya lagi. Dengan cepat ia membawa Azimah dalam gendongannya, berjalan membawa Azimah ke dalam kamarnya. Dan setelah sampai di kamar, dengan cepat Andra membaringkan Azimah di atas ranjangnya.
Azimah diam. Tiba-tiba ia gugup mendapatkan keadaan didepannya. Andra kini tengah membuka baju kausnya. Memperlihatkan perut rata berbentuk petak sebanyak enam buah itu.
__ADS_1
Tangan Andra yang kekar kembali mengurung Azimah. Wajahnya kembali mendekat pada wajah Azimah dan dalam hitungan yang tidak sampai satu detik itu, Azimah kembali merasakan bibir kenyal Andra.
Kini ciuman Andra terasa berbeda dari sebelumnya. Jika sebelumnya terasa kasar dan buas, kali ini Andra lebih lembut. Hal ini kembali membuat Azimah lupa diri.
Andra kembali bergerak, turun kembali ke leher Azimah. membelai Azimah dengan sapuan bibirnya. Mencecap kulit leher Azimah. Dan tangan Andra sudah bergerak kembali di atas gunung kembar Azimah. Azimah tidak bisa berbuat apapun lagi. Ia hanya menggelengkan kepalanya, merasakan aliran darah yang kini membuat detak jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya.
Dan pada saat Andra menyentuh kembali puncak gunung kembar Azimah, Azimah mendesah keras. Mencengkeram rambut Andra dengan kuat. Bahkan kini kedua kakinya sudah terbuka lebar. Menuruti naluri hatinya yang menginginkan Andra mendekapnya lebih erat.
Pergumulan terus terjadi. Bibir dan dada Azimah menjadi sasaran Andra yang tiada hentinya. Azimah tidak mampu melakukan hal lainnya selain mendesah dan mengerang dalam kenikmatan. Sampai pada akhirnya Andra menurunkan kain segitiga Azimah hingga terlempar asal di atas ranjang.
Kepala Andra bergerak turun, dari leher kembali ke dada hingga ke perut rata Azimah dan berakhir di depan pangkal paha Azimah. Mencium aroma khas dari benda yang kini terpampang nyata didepannya.
Azimah hanya diam menunggu apa yang akan Andra lakukan selanjutnya. Dadanya naik turun seiring dengan deru nafas yang menggebu.
Kini Andra membuka lebar kedua kaki Azimah. Tangannya ia biarkan di kedua paha Azimah dan lidahnya terjulur menyentuh daging kecil yang tumbuh di sana. Bersamaan dengan itu Azimah kembali mengerang hebat.
Kepalanya berputar kuat, nafasnya yang sedari tadi sudah tidak beraturan kini kian tidak terkontrol. Tak banyak yang bisa ia lakukan selain mencengkram rambut Andra dan mendesahkan namanya.
Andra pun semakin bersemangat memainkan lidahnya di dalam gua Azimah yang masih terasa sempit.
Azimah meracau tidak karuan. Ia tidak tahan dengan sensasi yang tengah ia rasakan. Tubuhnya memanas, mulutnya tidak berhenti mengeluarkan desahan yang mengundang hasrat.
Hingga pada akhirnya ia merasakan sesuatu yang akan meledak dari dirinya. Azimah mencoba menjauhkan kepala Andra dari pangkal pahanya. Namun Andra tidak menurut. Ia malah mempercepat permainan lidahnya.
"Hen-ti-kan, And. A-aku ing-ingin pipis" ucap Azimah terbata-bata.
Senyuman kemenangan terbit dibibir Andra. Sebuah kebanggaan bagi lelaki jika bisa memberikan kepuasan pada wanitanya. Dan ini sedang terjadi pada Andra. Ia kembali menguatkan tangannya di pinggang Azimah. Lidahnya menyesak masuk ke dalam sana. Begerilya bebas hingga sesuatu yang terasa aneh menyentuh lidahnya seiring dengan erangan Azimah yang keras dan tertahan.
Andra menghentikan kegiatannya. Beranjak naik menemui Azimah yang sudah terkulai lemah.
__ADS_1
"Apa kau puas?" tanya Andra pelan.
Azimah tak menjawab. Ia masih menikmati sisa-sisa pelepasan pertama dalam sejarah hidupnya.
"Sayang ...," panggil Andra lembut.
"Em ...," jawab Azimah dengan gumaman.
"Bagaimana rasanya?" tanya Andra menggoda seraya memainkan rambut Azimah yang tergerai berantakan.
"Aku tidak tahu, rasanya aneh tapi aku tidak bisa menjabarkan perasaanku saat ini. Aku bahagia" jawab Azimah dengan binar matanya.
Andra tersenyum mendengarnya. Ia kembali merapikan baju Azimah, memasangkan kembali kain segitiga yang tadi ia lepaskan. Lalu beranjak turun dari atas ranjang.
"Kau mau kemana?" tanya Azimah bingung.
"Aku akan ke kamar mandi" jawab Andra seadanya.
"Tapi kau belum ...," kata-kata Azimah tertahan dengan maksud yang Andra sudah ketahui.
"Aku akan menenangkannya sebentar" jawab Andra yang kemudian meninggalkan Azimah di atas tempat tidur.
Azimah sedikit bingung, walau ia tidak pernah melakukan hal intim bersama pria namun ia tahu bahwa menahan gairah yang ingin meledak itu menyakitkan. Sementara Andra menahan semuanya dan hanya memberikan sepihak pada Azimah.
Azimah bukan anak kecil lagi, ia sudah dewasa dan mengerti semua itu meski tidak sepenuhnya paham. Ia tidak ingin menjadi egois yang hanya ingin merasakannya sendiri buah dari gairah cinta mereka.
Tanpa pikir panjang lagi, Azimah menyusul Andra ke kamar mandi...
* * *
__ADS_1
Bagaimana ..., masih mau lanjut?
Tulis di kolom komentar ya.