Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
97


__ADS_3

Andreas pulang dengan rasa kesal setelah Andra memberitahukan kabar yang mengejutkan. Rencana yang sudah disusun rapi oleh Selma harus berantakan dikarenakan keputusan Andra dan Azimah yang tiba-tiba.


"Bagaimana bisa mereka memutuskan semuanya secara sepihak tanpa membicarakannya pada keluarga? Apa mereka pikir pernikahan ini hanya tentang mereka saja?!" Gerutu Andreas seraya melepas dasinya dengan paksa.


"Iyas …," Emma yang hendak mengambil air putih di dapur bingung melihat kedatangan Andreas dengan wajah kesalnya.


"Ibu belum tidur?" Tanya Andreas yang sedikit kaget dengan keberadaan Emma di kegelapan ruangannya.


"Ibu akan tidur, tapi air minum Ibu habis," jawab Emma seadanya. "Kenapa dengan wajahmu?"


Andreas menarik nafas panjang, berjalan menuju sofa dan menghempaskan punggungnya dengan berat.


"Apalagi, Bu?" Ujar Andreas. "Cucu Ibu dan calon suaminya membuat masalah lagi."


Emma mengerutkan dahi mendengarnya, "Azimah maksudmu?" Tanyanya memastikan.


"Siapa lagi cucu ibu yang akan menikah?" Jawab Andreas sedikit enggan.


Emma semakin bingung, ketika Azimah pulang dan bertemu dengannya, tak ada masalah. Semua terlihat baik-baik saja.


"Memangnya apa masalahnya, hah? Azimah dan Andra kenapa lagi?" Cecar Emma penasaran.


Andreas memejamkan matanya, memijat pelipisnya yang terasa berat.


"Mereka ingin menikah minggu depan!" Jawab Andreas singkat.


"Hah? Apa?" Teriak Emma tak percaya, teko kaca yang ia pegang nyaris saja terjatuh jika ia tidak segera menyadarinya.


"Bukankah minggu depan acara pertunangannya?" Tukas Emma menambahkan.


Andreas memutar matanya malas, itulah yang menjadi pikirannya saat ini.


"Entahlah, Bu." Andreas menampakkan wajah lemahnya. "Aku sudah kehabisan kata-kata dengan tingkah keduanya."


Emma beranjak duduk, menyusul Andreas yang tengah menyandarkan punggungnya di dinding sofa.

__ADS_1


"Kau sudah menanyakan apa masalahnya? Kenapa mereka ingin menikah dalam waktu dekat ini?" Tanya Emma memastikan. Andreas hanya menggeleng pelan.


"Aku akan menanyai Azimah besok, hanya saja …," Andreas menahan kalimatnya, menatap Sang Ibu dengan ragu-ragu.


"Hanya apa?" Tanya Emma dengan ayunan dagu penuh makna.


"Hanya saja, aku takut pada reaksi Selma. Dia pasti akan marah besar pada Azimah ataupun Andra. Persiapan pernikahan yang susah payah ia buat harus berantakan oleh keputusan mendadak dua anak itu," ungkap Andreas dengan nada kesalnya.


Emma pun berpikir demikian. Ia sangat tahu bagaimana semangatnya Selma mengatur pernikahan Azimah dan Andra. Mendapati rencananya yang diubah tiba-tiba, ia yakin Selma akan mengamuk.


"Tapi ini tidak bisa dihindari, Iyas!" Ujar Emma. "Kita harus membahasnya, tidak bisa dibiarkan begitu saja. Ini pernikahan, bukan acara biasa. Semua harus direncanakan dengan matang, tidak bisa asal-asalan saja. Ingat, ada nama baik kedua keluarga yang dibawa dalam pernikahan ini."


Andreas mengangguk membenarkan, "Aku akan meminta Andra datang besok, kita akan mendengarkan penjelasan keduanya. Jika memang tidak bisa dihindari lagi, apa boleh buat. Cepat atau lambat mereka akan menikah."


Emma mengangguk paham, "Sekarang beristirahatlah! Selma pasti sudah menunggumu."


"Ibu juga," Andreas mencium pipi ibunya itu, beranjak dan perlahan pergi menuju kamarnya.


Andreas membuka pintu kamar. Benar saja, Selma masih terjaga di depan meja hias. Perlahan Andreas masuk dan mendekatinya.


"Kau belum tidur, Sayang?" Tanya Andreas pelan. Ia mencium lembut pipi Selma.


Andreas menelan salivanya kasar, menatap istrinya dengan wajah iba. Kerja kerasnya seolah tak berharga dengan keputusan sepihak yang Andra dan Azimah ambil.


"Sayang, ada yang ingin aku katakan." Andreas membawa Selma ke sisi ranjang, Selma menurut tanpa bantahan. Akan tetapi raut wajahnya heran dengan sikap Andreas tersebut.


"Apa, Iyas? Sepertinya serius sekali?" Ujar Selma masih mengulas senyum simpul di pipinya.


"Tentang acara pertunangan itu," Andreas menahan kalimatnya, merasa ragu untuk mengatakan yang sebenarnya. Namun tak lama ia teringat akan kata-kata Emma yang meminta agar semuanya diselesaikan dengan jelas.


"Kenapa dengan acara pertunangan?" Tanya Selma yang mulai cemas. "Jangan bilang bahwa pertunangan ini dibatalkan!"


Andreas menggelengkan kepalanya berulang kali, memegang pundak Selma dan mencoba menenangkannya.


"Tidak, Sayang. Tidak!" Tegas Andreas. "Pertunangannya tidak dibatalkan, hanya saja kita harus memastikan terlebih dahulu dari Azimah ataupun Andra."

__ADS_1


"Memastikan apalagi, Iyas? Bukankah mereka sepakat untuk menikah? Mereka siap menikah, bukan?!" Cecar Selma.


Andreas mengangguk cepat, membenarkan semua ungkapan yang dibalut dengan pertanyaan keraguan tersebut.


"Andra memberitahuku bahwa minggu depan mereka akan langsung menikah, bukan bertunangan!" Jelas Andreas yang seketika membuat wajah Selma berubah.


"Apa maksudnya ini? Bagaimana bisa mereka seenak saja merubah prosesinya tanpa membicarakannya terlebih dahulu pada kita semua? Mereka menganggap keberadaan kita tidak?!"


Selma tersulut, merasa tidak dihargai oleh keputusan yang Andra dan Azimah buat. Ia tahu bahwa keduanya saling mencintai, namun keduanya pun sudah sepakat akan menyerahkan semua persiapannya pada Selma.


"Tenanglah, jangan terbawa emosi!" Kata Andreas mengingatkan. "Besok kita akan mengetahui alasan dari keputusan mereka berdua, tapi kau harus tenang. Aku tidak ingin ada perdebatan lagi. Jika mereka ingin menikah di minggu depan, maka biarkan saja."


Selma menggelengkan kepalanya tak terima, "Tidak bisa, Iyas!" Sergahnya dengan cepat. "Undangan sudah disebar dengan acara pertunangan, ini akan menjadi pertanyaan besar jika tiba-tiba kita mengubahnya langsung ke prosesi pemberkatan. Aku tidak terima!"


Andreas sudah menebak hal tersebut akan terjadi, ia segera menarik Selma, mencoba memberikan pengertian pada Selma tentang keputusan mendadak yang diambil Andra dan Azimah tersebut.


"Anak kita pasti punya alasan mengapa memutuskan hal ini. Kita harus mengetahuinya terlebih dahulu, setelah itu kita serahkan kembali keputusan itu pada mereka." Kata Andreas menyarankan.


"Kalau begitu apa perlunya pendapat kita lagi," ujar Selma geram. "Jika mereka ingin menikah, maka biarkan saja menikah. Tidak perlu lagi kita pertanyakan alasannya."


"Ayolah, Selma. Aku sangat tahu kau ingin pernikahan yang terbaik untuk Azimah, tapi kita juga tidak bisa memaksakan kehendak kita. Azimah dan Andra berhak menentukan keinginan mereka. Lagi pula beberapa waktu ini Azimah dan Andra terus bertengkar, mungkin saja jika sudah menikah keduanya akan berubah," ujar Andreas kembali memberi pengertian pada Selma.


"Jika mereka terus bertengkar, maka sebaiknya mereka introspeksi diri bukan memajukan tanggal yang sudah ditetapkan!" Sungut Selma. "Pernikahan ini bukan hanya tentang keinginan Azimah ataupun Andra, namun juga tentang keluarga besar. Jika mereka begitu mudah memutuskan masalah besar seperti ini, bagaimana nanti ketika mereka ada masalah dalam rumah tangga mereka. Apakah jika bertengkar selalu mencari solusi yang lebih mudah tanpa memikirkan apa pemicu pertengkaran itu?"


Andreas menarik nafas panjang. Rasanya percuma baginya untuk memberikan pengertian pada Selma, Selma sudah memiliki pandangannya sendiri.


"Kita lihat besok, oke? Jika kau tidak terima maka kau bisa jelaskan pada keduanya. Aku meminta Andra kemari untuk meluruskan semuanya agar diantara kita tidak ada kesalahpahaman, aku pun sama seperti dirimu, tak menerima keputusan keduanya. Tapi aku juga tidak bisa memaksakan diri, aku harus mendengarkan alasan mereka!" Tegas Andreas.


Selma pun merasa sudah tidak memiliki apapun untuk dikatakan pada Andreas. Akhir-akhir ini keduanya sering bertengkar hanya karena masalah pernikahan Andra dan Azimah.


"Sudahlah, aku lelah!" Kata Andreas kemudian. "Aku akan membersihkan diri, siapkan piyamaku!"


Selma mengangguk pelan, mencoba menguasai emosi yang mulai membara dalam dirinya.


"Kau sudah makan?" Tanya Selma dengan nada datar.

__ADS_1


"Jika hidangannya adalah dirimu, maka aku akan makan setelah mandi," ujar Andreas dengan lirikan mata yang menggoda.


"Aku sedang palang merah," sinis Selma.


__ADS_2