
Azimah mendekati Andra yang masih berdiri menahan rasa kesalnya. Namun itu sudah lebih baik dari sebelumnya, rasa kesal Andra kini sedikit berkurang dengan adanya kejujuran dari Azimah.
Azimah memeluk Andra dari belakang, ia memeluk Andra dengan sangat erat sebagai pengungkapan rasa bersalahnya yang telah menuduh Andra.
"Maafkan aku!" ucap Azimah tulus.
Andra tahu Azimah hanya di luputi rasa cemburu, namun semuanya tidak akan terjadi jika saja Azimah lebih mempertebal rasa percayanya.
"Aku tidak tahu bagaimana cara agar kau yakin bahwa aku memang mencintaimu, Azimah! Rasanya seperti semua yang aku lakukan itu sia-sia jika kau sendiri tidak bisa merasakan bahwa aku hanya menginginkanmu" lirih Andra.
"Iya, aku tahu. Aku salah dan aku berjanji tidak akan mengulangi hal ini lagi. Jangan marah lagi, ya" bujuk Azimah.
Andra hanya diam. Ia bukan tidak ingin memaafkan Azimah. Tapi perasaannya masih kesal karena Azimah terlalu mudah terpengaruh dengan apa yang ia lihat tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi walau Andra akui ia sendiri ikut andil dalam kecurigaan Azimah.
Andai saja Andra tidak bermain teka-teki dengan kalung yang ia beli, mungkin Azimah tidak akan salah paham dan pertengkaran itu tidak akan terjadi. Tapi, Andra yang sedang diliputi rasa bahagia hanya ingin memberikan moment terbaik untuk Azimah sebagai pasangannya dan itu harus Andra telan bulat-bulat karena rencananya yang ia susun sudah hancur berantakan sebelum sempat terlaksana.
"And ..., kau tidak ingin memaafkanku?" tanya Azimah manja.
"Aku tidak bisa berpikir sekarang! Aku masih kesal!" jawab Andra dengan luapan kekesalannya.
Azimah mengurai pelukannya. Ia beralih berdiri di depan Andra. Dengan wajah tanpa dosa ia mencoba menggoda Andra dengan puppy eyes-nya.
Andra memalingkan wajahnya. Saat ini kekesalan dan kemarahannya sudah jadi satu, walau memang kadarnya sudah berkurang namun itu tetap mempengaruhi suasana hatinya.
"Andra ..., Sayang ...," rengek Azimah manja.
Andra masih diam tidak bereaksi hingga akhirnya Azimah menggunakan cara terakhir yang ia yakini akan berhasil.
Azimah menarik wajah Andra dan menciumnya lembut. Membiarkan dirinya bermain sendiri dengan benda kenyal itu. Membuat si empunya tidak bisa menolak dan membalas tautan hangat nan lembut itu. Tak lama Azimah melepaskannya saat ia rasa Andra sudah terbuai dalam buaiannya.
__ADS_1
Azimah tetap mengalungkan tangannya di leher Andra, sementara Andra sudah memegang kedua sisi pinggang Azimah dan mereka saling beradu pandang.
"Maaf ...," ucap Azimah lembut.
Andra mencubit hidung mungil Azimah. Ia tersenyum karena sikap Azimah yang manja namun sedikit nakal tapi Andra menyukainya.
"Aku maafkan, tapi jangan ulangi lagi karena sampai kapanpun aku tidak akan mengkhianatimu, Azimah" jawab Andra.
"Terimakasih, Sayangku ...," ujar Azimah kembali menarik Andra dan mengecup bibirnya singkat. Ia memeluk Andra dan kini suasana hatinya lebih baik setelah semuanya tercerahkan.
"Azimah ...," panggil Andra.
"Apa?" jawab Azimah manja dan terus mengeratkan pelukannya pada Andra.
"Aku rasa sebaiknya kita langsung menikah, bertunangan akan membuang waktu dan semakin membuat kita berada dalam pertengkaran. Aku tidak suka itu" ujar Andra.
"Tapi kita sudah sepakat, And. Aku menginginkan pertunangan. Walau tidak mewah aku sudah katakan aku ingin melalui semua prosesnya secara bertahap. Pernikahan satu kali seumur hidup, aku tidak bisa mengulangnya lagi nanti!" rengek Azimah yang menolak permintaan Andra.
Azimah nampak menimbang, namun ia juga tidak ingin terlalu egois. Ia juga harus menghormati keinginan Andra. Mungkin lebih cepat menikah akan membuat keduanya terhindar dari pergesekan-pergesekan yang bisa melukai keduanya.
"Baiklah. Aku setuju!" jawab Azimah menyetujui.
Andra dan Azimah pun tersenyum lebar. Mereka saling memandang dan kemudian saling menautkan diri. Saat di rasa Andra mulai bergairah, Azimah segera menghentikannya. Ia mendorong Andra agar tidak terjadi hal yang lebih lagi.
"Ada apa?" tanya Andra bingung.
"Sudah malam. Antar aku pulang, And!" kata Azimah yang membuat Andra kembali kesal.
"Tidak bisakah kita selesaikan dulu setelah itu kau pulang?" tanya Andra membujuk.
__ADS_1
"Kau ini. Di rumah ada Nenek dan adik-adikku, mereka sudah menungguku. Ayolah, kita bisa lakukan itu di lain waktu" jawab Azimah santai.
"Tapi, a-aku sudah itu, Azimah. Kau rasakan!" Andra menarik tangan Azimah agar memegang gundukan yang mengeras di balik celananya, namun Azimah segera menepisnya meski ia tahu bahwa itu akan menyiksa Andra.
"Nanti, rasa sakit yang waktu itu saja belum sembuh, And. Kita akan lakukannya lagi setelah kita menikah!" kata Azimah yang terus menolak.
"Kau kejam, Azimah. Jika kau tidak ingin lalu kenapa kau menggodaku?" tanya Andra kesal.
"Maafkan aku, Sayang. Untuk membujukmu hanya itu cara satu-satunya!" jawab Azimah enteng.
Andra tidak menjawab lagi, kian berdebat maka ia kian kesal dan akhirnya mereka kembali bertengkar. Andra sudah tidak ingin berada dalam pertengkaran lagi. Ia sudah sangat muak dengan hal itu dan pada akhirnya Andra hanya bisa membiarkan juniornya terkulai tanpa belaian.
* * *
Andra mengantar Azimah pulang, Azimah terus merayunya agar tidak marah. Namun Andra hanya bisa diam sambil melihat kekonyolan-kekonyolan yang Azimah lakukan.
Tak lama mereka tiba di rumah keluarga Lu. Azimah turun dan menunggu Andra untuk mengantarnya, namun ternyata Andra tidak turun. Ia hanya mengamati Azimah dari dalam mobilnya hingga akhirnya Azimah kembali membuka pintu mobilnya.
"Kenapa tidak turun?" tanya Azimah.
"Aku akan menyusul Iyas untuk menyelesaikan masalah yang tadi. Kau masuklah, salam pada Nenek, Azirah dan juga Alex. Dan jangan katakan hal ini pada mereka, aku takut mereka semua khawatir" ujar Andra.
"Baiklah kalau begitu. Kau hati-hati dan jangan bertengkar lagi, jika semuanya bisa diselesaikan dengan negosiasi, maka itu lebih baik daripada kau dan ayah yang harus bertengkar!" saran Azimah.
"Menghadapi orang-orang seperti itu tidak bisa dengan menitipkan kepercayaan. Mereka akan mengkhianati setelah mereka dapatkan apa yang mereka inginkan. Jalan satu-satunya adalah membuat mereka mengerti meski dengan cara kekerasan. Ini tidak salah karena mereka sendiri melakukan hal itu, kita hanya membela diri" jelas Andra membenarkan.
"Apapun itu, aku hanya ingin kau dan ayah selamat. dan baik-baik saja. Kau harus mendahulukan keselamatanmu dari pada apapun" ujar Azimah.
"Iya, aku tahu. Selain kau aku masih memikirkan Anas. Jangan khawatir. Lebih baik kau masuk dan beristirahat. Besok aku akan kemari bersama Anas" kata Andra.
__ADS_1
Azimah mengangguk dan melambaikan tangan pada Andra, kemudian ia berbalik dan masuk ke rumahnya. Setelah di rasa Azimah sudah aman barulah Andra meninggalkan halaman rumah keluarga Lu.