Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
72


__ADS_3

Andra membawa Azimah kerumahnya, karena sekeras apapun ia berpikir tidak ada tempat yang aman baginya dan Azimah. Akhirnya ia membawa Azimah kerumahnya.


Andra dan Azimah di sambut oleh pelayan kepercayaan Andra. Andra menyapa dan mengabaikan mereka semua. Andra terus menarik tangan Azimah hingga mereka berhenti dikamarnya.


Selama ini Azimah tidak pernah memasuki kamar Andra. Ini kali pertamanya ia memasuki kamar tersebut. Terlihat dekorasi hitam dan gold lebih mendominasi ruangan tersebut. Dan itu adalah warna kesukaan Adelina.


Azimah melangkahkan kaki semakin dalam, mengikuti Andra yang sudah lebih dulu masuk dan duduk di sofa kamarnya.


Azimah mengitari seisi ruangan kamar Andra. Betapa indahnya ruangan itu. Ruangan yang masih kental akan Adelina di dalamnya. Ruangan yang menjadi saksi bisu tentang malam-malam indah yang Andra dan Adelina habiskan selama pernikahan mereka. Mengingat hal tersebut dada Azimah merasa sesak.


Azimah mengalihkan pandangannya pada Andra yang memang tidak jauh berada dari ranjangnya. Dan kembali matanya menerima pemandangan yang membuat dadanya kian sesak. Photo pernikahan Andra dan Adelina masih terpasang di sana dengan senyuman bahagia dari keduanya.


Jujur saja, Azimah ingin menerima kenyataan bahwa hubungannya dan Andra tidak akan lepas dari sosok Adelina. Tapi tetap saja, saat melihat kenyataan di depannya membuat Azimah merasakan nyeri di ulu hatinya. Andra sangat mencintai Adelina, begitu pula sebaliknya. Mereka bahkan di karuniai seorang putri cantik dari buah cinta mereka. Dan apakah dirinya bisa menggantikan itu dengan mudah? Jika bukan karena Adelina yang lebih dulu meninggal, mungkin dirinya tidak akan bisa berada di sini, di kamar Andra dan berkencan dengannya.


Azimah mengabaikan semua pandangannya dan melangkahkan kaki dengan pasti menuju Andra. Duduk di sisi Andra meski sebenarnya ia tidak suka. Wangi ruangan itu sangat sama seperti wangi tubuh Adelina.


'Kenapa aku harus bersaing dengan orang yang sudah mati. Jika Bibi Adelina masih hidup, mungkin aku bisa marah dan melampiaskan semuanya pada Andra, tapi sekarang? Aku merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan Bibi Adelina" batin Azimah menggerutu.


"Azimah ...," panggil Andra yang kemudian membuyarkan lamunan Azimah.


Azimah menoleh dan menatap lekat pada Andra tanpa mengeluarkan satu kata pun.

__ADS_1


"Kau marah karena Adelina?" tanya Andra membuka suara.


"Sudah kukatakan, aku tidak berhak marah untuk itu. Aku tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Bibi Adelina dalam hidupmu, And" jawab Azimah seadanya.


Andra menarik tangan Azimah dan menggenggamnya erat.


"Kau benar, Adelina mempunyai tempat khusus dalam hatiku. Maafkan aku untuk itu" ujar Andra tulus.


Hati Azimah terasa di remas kuat oleh keadaan. Mendengar Andra mengatakan kata yang tidak ia harapkan dengan begitu lugas. Azimah menahan air matanya yang hendak tumpah untuk menggambarkan isi hatinya saat ini.


"Tapi, entah kamu percaya atau tidak. Aku benar-benar mencintaimu, Azimah. Sungguh!" lanjut Andra yang membuat Azimah sedikit tidak mengerti dengan kata-katanya.


"Bagaimana kau bisa mencintaiku kalau kau sendiri masih menyimpan wanita lain dalam hatimu. Cinta tidak bisa bercabang, And" kata Azimah lirih.


Azimah menelan salivanya kasar. Berusaha menenangkan hatinya yang memang tidak akan tenang selama Andra masih mengatakan wanita lain dihadapannya, sekalipun itu Adelina sendiri.


"Lalu apa maumu?" tanya Azimah memastikan dengan manik mata yang tajam menatap Andra.


"Aku tidak ingin kehilanganmu, Azimah. Jangan pernah meninggalkanku!" jawab Andra dengan permintaannya.


Azimah tersenyum singkat. Ia sendiri tidak tahu mengapa ia harus tersenyum di saat seperti ini. Tentu bukan karena kata-kata Andra, atau mungkin ia tengah menertawakan dirinya sendiri. Azimah pun tidak mengerti dengan dirinya saat ini.

__ADS_1


"Azimah, lihat aku!" Andra menarik Azimah menoleh kearahnya. Menangkup wajah Azimah dengan kedua tangannya dan mata mereka beradu.


"Tidak bisakah dengan cintaku saja kau merasa cukup untuk berada di sampingku?" tanya Andra berharap.


Azimah menarik tangan Andra untuk melepaskan pipinya. Ia kembali tersenyum, namun senyuman sinis dengan iringan air suci dari matanya yang terjatuh.


"Bagaimana bisa kau memintaku saat kau sendiri belum berdamai dengan masa lalumu?" ujar Azimah lirih. Andra tak kuasa melihat Azimah menatapnya dengan air mata yang berderai mengiringi semua kata-katanya yang keluar dari mulut manis Azimah.


"Aku tidak masalah jika kau tidak bisa melupakan Bibi Adelina, aku tahu akan hal itu karena bagaimanapun banyak waktu yang telah kalian habiskan berdua. Kenangan kalian tidak mungkin bisa aku gantikan dengan begitu mudah, sekalipun kau telah mencintaiku. Tapi bisakah aku meminta padamu untuk tidak menunjukkannya padaku. Itu sangat menyakitiku" tukas Azimah.


Andra hanya diam mendengarkan isi hati kekasihnya itu.


"Aku tahu kau sangat mencintai Bibi Adelina, Bibi Adelina ibu dari Anas. Dan kalian dulu adalah keluarga yang sangat bahagia. Aku sangat tahu itu, And. Tapi kau, kau masih menyimpan semua yang berbau tentang Bibi Adelina saat kau berkomitmen untuk menjalani hubungan denganku. Apakah itu pantas?" tanya Azimah tajam dengan suara yang bergetar.


"Andra, pahamilah posisiku. Saat ini aku sedang bersaing dengan seseorang yang tidak memiliki wujud kemudian nyata bagimu. Itu lebih menyakitkan dibandingkan kau membawa seorang wanita ke hadapanku dan kau menciumnya di depanku."


Nada bicara Azimah mulai meninggi, ia meluapkan semua emosi dan juga kekesalan hatinya pada Andra.


"Aku tidak pernah meragukan rasa cintamu padaku karena aku tahu kau tidak akan bermain-main dengan kata-kata itu. Tapi kau cukup egois untuk memiliki kamu berdua di dunia yang sama sedangkan kami berada di dunia yang berbeda" lirih Azimah.


"Sedikitpun aku tidak pernah berharap akan menggantikan Bibi Adelina. Aku paham betul bahwa tidak hanya kau, ibuku atau ayahku juga merasakan hal yang sama. Yaitu merindukan Bibi Adelina. Namun aku mengharapkan bahwa kau bisa mencintaiku secara nyata di dunia kita yang sama dengan perasaan kita yang sama dan dengan keinginan kita yang sama. Dan menyimpan Bibi Adelina rapat-rapat di dalam hatimu karena tanpa kau beri tahu tentang perasaanku padanya aku sudah lebih dulu mengetahuinya" ujar Azimah.

__ADS_1


Seketika Andra memeluk Azimah. Ternyata ia telah salah menilai Azimah. Ia kira Azimah tidak bisa menerima keberadaan Adelina di dalam hatinya dan merasakan cemburu pada Adelina, namun ternyata Azimah hanya mengharapkan bahwa ia bisa membedakan dimana cintanya untuk masa depan dan dimana letak cintanya di masa lalu.


__ADS_2