Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
50


__ADS_3

Setelah Andreas pergi ke kantor, Azimah menemani Anastasia bermain bersama Selma. Beruntung ada Anastasia sehingga Azimah tak terlalu merasa bosan seharian di rumah tanpa melakukan apa pun. Entah sampai kapan ia hanya berdiam diri di rumah seperti ini. Ia pun tak tahu, yang ia tahu jika sekarang inilah jalan yang terbaik. Ia tak ingin bertindak bodoh seperti dulu yang akhirnya menyebabkan banyak orang terluka.


"Azimah ...," panggil Selma tiba-tiba.


Azimah menoleh, "Iya,, 'Bu?"


"Apa kalian benar-benar berkencan?" tanya Selma memastikan. Azimah pun menganggukan kepalanya.


"Bukankah kau mengatakan akan melupakan Andra? Lalu mengapa berbalik lagi?" lanjut Selma.


Azimah menghela nafasnya. Membiarkan Anastasia bermain sendirian kemudian mendekat pada Selma, duduk disampingnya sambil menyandarkan kepala di bahu sang Ibu


"Entahlah, aku kadang begitu yakin lalu kemudian aku ragu lagi. Sejenak aku merasa bisa hidup tanpa Andra namun ketika malam tiba aku mulai mengingatnya lagi." ucap Azimah pelan.


Selma hanya diam mendengarnya.


"Namun setelah malam itu, malam di mana aku mendapati Andra dengan tubuh penuh luka dan darah di mana-mana, aku menyadari satu hal. Aku memang tak bisa mengabaikan Andra. Terlebih saat aku tahu jika Andra terluka karenaku, aku semakin menyadari apa yang selama ini aku rasakan hanyalah untuk perasaanku saja. Aku bahkan belum pernah berjuang untuk Andra. Tapi Andra, Andra sudah berani memberikan dirinya untukku. Aku pikir mengapa aku tidak mencobanya. Mungkin ini awal yang bahagia untukku!" ungkap Azimah dengan senyuman mengembangnya.


"Syukurlah jika kau bahagia. Ibu mendukung apa pun yang membuat kau bahagia walau pun sebenarnya Ibu takut karena kalian terpaut usia yang terlalu jauh."


"Aku tahu, maka dari itu restu Ibu dan Ayah sangatlah penting bagiku."


"Kau yakin akan menikah dengan Andra?" Selma memastikan.


"Aku yakin, namun tidak sekarang. Masih banyak hal yang belum aku ketahui tentang Andra. Saat ini aku hanya ingin menjalani hubungan sambil mengenal lebih jauh lagi." jelas Azimah.


"Baiklah jika bagitu. Terserah kau saja. Apa yang membuat kau senang, maka lakukanlah!" ujar Selma.


"Terimakasih, Bu." Azimah memeluk Selma, membiarkan kehangatan Selma menghangatkannya. Tiba-tiba Anastasia mendekat pada Selma dan Azimah lalu memeluk keduanya sambil tertawa. Azimah dan Selma pun hanya bisa tertawa melihat tingkah Anastasia.


* * *


Siang ini, Azimah menerima telepon dari Ronald. Ia mengatakan tentang hubungannya dan Andra. Azimah rasa, ia perlu menjelaskan tentang perasaannya selama ini. Ia tak ingin membuat harapan di hati Ronald. Bagaimana pun ia sudah memiliki hubungan pertemanan yang baik. Setelah apa yang terjadi di apartemennya terakhir kali, Azimah sadar jika ia sudah menyakiti Ronald dengan membawa Ronald dalam hubungannya dan Andra..

__ADS_1


"Aku senang kau baik-baik saja. Maaf karena harus mengatakan ini setelah apa yang terjadi terakhir kali" ujar Azimah.


"Sudahlah, aku memang tahu jika kau tak akan bisa berpaling dari pamanmu itu. Aku saja yang terlalu berharap lebih." jawab Ronald dari seberang telepon.


Azimah diam sejenak, senyuman mengulas diwajahnya.


"Tapi kita masih bisa berteman, bukan?" tanya Ronald tiba-tiba.


"Tentu saja! Kau teman lelakiku yang paling baik yang pernahaku temui." jawab Azimah sambil terkekeh. Pada saat bersamaan, Andra mendekat dan mendengar semua itu. Ia mengerutkan dahi mendengar kalimat terakhir Azimah..


"Lelaki yang paling baik?" batin Andra yang mulai penasaran siapa yang Azimah maksud..


"Baiklah aku tutup, kau baik-baik di sana. Bye" kata Azimah mengakhiri setelah menyadari keberadaan Andra..


"Dengan siapa kau bicara?" tanya Andra cepat.


Azimah tersenyum. "Dengan Ronald. Dia sekarang melanjutkan studinya di L.A." jawab Azimah seadanya.


"Oh." perasaan cemburu mulai menjalar di dada Andra ketika mengingat jika Ronald adalah lelaki terbaik Azimah.


"Ternyata kalian cukup dekat. Aku tak sadar itu" kata Andra dengan suara lemah.


"Hei, apa yang kau pikirkan? Jangan cemburu seperti ini, kami hanya berteman tidak lebih" ungkap Azimah sambil tersenyum lebar di depan Andra.


"Mana ada pertemanan yang tulus antara pria dan wanita. Kau sendiri tahu jika Ronald menyukaimu. Bahkan dia terang-terangan mengajakku bersaing waktu itu!" cetus Andra..


"Wah, kau benar-benar cemburu." goda Azimah. Andra hanya diam menahan kesalnya.


Azimah menggandeng lengan Andra membawanya berjalan ke paviliun sambil berkata.


"Tak peduli berapa banyak yang datang menghampiriku, yang harus kau ketahui adalah bahwa aku hanya menerima satu orang. Yaitu kau" ucap Azimah.


Andra tersenyum lebar mendengarnya, ia menggenggam tangan Azimah. "Aku tahu kau hanya menatapku. Aku hanya cemburu karena aku takut mereka memberikan perhatian yang lebih padamu dari pada aku. Kau tahu, aku tak sepeka mereka!" jelas Andra.

__ADS_1


"Percaya saja padaku!" kata Azimah tiba-tiba. Ia berdiri di depan Andra dengan keyakinan penuh..


"Aku tak pernah bisa mengontrol perasaan orang terhadapku atau apa yang akan orang lakukan padaku. Tapi aku bisa mengontrol diriku, hatiku. Selama kau percaya maka semuanya akan lebih ringan untuk dilalui." sambung Azimah. Andra pun tersenyum dengan anggukan kepala.


"Aku pun pernah begitu cemburu saat kedekatanmu dan Charlotte, kalian begitu dekat. Ini sempat membuatku ingin mundur tapi ternyata kau malah mengejarku" kata Azimah..


"Bukankah kau senang karena aku mengejarmu?" Andra menggoda Azimah.


"Ya aku senang karena ternyata aku berhasil menaklukkan pria dingin sepertimu!" tukas Azimah dan keduanya tertawa lebar.


Mereka memasuki paviliun. Duduk di sofa sambil bicara santai. Azimah menyandar di bahu Andra sementara Andra membuka layar gadget-nya.


"And, bagiamana perkembangannya?" tanya Azimah..


"Iyas bergerak lebih cepat dari yang kuduga. Kita sudah mengantongi bukti yang kuat. Hanya perlu menyerahkannya namun untuk sekarang masih kita tahan karena mengamati jaksa yang akan mengurusnya" ungkap Andra..


"Kalian mengamati jaksa? kenapa?" tanya Azimah heran.


"Kami harus memastikan jika jaksanya tak terlibat. Bagaimana pun masalah ini menyangkut jutaan dollar. Mereka yang terlibat pasti sudah menyiapkan rencana jika ini sampai ke meja hukum" ungkap Andra serius


"Ah, semacam pembelaan untuk menyelamatkan diri?! Ternyata sangat menyeramkan. Jika begini mereka yang terlibat itu akan saling mengkhianati satu sama lain untuk menyelamatkan diri mereka masing-masing." Azimah merinding membayangkan hal semacam itu.


"Ya begitulah jika kita berhadapan dengan orang-orang rakus. Mereka menikmati uangnya bersama namun mereka tak ingin terjerat bersama. Lucu bukan?" ujar Andra sinis..


"Pada akhirnya orang-orang itu akan terjerat bersamaan. Satu yang tertangkap maka dia akan membawa yang lainnya terjerat atau ...," Azimah menghentikan kalimatnya. Membayangkan hal yang lebih mengerikan dalam otaknya.


"Atau hanya satu yang menjadi tumbal atas apa yang dilakukan rekan-rekannya! Kejam memang tapi inilah konsekuensi atas perbuatan kotor yang mereka lakukan."


"Ah ..,. Untunglah Ayah dan kau tak pernah melakukan bisnis kotor. Aku senang karena Ayah tak pernah serakah. Dia selalu mengutamakan kami. Aku harap aku bisa mendapatkan suami seperti ayah!" ungkap Azimah..


Andra diam namun diam-diam ia tersenyum. Kata suami yang disebutkan Azimah membuatnya kembali berpikir dengan hal indah tentang sebuah rumah tangga.


"Bisakah aku mengklaim seorang suami itu adalah aku?" batin Andra berharap.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2