
Azimah tersenyum kaku menanggapinya. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Katakan! Jika kau tidak marah pada Ibu lalu kenapa kau tidak mau keluar kamar?" tanya Selma tajam.
"Itu karena Ibu yang melarangku bertemu Andra. Aku menghindari sarapan karena aku kira Andra akan ikut sarapan dengan kita seperti biasanya" jelas Azimah.
Selma bungkam. Ia tidak tahu jika Azimah akan sampai seperti itu untuk menuruti keinginannya. Tapi yang tidak Selma ketahui, itu hanyalah alasan Azimah saja karena sebenarnya suasana hati Azimah yang mendadak tidak karuan.
"Ya sudahlah" kata Selma. "Kedepannya kau tidak perlu menghindari waktu sarapan lagi. Kau harus sarapan agar penyakit lambungmu itu tidak kambuh" ujar Selma. Azimah hanya mengacungkan dua jari jempol menanggapinya.
"Apa sekarang aku boleh menemui Andra, 'Bu?" tanya Azimah dengan kedipan mata berkali-kali.
Selma membulatkan mata mendengarnya. Sedetik kemudian tangan Azimah sudah berada di lengan Selma. Kembali wajah Azimah ia buat semengasihankan mungkin untuk membuat Selma menuruti keinginannya.
"Hentikan, Azimah. Seperti apapun usahamu kau tetap tidak boleh menemui Andra. Ini demi kebaikanmu" kata Selma mengabaikan wajah kasihan Azimah yang dibuat-buat itu.
"Sebentaaaaaarrrr saja." Bujuk Azimah lagi.
Selma diam. Ia bimbang. Namun orang seperti Azimah yang sedang dimabuk cinta itu tidak akan mempan meski harus di larang dengan usaha apapun. Sudah terbukti meski di larang, diam-diam keduanya tetap berkomunikasi dengan cara mereka.
"Temuilah ...," kata Selma. "Tapi jangan lakukan hal yang seperti kemarin! Bagaimana jika kau hamil di luar nikah. akan di bawa kemana wajah ayahmu di depan masyarakat." Nasihat Selma pada Azimah.
"Tinggal suruh Andra menikahi aku, 'Bu!" jawab Azimah santai. Namun hal berbalik datang dari ekspresi Selma. Ia membulatkan mata seperti hendak keluar dari tempatnya. Melihat hal itu, Azimah segera berlari meninggalkan Selma menuju jalan paviliun.
Selma mengatur nafasnya berkali-kali. Ia tahu bahwa Andra akan menikahi Azimah tanpa mereka minta. Andra bukanlah pria yang tidak bertanggung jawab yang akan meninggalkan benihnya dimana-mana. Tapi tetap saja Selma mengkhawatirkan keselamatan Azimah. Sebelum semuanya selesai Selma ingin Azimah tidak melakukan apapun dengan Andra, ia takut kondisi Azimah kembali dijadikan sasaran musuh-musuh Andra dan Andreas.
* * *
Azimah memasuki paviliun diam-diam. Ia ingin mengagetkan Andra dengan kadatangannya.
Andra saat itu sedang berdiri sambil berbicara dengan seseorang di dalam telepon. Azimah berjinjit hendak memeluk Andra dari belakang. Tapi sayang hal itu tidak terwujud dikarenakan Anastasia yang mengetahui kedatangan Azimah.
"Kak Azimah sedang apa?" Sontak Andra menoleh mendengarnya. Azimah hanya tersenyum canggung mendapati kegagalannya.
__ADS_1
"Ah, tidak. Itu tadi Kakak lihat nyamuk di punggung Ayah" jawab Azimah sekenanya.
Anas nampak manggut-manggut mengerti, Sementara Andra menahan senyum karena ulah Azimah.
Andra mematikan panggilan teleponnya dan mengajak Azimah serta Anas duduk di sofa untuk berbincang.
"Apa Anas sudah mengerjakan PR-nya?" tanya Andra pada putri kecilnya itu. Anas dengan santai menganggukkan kepalanya. Azimah hanya menyimak, hingga akhirnya Gazza meraih tangannya untuk digenggam.
Azimah terkesiap, namun ia menerima saja perlakuan Andra padanya. Semula Azimah tidak ingin menunjukkan hubungan dan Andra di depan Anas. Takut jika anak itu tidak menerimanya. Namun setelah dipikir-pikir, Anas pernah memintanya menjadi ibu pengganti. Mengingat hal itu Azimah tersenyum dan membalas genggaman tangan Andra.
"Kak Azimah. Aku ingin main dengan Ibu Selma. Bisa temani aku?" tanya Anas polos.
Mulut Azimah sudah menganga ingin menjawab permintaan Anas, namun secepat kilat Andra menyela dan menghentikannya.
"Anas mainnya berdua saja, ya sama Ibu Selma. Kak Azimah sedang ada urusan dengan Ayah terkait pekerjaan" sela Andra berbohong.
"Tidak lama, bukan?" tanya Anas lagi.
"Baiklah, Ayah. Anas akan menemui Ibu Sekma." Anas pun turun dari atas sofa. Berlari kecil menuju rumah utama untuk menemui Selma.
Sementara Azimah sudah melayangkan tatapan tajam pada Andra dan itu membuat Andra tidak mengerti.
"Kau sengaja ingin menjauhkan aku dari Anas, And?" tanya Azimah dengan nada berpura-pura marah.
"Tidak ada. Aku hanya ingin menikmati waktu berdua denganmu, Azimah. Apa itu salah?" jawab Andra santai.
"Dengan mengorbankan kesempatanku untuk menjadi Ibu Anas?" tanya Azimah masih dengan raut wajah kesal yang dibuat-buat.
Andra tersenyum mendengarnya. Jari telunjuknya tergoda untuk bermain dengan dagu lancip Azimah.
"Yang sudah ingin menjadi ibu" kata Andra dengan senyuman jahilnya
Wajah Azimah memerah mendengarnya. Tidak pernah ia bayangkan jika ia akan menjadi ibu dari seorang anak berusia enam tahun. Karena malu Azimah pun menutup wajahnya dengan kedua tangan.
__ADS_1
Andra meraih tangan Azimah dan membawanya ke dalam pelukannya. Membiarkan mereka kembali menikmati waktu berdua yang indah itu.
"Apa kau sudah siap menikah, Azimah?" tanya Andra tiba-tiba.
Azimah nampak ragu menjawabnya. Bukan karena ia tidak siap, tapi karena ia ingin menikmati masa-masa indah menjadi kekasih Andra. Jika sudah menikah tentu halnya akan berbeda. Tanggung jawab Azimah pun akan bertambah. Maka dari itu ia memutuskan untuk menjalaninya sedikit lebih lama. Toh kapanpun waktunya, menjalin sebuah hubungan asmara tentu tujuan akhirnya adalah pernikahan.
"Aku siap-siap saja, And. Tapi tidak dalam waktu dekat" jawab Azimah sambil menyandarkan tubuhnya ke Andra.
"Lalu kapan?" tanya Andra memastikan.
Azimah mendongak. Ia heran mengapa Andra begitu mendesaknya untuk menikah. Bukankan Azimah kini sudah menjadi kekasihnya?
"Kenapa, And?" tanya Azimah
"Kenapa apanya?" jawab Andra dengan pertanyaannya.
"Kenapa kau ingin sekali cepat menikah denganku? Ini tidak seperti sifatmu yang memutuskan semuanya dengan pikiran matang" jelas Azimah heran.
Andra menarik nafasnya pelan. Andra tahu bahwa ia sedikit terburu-buru. Tapi bersama dengan Azimah membuat Andra takut akan menerkam gadis itu dan membuat Azimah ketakutan.
"Tidak, aku tidak terburu-buru. Hanya saja aku tidak ingin jauh dari kamu saja" jawab Andra sekenanya.
"Jangan berbohong!" kata Azimah dengan mata yang menyorot ke dalam mata Andra.
Alih-alih menjawab, Andra malah terfokus ke bibir Azimah yang merekah. Ia mengelap bibir Azimah yang basah dengan ibu jarinya. Jakunnya naik turun seakan merasa kering seketika. Dan sedetik kemudian bibir keduanya menyatu sempurna.
Azimah memejamkan matanya, menikmati permainan Andra. Tangannya kini berada di dada bidang Andra, sementara tangan Andra menahan tengkuk Azimah untuk memperdalam kecupannya.
Andra melepaskan tautannya, tapi hanya sebentar. Hanya untuk memberi Azimah sedikit oksigen dan kembali ******* Azimah dengan buas.
Sejenak Azimah melupakan permintaan Selma padanya beberapa saat yang lalu. Permainan Andra sudah membuatnya melayang dan terbuai hingga ia tidak bisa berpikir dengan jernih.
Dan ...
__ADS_1