
Malam ini Azimah tidur dengan perasaan khawatir. Ada rasa takut kalau-kalau ia tidur namun bangun berada di tempat lain. Ia tak bisa tidur karena bayangan kelam masa lalu terus menghantuinya. Ia pun memutuskan untuk menemui Selma...
"Ibu..," panggil Azimah sambil mengetuk pintu kamar Azimah.
Satu dua kali panggilannya tak menuai jawaban. Azimah pun kembali ke kamarnya namun saat ia melewati kamar yang dulu di pakai Alex, ia mendengar suara tangisan. Azimah pun memastikannya.
Pintu Azimah buka perlahan, ia memastikan sejenak sebelum akhirnya ia benar-benar masuk saat melihat keadaan Anastasia. Anastasia terbangun dan duduk sambil menangis. Azimah segera berlari kearahnya. Memeluknya, dan menenangkannya..
"Anas, ada apa?" tanya Azimah khawatir.
"Anas takut sendirian." isak Anastasia.
"Tenanglah, malam ini Anas tidur bersama kakak. Jangan takut ada kakak. Oke!" bujuk Azimah. Namun Anastasia menggelengkan kepalanya. Azimah pun heran..
"Kenapa?"
"Anas ingin tidur bersama ayah." ujarnya..
Azimah pun mengusap airmata Anastasia. Ia menggendong Anastasia dan membawanya kepada Andra.
"Tenanglah, jangan menangis lagi. Kakak akan bawa Anas pada ayah." Azimah kembali menenangkan Anastasia yang masih menangis.
Tak lama mereka pun sampai di paviliun. Azimah segera menuju ke kamar Andra dan mendapati Andra sedang duduk sambil menatap layar laptopnya dengan sebatang rokok yang berada di sela-sela jarinya.
"Ayah..." Anastasia segera turun dari gendongan Azimah. Berlari pada Andra. Andra yang melihatnya pun langsung memeluk Anastasia penuh kasih sayang.
"Ada apa? Kenapa Anas belum tidur?" tanya Andra sambil mengecup puncak kepala Anastasia.
"Anas takut tidur sendirian. Anas ingin tidur dengan ayah. Apakah boleh?" tanya Anastasia polos.
Andra tersenyum. Ia berdiri dan menggendong Anastasia ke atas tempat tidur..
"Tentu saja boleh, Tuan putri ayah malam ini akan tidur dengan ayah. Dalam pelukan ayah. Apakah benar begitu?" Anastasia mengangguk senang. Ia memeluk Andra dengan erat dan mulai memejamkan kembali matanya.
Azimah membiarkan ayah dan anak itu tidur bersama. Ia tersenyum sebelum akhirnya berbalik namun Andra segera menahannya..
"Kau tak ingin tidur denganku juga?" goda Andra. Azimah menggelengkan kepalanya pelan. Entah kenapa sekarang Andra berubah menjadi pria yang agresif namun Azimah senang dengan perubahan baru Andra ini.
"Temani aku, aku belum bisa tidur!" pinta Andra.
__ADS_1
Azimah pun mengangguk, ia duduk di sofa menunggu Andra menidurkan Anastasia. Ia melihat layar laptop yang tadi Andra buka. Azimah mengamati isi dalam laptop tersebut. Ada beberapa nama yang ia ketahui itu adalah pejabat tinggi daerah. Terdapat juga riwayat hidup dan data-data mengenai semua nama itu. Azimah membaca semuanya dengan seksama hingga tak menyadari Andra sudah berada bersamanya..
"Itu daftar orang yang mungkin terlibat dalam kasus ini. Kau mengenal mereka?" tanya Andra sambil menyalakan kembali rokoknya..
"Aku mengenal mereka, tapi mereka tak mengenal aku!" kekeh Azimah. Andra pun tersenyum menanggapinya..
"Berhenti merokok, tidak baik bagi kesehatanmu." ucap Azimah.
Andra hanya mengelus kepala Azimah. Ia tersenyum namun masih tetap menghisap rokoknya dalam-dalam.
"Ishh.." geram Azimah..
"Aku dan Iyas sama-sama pencandu nikotin. Ini sulit dihilangkan. Jadi meski kau akan merubah raut wajahmu seperti nenek sihir sekali pun aku akan tetap merokok." tegas Andra.
"Terserah kau sajalah. Badan-badanmu, paru-paru paru-parumu. Yang sakit nanti kau juga yang merasakannya. Aku hanya mengingatkan saja." jelas Azimah. Andra pun tersenyum kembali dan menarik Azimah ke dalam pelukannya.
"Bagaimana keadaanmu? Apa punggungmu masih terasa sakit?"
"Sudah lebih baik, tak terlalu sakit tapi masih nyeri sedikit." jawab Andra.
"Baguslah, kau lebih cepat pulih. Apa hal ini akan terjadi lagi. Kau mendapatkan luka yang mungkin lebih parah lagi dari ini?" Azimah mulai mengungkapkan kekhawatirannya. Andra mengelus lengan Azimah berharap bisa mengurangi rasa takutnya..
"Aku benar-benar takut, And. Aku takut jika kita..."
"Shuttt" Andra segera membawa Azimah menghadap lurus padanya. Menatap Azimah dalam-dalam. Merapikan anak rambut Azimah yang berantakan. Ia mengelus lembut pipi Azimah. Azimah sejenak merasa tenang. Belaian lembut Andra membuatnya merasa nyaman dan aman. Azimah pun meraih tangan Andra. Menggenggamnya dengan erat.
"Iyas dan aku tak akan pernah membiarkan itu terjadi. Sudah berapa kali aku katakan ini padamu. Jadi hilangkan semua pikiran buruk itu dari kepalamu!" tegas Andra.
"Aku sudah mencobanya tapi setiap kali aku memejamkan mata, bayangan itu hadir kembali dan membuat aku kembali takut." lirih Azimah mengingat kembali bayangan kelam masa lalunya.
Andra tahu itu menjadi pukulan tersendiri bagi Azimah. Azimah di culik oleh ayah kandungnya sendiri. Ia di perlakukan kasar bahkan melihat hal yang seharusnya tidak ia lihat di usia muda seperti saat itu. Membayangkan bagaimana Azimah di ancam dengan senjata api atau benda-benda berbahaya lainnya membuat Andra mengerti dari mana asalnya kekhawatiran Azimah yang berlebihan ini. Tapi sebagai orang yang menyayanginya tentu saja Andra tak ingin Azimah terperangkap dalam rasa khawatirnya. Perasaan ingin melindungi Azimah mengobar saat melihat airmata Azimah jatuh begitu saja.
"Lihat aku, jika dulu aku bisa menyelamatkanmu maka saat ini pun sama. Aku tak akan pernah membiarkanmu sendirian menghadapinya lagi. Tenanglah, oke?" Andra kembali menenangkan Azimah dan Azimah menganggukan kepalanya.
"Lebih baik kita tidur sekarang. Aku tak ingin dimarahi Iyas hanya karena mengajakmu begadang semalaman" kekeh Andra.
"Aku akan tidur di kamar, kau temani saja Anas. Dia tadi menangis dan sepertinya memang tak bisa tidur sendirian."
"Tidak hanya aku, kau pun harus menemani Anas. Kita akan menemaninya tidur bersama malam ini." tegas Andra membawa Azimah naik ke atas ranjang.
__ADS_1
Azimah berbaring di samping Anastasia sementara Andra berbaring di sisi Azimah. Andra memeluk Azimah dan membiarkan wajahnya terbenam di antara punggung dan tengkuk Azimah.
"Hei, bukankah tadi kau mengatakan akan memeluk Anas, lalu mengapa kau memelukku?" tanya Azimah setengah berbisik.
"Aku sudah sering memeluk Anas, malam ini aku akan memeluk kau. Apa ada masalah?" jawab Andra tanpa mengalihkan posisinya.
Azimah berbalik dan menghadap pada Andra. Andra merenggangkan pelukannya dan menatap Azimah hangat.
"Kau sudah berjanji pada Anas, jangan buat dia kecewa dan akhirnya menyalahkan aku atas sikapmu ini" keluh Azimah sambil memainkan jari di dada bidang Andra.
Andra meraih tangan Azimah, mencium punggungnya lalu tersenyum..
"Sepertinya kau memang tak ingin aku peluk. Baiklah kalau begitu!" ujar Andra beranjak hendak berbaring di sisi Anastasia namun Azimah tangan dengan menggenggam ujung baju Andra.
"Ada apa? bukankah kau tak ingin tidur dalam pelukanku?" sindir Andra.
"Ayah benar, kau memang bayi tua!" umpat Azimah kesal. Andra pun tersenyum mendengarnya. Ia menundukkan kepalanya dan meraih dagu Azimah kemudian ******* bibir ranum Azimah.
******* lembut penuh kehangatan. Azimah pun tak menolak, ia memang sudah merindukan Andra beberapa waktu ini semenjak pertengkaran terakhir mereka di apartemennya. Azimah membalas kecupan itu dengan lembut dan hangat. Mengabsen setiap inci rongga mulut Andra. Bergulat dengan lidah Andra yang kini semakin menuntutnya lebih. Tangan Andra mulai menjelajahi kulit tubuh Azimah. Membuat Azimah mencengkram kuat lengan Andra tatkala Andra mulai menjelajahi ceruk leher Azimah dengan bibir Andra. Azimah mendesah tertahan menahan gejolak panas dalam dirinya. Andra pun semakin bersemangat dengan permainannya. Andra mengigit pelan bagian leher Azimah hingga Azimah mendesah berulang-ulang..
"Pa..man.." desah Azimah pelan dan seketika permainan Andra berhenti. Ia menarik dirinya dari Azimah. Azimah menatapnya heran. Belum sempat Azimah bertanya Andra sudah lebih dulu berdiri..
"Aku akan ke kamar mandi!"
"Huh?" Azimah keheranan melihat perubahan drastis Andra. Ia bisa melihat hasrat yang besar dari Andra namun mengapa Andra menghentikannya tiba-tiba..
"Apa aku melakukan kesalahan?" pikir Azimah bingung..
***
NB:
Ingin tahu cerita sebelumnya dari Azimah. Baca karya novelku "Pernikahan kontrak".
Baca juga, ceritaku yang lainnya...
"Haruskah aku mengalah pada takdir?"
Jangan lupa Like, Coment dan tambahkan ke favorit ya..
__ADS_1
Makasih ...