
Azimah dan Andra tiba di kediaman Keluarga Lu. Andra segera di bawa ke paviliun sambil menunggu dokter yang akan menanganinya..
Tak lama dokter pribadi Andreas tiba dengan beberapa perawat senior. Mereka segera memberikan penangan serta transfusi darah untuk Andra. Setelah itu mereka kembali dan kini tinggallah Azimah seorang yang menjaga Andra...
"Azimah..." panggil Andra..
"Ya, paman perlu apa?" tanya Azimah cepat...
"Beristirahatlah, kau belum sarapan. Sarapan dahulu. Aku tak ingin kau sakit karenaku" ujar Andra lembut..
"Aku tak lapar!"
"Aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi saat ini aku belum bisa menceritakan semuanya. Aku masih memerlukan tenaga yang banyak untuk menjelaskannya." kata Andra dengan senyumannya...
"Baiklah, aku akan menunggu sampai kau menjelaskannya. Sekarang tidurlah. Kau memang harus banyak beristirahat. Lukamu sudah di jahit. Aku membuat sobekan yang cukup besar tadi malam. Maafkan aku!" sesal Azimah...
"Bahkan jika kau tak membantuku mengeluarkan peluru itu aku akan mendapatkan sobekan lebih besar lagi hari ini. Terimakasih karena sudah membantuku meski dengan tangan gemetar." goda Andra mencuil ujung hidung Azimah..
"Ayolah, aku bukan dokter. Dihadapkan dengan keadaan seperti tadi malam orang awam mana pun pasti akan gemetar. Terlebih kau, kau orang yang...." Azimah menahan kata-katanya. Entah kenapa sulit baginya untuk mengatakannya pada Andra...
"Aku orang yang seperti apa?" tanya Andra berharap..
"Jangan terlalu banyak bicara, lebih baik kau tidur. Aku akan mencari Anas" elak Azimah...
"Apa kita bisa melanjutkannya lagi?" tanya Andra tiba-tiba. Mengurungkan niat Azimah untuk beranjak dari tempatnya..
Mata Azimah memicing menatap Andra...
"Kali ini dengan kejelasan!" lanjut Andra...
"Kita akan bicarakan ini nanti. Sekarang pulihkan dirimu terlebih dulu..." ujar Azimah..
"Apa aku benar-benar menyakitimu?"
"Andra... Aku sedang tak ingin membahas ini. Pikiranku sekarang tak bisa fokus. Banyak hal yang belum bisa aku mengerti. Kau datang dengan luka parah lalu ayah dan semuanya..., aku.." Azimah gelagapan karena memang ia tak bisa berpikir dengan benar. Terbukti wajahnya yang memucat sejak tadi malam sudah mewakili kekhawatiran yang ia simpan dalam dirinya...
"Shtt... jangan takut. Semuanya aman. Iyas dan aku akan memastikan kalian semua aman. Baiklah, aku akan tidur sebentar kau beristirahatlah" ucap Andra menggenggam tangan Azimah. Azimah hanya mematung melihatnya. Terlalu banyak yang terjadi dan belum ia mengerti. Membuat Azimah sedikit lebih sulit mencerna semuanya..
__ADS_1
Di balik pintu, ternyata Selma melihat semuanya. Ia sudah begitu lama memendam perasaannya tentang keputusan Azimah yang ingin tinggal sendiri secara tiba-tiba. Meski semuanya telah jelas dikatakan Andreas demi Azimah, namun Selma yakin jika Azimah pergi pasti ada hubungannya dengan Andra. Melihat apa yang ia lihat saat ini, Selma semakin yakin ada hal yang terjadi tapi ia tak mengetahuinya...
Selma menyingkir tiba-tiba setelah melihat pergerakan Azimah menuju pintu kamarnya. Ia bersembunyi agar Azimah tak melihatnya namun sayang apa yang ia lakukan diketahui Andreas yang tiba-tiba datang dari arah belakang...
"Apa yang kau lakukan di sini, Selma?" tanya Andreas tiba-tiba..
"Eh kau, itu aku, aku tak apa-apa. Hanya ingin memastikan keadaan Andra." dusta Selma..
"Lalu kenapa kau menghindari Azimah?" tanya Andreas lagi..
"Aku, aku tak menghindari Azimah. Aku hanya, aku. Ah!" kesal Selma sendiri yang tak pernah bisa berbohong pada Andreas..
"Ayo!" ajak Andreas yang langsung menarik Selma masuk ke dalam kamar mereka..
"Katakan ada apa?" tanya Andreas langsung.
"Aku hanya berpikir jika Azimah pergi tiba-tiba karena ada masalah dengan Andra. Dia menghindariku atau mungkin dia memang tak ingin kita mengetahui semuanya. Jadi dia pergi! " jelas Selma pelan..
"Lalu?"
"Aku hanya ingin tahu apa permasalahannya. Aku tak ingin Azimah bersembunyi dariku!" tegas Selma..
"Jadi kau mengetahuinya dan kau tak mengatakannya padaku?" tanya Selma..
"Masalah mereka tak berat. Hanya kesalahpahaman saja. Kau tahu Andra tak bisa memperlakukan wanita dengan baik. Ini sudah sejak lama kita ketahui bahkan Azimah sendiri pun tahu hal ini."
"Apa yang dilakukan Andra pada Azimah, Iyas?" tanya Selma panik..
"Mereka hanya bertengkar. Pertengkaran sepasang kekasih pada umumnya. Jangan terlalu dipikirkan. Azimah dan Andra akan menyelesaikan semuanya sesuai apa kata hati mereka."
"Apa Andra memukul Azimah?" Andreas menatap tajam pada Selma. ia menghela nafas tajam lalu memeluk Selma untuk menenangkannya...
"Apa kau pikir Andra akan melakukan hal itu, huh? Kita mengenal Andra jauh lebih baik dari siapa pun. Andra tak melakukan hal yang seperti kau pikirkan. Mereka hanya bertengkar lalu tak tegur sapa dalam beberapa waktu." dusta Andreas.
Selma menarik nafas lega mendengarnya. Ia memang mengkhawatirkan Azimah dalam beberapa waktu ini. Terutama setelah Azimah meninggalkan kediaman mereka.
"Kau memang benar, Azimah sebaiknya tinggal bersama kita. Aku khawatir jika Azimah jauh dari jangkauan kita. Terlebih kini Azimah menjadi incaran rival kalian" keluh Selma..
__ADS_1
"Aku akan menangani semuanya dengan baik. Aku tak akan pernah membuat kalian dalam kesusahan." ucap Andreas. Selma kian mengeratkan dekapannya pada Andreas. Apa yang terjadi sekarang mengingatkannya pada kejadian di masa silam.
Sembilan tahun lalu di mana kejadian yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya. Azimah, Andra, Gio juga Andreas terlibat dalam sebuah pertikaian besar. Ia tak ingin itu terjadi lagi, apa lagi jika harus melibatkan Azimah di dalamnya..
Andreas menemui Andra sendirian. Ia akan membahas permasalahan yang ada. Andreas tak ingin menundanya hingga memakan korban lainnya. Keluarganya tak bisa ia libatkan dalam masalah pekerjaannya..
"Bagaimana? Apa kau sudah lebih baik?" tanya Andreas pada Andra. Andra hanya mengangguk menanggapinya...
"Apa kau sudah mengutus orang untuk mengawasi orang-orang yang kita curigai?" tanya Andra dengan mimik wajah serius..
Andra menganggukan kepalanya..
"Aku sudah mengirim mereka. Aku yakin ini masih ada hubungannya dengan beberapa orang tertinggi di perbatasan. Jika tidak mereka tak akan melakukan hal ini padamu. Mereka tahun jelas jika hukuman penganiayaan dan rencana pembunuhan lebih berat dari hukuman korupsi. Jika mereka hanya orang-orang kecil maka tak akan melakukannya sampai sejauh ini. Pasti ada yang mendukung mereka!" yakin Andreas..
"Untuk hal itu serahkan saja pada orang-orang kepercayaan kita. Sementara waktu perketat penjagaan. Terutama untuk Azimah. Aku tak ingin ia kembali mengalami apa yang sudah terjadi 9 tahun lalu, Iyas!" seru Andra..
"Aku tahu, maka dari itu cepat pulihkan dirimu. Aku tak bisa melakukannya sendirian tanpamu. Dan juga, ingat jangan menjadikan ini kesempatan untuk bermesraan dengan Azimah!" tegas Andreas. .
"Ayolah, Iyas. Aku dan Azimah serius. Kau tak bisa melarang kami. Kau tahu aku sudah menduda begitu lama, aku butuh.."
Bukk...
"Jangan teruskan pikiran kotormu itu! Andra, kau jangan menyentuh Azimah jika kau belum yakin dengan perasaanmu. Aku sungguh untuk hal yang satu ini!" Tegas Andreas..
"Apa kau kira aku akan bergerak sejauh ini jika aku masih ragu pada perasaanku. Pertama kali dan untuk terakhirnya aku katakan padamu, aku mencintai Azimah, sungguh! Dan aku akan menikahinya. Aku harap kau tak mempertanyakan ini lagi. Untuk masalah yang lalu aku minta maaf. Aku pun akan berjanji padamu, aku tak akan menyakiti Azimah lagi. Aku janjikan ini sebagai pria yang mencintai Azimah!" tegas Andra. Andreas pun tak ada keluhan lagi. Ekspresi Andra saat ini mengingatkannya tentang keputusan Andra untuk menikahi Adelina. Keyakinan yang sama dimatanya saat itu kini terpancar lagi saat ia menyebutkan nama Azimah..
"Aku percayakan Azimah padamu!" kata Andreas dengan senyumannya. Kemudian ia berlalu meninggalkan Andra untuk kembali beristirahat...
***
NB:
Ingin tahu cerita sebelumnya dari Azimah. Baca karya novelku "Pernikahan kontrak".
Baca juga, ceritaku yang lainnya...
"Haruskah aku mengalah pada takdir?"
__ADS_1
Jangan lupa Like, Coment dan tambahkan ke favorit ya..
Makasih ...