
Azimah terbangun keesokan harinya dan berada dalam dekapan Andra. Ia tersenyum dan merasakan sesuatu yang lebih canggung lagi karena mereka tidur dalam satu selimut tanpa busana apapun.
Azimah menatap Andra yang masih terlelap, ia menarik Andra dan mencium bibirnya singkat. Tak terduga Andra tersenyum dan membuat Azimah malu karena ketahuan menatapnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Andra.
"Morning kiss" jawab Azimah malu-malu.
"Kau sangat nakal, Azimah" ujar Andra gemas dan kian mengeratkan pelukannya pada Azimah.
"Aku ingin mandi. Badanku terasa lengket semua" rengek Azimah manja.
"Ya, sudah. Mandilah!" ujar Andra.
"Ituku sakit, ANDRA!!" teriak Azimah.
Andra tertawa mendengarnya. Bukannya mengendong Azimah ia malah menggodanya lagi.
"Apanya yang sakit?" tanya Andra pura-pura polos.
"Kau ..., dasar mesum!" kesal Azimah.
Andra hanya tersenyum simpul melihat kekesalan Azimah. Ia pun menangkup kedua pipi Azimah lalu ********** pelan.
"Gendong ...," rengek Azimah kembali bersikap manja.
"Kalau melihatmu seperti ini, aku lebih ingin menerkammu daripada menggendongmu" goda Andra.
"Tapi masih sakit ...," ujar Azimah.
"Baiklah, aku mengampunimu kali ini. Tapi tidak dengan nanti" tegas Andra.
Andra pun menggendong Azimah ke kamar mandi. Menempatkan Azimah ke dalam bathtub dan mengisinya dengan air. Ia pun ikut masuk dan berendam bersama Azimah. Bercanda dan saling menggoda satu sama lain.
Tiga puluh menit kemudian mereka keluar dengan Azimah yang masih aneh saat berjalan. Seperti ada yang mengganjal di pangkal pahanya.
"Kenapa? Masih sakit?" tanya Andra.
"Iya, sedikit" jawab Azimah seadanya.
Andra menarik Azimah ke dalam pelukannya. Mencium puncak kepalanya dan mengelus punggung Azimah.
"Maafkan aku, aku menyakitimu" ujar Andra menyesal.
__ADS_1
Azimah tidak menjawab, ia hanya diam sambil menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Andra. Itu pengalaman pertama yang berharga juga menyakitkan baginya. Azimah sendiri tidak tahu kapan rasa sakit itu akan menyiksanya. Yang harus dilakukan Azimah saat ini hanya menyembunyikan rasa sakit itu.
"Ayo, sarapan!" ajak Andra.
Azimah menganggukkan kepalanya. Andra menggenggam tangan Azimah dan membawanya ke dapur untuk sarapan. Azimah pun demikian, ia berjalan dengan mesra menempel pada Andra. Seperti sepasang pengantin baru yang sedang menikmati masa-masa indah awal pernikahan mereka.
Di dapur sudah tersedia sarapan yang dibuat asisten rumah tangga Andra. Mereka pun menyantapnya dengan tenang.
"Aku langsung pulang setelah ini, ya!" ujar Azimah di tengah-tengah sarapannya.
"Iya. Aku akan mengantarmu dan membicarakan persiapan tunangan kita dengan Andra" jelas Andra.
"Oh, iya. Ibu bilang kau akan pulang bersama Anas. Apa itu benar?" tanya Azimah.
"Iya. Tidak apa-apa, bukan?" tanya Andra ragu.
"Ya. Bukankah kita masih tetap bertemu dengan sekalipun kau tinggal di rumahmu?!" kata Azimah.
"Ini akan menjadi rumah kita nantinya" jawab Andra sambil menggenggam tangan Azimah. Azimah tersenyum mendengarnya.
Setelan sarapan selesai, keduanya meninggalkan rumah Andra menuju rumah utama keluarga Lu. Di sepanjang perjalanan keduanya bercanda dan berbincang kekonyolan Andra dan Andreas di masa lalu. Azimah selalu tertawa ketika mendengar Andra yang begitu anti kepada wanita yang berusaha mendekatinya. Berbeda dengan ayahnya, Andreas yang memang membiarkan semua wanita mendekat dan berteman dengannya.
"Lalu kenapa kau akhirnya bisa mendekati Bibi Adelina dan menikah? Apa begitu besar pengaruh Bibi Adelina hingga kau melupakan traumamu akan sebuah hubungan asmara?" tanya Azimah penasaran.
"Hei, kenapa diam? Aku bertanya!" ujar Azimah tidak sabaran.
"Dulu ..., aku tidak mencintai Adelina. Aku mencintai orang lain. Tapi karena kegigihan Adelia akhirnya dia berhasil membuat aku mencintainya" jawab Andra.
"Kau pernah mencintai seseorang sebelum Bibi Adelina? Siapa?" tanya Azimah lagi.
"Jangan bahas yang satu ini. Nanti kau cemburu lagi" ujar Andra.
"Aku tidak akan cemburu. Cepat katakan siapa orangnya?" desak Azimah.
"Kita bahas pertunangan kita saja. Aku tidak ingin membahas masalaluku karena itu sudah berlalu. Lebih baik kita bahas masa depan kita saja" kata Andra beralasan.
"Baiklah kalau begitu. Meskipun aku sangat penasaran dengan orangnya, tapi aku terima alasanmu itu" jawab Azimah senang.
Tak lama mereka pun tiba di rumah Lu. Azimah hendak turun namun rasa sakit itu masih saja menyiksanya. Meski Azimah bisa berjalan namun itu sedikit menyiksa dirinya. Perih walau tidak seperti tadi malam.
"Kenapa?" tanya Andra yang baru saja melepas sabuk pengamannya.
"Masih perih. Ini menyiksa, And" keluh Azimah.
__ADS_1
"Pelan-pelan saja berjalannya" saran Andra.
Azimah mengangguk dan turun dari mobil secara perlahan. Andra membantunya turun dan menggandengnya. Ia tidak malu-malu lagi memamerkan hubungan mereka di depan semua orang.
"Bagaimana kalau Ibu atau Ayah mengetahuinya?" tanya Azimah khawatir.
"Aku akan urus itu!" jawab Andra menenangkan Azimah.
Saat mereka tengah berjalan, sebuah suara menyambut mereka dengan semangat beriringan dengan larinya seorang anak kecil yang mendekat pada mereka.
"Ayaaaah ..." teriak seorang anak yang tak lain adalah Anastasia.
"Oh anak ayah yang cantik. Apa kabarmu, Sayang?" tanya Andra sambil memeluk Anastasia.
"Aku baik. Oma Selma merawat dan menjagaku dengan sangat baik!" jawab Anas bersemangat.
"Oma?" tanya Andra dan Azimah bersamaan. Mereka pun saling memandang.
"Iya. Aku meminta Anas untuk memanggilku seperti itu mulai sekarang. Begitupula dengan Iyas" jawab Selma yang tiba-tiba datang dari arah samping.
"Oh ...," jawab Azimah canggung.
"Iyas sudah menunggu kalian di ruang keluar. Masuklah! Aku akan menyuruh pelayan mengasuh Anas sebentar!" jelas Selma.
"Iya, Bu" jawab Azimah yang terasa aneh dengan sikap Selma pagi ini.
"Ayah, aku bermain dulu. Bye-bye" ujar Anas pada Andra.
Andra mengangguk dan tersenyum. Begitu pula dengan Azimah. Setelah kepergian Selma dan Anas, Andra membawa Azimah masuk untuk menemui Andreas di ruang keluarga. Ia menggenggam tangan Azimah seakan tahu apa yang Azimah rasakan saat ini.
"Mereka orang tuamu, mereka tidak akan menyakitimu. Jadi jangan takut!" kata Andra kembali menenangkan Azimah.
"Iya, aku tahu. Tapi tetap saja. Aku merasa gugup!" jawab Azimah.
"Kita temui mereka dan katakan semuanya. Setelah itu kita terima saja apa yang mereka putuskan" jelas Andra.
Azimah mengangguk pelan dan terus berjalan menuju ruang keluarga. Di sana sudah ada Andreas yang duduk dengan tenang sambil membaca surat kabar harian. Beruntung hari ini adalah hari Minggu sehingga Andreas berada di rumah. Di depannya sudah ada segelas kopi yang menemani paginya. Perlahan Andra dan Azimah mendekat.
"Pagi, Iyas" sapa Andra.
"Hei, kalian sudah datang. Pagi juga!" ujar Andreas balik menyapa.
Azimah dan Andra duduk di seberang Andreas. Andra bersikap biasa saja berbeda dengan Azimah yang terlihat gugup dan hanya bisa menundukkan kepalanya.
__ADS_1