Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
76


__ADS_3

Pagi ini Azimah bangun dengan malas. Ia terlalu malas memulai aktivitasnya dikarenakan masalahnya dan Andra. Benar kata orang, permasalahan dalam sebuah hubungan begitu banyak perhatian hingga membuat kita melupakan hal lainnya dalam hidup kita.


Setelah mandi, Azimah turun ke lantai bawah untuk sarapan. Tadi malam Azimah tidak bisa menyantap makan malamnya dengan benar dikarenakan Andra. Pagi ini, Azimah sangat lapar dan tidak akan peduli seandainya Andra akan mengganggunya seperti hari-hari kemarin.


"Sayang ...," sapa Selma pada Azimah.


"Ibu" balas Azimah pada Selma.


"Kau kesiangan lagi?" tanya Selma yang berjalan mendekat padanya.


"Iya, Bu. Maaf. Tidak bekerja membuatku menjadi semakin malas" ujar Azimah mencari alasan.


"Tidak apa. Sarapan sana! Hanya kau yang belum sarapan" kata Selma.


"Ayah dan Axel sudah pergi?" tanya Selma heran.


"Iya. Ayahmu dan Andra harus ke kantor polisi untuk mengurus masalah perusahaan kemarin. Axel seperti biasa, dia berangkat terlebih dahulu" jelas Selma.


"Apa ada masalah lagi? Kenapa Ayah dan Andra di panggil ke kantor polisi?" tanya Azimah bingung.


"Ada perkembangan. Orang yang berkhianat pada perusahaan ayahmu sudah bicara dan membeberkan semuanya. Kini orang yang terkait dengan masalah ini sedang dalam penangkapan" jelas Selma.


"Maksud Ibu, Chris?" tanya Azimah memastikan.


"Iya. Kemarin Ayahmu mencari tahu tentang motif mengapa Chris mengkhianati perusahaan. Padahal Chris sudah lama bekerja di perusahaan kita dan juga sudah menjadi orang kepercayaan ayahmu. Iyas merasa ada sesuatu yang ganjil di sini dan dia menyelidiki semuanya. Feeling ayahmu tidak pernah meleset, seperti dugaannya Chris di tekan untuk berkhianat dengan menjadikan anak Chris sebagai tawanan" jawab Selma menjelaskan.


"Chris punya anak?" tanya Azimah sedikit terkejut.


"Iya. Anak dari wanita kekasihnya terdahulu" jawab Selma seadanya.


"Mereka menjadikan anak Chris sebagai tawanan? Memangnya berapa usia anak Chris?" tanya Azimah yang memang tertarik dengan hal seputar penculikan karena itu mengingatkan dirinya di masa lalu.


"Empat atau lima tahun. Kira-kira kisaran itulah" jawab Selma.


"Apa?! Anak usia seperti itu mereka libatkan dalam permainan kotor mereka? Ibu, katakan pada Ayah berikan hukuman yang sangat berat pada pelakunya. Mereka sudah bukan manusia lagi mereka sudah menjadi monster yang berwujud manusia" kesal Azimah.


"Iya. Itu juga yang sedang ayahmu lakukan. Tadi malam Iyas dan Andra menggerebek markas para pelaku di mana anak Chris di tawan. Dan mereka baru pulang dini hari ini. Bahkan mereka berdua belum sempat tidur karena menyelesaikan berkas-berkas Untuk meringankan hukuman Chris. Dan pagi ini mereka sudah pergi lagi" keluh Selma yang turut pusing dengan masalah suaminya itu.

__ADS_1


"Apa ayah dan Andre terluka, Bu?" tanya Azimah memastikan.


"Tidak parah. Hanya luka luar yang kecil namun semuanya sudah dokter tangani" jawab Selma lagi.


"Siapa yang terluka?" tanya Azimah cepat.


"Keduanya, Sayang. Suamiku dan juga kekasihmu!" celetuk Selma yang mengerti siapa yang lebih khawatirkan Azimah.


"Ibu ..., bukan begitu maksudku" rengek Azimah.


"Sudahlah, lebih baik kamu sarapan. Ibu ingin membersihkan ruang kerja ayahmu" kata Selma yang kemudian beranjak menuju ruang kerja Andreas.


Sepeninggal Selma, Azimah jadi tidak selera makan karena apa yang Selma katakan. Pantas saja saat Azimah membuka ponselnya pagi ini, tidak ada pesan yang biasa Andra kirimkan padanya.


Azimah memakan sedikit sarapannya dan kembali lagi ke kamar. Namun ia terhenti ketika melihat Anastasia yang tengah bermain sendirian di teras samping. Azimah pun menghampirinya.


"Anas" panggil Azimah.


"Kak Azimah, sini!" ujar Anas sambil mengayunkan tangan mengajak Azimah mendekat padanya.


"Kenapa, Sayang? Apa yang kau lakukan sendirian di sini?" tanya Azimah.


"Kenapa kupu-kupunya harus Anas tangkap? Bukankah dia makhluk yang Tuhan ciptakan dengan sayap. Jika Anas menangkapnya, kupu-kupu itu akan sedih karena tidak bisa terbang lagi" ujar Azimah.


"Tapi kupu-kupu itu indah dan Anas menyukainya" jawab Anas polos.


"Anas, Sayang. Tidak semua keindahan di dunia ini bisa kita miliki. Adakalanya kita hanya mampu melihatnya dari kejauhan. Seperti halnya kupu-kupu itu. Dia akan terus terlihat indah jika Anas membiarkannya terbang dengan bebas. Tapi jika Anas tangkap lalu Anas mengurungnya, apakah kupu-kupu itu tetap akan terlihat indah?" tanya Azimah. Anas pun menggelengkan kepalanya cepat.


"Benar, dia tidak akan terlihat indah lagi karena keindahannya itu terlihat dari cara dia terbang mengepakkan sayap dengan warna-warna yang ada di sayapnya" jelas Azimah.


"Baiklah, kalau begitu Anas tidak akan menangkap kupu-kupu itu" kata Anas lemah.


"Anak pintar!" puji Azimah.


"Bagaimana kalau kita menggambar kupu-kupu saja?" ujar Azimah menawarkan diri. Anas mengangguk dan berjalan masuk ke paviliun.


Apa yang Azimah ucapkan pada Anastasia tadi membuatnya sedikit sadar, bahwa Andra adalah keindahan yang seharusnya bisa ia lihat dari kejauhan karena jika memaksakan diri untuk meraihnya maka ia akan terluka. Seperti saat ini.

__ADS_1


Azimah menyiapkan semua peralatan gambar Anastasia. Ia mengajak Anastasia berbincang dengan pelan karena Azimah tahu bahwa Anastasia bukanlah anak yang bisa ia kerasi. Mereka pun larut dalam kegiatan gambar menggambarnya.


Saat siang, setelah menggambar. Azimah membuatkan Anastasia susu dan menidurkannya di kamar Andra. Setelah Anastasia tidur, Azimah berniat kembali ke rumah utama untuk mengambil ponselnya. Namun belum sempat itu terjadi, Azimah dikejutkan dengan kedatangan Andra yang tiba-tiba.


"Kau sudah pulang?" tanya Azimah canggung.


"Iya, baru saja" jawab Andra dengan tatapan dekatnya pada Azimah.


"Kalau begitu kau bisa menjadi Anas, aku akan kembali" ujar Azimah yang langsung melangkah melewati Andra namun dengan cepat Andra tahan dengan menarik Azimah keluar dari kamarnya dan masuk ke kamar yang berada di sebelah kamarnya.


"Andra, apa yang ingin kau lakukan?" tanya Azimah kaget.


"Aku merindukanmu!" kata Andra yang sudah diselimuti kabut gairah dalam dirinya.


"Andra, aku peringatkan kau jangan macam-macam jika tidak aku akan benar-benar membencimu!" kata Azimah mengancam.


"Bukankah sekarang kau sudah membenciku?" tanya Andra yang mulai melucuti pakaiannya.


Sebuah perban melingkar di lengan Andra membuat Azimah sedikit khawatir dengan hal tersebut. Ia melihat keseluruhan tubuh Andra dari atas hingga bawah, memastikan apakah terdapat luka lagi di bagian tubuh lainnya. Tanpa sadar, tangan Azimah terulur memegang perban tersebut.


"Kenapa kau tidak memberi tahuku kalau kau pergi tadi malam?" tanya Azimah tajam.


"Aku kira kau sudah tidak peduli lagi padaku!" jawab Andra.


"Kau bodoh! Bodoh sekali! kenapa kau bisa kembali dalam keadaan luka seperti ini. Kau melukai milikku, Andra!" teriak Azimah sambil terus memukul-mukul dada bidang Andra.


Dalam hati, ada sedikit penyesalan bagi Azimah karena mengabaikan Andra tadi malam. Mungkin, jika hubungan mereka baik-baik saja Andra bisa bicara dan mengatakan tentang masalah ini padanya.


"Maafkan aku, maaf!" kata Andra yang menarik tubuh Azimah kepelukannya.


"Kau tidak akan kumaafkan, kau melukai milikku!" ucap Azimah yang sudah mulai terisak di pelukan Andra.


"Ini tidak parah, dua atau tiga hari akan sembuh. Apalagi jika kau yang merawatnya!" kata Andra berusaha menggoda Azimah.


"Tidak akan pernah aku rawat! Rawat sendiri!" ketus Azimah di sela-sela isakkannya.


"Sudahlah, jangan menangis. Kau jelek jika menangis!" kata Andra menggoda Azimah.

__ADS_1


"Hentikan! aku belum memaafkanmu. Jadi jangan berusaha menggodaku!" kesal Azimah yang langsung menarik diri dari pelukan Andra.


__ADS_2