Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
34


__ADS_3

Azimah berbalik. Ia melangkah pasti mendekati Anastasia yang masih menangis dipelukkan Andra.


Melihat Azimah yang melangkah padanya, Anastasia melepaskan pelukannya pada Andra. Berlari menghambur kepada Azimah.


Azimah tak tahu mengapa reaksi Anastasia begitu mengejutkannya, yang ia tahu saat ini ia tak tega membiarkan anak kecil itu menangis karenanya.


"Kakak, temani Anas makan siang ...," rengek Anastasia.


Azimah menggendong Azimah, ia mengusap bekas lelehan airmata Anastasia, menciumnya sambil membisikkan kata-kata rayuan ditelinganya. Andra melihat semua itu, entah mengapa ia terkejut dengan tingkah Anastasia yang menurutnya tak biasa. Anastasia begitu dekat pada Azimah dan tak canggung menangis dan karenanya. Jika itu bukan Azimah, jangankan untuk mengadu seperti saat ini, mendekat pun ia enggan. Apakah ini yang dinamakan ikatan batin?


Azimah membawanya ke lantai bawah di mana tempat makan dan minum tersedia di sana. Ia meletakkan Anastasia di atas kursi, mengajaknya bicara sambil memilih menu makanan. Anastasia sangat senang dan nampak manja di sisi Azimah, bahkan Andra tak ia hiraukan.


"Baiklah, Anas. Kita akan makan fried chiken sekarang. Anas tunggu sini, kakak akan memesannya untuk kita" ujar Azimah.


"Kalian di sini saja. Biar aku yang memesannya" kata Andra menawarkan diri. Andra pun segera beranjak dari tempatnya.


Andra mengantri untuk pesannya, sesekali ia memandang kepada Azimah dan Anastasia dan saat itu pula ia melihat kedekatan yang tak pernah ia lihat selama ini. Ia semakin berharap agar Azimah bisa menjadi istrinya. Namun harapan itu kembali ia enyahkan setelah terlintas bagaimana tatapan kecewa Azimah ketika ia melukainya. Andra pun hanya mengeluh pasrah pada harapannya saat ini.


Ketika Andra sedang mengantri, seorang wanita mendekatinya dan mereka terlibat perbincangan singkat. Azimah tak sengaja melihat itu dan ia semakin berpikir jika Andra memang benar-benar telah berubah. Andra terlihat sangat ramah dan akrab pada wanita tersebut hingga tertawa dengan lebar. Tak seperti Andra yang ia kenal. Azimah pun tersenyum sinis pada dirinya sendiri.


Andra kembali dengan nampan berisi makanan, Azimah mengambil piring untuk Anas dan menyuapinya. Mereka berbincang dan benar-benar mengabaikan Andra. Andra tak merasa terabaikan, karena ia tahu bagaimana kesepian yang selama ini Anastasia keluhkan padanya. Bagaimana harapan Anastasia agar bisa memiliki keluarga yang utuh seperti teman-temannya. Namun Andra belum bisa mewujudkannya. Tapi saat melihat Anastasia bersama Azimah, kebahagiaan itu terpancar di mata dan wajah Anastasia. Kebahagiaan yang bahkan tak pernah Anastasia tunjukkan saat bersama dengannya.


"Anas senang sekali hari ini. Anas seperti memiliki ibu" ucap Anastasia dengan mulut penuh.

__ADS_1


Azimah merasa bersalah, ia seperti memberikan harapan yang tak pernah bisa ia wujudkan pada Anastasia. Ia pun menyesal mengapa harus berbalik dan menemui Anastasia lagi. seharusnya ia tetap meneruskan langkahnya dan mengabaikan rasa ibanya terhadap Anastasia.


"Kak Azimah mau bukan menjadi Ibu Anas?" pertanyaan polos itu meluncur begitu saja di bibir mungil Anastasia. Azimah dan Andra saling pandang, lidah mereka sama-sama kaku untuk menjawab pertanyaan yang lebih mengarah ke permintaan. Saat keterbungkaman Azimah, Anastasia kembali bicara dengan manik mata yang cerah.


"Jika kak Azimah menjadi Ibu Anas, Anas berjanji akan menjadi anak yang penurut dan rajin belajar agar kak Azimah bangga pada Anas." Semangat itu seperti tak pernah putus. Azimah segera menyela dengan menyuapkan makanan ke dalam mulut Anastasia.


"Anas makan yang banyak, jika sedang makan tidak boleh ...,"


"Bicara" Anastasia melanjutkan kalimat Azimah dengan semangatnya.


Lima belas menit kemudian mereka menyelesaikan makan siang. Azimah masih menggendong Anastasia sampai di lobi pusat perbelanjaan. Anastasia kembali pada Andra dengan senyum bahagia yang selalu mengembang diwajahnya.


"Kakak kembali ke kantor, Anas jangan lupa bersihkan kaki dan tangan saat tiba di rumah. Oke!" seru Azimah yang tanggapi acungan jempol oleh Anastasia.


"Aku menemani Azimah." jawab Azimah cepat.


"Ah iya, terimakasih untuk itu"


"Tidak masalah, aku mempunyai adik jadi aku terbiasa untuk hal seperti ini. Lagi pula aku tak bisa membawa Anas dalam masalah kita. Dia hanya anak kecil" jawab Azimah datar.


"Anas terlalu merindukan kehangatan seorang ibu, maaf jika Anas bersikap berlebihan padamu" kata Andra canggung.


"Sepertinya Paman sudah mengetahui masalah Anas, lebih cepat Paman mengabulkan keinginan itu maka itu lebih baik untuk Anas"

__ADS_1


Azimah bicara dengan memandang Andra lekat. Mata mereka bertemu dengan getaran yang sama pada hari mereka. Andra menelan salivanya melihat tatapan mata Azimah padanya.


"Azimah ..., aku minta maaf untuk ...," belum sempat Andra meneruskan kalimatnya, Azimah sudah lebih dulu menyela.


"Jangan bahas itu karena itu melukaiku jika mengingatnya kembali. Untuk kedepan jangan pernah menghindar dari pekerjaan kantor meski ayahku yang memaksamu. Bersikap seperti biasanya saja, lagi pula tak ada apa-apa antara kita. Lebih sering kau menyakitiku lebih cepat aku melupakanmu" Azimah tersenyum sebelum akhirnya melambaikan tangan pada Anastasia.


Andra merasakan ngilu di dasar hatinya saat melihat tatapan terluka Azimah padanya. Bahkan Azimah bicara tanpa sungkan lagi padanya. Mengungkapkan perasaannya yang terluka karena Andra. Andra semakin bersalah dan kecewa pada dirinya sendiri. Dengan langkah gamang ia mengajak Anastasia pulang bersamanya.


Di dalam mobilnya, Azimah memegang erat kemudi setirnya. Ia mengatur nafasnya yang menderu dengan wajah dan mata yang sudah memanas. Ia menundukkan kepala di atas kemudi stir dengan tangan sebagai penyanggahnya. Memejamkan mata agar melupakan semuanya.


Bertemu dengan Andra bukan hal yang mudah setelah apa yang terjadi antara mereka. Namun ia menginginkan itu meski bibirnya berkata lain. jauh di dalam hatinya terdapat kerinduan pada Andra setelah sekian lama tak bertemu. Sekali lagi, luka itu ia sendiri yang membiarkannya menganga.


"Seharusnya aku tak terlibat dengan perasaan ini. Mengapa aku masih bisa berdiri menunggu pembalasan cinta darimu setelah apa yang sudah kau lakukan padaku. Harusnya aku menjauhimu bukan malah ingin mendekat padamu" geram Azimah sambil memukul-mukulkan dahinya ke kemudi stir.


Sementara di mobil lainnya, Andra nampak tak tenang. Bayangan mata Azimah dan kata-katanya yang menusuk terus melintas di kelopak matanya. Ia kesal sendiri mengapa tak bisa menahan emosinya alih-alih mencium Azimah dengan brutal.


"Aku harus bicara pada Iyas. Aku tak bisa terus-terusan seperti ini. Aku mencintai Azimah, aku yakin itu! Sangat yakin!" batin Andra.


Andra pun mempercepat laju kendaraannya. Ia mengantarkan Anastasia sebelum akhirnya menghubungi Andreas untuk bicara. Ia ingin permasalahannya dan Azimah selesai namun untuk itu ia perlu izin dari Andreas. Ia tak ingin langkah-langkahnya kembali menyakiti sahabatnya. Masalah Azimah akan memaafkannya atau tidak itu akan ia perjuangkan setelah mendapatkan persetujuan Andreas.


* * *


......Bersambung .........

__ADS_1


__ADS_2