
Azimah hendak memasuki mobilnya, namun dering ponsel mengurungkan niatnya. Ia berdiri di depan pintu mobil sambil membuka pesan masuk di ponselnya..
“Pagi..., semoga harimu menyenangkan. Maaf hari ini aku tak bisa mengantarmu ke kantor karena aku ada meeting dengan klien pagi ini. Tetap semangat!”
Azimah mengerenyitkan dahinya mendapat pesan dari Andra yang tak biasa. Ia ragu untuk membalas atau membiarkannya saja. Namun ia akhirnya membiarkannya saja, menutup ponselnya dan langsung masuk mobilnya.
Di perjalanan, Azimah nampak berpikir.
“Apa mungkin yang dikatakan Ibu tadi malam benar. Andra mulai mengejarku? Kenapa aku menjadi tak tenang seperti ini saat Andra mulai mengejarku. Bukankah aku memang mengharapkannya? Lalu mengapa aku tiba-tiba ragu begini?” batin Azimah.
Azimah menjadi tak tenang, sampai di kantor Azimah kembali membuka ponselnya. Membuka kembali pesan yang Andra kirimkan untuknya. Berkali-kali jarinya bermain di keyboard ponsel namun tak lama ia menghapusnya lagi. Azimah pun menghembuskan nafas kasar..
“Baiklah Azimah, semangat untuk harimu, apa yang akan terjadi biarkan saja. Kau hanya perlu mengikutinya. Biarkan tangan Tuhan yang menyelesaikan semuanya. Ya benar, Tuhan akan memberikan yang terbaik untukku!” ujar Azimah menyemangati dirinya sendiri.
Azimah mulai membuka PC-nya, fokus dengan pekerjaannya dan untuk sejenak suasana hatinya kembali normal.
Saat Azimah sedang fokus dengan pekerjaannya. Sebuah panggilan masuk dari nomor tak di kenal menghentikan perhatiannya dari layar PC. Azimah mengambil ponselnya dan membiarkannya begitu saja. Namun belum juga satu menit berlalu, nomor tersebut kembali menelponnya. Karena merasa terganggu, Azimah pun mengangkat panggilan tersebut.
“Hallo!” kata Azimah sedikit malas.
“Hallo selamat siang, benar ini dengan Nona Azimah Lu?” tanya seorang wanita dari seberang telepon.
“Ya benar. Maaf ini dengan siapa?” Azimah mulai penasaran dan membenarkan posisi duduknya.
“Saya dengan wali kelas Anastasia Lee. Maaf jika saya menganggu waktu Anda. Bisakah Anda menjemput Anas. Dia merengek mengatakan sakit perut. Saya sudah menghubungi Tuan Lee namun tak ada jawaban. Saya menemukan nomor ponsel Anda di tas Anas!” jelas wanita yang mengaku sebagai guru Anastasia itu.
Azimah terlonjak kaget mendengarnya, ia melihat jam di pergelangan tangannya. Ia pun bingung karena ini masih jam kerja. Akan menjadi pertanyaan jika dia keluar masuk kantor seenaknya saja.
“Maaf, setahu saya Paman Andra sudah memperkerjakan seorang pengasuh. Bisa minta dia saja yang membawa Anas pulang, saya masih bekerja saat ini!” Pinta Azimah dengan nada yang mulai panik.
“Maaf, saya sudah mencarinya kemana-mana namun tak juga menemukan pengasuh Anas. Saya bingung harus bagaimana karena Anas selalu menangis dan mengeluh sakit perut. Sudah kami lakukan tindakkan di Unit Kesehatan Sekolah namun Anas tetap menangis!” jelas sang guru.
Azimah tak banyak berpikir lagi, ia segera mengambil tasnya dan menutup sambungan teleponnya lalu bergegas ke parkiran untuk menjemput Anastasi. Sebelum pergi ia menelpon ayahnya.
__ADS_1
“Ayah, aku izin hari ini!” kata Azimah sambil memutar mobilnya keluar halaman gedung Lu Company.
“Ada apa? Apa ada masalah?” tanya Andreas dengan nada panik mendengar nada bicara Azimah yang tersengal-sengal.
“Aku harus menjemput Anas, gurunya menelponku. Anak mengeluh sakit perut!” jelas Azimah sambil menaikan laju kecepatan mobilnya.
“Baiklah, hati-hati!” ujar Andreas mengizinkan lalu bergegas menelpon Andra namun tak di jawabnya. Azimah pun melakukan hal yang sama. Ia berulang kali menelpon Andra namun tetap tak membuahkan hasil.
“Ah sial, dia pasti sedang meeting!” teriak Azimah sambil melemparkan ponselnya ke kursi penumpang.
Tak lama Azimah pun sampai di sekolahan Anastasia. Tanpa menunggu lagi ia bergegas masuk ke dalam mencari Anastasia di kelasnya.
Seorang guru nampak menggendong dan yang lainnya mencoba menenangkan Anastasia. Azimah mendekat dan tersenyum ramah pada guru Anastasia di sela kepanikan yang sudah melandanya.
“Siang, saya Azimah Lu.. Kerabat Anastasia!” kata Azimah memperkenalkan diri.
“Ah iya. Selamat siang, Nona. Untung Anda cepat datang. Saat ini Anas sedang tertidur setelah menangis begitu lama” ujar seorang guru pada Azimah. Azimah mengangguk dan mengambil Anastasia dari gendongan guru tersebut. Lalu permisi untuk membawanya pulang.
Saat hendak menidurkan Anastasia di kursi mobilnya, Anastasia terbangun. Azimah dengan lembut menenangkannya walau Anastasia masih menangis sambil memeggangi perutnya.
“Ayah akan segera kemari, Anas jangan takut. Ada Kakak di sini. Anas duduk dengan baik, Kakak akan membawa Anas pulang. Katakan pada kakak jika rasa sakitnya sudah tak tertahan lagi!” ujar Azimah membujuk Anastasia.
Dalam perjalanan Azimah melewati beberapa klinik, Azimah hendak membawa Anastasia ke sana namun diurungkannya karena ia belum izin pada Andra. Azimah pun memantapkan dirinya untuk membawa Anastasia pulang saja.
Setelah menempuh perjalanan lebih dari 20 menit, mereka pun sampai di kediaman Andra. Azimah mengklakson beberapa kali agar penjaga bisa membantunya untuk membawakan barang-barang Anastasia, sementara Azimah menggendong Anastasia masuk. Membawa Anastasia kekamarnya di ikuti pelayan kepercayaan Andra yang ikut panik melihatnya.
“Nona, Apa yang terjadi dengan Nona Anas?” tanya pelayan Andra mengekori Azimah dengan wajah panik.
“Dia kembali mengeluh sakit perut, 'Bi” jelas Azimah smabil meletakkan Anastasia di tempat tidurnya.
“Ke mana Maria? Mengapa dia tak ikut bersama kalian?” tanya Pelayan tersebut yng tak melihat keberadaan orang yang di carinya itu.
“Siapa Maria?” tanya Azimah bingung.
__ADS_1
“Dia pengasuh Nona Anas. Ke mana dia?” ulang pelayan Andra itu.
Mengingat pengasuh Anastasia membuat Azimah menjadi kesal.
“Jangan tanyakan wanita itu, bahkan guru Anas sudah mencarinya tapi dia tak tahu pergi kemana!” kesal Azimah.
Pelayan itu nampak tak percaya namun kenyataannya memang begitu. Maria tak bersama dengan Anastasia..
Azimah kembali fokus dengan Anastasia yang terbaring lemah di atas tempat tidur sambil mengelus perutnya. Azimah membuka bajunya satu persatu dan mengganti baju yang sudah basah oleh keringat dan air mata. Kembali menenangkan Anastasia dengan menceritakan sebuah dongeng hingga Anastasia tertidur barulah ia beranjak meninggalkan kamar Anastasia.
Baru saja Azimah hendak mengambil air ke dapur, Maria pengasuh Anastasia berlari untuk mencari Anastasia di kamarnya namun segera Azimah hentikan.
“Mau ke mana kau?” tanya Azimah dengan suara lantang.
Maria menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Azimah..
“Aku ingin melihat, Nona Anas. Kata gurunya dia sudah pulang!” jawab Maria dengan wajah panik.
“Kau pengasuhnya? Mengapa kau tidak bersama dengannya? Apa kau tahu guru Anas mencarimu kemana-mana namun kau tetap tak ada di lingkungan sekolah Anas!” teriak Azimah meluapkan kekesalannya karena kecerobohan Maria.
“Maaf, tadi aku ada urusan sebentar!” jawab Maria sambil terus melihat ke kamar Anastasia.
“Sebentar katamu?” Azimah kian emosi mendengar jawaban Maria yang menurutnya hanya alasan saja. Yang membuat Azimah kian kesal karena tatapan Maria yang seolah menantangnya.
“Kau tahu, aku di sini sudah hampir dua jam lamanya. Kau bilang itu sebentar! Apa kau tahu karena ulahmu aku harus meninggalkan pekerjaanku!” geram Azimah menahan amarahnya.
Maria mendekat dan menunjukkan jari telunjuknya pada Azimah lalu berteriak dengan sangat lantang.
“Kau siapa? Mengapa kau begitu marah? Kau bukan ibunya! Ayahnya saja tak masalah dengan ini. Aku sudah bicara dengan Tuan Lee dan dia tak mempermasalahkan ini. Kau berani-beraninya berteriak padaku seolah kau adalah Ibu Anastasia" kata Maria dengan suara tinggi hingga mengundang semua orang rumah mendekat. Pada saat bersamaan, Andra datang dan mendengar keributan itu.
“Mari, jaga bicaramu! Kau melupakan sopan santunmu!” teriak Andra yang membuat semua orang diam. Azimah mengatur nafasnya dan menyesal karena membuat keributan di saat Anastasia sedang sakit.
Ia menatap Andra yang menampakkan wajah datarnya. Berjalan melewatinya dan masuk ke kamar Anastasia. Maria menyusul namun Azimah berdiam diri merasa aneh denagn tatapan Andra padanya
__ADS_1
* * *
...Bersambung ......