
Andra menahan Azimah agar tidak melakukan hal yang lebih besar lagi. Ia menarik Azimah untuk duduk namun Azimah menolak.
"Kau terlalu banyak bicara, Maria. Kau tidak berhak berkomentar atas apa yang tidak kau ketahui!" ujar Azimah dengan tatapan penuh kemarahan.
"Kenapa?" ujar Apa karena yang aku katakan memang benar adanya? Kau terlalu ingin mendominasi Tuan Andra sehingga meminta dia memecatku! Kau belum menjadi Nyonya rumah ini, tapi kau sudah ingin mengatur penuh apa yang ada di dalam rumah ini. Jika kau memang percaya Tuan Andra benar-benar mencintaimu, seharusnya kau tidak perlu merubah semua yang sudah ada. Kau hanya ingin membuktikan pada semua orang bahwa kau bisa membuat Tuan Andra melupakan istrinya padahal di dalam hatinya aku masih sangat percaya bahwa rasa cintanya pada Ibu Nona Anastasia masih sama besarnya seperti dulu" kata Maria meneriaki Azimah.
Azimah hendak maju namun Andra segera menahannya.
"Sudah, Azimah. Sudah!" pinta Andra.
Azimah hanya menatap Andra kesal seakan Andra membiarkan Maria untuk menghinanya.
"Maria, kemasi semua barang-barangmu. Maaf, mungkin ini tidak adil bagimu. Tapi kau terlalu banyak bicara tentang hubunganku dan Azimah yang seharusnya tidak kau ketahui" kata Andra pada Maria.
Maria hendak menahan dan meminta Andra untuk mempertimbangkan kembali keputusannya, namun belum sempat itu terjadi Andra sudah lebih dulu menarik Azimah kembali kekamarnya.
Azimah hanya diam menahan kesal. Ia kesal pada Maria juga pada Andra yang tidak membiarkan dirinya membalas semua yang Maria katakan padanya.
Setelah tiba di kamar, Andra menarik Azimah untuk duduk dan bicara. Namun Azimah mengabaikannya. Rasa kesal dalam hatinya saat ini lebih menguasai dirinya. Andra pun membiarkan Azimah untuk menenangkan dirinya dengan memberikan segelas air pada Azimah namun Azimah masih menatapnya dengan tatapan tajam.
"Minumlah!" paksa Andra sambil menarik tangan Azimah untuk menerima air pemberiannya.
Azimah mengambil air tersebut dan meneguknya hingga tandas. Setelah di rasa cukup tenang, Andra kembali bicara pada Azimah.
"Kenapa kau harus menampar Maria, Azimah? Bukankah semuanya bisa dibicarakan baik-baik?" ujar Andra mencoba bicara dengan nada pelan karena sebenarnya ia pun sama kesalnya dengan Azimah. Andra tidak menyangka jika masalah ini akan menjadi begitu rumit hingga membuat Azimah melakukan kekerasan pada Maria.
__ADS_1
"Apa menurutmu orang akan bisa bicara baik-baik dengan mulut Maria yang seperti itu! Dia mendikteku, Andra!" jawab Azimah yang masih terbawa emosi.
"Iya, aku tahu. Tapi, bukankah permintaanmu sudah aku penuhi. Setidaknya kau tidak perlu melakukan hal itu padanya. Memecatnya saja sudah membuat dia merasa tidak adil lalu kau menamparnya. Itu sudah berlebihan, Azimah" jelas Andra.
Azimah masih tidak percaya Andra akan membela Maria didepannya.
"Bela saja dia terus, sepertinya kau lebih membutuhkan dia ketimbang aku. Lalu kenapa kau tidak menikah saja dengan di ...,"
Belum sempat Azimah menyelesaikan kata-katanya, Andra sudah membungkam mulut Azimah dengan bibirnya hingga Azimah tidak bisa bicara maupun menghirup oksigen walau sedikit saja.
Azimah berontak karena ******* Andra yang cukup kasar dan menuntun. Azimah tahu betul itu bukanlah tautan mesra yang biasa Andra berikan padanya. Tautan mereka kali ini lebih didominasi oleh kemarahan dari Andra.
Setelah cukup lama Andra pun melepaskan tautan mereka yang tidak dibalas oleh Azimah. Nafas Azimah tersengal-sengal. Ia mencoba menghirup udara sebanyak mungkin untuk menetralkan kembali nafasnya.
"Kau gila! Apa kau mau membunuhku?" teriak Azimah.
Andra dan Azimah sama-sama diam. Andra yang berusaha mencoba meredam kemarahannya dan Azimah yang mulai takut karena Andra yang sudah diliputi kemarahan.
"Aku tidak tahu kenapa kau begitu membenci Maria. Hingga menginginkan dia pergi dari pekerjaannya. Tapi aku coba mengertimu dan menuruti permintaanmu itu. Tidak bisakah kau membiarkan aku menyelesaikan semuanya. Kau tidak harus melakukan kekerasan hanya untuk membuktikan bahwa kau bisa mengalahkannya" kata Andra menekankan semua kata-katanya pada Azimah.
"Azimah, aku sangat mencintaimu! Sangat! Apalagi yang harus aku katakan agar kau bisa mempercayaiku?! Kau ingin aku begini, aku lakukan untukmu. Kau ingin aku bersikap seperti ini akupun lakukan itu demimu, hanya karena kau. Tanpa keluhan sedikitpun. Tapi bisakah kamu memberiku ketenangan dengan tidak mengatakan perpisahan begitu mudah. Kau tahu, aku benar-benar takut kehilanganmu dan tolong beri aku rasa aman untuk hal yang satu ini. Tolong!" pinta Andra memohon.
"Apa kau kira saat ini kau tidak mengeluh? Aku tidak pernah memintamu untuk merubah dirimu demi aku. Kau sendiri yang menginginkannya. Jika kau memang tidak nyaman maka kau bisa mengatakan semuanya padaku! Bukankah jika kau menganggap aku pasangan, seharusnya kau lebih terbuka lagi padaku!" ujar Azimah.
"Iya, kau memang tidak pernah memintanya dariku. Aku yang melakukannya karena aku ingin memberimu rasa aman bahwa aku memang mencintaimu. Aku tidak ingin kau selalu berprasangka bahwa aku mencintai wanita lain termasuk Adelina sekalipun!" teriak Andra.
__ADS_1
"Dan aku juga pernah mengatakan padamu bahwa aku tidak pernah meragukan cintamu padaku, Andra. Aku bicara tentang perpisahan bukan berarti aku menginginkannya tapi lebih kepada karena aku ingin kita sama-sama menyadari bahwa hubungan kita lebih erat dari siapapun. Adakalanya mencintai lebih baik daripada memiliki jika harus saling melukai" kata Azimah.
Keduanya diam, mereka berpikir dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga akhirnya Azimah kembali membuka suara.
"Aku pulang!" kata Azimah.
Andra hanya menatapnya tajam. Masalah mereka belum usai dan Azimah sudah ingin pulang. Andra sendiri bisa pastikan bahwa jika Azimah pulang sekarang maka keduanya akan terlibat pertengkaran dalam waktu yang lama. Andra benar-benar sudah jengah dengan pertengkaran mereka namun ia sendiri bingung harus bagaimana menyikapinya.
"Kita tidak akan pulang sebelum masalah ini selesai!" kata Andra masih dengan tatapan yang tajam menusuk bola mata Azimah.
"Kita harus tenangkan diri masing-masing, And. Jika kita teruskan maka semuanya bisa lepas dari kendali kita" ujar Azimah lemah.
"Kita bisa menenangkan diri di sini. Aku tidak akan membawamu kembali dan kau tidak aku izinkan keluar dari rumah ini sebelum kita benar-benar menyelesaikan masalah ini" tegas Andra.
Azimah menatap tak percaya pada Andra. Bagaimana bisa Andra melarangnya pulang bahkan keluar dari rumahnya.
"Masalah apa lagi? Semuanya sudah selesai. Tidak ada yang harus kita selesaikan lagi. Kau sudah memecat Maria, lalu apa lagi?" tanya Azimah kesal.
"Aku tidak ingin kau pulang membawa kemarahan yang berakibat kita tidak saling tegur sapa dalam waktu yang lama. Aku bosan terus membujukku, Azimah" jelas Andra.
"Kita tidak memiliki masalah lagi, Andra. Hanya kau saja yang masih marah karena aku menampar wajah Maria-mu itu!" ujar Azimah sarkas.
Andra tidak menjawab, ia hanya menatap Azimah dengan tatapan kesal karena terus saja membawa Maria dalam masalah mereka terlebih Azimah yang menyebutkan Maria dengan imbuhan kata dibelakangnya.
"Diamlah di sini. Kalau kau berani keluar barang selangkah pun, maka aku tidak bisa menjamin bahwa aku bisa mengendalikan emosiku lagi!" ancam Andra.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Andra keluar kamar meninggalkan Azimah yang masih memandangnya tajam.