
Mentari memancarkan sinarnya dengan cerah, menerpa wajah Azimah dari celah-celah jendela. Azimah mengerenyitkan dahinya sebelum akhirnya ia membuka mata secara perlahan. Azimah menggeliatkan tubuhnya, meregangkan semua otot-otot tubuhnya hingga saat matanya bertemu dengan jam dinding barulah ia tersentak hingga nyaris melompat dari tempat tidur.
"Oh Tuhan aku terlambat lagi!" teriak Azimah yang langsung mencari kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Azimah telah siap dengan pakaian kerjanya. Ia berlari kecil sambil merapikan isi tasnya. Masuk sebentar ke ruang makan dan mengambil beberapa lembar roti kemudian mengolesnya dengan selai. Suasana dapur nampak sepi karena memang ia sudah melewatkan jam sarapannya.
Azimah mengoles cepat rotinya kemudian memakannya sambil berjalan dengan langkah yang lebar. Saat tiba di teras rumah ia nampak kaget karena mendapati mobil Andra sudah bertengger dengan dia yang duduk di belakang kemudi. Menyadari Azimah yang baru keluar, Andra pun menghampirinya.
"Kau terlambat?" tanya Andra kian membuat Azimah bingung.
"Apa aku sedang bermimpi karena terlalu memikirkannya?" gumam Azimah tak percaya.
"Hei ..., kau dengar aku?" tanya Andra sambil menjentikkan jarinya di depan wajah Azimah.
"Ah iya ..., Paman mau bertemu Ayah? tapi sepertinya Ayah sudah berangkat lebih dulu. Mobilnya sudah tak ada" jelas Azimah sambil memandang ke arah garasi rumahnya.
"Aku datang untuk menjemputmu, ayo!" seru Andra.
Azimah kembali bingung dengan sikap Andra. Namun ia tak bisa berpikir dengan benar sehingga mengikuti Andra begitu saja. Setelah duduk di dalam mobil Andra barulah Azimah tersadar.
"Paman, aku akan berangkat dengan mobilku saja" kata Azimah bingung sendiri.
Azimah hendak membuka pintu namun Andra sudah menguncinya terlebih dahulu. Azimah pun menoleh pada Andra namun Andra dengan santai mengemudikan mobilnya. Azimah hanya bisa menarik nafas panjang sambil memijat dahinya yang tak sakit.
"Apakah dia remaja yang labil sehingga tingkahnya selalu saja berubah-ubah?!" gerutu Azimah dalam hati.
Azimah tak ingin membuat pusing dirinya lagi. Ia pun memilih diam sambil mengunyah roti. Pandangannya tak pernah lepas dari luar jendela di mana jalanan yang mereka lalui masih terbilang ramai.
Selama perjalanan keduanya hanya diam. Azimah tak ingin memulai, ia terlalu lelah untuk mengerti semua sikap Andra. Ia pun hanya mengikuti cara Andra terhadapnya.
Saat lampu merah tiba-tiba ponsel Azimah berdering. Azimah melihat nama orang yang memanggilnya.
"Ronald?" gumam Azimah. Azimah pun mengangkatnya.
"Hallo, Ronald" sapa Azimah sesaat setelah menekan tombol hijau.
__ADS_1
Saat nama Ronald di sebut saat itu pula pandangan Andra teralih pada Azimah.
"Aku sedang berangkat, ada apa.?" Azimah bicara tanpa mempedulikan Andra.
"Begitukah? Baiklah, kau bisa menjemputku di jam makan siang. Aku tak bawa mobil." Andra semakin tajam menatap Azimah.
"Oke, sampai jumpa!" seru Azimah dan kemudian menekan tombol berwarna merah di layar ponselnya.
Panggilan itu terputus begitu saja menyisakan Andra dengan suasana hati yang tak karuan.
Azimah merasakan hal itu, namun ia terlalu enggan bertanya karena ia pun tak berhak untuk itu. Lalu ia kembali fokus dengan jalanan luar.
Sesampainya di kantor, Azimah mengucapkan terimakasih dan hendak turun, namun Andra menahan tangannya.
"Ada apa?" tanya Azimah.
Wajah Azimah berkerut heran melihat wajah Andra yang seperti orang bingung sendiri.
"Tentang kemarin, aku minta maaf," ujar Andra pelan. "Seharusnya aku tak bicara begitu" sambung Andra masih dengan suara yang pelan.
"Kau tak marah?" Andra masih cemas dengan tingkah Azimah yang sedikit berbeda pagi ini.
"Aku tak punya hak itu. Jadi untuk apa aku marah." Kata Azimah lugas. Namun hal itu sedikit mengusik Andra.
Azimah kembali hendak membuka pintu namun Andra kembali mencegahnya.
"Sungguh ..., aku terlalu panik. Aku hanya berpikir jika kau merasa terbebani dengan Anas. Kau tahu, aku ingin memulai hubungan denganmu namun aku pun harus memastikan keberadaan Anas di antara kita. Maaf jika aku terlalu jauh memikirkannya. Aku hanya ...,"
"Kau mencari seorang pendamping hidup atau seorang Ibu?" sela Azimah.
Andra mengerutkan dahi setelah Azimah menyelanya dengan pertanyaan yang membuatnya sedikit bingung.
"Aku ..., A-aku mencari keduanya" jawab Andra ragu. Terlihat sekali dengan wajahnya yang bingung. Namun Azimah tersenyum sinis padanya.
"Jika kau mencari seorang ibu untuk Anas, maka kau salah orang, Paman," kata Azimah. "Aku tak masalah dengan Anas, aku yakin aku bisa mengasuh dan merawatnya dengan tanganku sendiri. Tapi apa kau bisa mempercayai aku untuk merawatnya? Saat aku bicara seperti kemarin saja kau sudah marah. Kau tahu, itu aku katakan karena aku mengkhawatirkan Anas. Aku tak ingin Anas kenapa-kenapa hanya karena keteledoran Maria. Namun kau berprasangka lain padaku. Aku bisa menjadi keduanya, namun aku tak bisa menjadi seperti yang kau inginkan. Aku bukan benda mati yang selalu bisa menuruti semua keinginanmu" jelas Azimah hingga panjang lebar dengan mata yang membara.
__ADS_1
Andra terdiam mendengarnya. Belum sempat ia membuka mulutnya, Azimah sudah lebih dulu menekan tombol central lock dan langsung keluar dari mobil. Andra pun hanya bisa memandangi punggung Azimah dari kejauhan.
Azimah meninggalkan Andra dengan mata berkaca-kaca. Lagi-lagi ia menangis karena Andra.
"Aku lelah ..., aku lelah menunggu, lelah bersabar terhadapmu. Aku merasa perasaanku di permainkan di sini. Saat aku hendak menjauh kau datang dengan harapan yang tak pernah kubayangkan. Saat aku berusaha mendekat kau seperti ingin menyingkirkan aku begitu saja" lirih Azimah dalam hati.
Azimah mengatur nafasnya sebelum akhirnya ia memasuki gedung kantornya. Ia berusaha tersenyum pada orang-orang yang menyapanya. Ketika sampai di lift, ia menghembuskan nafasnya dengan berat. Beban yang lama kini muncul lagi...
Azimah menatap pantulan dirinya dari dinding lift. Ia tersenyum sinis pada dirinya sendiri mengapa ia terlalu rapuh jika sudah berhadapan dengan Andra. Keinginan yang kuat seolah tak berarti apa-apa ketika Andra sudah di depannya. Sebesar itukah pengaruh Andra terhadapnya....
Ting ...
Lift terbuka, Azimah pun langsung masuk keruangannya. Menenangkan hatinya sejenak lalu mencoba berkonsentrasi pada pekerjaannya. Di tengah pikiran yang berkecamuk, Azimah kembali menerima telepon.
"Sayang, kau berangkat bekerja?" tanya seorang wanita dengan lembut namun terdengar nada khawatir dari kata-katanya.
"Iya, 'Bu. Aku bekerja hari ini. Ada apa?" balas Azimah tak kalah lembutnya.
"Ibu kira kau sakit, maka dari itu Ibu tak membangunkan kau. Tapi tadi Bibi mengatakan jika kau berangkat bekerja terburu-buru dan di jemput Andra. Kenapa tak mencari Ibu?"
Lagi-lagi nama Andra di sebut. Membuat Azimah kembali mengingatnya.
"Aku sudah terlambat, 'Bu. Maaf" jawab Azimah
"Ya sudah, tapi kau tak sakit, bukan?" tanya Selma memastikan.
"Tidak. Tadi malam aku hanya terlalu lelah jadi tidur lebih awal. Jangan khawatir, aku tidak apa-apa" jawab Azimah meyakinkan sang ibu.
"Baiklah, Sayang. Jangan lupa untuk makan siang. Ibu tutup ya!" kata Selma mengakhiri percakapan mereka.
Panggilan pun terputus diiringi hembusan nafas Azimah yang berat. Azimah pun kembali memusatkan semua perhatiannya pada pekerjaan yang sudah ada di depan matanya. Ia memang bekerja di perusahaan ayahnya, namun ia tak ingin bekerja seenaknya saja. Meski Andreas tak mempermasalahkan hal itu, namun Azimah tak ingin semua yang ia kerjakan selama ini hanya di anggap sebagai dompleng nama ayahnya.
* * *
...Bersambung ......
__ADS_1