
Selma sedang menatap kesal Andreas yang tengah sibuk dengan laptopnya. Malam ini tak henti-hentinya Selma mengumpati Andreas, namun Andreas hanya tertawa dan semakin menggodanya.
"Aku tidak akan pernah masuk ruang kerjamu lagi, Iyas" kata Selma penuh amarah.
"Kita lihat saja nanti, Selma" goda Andreas pada Selma.
Selma terus menerus memarahi Andreas di kamar mereka. Bagaimana tidak, setelah percintaan panas di atas meja kerja Andreas. Selma yang mengira semuanya sudah usai namun ternyata perkiraannya salah. Andreas kembali memasukinya saat Selma sedang membersihkan sisa-sisa pergumulan panas mereka.
Dan permainan kedua itu lebih panas hingga membuat Selma menjerit berkali-kali dan berakhir di atas tempat tidur.
Setelah semuanya selesai dengan santainya Andreas membuka laptop dan mengerjakan pekerjaannya. Meninggalkan Selma yang mengeluh kesakitan di pangkal paha juga kaki serta lututnya. Pinggangnya pun tak tinggal diam, setiap anggota tubuh Selma seperti ingin membalas dendam padanya karena ia pakai lebih dari tiga jam untuk memenuhi keinginan Andreas.
"Bagaimana bisa dia memiliki tenaga begitu kuat hingga membuatku berakhir begini?" batin Selma.
"Apa yang kau pikirkan, Selma? Jangan bilang kau sedang memikirkan permainan kita tadi" goda Andreas.
"Hentikan, Iyas! Aku benar-benar ingin membunuhmu sekarang!" teriak Selma frustasi.
"Bunuh saja!" kata Andreas santai. "Tapi setelah membunuhku siap-siap kau akan kesepian tanpa kehangatan dan juga belaianku" ujar Andreas kembali menggoda Selma.
"Berhenti mengatakan kata-kata yang menjijikan, Iyas. Aku ingin muntah!" kesal Selma.
"Itu hukuman bila kau tidak mendengar apa kataku. Aku akan menghukum kau lebih jika kau berani membantahku sekali lagi" ujar Andreas lembut namun berhasil membuat Selma ketakutan.
"Aku lapar. Ambilkan aku makanan!" kata Selma keras.
"Baiklah, tunggu sebentar" jawab Andreas.
Andreas pun berlalu meninggalkan Selma yang masih duduk di atas tempat tidur sambil mengelus lututnya yang terasa ngilu.
Usia yang tidak muda lagi membuat Selma sering kewalahan mengimbangi permainan Andreas. Terlebih ia jarang berolahraga membuat tubuhnya terasa kaku dan rentan sakit jika terlalu lama di bawa bergerak.
Sementara Andreas, ia masih seperti lelaki yang baru beranjak dewasa dengan semua kekuatannya. Andreas juga rajin berolahraga sehingga membuat tubuhnya masih tetap kekar berisi walau usia yang sudah mencapai kepala empat.
Andreas melenggang ke dapur untuk mengambilkan makanan Selma. Di sana terdapat Anastasia dan juga Andra serta Azimah yang tengah menyuapi Anastasia makan. Mereka bingung melihat Andreas membawa piring dan mengisinya dengan menu makan malam hari ini.
"Untuk siapa makanan ini, Ayah?" tanya Azimah penasaran.
__ADS_1
"Untuk ibumu" jawab Andreas seadanya.
"Ini kenapa? Ibu sakit?" tanya Azimah.
"Tidak" jawab Andreas singkat masih sibuk mengisi piringnya dengan lauk pauk.
"Laluuntuk apa semua makanan ini dibawa ke atas jika Ibu sehat?" tanya Aizmah kian bingung.
"Ibumu sedang manja. Dia ingin Ayah melayaninya, seperti dia melayani Ayah selama ini" jawab Andreas kemudian berlalu meninggalkan semua orang yang masih bingung menatap kepergian Andreas.
Sepeninggal Andreas, Azimah dan Andra saling menatap. Mereka berdua berpikir apa yang sudah terjadi hingga Selma bisa bersikap demikian. Selma bukanlah orang yang akan manja dengan tiba-tiba jika tanpa sebab.
"Apa yang sudah ayahku lakukan hingga ia bisa menuruti semua kemauan Ibu?" ujar Azimah bingung.
"Bukankah Iyas selalu menuruti keinginan ibumu?" celetuk Andra.
"Memang benar, tapi sangat jarang Ayah bersikap seperti ini. Mungkinkah mereka sedang bertengkar?" terka Azimah.
Alih-alih menjawab, Andra malah mengacak rambut Azimah. Azimah mendengkus kesal karenanya.
"Semoga saja" jawab Azimah.
Sementara Andra hanya tersenyum melihat tingkah kedua sahabatnya.
"Tingkah kalian sudah pernah aku jalani bersama Adel dulu" batin Andra sambil menahan senyum.
"Kau kenapa?" sentak Azimah.
"Tidak ada. Aku hanya mengingat apa yang terjadi tadi sia ...," Azimah segera membekap mulut Andra saat Andra mengingatkannya pada pergumulan mereka tadi siang.
"Jangan bicarakan ini, And. Atau aku tidak akan menemuimu lagi!" ancam Azimah.
"Tapi kau menyukainya, bukan?" goda Andra.
"Aku akan membunuhmu jika sekali lagi kau mengatakannya" ancam Azimah lagi.
"Ayah kenapa, 'Kak?" tanya Anas menyela.
__ADS_1
"Ayahmu nakal" jawab Azimah cepat.
Andra hanya terkekeh melihat wajah Azimah yang bersemu merah. Ia bahkan bersikap jahil dengan mengelus kaki Azimah yang berada di bawah meja.
Azimah meliriknya, namun dengan santai Andra kembali mengunyah makanan seolah tak ada yang ia lakukan di bawah meja sana. Dan Andra pun mengulanginya lagi ketika Azimah kembali fokus pada Anas.
"Apa yang kau lakukan, And?" tiba-tiba saja Andreas datang dan mengagetkan keduanya.
Andra segera menghentikan kejahilannya sementara Azimah menunduk karena malu kembali di pergoki ayahnya.
"Jangan macam-macam di rumahku, atau kau akan merasakan akibatnya" kata Andreas yang hanya di tanggapi Andra biasa saja.
Azimah menendang kaki Andra agar memperhatikan sikapnya pada Andreas. Dengan cepat Andra membenarkan posisi duduknya.
Andreas yang melihat itu hanya tersenyum kecil. Ia pun menepuk pundak Andra dan berlalu meninggalkan keduanya.
Setelah Andreas pergi, Azimah memandangnya dengan tatapan tajam. Membuat Andra kebingungan.
"Ada apa?" tanya Andra pada Azimah.
"Perhatikan sikapmu di depan Ibu dan ayahku. Aku tahu kalian bersahabat, namun karena kau sudah menjadi kekasihku sekarang, maka kau harus memperhatikan sikap dan cara bicaramu pada mereka. Terutama di depan orang banyak" kata Azimah serius.
Andra kaget mendengarnya. Tidak pernah Azimah mengatakan hal ini sebelumnya walau sebenarnya apa yang Azimah katakan adalah benar.
"Saat kau ingin menjadi kekasihku, seharusnya kau tahu bahwa ini akan terjadi. Posisi Ayah dan ibuku bukan hanya sahabatmu lagi, namun akan menjadi orang tuamu jika kau benar-benar akan menjadikan aku istrimu" lanjut Azimah.
"Aku harap kau mengerti apa yang aku katakan ini. Aku mengatakan ini bukan karena tidak suka dengan cara kau, namun aku hanya ingin memberikan Ibu dan ayahku kehormatan yang seharusnya ia dapatkan dari kekasih putri mereka" tambah Azimah yang kembali membuat Andra diam tanpa kata.
"Baiklah. Aku akan merubah caraku pada mereka" jawab Andra.
Azimah kembali menyuapi Anas hingga selesai, sementara Andra diam tidak tahu harus bicara apa. Ia bingung apakah itu hanya sekedar peringatan atau kemarahan Azimah tentang sikapnya selama ini pada Selma dan Andreas.
Azimah meletakkan piring Anas yang sudah bersih ke tempat kotor. Lalu Azimah mengajak Anas untuk belajar di ruang tamu. Saat Azimah hendak meninggalkan ruang makan, ia melirik Andra yang masih duduk diam ditempatnya.
"Kau tidak ikut?" tanya Azimah pada Andra.
Merasa dirinya yang diajak bicara, Andra mengangguk pelan. Azimah pun melenggang ke ruang tamu di ikuti Andra dari belakangnya.
__ADS_1