
Hari berlalu sangat cepat, tanpa terasa hari sudah gelap dan siap menyambut malam. Selma tanggal sibuk di dapur membantu para pelayan untuk menyiapkan makan malam. Ia sedikit tidak bersemangat mengingat pertengkaran Azimah dan Andra tadi siang.
Sejak tadi siang, Azimah tidak keluar dari kamarnya. Sementara Andra juga demikian. Hanya berdiam diri di paviliun bersama Anastasia.
Selma merutuki dirinya yang terlalu mudah menanggapi sesuatu hingga akhirnya membuat banyak orang kembali mengurung diri masing-masing.
"Sayang ..., aku pulang!" Suara Andreas menggema di seluruh ruangan. Selma tidak mendengarnya karena ia terlalu larut dalam pikirannya. Hingga Andreas yang sudah berada didekatnya pun tidak Selma ketahui kedatangannya.
Cup ...,
Andreas mencium singkat kening Selma, membuat Selma menoleh kepada pelakunya. Namun sang pelaku hanya tersenyum menanggapinya.
"Iyas, apa yang kau lakukan? Di sini banyak orang!" ujar Selma dengan pipi bersemu merah.
"Kenapa memangnya? Aku mencium istriku sendiri, memangnya tidak boleh?" tanya Andreas berpura-pura tidak mengerti kalimat Selma.
Selma hanya diam sambil mengerucutkan bibir. Ia terlalu malas berdebat kecil dengan suaminya itu. Sebenarnya ia masih marah pada Andreas namun saat di depan orang banyak ia berusaha untuk bersikap seperti semuanya baik-baik saja. Ia masih kesal karena Andreas dengan seenaknya menerobos masuk ke kamar mandi tadi pagi saat dirinya masih berusaha untuk meyatukan otot-ototnya yang remuk akibat ulah Andreas kemarin.
"Kenapa dengan wajahmu?" tanya Andreas.
"Tidak kanapa-kenapa. Wajahku memang begini" jawab Selma acuh.
"Ayo, ke kamar!" ajak Andreas yang seketika mendapatkan lirikan tajam dari Selma.
Tidak menunggu Selma untuk berkomentar Andreas segera menarik tangan Selma untuk mengikutinya. Dengan keadaan tertarik Selma mengikuti langkah suaminya itu.
Sesampainya di kamar, Andreas mendudukkan Selma di tepi tempat tidur. Ia meraih sesuatu dari dalam sakunya dan mengeluarkan sebuah kotak hitam persegi panjang.
Selma mengernyitkan dahi melihat kotak tersebut, ia tidak tahu apa yang akan Andreas lakukan padanya melalui kotak itu. Namun saat Andreas membuka kotak itu barulah Selma mengerti.
Sebuah kalung dengan permata merah hati Andreas raih dari kotak itu. Menampakkannya pada Selma, namun Selma masih tertegun melihatnya.
*Untuk apa ini?" tanya Selma pada Andreas.
"Untuk melunakkan hati ratuku agar tidak terus-terusan marah padaku" jawab Andreas santai lalu membawa kalung tersebut menemui leher pemiliknya.
"Bukankah kau tidak suka jika ada yang mengganggu dirimu saat menjelajahi leher jenjangku?" tanya Selma sarkas.
__ADS_1
"Ah, kau benar. Baiklah, tidak usah saja" kata Andreas berusaha menjauhkan kalung tersebut dari leher Selma. Selma yang melihat itu langsung menatap tajam pada Andreas.
"Kau jauhkan lagi tanganmu barang satu senti saja maka aku akan tidur di ruang tamu malam ini" ancam Selma.
Andreas tersenyum dan segera memasangkan kalung itu di leher Selma. Selma tersenyum sambil memegang mainan kalung berwarna merah hati itu.
"Kau suka?" tanya Andreas.
"Suka. Tapi bukan berarti aku sudah memaafkanmu" jawab Selma yang kemudian melenggang pergi meninggalkan kamar menuju dapur lagi.
Andreas hanya menghembuskan nafas panjang, lagi-lagi ia belum berhasil membujuk Selma. Sebenarnya tadi pagi ia tidak ingin melakukannya, namun saat melihat Selma berdiri di bawah aliran air shower tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya, membuat hasrat Andreas kembali bangkit. Dan menyerbu Selma dengan ganas padahal Selma sudah berontak namun tetap saja ia melakukannya dan pada akhirnya, ia harus mendapatkan kemarahan yang berlipat dari Selma.
*
Selma kembali ke dapur, di sana sudah ada Azimah yang entah kapan sudah turun dan bergabung membantu para pelayan menyiapkan makan malam.
"Azimah ...," panggil Selma.
Azimah menoleh dan tersenyum, "Ya, Bu. Ada apa?" tanya Azimah yang kembali sibuk dengan pekerjaannya.
"Tidak ada, Ibu hanya terkejut melihat kau membantu para pelayan menata meja. Biasanya kau akan turun saat di panggil" jawab Selma seadanya.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Selma pada Azimah dan pelayan-pelayannya.
"Sedikit lagi, Bu" jawab Azimah.
"Ya, sudah. Biarkan saja. Sekarang kau panggil Anas dan Andra untuk makan malam bersama, Ibu akan memanggil Axel dan ayahmu. Sisanya biar para pahlawan yang menyelesaikannya" kata Selma.
Selma melangkah lagi ke lantai atas untuk memanggil putra bungsunya. Sementara Azimah perjalanan menuju paviliun.
Azimah masuk dengan santai dan mencari Andra dan Anas. Namun tidak ia temukan di ruang tamu. Azimah mencari ke ke kamar Andra. Dan benar saja, Anas sedang bermain di atas tempat tidur sementara Andra entah di mana ia berada.
"Anas ...," panggil Azimah.
"Kakak!" jawab Anas sambil tersenyum.
"Sayang, di mana Ayah?" tanya Azimah.
__ADS_1
"Kau mencariku, Honey?" kata seorang yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Azimah melirik sekilas lalu membuang muka, namun Andra malah mendekat padanya.
"Ada apa?" tanya Andra berbisik di telinga Azimah.
"Pakai bajumu! Kalian sudah ditunggu Ibu untuk makan malam" ujar Azimah berusaha untuk berbalik namun segera Andra tahan dengan memeluknya dari belakang.
"Andra, basah!" kata Azimah saat dipeluk Andra yang hanya mengenakan handuk melilit di bagian bawah tubuhnya.
"Kau sudah berjanji tidak akan marah lagi, jadi kenapa wajahmu masih ketus begitu saat melihatku?" tanya Andra begitu menggoda di sisi telinga Azimah.
"Andra lepas! Ada Anas di sini!" ujar Azimah mengingatkan.
Andra menoleh pada Anas yang memang sedang memperhatikan mereka berdua. Ia tersenyum pada Putri kecilnya itu.
"Sayang, temui Ibu Selma sekarang, dia mengajakmu untuk makan malam" ucap Andra lembut pada anaknya itu.
"Baik, Ayah" jawab Anas yang langsung menurut.
Setelah Anas pergi, Andra semakin gencar menggoda Azimah.
"Hentikan, Andra. Ibu sudah menunggu kita" kata Azimah berusaha keluar dari kungkungan Andra.
"Diam atau aku lakukan lagi!" ancam Andra yang seketika membuat Azimah berhenti bergerak.
"Good, Honey" ucap Andra yang kemudian mencium leher Azimah. Membuat Azimah semakin tidak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya mematung merasakan bibir Andra yang dingin menyentuh kulit lehernya.
"Pakailah bajumu. Kita harus makan malam, And" ucap Azimah pelan.
"Aku akan makan setelah kau membuang jauh wajah ketuk semua ini" jawab Andra.
Azimah membalik tubuhnya pada Andra. Ia tahu posisi ini tidak akan menguntungkannya. Namun Azimah tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak ingin membuat Selma curiga. Ia mencoba tersenyum semanis mungkin pada Andra namun ternyata hal itu malah membuat Andra gemas dan segera mencium Azimah.
Azimah yang tidak siap mendapatkan serangan tiba-tiba dari Andra hanya bisa diam. Andra menggigit bibir bawah Azimah agar ia membuka mulutnya dan berhasil. Dengan bebas Andra masuk dan mengabsen setiap inci rongga mulut Azimah.
Azimah mendorong Andra saat merasa tangan Andra mulai nakal. Ia menatap tajam pada Andra dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mengenakan pakaianku. Tunggu sebentar" ujar Andra mengakhiri permainan mereka dan segera beranjak menuju lemari pakaiannya. Sementara Azimah menghembuskan nafas panjang merasa lega bisa keluar dari pesona Andra.