
Azimah membatu. Tubuhnya menegang beriringan dengan kata-kata yang keluar dari bibir Andra. Nafas Andra menderu di telinga Azimah. Membuat Azimah semakin tak berdaya....
"Maaf aku terlalu lamban pada perasaanku. Beri aku kesempatan sekali lagi, tolong jangan menghindar..., aku benar-benar tak bisa jauh darimu..."
Azimah menelan salivanya kasar, merenggangkan pelukan Andra padanya dan Andra mulai melepaskan dekapannnya pada Azimah...
"Kau tahu, tidak semua kata maaf bisa membuat semuanya kembali seperti semula.." ucap Azimah. Andra kembali mencoba mendekap Azimah namun Azimah segera berdiri....
"Baiklah jika kau memang menginginkan maafku, aku maafkan kau namun mungkin kita tak akan bisa seperti dulu. Kau tahu, caramu begitu melukaiku!" lanjut Azimah. Andra kembali tak berdaya. Matanya nanar menatap mata Azimah yang mulai memerah...
"Bukan karena ciuman itu, demi apa pun bukan karena ciumanmu yang membuatku marah. Aku marah karena kau selalu datang dan pergi sesukamu. Kau bahkan tak mengatakan itu saat kau mendatangi atau pun meninggalkan aku" bendungan itu pun rapuh, tak bisa lagi menahan beban air yang semakin mendesak keluar dari tampungannya. Ia pun mengalir...
"Maaf..." Andra kembali memeluk Azimah. Menyatukan kenangnya pada Azimah dengan tangan yang mulai mengusap air mata Azimah...
"Apakah aku salah mencintaimu, paman?" lirih Azimah tak kuasa membuat Andra meneteskan airmata...
Suasana hening. Hanya terdengar deru nafas keduanya. Azimah tak lagi berontak atau meluapkan amarahnya. Ia hanya menundukkan kepala dan terisak...
Andra mengajak Azimah duduk, memberikannya segelas air dan terus mengusap lembut pipi Azimah. Sesekali memberikan kecupan kecil saat tangan yang ia pakai tak mampu menahan laju air mata Azimah keluar. Namun bukannya tenang, Azimah terus saja meneteskan air matanya...
"Kenapa setiap kali, saat aku hendak melupakanmu kau malah datang dengan kehangatan seperti ini...." ucap Azimah lirih...
Andra kembali mengecup kening Azimah, memeluknya lebih erat lagi...
"Tidak, kau tak boleh melupakan aku. Kau hanya milikku..." bisik Andra...
"Kau egois...."
"Tak mengapa jika itu bisa membuatmu terus bersamaku...."
"Ayah tak akan mengizinkanmu lagi..."
"Aku akan yakinkan Iyas dan Selma. Akan aku buktikan itu..., pegang kata-kataku" yakin Andra...
Selma menarik tubuhnya. Ia mendongak menatap mata Andra yang sedikit berair...
"Aku mencintaimu..." kata Andra pelan, namun menyentuh hingga ke dasar hati Azimah...
"Maaf, aku tak bisa meneruskan ini...., aku takut terluka lagi." balas Azimah...
Andra menarik kedua tangan Azimah. Mencium punggungnya dan tersenyum pada Azimah...
"Aku tak akan memaksamu, aku pun ingin berjuang mendapatkan hatimu kembali. Memulihkan kepercayaan yang sempat aku lukai. Aku pun ingin merasakan apa yang dahulu kau rasakan padaku. Tapi tolong, jangan hindari aku..., aku benar-benar tak bisa jauh darimu...." jelas Andra...
"Aku dan Ronald sudah resmi berkencan...," bohong Azimah...
Andra melepaskan genggamannya. Menatap Azimah dengan tatapan tak percaya. Azimah tak berani menatap Andra, ia takut jika Andra mengetahui kalau dia sedang berbohong...
"Aku mengikutimu setiap hari, kau tak pernah bertemu siapa pun setelah pertemuan terakhir kita. Kau pasti berbohong..."
"Aku sungguh-sungguh..., aku dan Ronald sudah berkencan. Kami mungkin akan segera bertunangan....," Entah dari mana Azimah bisa melontarkan kata-kata itu. Semua keluar begitu saja tanpa Azimah inginkan. Ia pun menyesali kata-kata yang sudah terlanjur ia ucapkan...
__ADS_1
"Tidak, aku yakin kau berbohong..." kata Andra masih tak percaya...
"Itu hakmu..."
Hening sejenak...
"Apa kau mencintainya?" tanya Andra ragu. Ia takut mendengar jawabannya. Ia takut terluka disaat ia sudah memutuskan untuk memulainya...
"Apa itu cinta? Aku tak ingin mengenalnya lagi. Bagiku itu hanya jalan yang akan membawaku pada penderitaan."
"Lalu kenapa kau bersama dengannya?"
"Karena Ronald bisa membuatku melupakan rasa sakit yang disebabkan olehmu..." tegas Azimah dengan mata lekatnya...
Mereka saling memandang. Sakit hati yang Azimah rasakan tersalurkan melalui sorot matanya saat ini...
"Beri aku kesempatan satu kali lagi. Aku berjanji aku akan membuatmu bahagia..." pinta Andra dengan memohon...
"Maaf, aku harus bekerja, paman. Aku sudah terlambat..." Azimah berdiri meraih semua berkasnya dengan cepat. Ia tak ingin berada terlalu lama dengan Andra. Itu akan membuatnya semakin rapuh dan akhirnya luluh kembali. Ia sudah berusaha untuk melupakan Andra. Azimah tak ingin usahanya sia-sia begitu saja...
Saat Azimah hendak melewati Andra, Andra menggapai tangan Azimah. Menahannya dalam genggaman sambil mendongak menatap Azimah...
"Aku akan terus mengejarmu...., aku anggap ini sebagai hukumanku karena telah mengabaikanmu..." genggaman itu terlepas dan Andra kembali menunduk...
Azimah pergi dengan kaki gontai. Ia tak tahu apakah keputusannya saat ini benar. Namun ia sudah berjanji akan memberikan kebebasan pada dirinya sendiri agar tak selalu terikat pada perasaannya. Ia tak ingin kembali terluka hanya karena hatinya yang mendominasi...
Setelah kepergian Azimah, Andra menyandarkan punggungnya. Memandang pada langit-langit kamarnya. Kenyataan bahwa Azimah dan Ronald telah bersama cukup membuatnya sesak. Tapi ia tak bisa berbuat banyak karena itu adalah keputusan Azimah. Tapi ia akan terus berusaha sebelum pertunangan mereka diresmikan....
Di tempat lain, Azimah bersiap untuk pulang. Baru saja ia hendak keluar ruangannya, Andreas sudah lebih dulu menemuinya...
"Ayah..."
"Kau bertemu Andra?" tanya Andreas tajam...
Azimah sempat ragu namun akhirnya ia menganggukkan kepala..
"Azimah, apa kau benar-benar mencintai Andra sehingga kau mengabaikan kebahagiaanmu sendiri? Kau berhak bahagia meski tak bersama Andra, Azimah..." jelas Andreas...
__ADS_1
"Ayah, ayah salah paham. Aku bertemu Andra untuk membicarakan soal pekerjaan. Ada beberapa hal yang Andra kurang setuju maka dari itu aku menemuinya..." dusta Azimah...
"..."
Andreas menatapnya dengan mata menyelidik....
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Aku tahu ayah mengkhawatirkanku. Tapi tenanglah, aku bisa melalui semua ini..."
".."
"Lagi pula, cepat atau lambat aku akan bertemu dengannya. Jadi tak ada gunanya untuk menghindari paman Andra lagi..." lanjut Azimah...
"Ayah percayakan semuanya padamu, tapi berjanjilah satu hal pada Ayah agar kau tak akan pernah menangis karena Andra lagi..."
Azimah hanya tersenyum menanggapinya. Baginya Andreas adalah sosok ayah yang selama ini ia inginkan. Sosok yang selalu bisa menenangkannya juga mengajarinya banyak hal. Dengan berada bersama Andreas, dirinya merasa terlindungi..
Azimah menarik lengan Andreas, mengajak Andreas untuk keluar dari ruangannya. Ia tak ingin pembicaraannya kembali membuatnya berbohong lagi dan lagi...
\*\*\*
NB:
Ingin tahu cerita sebelumnya dari Azimah. Baca karya novelku "Pernikahan kontrak".
Baca juga, ceritaku yang lainnya...
"Haruskah aku mengalah pada takdir?"
__ADS_1
Terimakasih!