
Azimah lebih dulu masuk ke ruang makan, meninggalkan Andra yang masih bersiap dikamarnya. Selma menatap aneh kedatangan Azimah yang terkesan buru-buru dan bingung. Namun mengingat kembali pertengkaran Azimah dan Andra membuat Selma tidak mempertanyakan hal itu lagi. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri agar tidak mencampuri urusan anak sulungnya itu.
"Azimah, di mana Andra?" tanya Selma sesaat setelah Azimah mendaratkan pantatnya di atas kursi.
"Dia sedang bersiap, Bu" jawab Azimah seadanya.
Azimah melirik Anastasia yang tengah duduk sambil bersenandung ringan ala anak-anak. Azimah menanyai Anastasia untuk makan dengan lauk apa. Anastasia pun menjawab dengan keinginannya, ia menunjuk beberapa buah piring yang berisikan lauk favoritnya.
Dengan sabar dan telaten, Azimah mengurus Anastasia. Semua tingkah laku Azimah itu tidak luput dari pengamatan Selma, ia tersenyum karena anaknya itu bisa mengurus Anastasia dengan baik. Meski Selma tidak terlalu mendukung hubungan Azimah dan Andra, namun jauh di dalam hatinya ia senang jika Anastasia mendapatkan Azimah sebagai ibunya. Karena jujur saja, Selma sudah menyayangi Anastasia layaknya anak kandung yang ia lahirkan sendiri.
"Kau kenapa tersenyum?" sentak Andreas mengagetkan Selma.
"Tidak apa-apa!" jawab Selma dengan nada ketus karena masih menyimpan kesal pada Andreas. Andreas hanya menggeleng pelan melihatnya. Andreas tahu konsekuensinya jika membuat Selma marah. Dan beginilah, Andreas harus menerima sikap ketus dari istrinya itu hingga beberapa hari kedepan. Karena memang saat Selma marah ia akan menghabiskan waktu seminggu lebih untuk kembali bersikap seperti semula.
'Seharusnya kau tahu, batu permata mahal tidak akan membuat dia membaik padamu' batin Andreas.
Tak lama Andra bergabung dengan mereka semua di ruang makan. Ia duduk di sisi Anastasia yang langsung berdekatan dengan Andreas. Ia mengusap kepala anaknya itu pelan. Tinggal di kediaman keluarga Lu membuat Anastasia sedikit berisi hingga pipinya membulat sempurna layaknya kue bakpau. Melihat hal itu kembali menyadarkan Andra bahwa Anastasia memang tidak begitu terurus ditangannya.
Makan malam selesai, membawa semuanya duduk tenang di ruang keluarga sambil menikmati hidangan penutup. Selma tengah asik bercengkrama dengan Axel tentang pelajaran Axel, sementara Azimah masih sibuk menyuapi Anastasia yang kini telah berganti sebuah puding. Sedangkan Andreas dan Andra nampak duduk di pojok ruangan sambil menikmati kopi dan rokok mereka.
"Sepertinya kita mendapatkan penyerangan setelah aku melaporkan mereka semua tadi pagi" ujar Andreas.
__ADS_1
"Itu sudah pasti. Tidak mungkin mereka akan tinggal diam dengan semua yang kita lakukan. Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Andra.
"Aku masih memikirkannya. Selama ini masih berada dalam lingkup perusahaan, aku masih bisa tenang. Namun berbeda jika mereka sudah menyentuh anggota keluargaku. Aku harap hal ini tidak menjadi pilihan mereka. Aku sudah bosan berurusan dengan senjata. Bahkan aku sudah lupa dengan cara menggunakannya" kata Andreas berusaha nampak tenang.
"Aku harap juga demikian. Aku enggan mengotori tanganku dengan semua ulah mereka. Namun jika sampai itu terjadi, maka mau tak mau kita harus menggunakan cara lama" ujar Andra menambahkan.
Andreas nampak mengangguk menyetujui.
"Menjadi pemimpin ternyata tidak bisa benar-benar bersih juga tidak bisa benar-benar kotor. Terlalu yakin menjadi bumerang tidak percaya diri maka akan terhenti di tengah jalan" keluh Andreas di sela-sela aktivitasnya menghisap batang nikotin itu.
Andra tersenyum mendengarnya. Tidak pernah ia lihat sahabatnya itu menyerah pada keadaan. Itu seperti bukan Andreas yang ia kenal. Namun Andra setuju dengan pernyataan Andreas tadi.
"Itulah mengapa aku lebih memilih menjadi arsitek ketimbang seorang Presdir. Namun ternyata takdir menginginkan hal lain. Ia sepertinya menginginkan kita tidak meninggalkan sepenuhnya kebiasaan lama kita itu" kekeh Andra mencoba mengurangi kekakuan obrolan mereka.
"Aku takut tidak bisa melindungi anak dan istriku, And" ucap Andreas secara tidak sadar.
Andra menepuk lengan Andreas berusaha untuk menguatkannya.
"Jangan mengeluh seperti ini, kau tidak seperti biasanya yang selalu yakin dengan apa yang kau kerjakan, Iyas" ujar Andra mencoba membangkitkan kembali semangat sahabatnya itu.
"Bukan karena apa, usiaku sebentar lagi akan menginjak setengah abad. Jujur aku ingin tenang melewati masa senjaku. Bersantai menikmati teh bersama Selma, jika Tuhan cepat mengirimkan jodoh pada anak-anakku, mungkin saja aku bisa menemani cucuku bermain" ucap Andreas menerawang jauh pada keinginannya akan masa senjanya.
__ADS_1
"Kau akan melihat itu. Lagi pula, masih beberapa tahun lagi untuk mencapai setengah abad, Iyas. Dalam waktu itu, banyak yang bisa terjadi dan dilakukan. Jalani saja dulu, Tuhan akan mengabulkan keinginanmu secara bertahap" jelas Andra kembali memberi semangat pada Andreas.
"Kau benar, karena mungkin setelah masalah ini selesai kau akan segera menikahi Azimah" celetuk Andreas yang membuat Andra salah tingkah namun juga membuat hatinya berbunga.
"Mungkin juga sebelum itu" jawab Andra seakan menginginkan reaksi lebih dari Andreas.
"Jangan macam-macam, aku peringatkan kau! Jangan hamili Azimah sebelum semuanya selesai, And. Aku tidak main-main dengan yang satu ini. Masalah kita tidak sepele, musuh kita tidak pasti. Aku harap kau akan mempertimbangkan semuanya" peringat Andreas yang langsung di tanggapi Andra dengan acungan jempolnya.
Sebenarnya Andra juga tahu akan hal itu, itulah mengapa ia memilih menuntaskan pelepasan Azimah saja dan melarikan diri ke kamar mandi untuk bermain solo mencapai pelepasannya. Andra tahu, ia tidak akan menahan diri jika sudah memasuki Azimah, ia tidak ingin meninggalkan Azimah sebuah beban jika masalah yang mereka hadapi belum selesai.
"Lalu kapan aku bisa ke kantor? Aku bosan di berada di rumah tanpa melakukan aktivitas apapun" ujar Andra.
"Kau bisa ke kantor kalau lukamu sudah membaik. Tapi sepertinya kau memang ingin terus menjadi pasien agar Azimah terus merawatmu" sarkas Andreas.
"Besok aku akan ke kantor" jawab Andra yakin karena ia memang perlu pelarian saat ia merasa bahwa kini ia tidak bisa melepaskan Azimah sedikitpun.
"Lebih cepat lebih baik" jawab Andreas santai.
Hanya kedua pria itu yang mengetahui isi otak masing-masingnya. Orang akan berpikir bahwa obrolan itu hanyalah obrolan ringan semata namun yang mereka tidak tahu adalah setiap kalimat dan kata memiliki arti yang berbeda.
Selma mendekat setelah Axel selesai mengerjakan tugasnya. Sementara Azimah sudah tidak tahu ke mana membawa Anastasia. Mereka bertiga bergabung untuk mengobrol singkat.
__ADS_1
"Sepertinya kau mendapat hadiah hari ini, Selma?" ujar Andra pada Selma. Andra tidak tahu namun ia merasa hari ini Selma menjaga jarak darinya, apakah itu karena perdebatan mereka tadi pagi? Entahlah, namun Andra tidak ingin semuanya berubah meski ia kini sudah berstatus sebagai kekasih Azimah. Yang ia inginkan kedua sahabat karibnya itu tetap bersikap biasa seperti sebelumnya meski itu mungkin sulit di terima keduanya.