
Azimah merasa malas untuk makan malam karena ia tahu bahwa ia akan bertemu dengan Andra. Tapi tanpa di duga, Andra mengantarkan makan malam untuknya ke kamar.
Dan di sinilah mereka, berdiri di muka pintu, saling menatap dengan wajah yang berbeda. Azimah menatap dengan muka terkejutnya sedangkan Andra tengah tersenyum sambil membawa nampan di tangannya.
"Makan malammu, Sayang" kata Andra dengan wajah tanpa dosa menatap Azimah.
"Terimakasih." Azimah mengambil piring nampan yang ada ditangan Andra dan segera menutup pintu namun Andra tahan.
"Ada apa lagi?" tanya Azimah datar.
"Kau tidak lihat porsinya? Itu untuk dua orang dan aku membawanya untuk kita berdua" jawab Andra santai.
"Kalau begitu kau bisa membawanya lagi, aku tidak lapar" kata Azimah yang langsung menyodorkan nampan tersebut pada Andra.
"Kau tidak bisa mengembalikan apa yang telah kau ambil, sepertinya kau yang telah mengambil hatiku" ujar Andra dengan tingkah menggemaskan dan dibuat-buat.
"Keluarlah! Aku ingin beristirahat. Jika Ayah dan Ibu lihat makaa ...,"
"Mereka mengizinkan aku untuk kemari, jadi kau tidak perlu khawatir. Kita makan saja, dan aku tidak menerima penolakan, Sayang." Andra merangkul azimah untuk duduk di sofa yang terdapat dikamarnya. Sementara Azimah yang tidak mengerti dan tidak siap hanya bisa mengikuti Andra. Mereka pun duduk di sofa tersebut.
Andra mengamati seisi kamar Azimah, tidak ada yang mendominasi di ruangan tersebut kecuali warna yang digunakan kebanyakan menggunakan warna pastel. Andra juga tidak mendapatkan koleksi, boneka, tas, sepatu, seperti yang biasa wanita-wanita koleksi pada umumnya, namun di kamar Azimah ia tidak melihat semua itu. Yang terlihat hanya kamar yang rapi dan sangat harum, membuat Andra betah berada dikamarnya.
"Aku suka kamarmu" kata Andra di tengah-tengah aktivitas makan mereka.
"Ya, kau kau selalu menyukai sesuatu yang seharusnya tidak sukai, seperti aku mungkin?" ujar Azimah sarkas.
__ADS_1
Andra tersenyum dan duduk lebih mendekatkan diri pada Azimah. Azimah menatap Andra dengan jengah walau sebenarnya hatinya menyukai Andra yang lebih ekspresif seperti ini.
"Aku tidak hanya menyukaimu, aku bahkan sudah memakanmu. Apa kau lupa, Sayangku" bisik Andra menggoda Azimah yang seketika membuat Azimah membulatkan mata mendengar kata-katanya.
Azimah memukul dan mendorong Andra hingga menjauh darinya. Mukanya memerah karena Andra mengingatkannya pada pengalaman pertamanya yang panas.
"Dasar mesum!" teriak Azimah.
Andra hanya tertawa melihat wajah Azimah yang sudah memerah seperti udang yang sudah dibakar. Wajah kesal seperti ini sudah Andra tunggu-tunggu sedari tadi.
"Kau, berhenti memanggilku sayang. Bukankah tadi aku sudah mengatakan bahwa kita lebih baik sendiri-sendiri dulu" kata Azimah.
Keadaan hening, Andra kini bingung untuk menanggapinya, di dasar hatinya ada ketidakrelaan jika Azimah mengatakan itu semua padanya. Ia pun berusaha mengabaikan hal tersebut dan terus menjahili Azimah.
"Dengarkan aku, aku tidak akan pernah pergi sekalipun kau usir, karena kau adalah rumahku" jawab Andra santai.
"Jangan seperti itu, Sayang. Nanti rindu bagaimana?" goda Andra.
"Hentikan, And. Biarkan aku sendiri dulu. Aku perlu waktu untuk menerima keadaan ku dan memikirkan keadaan kita kedepannya" kata Azimah.
"Aku mengizinkan itu, tapi kau pun tidak bisa menolak kedatanganku. Karena kau tahu, pertengkaran adalah awal dari sebuah kehancuran hubungan dan aku tidak ingin kita terlalu berlarut-larut dalam pertengkaran ini. Aku tahu kau marah, kau kesal padaku. Tapi semarah atau sekesal apapun kau padaku, aku hanya ingin kita tetap berkomunikasi walau hanya sekedar saling menyapa setiap harinya" jelas Andra.
"Bukan berpisah namanya" gerutu Azimah.
"Tentu saja bukan! Karena aku tidak akan pernah berpisah lagi denganmu" kata Andra yang kini mulai menarik tangan Azimah dan menggenggamnya erat.
__ADS_1
"Sayang, aku benar-benar mencintaimu. Maafkan cara mencintaiku ini yang tidak seperti keinginanmu. Aku hanya tidak bisa mencintai kamu seperti yang kau inginkan bukan berarti aku tidak mencintaimu. Aku benar-benar mencintaimu, sungguh!" ucap Andra serius.
Azimah tidak bisa menjawab Andra lagi, ia kehabisan kata-kata untuk menjawab kata cinta padanya.
"Bukankah sudah aku katakan bahwa aku tidak pernah melakukan rasa cintamu padaku. Aku hanya mau minta kau menyimpan semua tentang masa lalu kau dan Bibi Adelina di dalam hatimu. Dan tidak mengumbarnya di hadapanku. Karena bagaimana pun, aku memiliki perasaan padamu dan ketika kekasihku menyebutkan wanita lain sekalipun aku tahu bahwa hal yang tidak mungkin bersama lagi tapi aku tetap manusia biasa yang juga merasakan cemburu. Aku cemburu melihat kau terus saja mengingat kenangan kalian sedangkan aku disini sudah siap berdiri untuk meraih masa depan denganmu" ujar Azimah.
"Aku tahu, kedepannya aku tidak akan melakukan hal yang sama lagi. Aku akan mengubur semua kenangan kami di dasar hatiku. Tolong beri aku kesempatan untuk membuktikannya padamu, Azimah" mohon Andra.
Azimah diam. Ia kembali bimbAn0draang akan perasaanya. Mengubur semua kenangan antara Andra dan Adelina bukanlah hal yang mudah. Bagaimana pun mereka berdua pernah menghabiskan waktu bertahun-tahun bersama.
"Entahlah, And. Aku tidak tahu. Apakah aku siap kedepannya untuk menerima semua perasaan terpendam itu. Karena mengingatnya saja membuatku hati" jawab Azimah.
"Kau hanya perlu mengingatkan aku jika aku kembali melakukan kesalahan. Dan kita bisa terus membawa hubungan kita ini menuju kebahagiaan yang kita inginkan. Namun jika kau menyerah, maka hubungan yang sudah kita berdua perjuangkan ini akan sia-sia begitu juga dengan kebahagiaan yang kita harapkan. Aku benar-benar ingin menjadikanmu milikku seutuhnya, merancang masa depan yang bahagia bersama dengan anak-anak kita. Mungkin dengan begitu perlahan tapi pasti bayangan tentang Adelina akan hilang dengan sendirinya dari hatiku" kata Andra.
Azimah kembali bungkam. Apa yang Andra katakan padanya ada benarnya, namun entah kenapa ia merasa hatinya tidak bisa selapang itu untuk menerima kehadiran Adelina di hari-hari mereka kelak.
"Tolong beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa kau satu-satunya wanita yang ada dalam hidupku, yang akan menemani sisa usiaku dan yang akan menua bersama denganku" pinta Andra.
"Aku lelah, lebih baik kau kembali. Aku ingin istirahat" kata Azimah menolak memperpanjang lagi percakapan mereka,karena semakin mereka membicarakan Adelina maka semakin sesak yang Azimah rasakan.
"Azimah, tolonglah!" pinta Andra lagi.
Namun Azimah seperti menuli, ia naik ke atas ranjang, mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur. Kemudian menarik selimut hingga ke atas dadanya.
Andra hanya diam, ia tidak bisa terus-menerus memaksa Azimah karena mungkin ini akan memperparah pertengkaran mereka. Ia pun menyerah untuk malam ini. Dan akan kembali mencoba lagi besok dan seterusnya. Hingga Azimah luluh dan memberikannya kesempatan lagi.
__ADS_1
Andra berdiri, mendekat pada ranjang Azimah. Sedikit membungkukkan tubuhnya, kemudian mencium kening Azimah.
"Selamat tidur, Sayang. Semoga mimpi indah. I Love You" ucap Andra dan segera pergi meninggalkan kamar Azimah.