Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)

Andra Dan Azimah (Pernikahan Kontrak 2)
66


__ADS_3

Andra membuka mata dan mendapatkan Azimah yang berada dihadapannya. Ia menatap sekelilingnya, mengusap wajahnya kasar dan beranjak untuk duduk.


Andra menghembuskan nafas kasarnya setelah mengetahui bahwa apa yang ia rasakan tadi hanyalah mimpi. Dengan cepat Andra memeluk Azimah yang duduk menatapnya cemas.


Pelukan itu sangat erat hingga membuat Azimah kesulitan mengambil nafas. Namun seperti tidak ingin melepaskan Azimah, Andra kian mempererat pelukannya hingga akhirnya Azimah membuka suara.


"Andra, lepas! Aku sesak" ujar Azimah dan Andra segera mengurai pelukannya.


Andra berdiri dan berjalan menuju kamar mandi, Azimah hanya menatap Andra tanpa ada yang ia katakan sedikitpun. Namun satu yang ia tahu apa yang menyebabkan Andra seperti saat ini, yaitu Adelina.


'Pasti dia baru saja memimpikan Bibi Adelina' batin Azimah.


Azimah tidak tahu harus berbuat apa, ia mengitari kesekeliling kamar dan tertuju pada jam dinding yang membuatnya seketika panik.


'Astaga, aku pasti tertidur saat menidurkan Anas. Oh Tuhan, Ibu pasti akan menghukumku jika dia melihat aku tidur bersama Andra' ujat Azimah pelan seakan tidak ingin membangunkan Anas. Tanpa menunggu Andra keluar dari kamar mandi lagi Azimah segera meninggalkan kamar Andra.


Azimah berjalan menuju rumah utama dengan mengendap-endap. Ia tidak ingin terjebak oleh ibunya di waktu larut seperti ini. Masuk dengan kaki yang berjinjit dan kepala yang celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri, setelah di rasa aman, Azimah kembali melangkahkan kakinya yang hanya setengah menapak itu.


Lampu di ruang tamu dan ruang keluarga sudah padam semua menandakan tidak ada lagi orang yang berada di ruangan tersebut. Azimah bernafas lega dan segera berlari kecil menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar, Azimah dengan cepat menutup pintu kamar dan mengatur nafasnya yang tersengal dibalik pintu itu.


"Untung saja Ibu sudah tidur!" kata Azimah bersyukur.


Azimah segera menaiki ranjangnya. Ia ingin meneruskan tidurnya mengingat saat ini baru pukul dua dini hari. Masih ada beberapa jam untuknya memanjakan matanya. Dengan yakin Azimah menarik selimut.


*

__ADS_1


Andra keluar dari kamar mandi dan tak mendapati Azimah lagi di kamarnya. Ia menarik nafas dalamnya. Merutuki kebodohannya yang mengabaikan Azimah setelah Azimah melihatnya memanggil nama wanita lain.


'Wanita lain? Tidak, Adelina bukan wanita lain. Dia istriku! Azimah pasti mengerti. Aku yakin itu' ujar Andra bermonolog sendiri.


Andra kembali ke tempat tidur, berbaring di sisi Anastasia dan mengubah lampu dengan mode tidur. Ia memeluk Anastasia dengan erat. Bayangan Adelina yang terjun bebas membuatnya merasakan nyeri di ulu hati. Semua terasa nyata baginya. Dan itu sangat menyakitkan.


Bukan melihat kepergian Adelina yang menyakitkan, melainkan permintaan Adelina padanya. Mengingat itu Andra merasa kesal sendiri. Namun ia memaksakan diri untuk tidur mengingat besok ia akan kembali ke kantor untuk menyelesaikan urusan yang sudah tertunda begitu lama.


*


Hingga pukul tiga mata Azimah enggan terpejam. Semua cara sudah ia lakukan namun matanya itu masih setia menemani malam menuju sunrice-nya.


Azimah menarik ponsel yang terdapat di atas nakas sebelah tempat tidurnya. Ia membuka dan berselancar di dunia maya hanya untuk mencari kantuk dan juga untuk menghilangkan rasa bosannya.


Jari-jari Azimah masih berada di atas layar ponselnya. Melihat beberapa postingan teman-temannya dan juga memberikan komentar di sana.


Nomor Andra sudah berada tepat di bawah ibu jarinya. Satu sentuhan lembut saja Azimah sudah berhasil menghubungi Andra, namun Azimah ragu untuk melakukannya. Ia ragu mengingat betapa menyakitkannya wajah Andra saat ia bermimpi tentang Adelina.


Azimah kembali menutup ponselnya itu. Ia memilih untuk berbaring sembari memeluk boneka kesayangannya. Mencoba memposisikan diri sebagai Andra agar bisa menenangkan suasana hatinya yang sedang kacau saat ini. Namun ternyata itu tidak berhasil. Dengan nafas berat Azimah bergumam ...,


"Bibi Adelina adalah ibu Anas. Aku tidak akan bisa menggantikannya. Bibi Adelina juga istri Andra, sekalipun nanti aku akan menjadi istrinya akan selalu ada posisi khusus untuk Bibi Adelina. Ternyata bersaing dengan seseorang yang tidak nyata namun perasaan yang masih nyata itu sulit" gumam Azimah yang berakhir dengan senyuman sinis mengejek dirinya sendiri.


Tanpa sadar Adelina terlelap membawa kesadaran bahwa sampai kapan pun ia tidak akan pernah bisa bersaing dengan Adelina.


*


Matahari kembali menyinari semesta, melakukan tugasnya sebagai ciptaan Sang Esa. Azimah membuka selimutnya perlahan, beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandinya. Hari ini ia terlambat bangun, tentu saja karena semalam ia tidak bisa tidur dengan nyenyak.

__ADS_1


Adelina melepas semua bajunya, berdiri di bawah shower yang siap menyirami tubuhnya saat ini. Matanya masih malas untuk terbuka lebar, begitu pun dengan semangatnya yang entah hilang kemana. Namun ia memaksakan diri untuk mandi hingga akhirnya guyuran air shower membuat Azimah tersadar bahwa jalan yang akan ia lalui semakin berat setelah hari ini.


Tiga puluh menit membersihkan diri di kamar mandi membuat badan Azimah terasa segar. Sejenak pikirannya kembali normal meski sepenuhnya tidak berada ditempatnya.


Azimah berdiri di depan sebuah lemari yang berada di ruang gantinya. Ia menanggalkan handuk karena memang ia tidak bisa mengenakan pakaian dengan handuk yang masih melilit tubuhnya.


Azimah memakai ********** namun saat ia melihat pantulan dirinya di cermin Azimah terpaku. Tanda merah keunguan itu mengingatkan lagi permainan panasnya dan Andra. Dengan berat Azimah kembali meraih atasannya. Memakainya dan segera pergi meninggalkan ruang ganti tersebut.


Setelah rapi Azimah keluar kamar berniat untuk sarapan, namun yang ia dapatkan ruang makan sudah sepi. Dengan langkah gontai Azimah mendekat pada meja makan. Azimah memanggil seorang pelayan yang baru saja lewat di sekitarnya.


"Bi, tolong siapkan sarapan untukku" ujar Azimah pada pelayan itu.


Pelayan itu dengan cepat mengerjakan tugasnya karena memang mereka sudah di latih kepala pelayan agar serba bisa. Tidak lama sarapan Azimah pun tersedia.


"Di mana ibuku, 'Bi?" tanya Azimah sambil menyendok sarapannya.


"Nyonya sedang berada di paviliun bersama Nona Muda Anas" jawab pelayan itu.


"Apa semua orang sudah sarapan?" tanya Azimah yang seharusnya ia sendiri sudah ketahui jawabannya. Namun ia merasa malu mengatakan maksud dari pertanyaan tersebut.


Seperti mengerti apa yang Azimah pikirkan, pelayan itu menjawab pertanyaan Azimah.


"Sudah, Nona Muda. Tuan Besar sudah pergi sangat pagi bersama Tuan Besar Lee" jawabnya.


Azimah sedikit mengeryitkan dahi mendengar Andra pergi bersama Andreas.


"Apa ada yang lain, Nona Muda?" tanya pelayan yang mungkin usianya tidak berbeda jauh dari Azimah.

__ADS_1


"Tidak, terimakasih. Kau boleh pergi!" kata Azimah memberi izin. Pelayan itu pun pergi meninggalkan Azimah dengan sarapannya.


__ADS_2