
Azimah mendekatkan wajahnya pada bukti kelelakian Andra yang tengah berdiri gagah di depannya itu. Dengan ragu ia menciumnya perlahan. Aroma aneh menyeruak kedalam hidungnya, aroma yang Azimah sendiri tidak pernah mencium baunya, namun ia menyukai aroma itu.
Perlahan Azimah memasukkannya ke dalam mulut. Menjilatnya seperti sedang menjilat ice cream dan Andra menikmati permainan Azimah di bawah sana. Ia menutup mata sambil memajukan pinggangnya dengan irama pelan nan teratur.
Cukup lama Azimah bermain di sana. Ia hampir kehabisan nafas karena rongga mulutnya yang tersumpal sempurna oleh kelelakian Andra. Kini Azimah melepaskan benda yang mulai ia sukai itu. Sisa salivanya membuat daging keras itu mengkilap saat tersapa cahaya lampu. Dan tibalah giliran Andra kini.
Andra mendorong Azimah hingga terlentang ke atas ranjangnya. Ia membelai Azimah dengan kecupannya. Dari kening, dan kedua bola mata Azimah, bergeser ke pipi Azimah. Kadang Andra memainkan deru nafasnya ke telinga Azimah membuat Azimah menggelinjang kegelian. Setelah puas ia turun ke ceruk leher Azimah hingga ke dadanya.
"Aahh ..." kembali desahan Azimah keluar tanpa hambatan tatkala Andra memainkan puncak gunung kembar Azimah dengan lidahnya.
Azimah meraih kepala Andra, meremasnya kuat seakan ingin membagikan perasaannya saat ini. Andra pun semakin bergerak liar di atas tubuh Azimah. Tangannya pun kini tidak diam saja, ia meraih kain segitiga yang masih menutupi bagian bawah tubuh Azimah dan dengan pelan ia membukanya di bantu Azimah yang juga membiarkan kain tersebut lolos melalui kaki jenjangnya.
Tangan Andra bermain pada pangkal paha Azimah, menyentuh tonjolan kecil di sana dan menggosoknya pelan hingga membuat Azimah semakin gila dibuatnya.
"And ...," desah Azimah memanggil nama Andra.
Alih-alih menjawab, Andra malah meraih bibir Azimah dan ********** kasar bersamaan dengan satu jarinya yang sudah siap menerobos dinding pertahanan Azimah yang terakhir.
Merasakan benda asing yang menyentuh bagian bawahnya, Azimah tersentak kaget namun ia tak menolak karena rasanya sangat berbeda. Perasaan yang untuk kedua kalinya ia rasakan dari tangan orang yang sama.
Andra mulai merangkak menindih tubuh Azimah, meraih puncak gunungnya dengan sebelah tangan sementara tangan yang lainnya bergerak bebas di bawah sana.
Azimah kembali merasakan kepalanya berputar. Ada sesuatu gejolak dalam dirinya yang hendak keluar saat merasakan sentuhan Andra kian lincah menari di dalam kewanitaannya.
"And ..., ak-ku ...., Aahhh ...," Tubuh Azimah mengejang menahan tangan Andra untuk tidak bergerak lagi. Nafasnya memburu tersengal-sengal mendapatkan pelepasan pertamanya dan kini ia lemas sambil memeluk Andra.
Setelah cukup lama membiarkan Azimah menikmati pelepasannya, Andra mendekat dan berbisik pada Azimah.
__ADS_1
"Kau siap, Sayang?" tanya Andra memastikan. Dengan ragu Azimah menganggukkan kepalanya.
Andra membuka kedua kaki Azimah lebih lebar. Mengarahkan senjatanya ke liang Azimah dengan perlahan.
"Tahan, ini akan terasa sakit!" ujar Andra pada Azimah.
Azimah bingung harus menjawab apa. Perasaannya gugup saat tubuh Andra kian mendekat ke kedua kakinya. Dan saat ia tengah bermain dengan pikirannya, di bawah sana ia merasakan benda keras menempel ke pintu kewanitaannya. Perlahan kian bergerak memasukinya dan saat benda itu sedikit menyiksanya dengan rasa perih, Azimah menahannya.
"Sakit!" ujar Azimah yang hampir menangis karena rasa perih tersebut.
Andra membungkukkan badannya mendekat pada Azimah, mengusap kedua bola matanya dan menciumi Azimah untuk mengalihkan rasa sakitnya.
"Apa masih sakit?" tanya Andra.
Azimah mengangguk pelan.
Andra menjadi tidak tega untuk meneruskannya namun menghentikannya pun sudah terlambat. Itu akan sama-sama menyiksa mereka berdua.
"Auw ...," Azimah menjerit sambil menggigit bibir bawahnya. Ia menarik kasar sprei yang tengah ia genggam. Dua buah bola air mengalir ke sisi wajah Azimah. Mewakilkan rasa sakit yang kini ia rasakan dan Andra menghentikan tekanannya setelah berhasil merobek selaput darah Azimah. Ia membiarkan Azimah untuk terbiasa dengan senjata pusakanya itu.
Cukup lama Azimah diam sambil memejamkan matanya dan saat itu pula Andra tetap menunggu agar rasa sakit Azimah tak lagi terasa.
Azimah membuka matanya perlahan. Rasa perih itu masih menusuknya di tambah sumpalan senjata Andra pada guanya membuat Azimah tidak berani bergerak.
Keduanya saling menatap dengan perasaan masing-masing. Namun tak lama Andra tersenyum pada Azimah.
Andra perlahan bergerak sambil melihat ke bawah sana. Azimah sedikit mangapit kedua kakinya karena malu dipandangi Andra seperti itu.
__ADS_1
"Jangan di tutup!" ujar Andra pelan.
Awalnya semua masih terasa aneh bagi Azimah. Berbeda dengan Andra yang menikmati permainan mereka berdua di mana miliknya terjepit sempurna oleh Azimah. Namun perlahan tapi pasti rasa sakit yang begitu menusuk itu berubah menjadi rasa yang tidak bisa Azimah gambarkan. Ia pun tak henti-hentinya mendesah memanggil nama Andra.
"Kau suka, Sayang?" tanya Andra.
Azimah tidak menjawab, ia membentangkan tangannya meminta Andra memeluknya dan Andra pun menurutinya sambil bergerak maju mundur dengan irama yang mulai cepat.
Azimah tidak tahan lagi, perasaan yang tadi begitu dahsyat menderanya kini terulang lagi. Azimah menarik Andra untuk menciumnya dan mengeratkan pelukannya. Bersamaan dengan itu tubuh Azimah kembali mengejang.
Andra menghentikan kembali gerakannya dan membiarkan Azimah untuk menikmati pelepasan keduanya. Rasa hangat menyentuh batang kejantanan Andra dan itu membuat Andra puas.
"Rasanya sangat aneh namun aku menyukaimu" ujar Azimah tersengal-sengal.
"Aku akan berikan lebih lagi, Sayang" kata Andra nakal sambil menciumi Azimah dan kini ia melepaskan penyatuannya pada Azimah, lalu meminta Azimah berbaring membelakanginya sementara Andra sendiri berbaring di belakang Azimah sambil mengangkat satu kaki Azimah ke atas dan mulai menyerangnya lagi.
"Akhhh ...," desah Azimah lagi.
Andra kian bersemangat memompa diri ke Azimah mendapati Azimah begitu menikmati permainannya. Posisinya pun mendukung ia dengan leluasa memainkan gunung kembar maupun bibir Azimah.
Suara erangan dan desahan mengisi kamar Andra. Entah itu akan terdengar dari luar kamar atau tidak keduanya tidak peduli. Yang mereka lakukan saat ini terlalu menyenangkan hingga lupa memikirkan hal lainnya.
Tak lama pompaan Andra kian cepat membuat Azimah mengerang lebih keras lagi. Bunyi daging mentah yang bertabrakan dari keduanya pun kian terdengar keras dan tak lama keduanya mengerang hebat melepaskan puncak gejolak yang mereka cari.
Nafas keduanya tersengal. Tubuh mereka mengkilap oleh keringat. Andra memeluk Azimah dari belakang sambil menjilati telinga hingga leher Azimah. Sementara Azimah sudah tidak mampu bicara lagi. Ia terlalu lemas untuk menyatakan perasaannya saat ini namun satu yang ia tahu, kini ia sudah menjadi wanita dewasa sesungguhnya.
"Aku lelah" ujar Azimah saat Andra melepaskan diri darinya.
__ADS_1
Andra tahu hal itu karena apa yang Azimah rasakan juga ia rasakan saat ini. Ia pun menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka dan meraih beberapa lembar tisu untuk mengelap air percintaan mereka.
"Tidurlah, Sayang" ujar Andra.