
Andra, Azimah serta Andreas dan Selma berbincang setelah pembicaraan penuh haru mereka. Mereka berbincang mengenai rencana pernikahan Andra dan Azimah serta menentukan tanggal baiknya.
"Iyas, aku dan Azimah akan bertunangan terlebih dahulu. Jadi rencanakan saja dulu tentang pertunangannya!" ujar Andra.
Selma dan Andreas saling memandang. Mereka tidak menyangka bahwa Andra dan Azimah akan memilih bertunangan dibandingkan dengan menikah.
"Kenapa?" tanya Selma yang mulai khawatir.
"Azimah yang menginginkannya, dia ingin melalui prosesnya secara bertahap. Aku sendiri sudah menyarankan untuk langsung menikah saja tapi dia tetap bersikeras untuk bertunangan dahulu" jelas Andra.
Selma menarik nafas panjang. Bertunangan akan membuang waktu lagi sedangkan umur keduanya kian bertambah. Selma takut akan tanggapan orang-orang tentang pernikahan Azimah kelak.
"Apa tidak sebaiknya kalian langsung menikah saja? Memberikan jarak waktu dalam pernikahan bisa memicu pertengkaran, Azimah" ujar Selma menasihati.
"Aku tahu, Bu. Tapi aku hanya ingin melewati tahap demi tahap sebagai calon pengantin. Ini tidak akan memakan waktu lama, hanya beberapa bulan saja!" jawab Azimah meyakinkan Selma.
"Ya, sudah kalau kau sudah memutuskan akan seperti itu. Ibu dan Ayah hanya bisa berharap semoga semuanya lancar hingga hari pernikahan kalian!" sela Andreas.
"Terimakasih, Ayah!" ucap Azimah.
"Lalu kapan kalian akan bertunangan? Kalian sudah memiliki tanggal yang tepat?" tanya Andreas memastikan.
"Aku belum membicarakan ini dengan pihak keluargaku, tapi seperti yang kau tahu, aku tidak memiliki siapapun lagi selain kerabat Ibuku dan Ibuku kalian juga tahu bagaimana sikap mereka. Jadi, kita putuskan saja semuanya sekarang, sisanya aku yang akan urus!" tukas Andra.
"Bagaimana denganmu, Azimah? Kau mempunyai pendapat?" tanya Andreas.
"Em ..., apakah tidak masalah kalau aku ingin mengadakannya pekan ini?" tanya Azimah ragu-ragu.
"Terlalu cepat, Sayang. Kalian harus menyiapkan segala sesuatunya" jawab Selma cepat.
"Begitu, ya?" balas Azimah sekenanya.
"Memangnya ada apa dengan hari minggu ini?" tanya Andreas.
"Itu hari ulang tahunku!" jawab Azimah cepat.
Andreas, Andra dan Selma saling memandang bergantian. Mereka melupakan hari ulang tahun Azimah.
"Ah, Ibu melupakan itu. Maaf!" ujar Selma.
Azimah hanya tersenyum kecil.
__ADS_1
"Kalau begitu tunangan kalian akan diantar dengan ulang tahun Azimah. Apa kau bisa mengurusnya, Selma?" tanya Andreas pada istrinya itu.
"Baiklah, aku akan urus semuanya. Hari ini aku akan mengurus undangan dan dekorasinya. Jadi aku tidak bisa menjaga Anas. Kalian yang menjaganya!" kata Selma.
"Iya, Bu" jawab Azimah senang.
Mereka berempat pun bubar. Andreas menemani Selma mengurus segala sesuatunya sambil mengabari keluarga mereka termasuk Azirah dan Alex, adik-adik Azimah yang kini tengah di asuh Emma, Ibu Andreas.
Andra juga sibuk mengatur jadwal pekerjaannya dengan sekretarisnya agar tidak terbentur dengan hari pertunangannya. Andra juga menyiapkan nama-nama tamu undangan yang akan menghadiri pertunangan mereka. Sementara Selma sibuk bermain dengan Anas sambil sesekali membalas pesan dari teman-temannya.
Matahari sudah mulai naik, rumah yang biasanya riuh dengan suara Selma kini menjadi senyap. Hanya terdengar kesibukan beberapa pelayan yang menyiapkan makan siang di dapur. Sedangkan Azimah kini tengah sibuk menyuapi Anastasia makan siangnya.
"Oma kemana, Kak?" tanya Anas.
"Dia ada pekerjaan sebentar di luar. Ada apa menanyakan Oma?" tanya Azimah sambil menyodorkan tangan pada Anas untuk menyuapinya lagi.
"Tidak ada apa-apa" jawab Anas dengan mulut penuh.
Azimah hanya tersenyum dan kembali menyuapi Anas hingga piringnya tandas tak tersisa. Tak lama Andra pun datang dan ikut bergabung dengan mereka.
"Azimah, siapkan semua barang-barang Anas. Kami akan pulang sore ini!" ujar Andra.
"Iya, Ayah. Anas ingin di sini bersama Kak Azimah dan Oma Selma" rengek Anas.
"Kau sangat fasih memanggil Selma sebagai Oma-mu, Anas!" celetuk Andra yang merasa panggilan tersebut aneh di telinganya.
"Kita pulang karena tidak lama lagi Kak Azimah-mu ini akan tinggal bersama dengan kita!" kata Andra.
"Apa maksudmu?" tanya Azimah.
"Iya, setelah kita bertunangan kau akan tinggal di rumahku!" jawab Andra santai.
"And ..., tidak bisa begitu. Kita tidak membahas ini tadi" keluh Azimah.
"Jangan membantah, Azimah. Lebih mudah menyelesaikan semuanya kalau kita bersama-sama" jelas Andra.
"Aku sudah bilang, kalau aku dan Ibu yang akan menyiapkan semuanya. Jadi aku tidak akan tinggal di rumahmu sebelum kita menikah!" tukas Azimah tanpa penolakan.
"Kita bahas ini nanti dengan Selma dan Iyas. Kalau mereka setuju maka kau tidak boleh menolak lagi!" tegas Andra.
Azimah pun hanya bisa menarik nafas panjang. Semakin kesini sikap Andra semakin overprotektif padanya. Sikap mendominasi Andra cukup membuat Azimah kewalahan namun ia bisa apa, Andra tidak berbeda dengan Andreas. Ia akan melakukan apa saja yang sudah menjadi keinginan mereka.
__ADS_1
"Aku lapar! Ayo makan!" ajak Andra.
"Aku akan siapkan semuanya dulu!" ujar Azimah lemah.
Azimah menyiapkan makan siang untuk mereka berdua. Sementara Anas sudah ia suruh salah satu pelayan untuk mengasuhnya. Mereka makan siang dengan tenang. Setelah makan mereka kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing. Andra yang memang terbiasa membawa pekerjaan ke rumah, menyelesaikan pekerjaannya agar tidak menumpuk hingga membuatnya lembur setelah acara pertunangannya dan Azimah nanti.
Azimah membiarkan Andra menyelesaikan tugasnya, sekarang ia berniat menidurkan Anas karena sudah waktunya tidur siang. Baru saja Azimah selesai menidurkan Anas, ponsel Azimah berdering dan itu panggilan dari Selma.
"Iya, Ibu. Ada apa?" tanya Azimah.
"Sayang, kau ingin tema yang bagaimana untuk pertunangan nanti?" tanya Selma di seberang sana.
Azimah diam sejenak. Sebenarnya ia ingin sekali membuat pertunangannya yang mewah dan megah namun ia takut hal tersebut akan menjadi perbincangan karena dirinya hanya anak tiri dari Andreas dan juga Andra sudah pernah menikah. Akhirnya Azimah mengurungkan niatnya untuk merealisasikan keinginannya tersebut.
"Apa saja, Bu. Yang penting tidak membuat malu keluarga saja!" jawab Azimah sekenanya.
Azimah beranjak mendekati Andra yang tengah duduk di sofa dengan layar laptop didepannya. Azimah menyandarkan kepalanya di bahu Andra sambil mendengarkan Selma yang bicara diseberang sana.
"Kau tidak punya tema impian, Sayang?" tanya Selma memastikan.
"Tidak, Bu. Tapi mungkin Andra memilikinya!" jawab Azimah.
Andra yang merasa namanya disebutkan menoleh pada Azimah.
"Apa, Sayang?" tanya Andra pelan.
"Kau memiliki tema untuk pertunangan kita?" tanya Azimah.
"Buat sesuai keinginanmu saja, aku akan setuju!" jawab Andra yang tidak memuaskan Azimah.
"Ibu rancang saja. Aku tidak memiliki gambaran untuk pertunanganku" jawab Azimah lemah.
"Baiklah kalau kalian berdua sudah menyerahkan semuanya pada ibu maka Ibu memutuskan untuk memilih tema klasik estetik. Bagaimana?" tanya Selma lagi.
Azimah tersenyum. Tidak menyangka kalau Selma akan memilih seperti keinginannya.
"Ibu atur saja!" jawab Azimah senang.
"Oke, Ibu pilih itu dan besok kalian akan mencoba wajah pertunangan kalian" kata Selma.
"Iya, Bu!" jawab Azimah.
__ADS_1